Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Bertarung Di Tengah Kota Mati


__ADS_3

~15 tahun lalu~


Malam musim panas. Di sebuah hutan yang gelap gulita, gesekan ranting pohon kering menyeruak sunyinya malam. Di tengah malam yang tenang, sebuah batang pohon besar tumbang hingga membuat seorang bocah laki-laki berambut abu-abu terpental jatuh ke tanah


"Aish! Babi itu benar-benar merepotkan! Kenapa juga ayah mengirim kita untuk mengusir babi menyebalkan ini! "


Aora kecil meringis kesakitan, dengan pelan ia mengusap lengannya yang dipenuhi luka memar di lengannya. Akibat pemburuan babi hutan di tengah malam ia harus menerima beberapa memar akibat serangan babi yang di burunya. Sebuah misi sederhana, tapi tidak sesederhana kelihatannya.


Berbeda dengan Aora kecil, Yora hanya memperhatikan lingkungan sekitarnya dari atas dahan pohon. Daerah hutan yang gelap gulita, bahkan cahaya bulan tidak tampak sama sekali. Sementara itu, medan pegunungan disekitarnya sangat tidak menguntungkan pergerakan mereka.


Sreshhhhh


Pergerakan babi terdengar tapi wujudnya tidak bisa Yora perkirakan dimana. Tidak hanya itu, babi yang mereka buru bukanlah babi biasa. Ukurannya bahkan setara seekor sapi jantan. Kokoh, kuat serta kebal dengan senjata dan suka membuat masalah di desa sekitar.


Pergerakan babi hutan itu begitu lincah. Di tambah indra penciuman dan pendengaran babi itu yang tajam. Yora kembali mengarahkan mata kelamamnya ke barisan pepohonan kerin di sekitarnya


"Tempat ini sangat menguntungkan musuh! " gumam Yora pelan


" Jadi apa rencanamu? Babi itu sengaja bersembunyi di tempat gelap, dan memanfaatkan situasi itu untuk balas menyerang kita. Untuk ukuran seekor babi hutan. Cih! Kita benar-benar dipermainkan! "


" Kau benar. "


Yora menggapai busur di punggungnya. Ia lantas mengambil satu anak panah yang sudah dilapisi minyak dan membakarnya. Sebuah anak panah dengan nyala api tercipta. Dengan sekali shoot, Yora menargetkan ranting kering pepohonan dan membakarnya. Kondisi hutan yang gelap kini berubah terang akibat api yang tercipta. Tempat itu tidak lagi gelap, bara api menerangi tempat, Yora bahkan menemukan tempat persembunyian sang babu dengan jelas.


"Untuk itu, kita harus mengubah medan pertarungan agar menguntungkan kita! " gumam Yora sambil melirik saudaranya.


" Wuah! Kau tidak pernah mengecewakan jika membuat sebuah strategi bertarung! " ucap Aora antusias.


" Kau siap, Yora?! " Aora pun mengarahkan kepalan tangannya ke arah Yora.


" Tentu. " Dengan senyum tipis, Yora membalas uluran tangan Aora. Dua buah kepalan kecil bertemu


......................


Waktu berlalu begitu cepat. Untuk kedua kalianya, Aora dan Yora melewati situasi yang bisa dibilang sama persis dengan misi berburu babi belasan tahun silam. Kepalan tangan kecil anak-anak itu, kini berubah menjadi kepalan dua pria dewasa. Di dalam pertarungan yang berbeda, dan tentu saja musuh yang lebih kuat. Kerja sama mereka kembali terjalin.


"Hah! Sudah lama sekali sejak saat itu. Situasi ini mengingatkanku pada masa lalu " oceh Aora


" Berhenti bernostalgia. Fokuslah! " gumam Yora datar.


" Cih! Kau masih sama! " Aora mulai mengaktifkan Gyoku sihirnya


Derangan arus petir merah yang menghiasi pedang Aora terdengar nyaring. Sementara, di tangan kanan Yora, elemen batu lengkap dengan api biru melapisi tanganya. Sama seperti misi 15 tahun yang lalu. Kedua saudara kembar itu memulai pertarungan dengan membenturkan tinju masing-masing, sebagai tanda kerja sama tim yang terjalin.

__ADS_1


"Kau siap? " gumam Yora pelan tanpa mengalihkan pandangan dari ruangan gelap didepannya.


" Hn! " Aora mengangguk pelan.


" Sekarang! " teriak Yora.


Detik itu juga, kedua laki-laki itu menghilang entah kemana. Tidak berselang lama, sebuah ledakan besar terjadi. Ledakan yang cukup kuat, hingga membuat markas bawah tanah Cops Awan Merah bergetar dan roboh seketika


Booooommmmmm!


Efek ledakan bahkan membuat separuh markas roboh, hingga menampakan langit biru dengan terik matahari gurun yang menyengat di luar sana. Debu akibat reruntuhan bangunan masih menyelimuti area sekitar. Sementara itu, Aora dan Yora dengan lincah menapak di reruntuhan gedung dan melompat untuk mencapai area atas Markas.


Tap!


Aora menapakkan kakinya di salah satu puing reruntuhan gedung. Mata coklat kemerahannya mulai menyisir seluruh pelososk kota mati disekitarnya.


Berbanding terbalik dengan apa yang ada di bawah, markas Cops Awan merah sangat tersembunyi jika dilihat sekilas dari luar. Panampakan gedung kota tua yang sudah di tinggalkan berabad-abad lamanya meghiasi hampir disepanjang mata memandang. Terlebih letaknya di tengah gurun dengan cuaca super ektrem, menambah nilai lebih untuk sebuah markas rahasia tersembunyi.


"Apa mereka bisa meghindari serangan kita? " gumam Aora sambil terus mengawasi


Tap!


Yora mendarat tepat di samping Aora. Mata elangnya juga turut mengawasi situasi sekitar. Manik hitam kelam Yora, kini tertuju pada satu titik tempat dengan runtuhan beton banguanan yang menghiasi


Benar saja, di balik bongkahan beton besar itu sebuah cahaya hitam keluar. Perlahan sihir itu mulai meremukan beton kokoh dan menghancurkannya hingga menjadi kepingan kecil.


Brasssh!


" Aish! Kalian mengotori pakaianku! " ucap Jigoku sambil menepuk debu di jubahnya, dengan raut wajah masam. Bersama dengan kedua rekannya, ia keluar dari dalam reruntuhan tanpa terluka sedikitpun.


Aora dan Yora kembali bersiap. Mereka tidak bisa menyerang lawan dengan gegabah, tanpa tahu kekuatan lawan yang sebenarnya.


"Laki-laki cerewet ditengah, aku pernah sekali bertarung dengannya. Ia memiliki kekuatan aneh, sebuah sihir berbentuk kelereng kecil besinar tercipta dari gyokunya. Sejauh yang aku tahu, Kelereng itu akan menciptakan gelombang suara mematikan, yang bahkan mampu menghalau kekuatan manipulasi sihir bunyi milikku! " jelas Yora, untuk melawan musuh ia harus lebih dulu berbagi informasi dengan rekannya


" Jadi dia memegang kelemahanmu! Kekuatannya sama persis dengan milik Clan Bulan. Selain itu, hal yang sama juga terjadi pada wanita bernama Maya. Kemampuan manipulasi es miliknya juga sangat merepotkan! Mereka bukan keturunan Clan, jadi dari mana mereka mendapat kekuatan tidak masuk akal itu?! " gumam Aora pelan


" Kau benar, itu yang harus kita ketahui lebih dulu. Tapi dibanding mereka. Laki-laki bernama Akuma itu harus kita waspadai. Tidak seperti rekan-rekannya yang berisik. Sikap tenangnya justru bisa menjadi ancaman. Kita bahkan tidak tahu kekuatan apa yang di milikinya. "


" Kita tidak punya pilihan selain bertahan dalam pertaruangan ini. Sebelum kita memiliki informasi akurat mengenai kekuatan yang mereka miliki. Kita tidak boleh menyerang dengan gegabah! " bisik Aora


Yora kembali mengarahkan perhatiannya ke musuh didepannya. Mata sekelam malam miliknya menangkap sesuatu yang aneh. Di tengah pertarungan itu, Jigoku tampak menyuntikan cairan hitam aneh ke tubuhnya.


Cairan apa yang mereka suntikkan?

__ADS_1


" Aku harus mencari tahu lebih jauh lagi! "


Yora segera berlari ke sisi kanan. Pedang Bakuro miliknya terhunus lengkap dengan elemen api biru yang menghisai. Sementara si sisi lain, Aora tidak mau ketinggalan. Jika Yora memilih sisi kanan, maka secara otomatis ia bergerak menuju sisi kiri musuh.


" Cih! Tidak akan aku biarkan! "


Maya kembali mengaktifkan gyoku salju miliknya. Hanya dengan sekali hentakan tangan, sebuah badai es muncul bahkan ditengah cuaca terik gurun. Gumpalan kabut putih tercipta. Dan dengan kehendaknya, Maya memerintahkan kabut bersuhu minus ratusan derajat itu menghalangi Yora dan Aora


"Bagus Maya! Mari kita kalahkan mereka! "


Jigoku turut mengaktifkan Gyoku miliknya. Sebuah kelereng kecil dipenuhi cahaya menyilaukan tercipta. Senyum arogan terukir di wajah tirusnya.


Sementara Maya mengalihkan lawan, Jigoku berencana akan melumpuhkan Aora dan Yora dengan manipulasi sihir bunyi yang keluar dari ledakan kelereng kecil miliknya.


Berbeda dengan kedua rekannya yang sangat menikmati pertarungan. Akuma hanya diam berdiri sambil memejamkan matanya. Iris coklat miliknya mulai terlihat jelas ketika ia membuka mata. Dalam sekejap, iris mata yang tadinya berwarna coklat gelap kini berubah menjadi merah menyerupai warna darah.


......................


Aora dan Yora terus mengindar dari kejaran kabut salju milik Maya. Sebisa mungkin mereka menghemat tenaga dengan tidak melakukan hal yang sia-sia.


"Sial! Kalian ingin bermain-main denganku? " dengus Maya kesal. Ia pun menambah skala serangan dengan memperbanyak kabut es


Aora masih belari menghindari serangan. Melewati reruntuhan, ia dengan lihai melompat dan membawa dirinya menjauh dari kejaran Maya. Aora pun melirik matahari yang bersinar terik tepat diatasnya.


" Masih belum! Aku harus bertahan sedikit lagi! Sampai suhu kabut sihir Maya naik, kami tidak boleh membuang energi kami! " gumam Aora pelan.


Aora dan Yora tentu tidak akan berbuat hal gegabah. Mereka bisa saja mengalahkan kabut es milik Maya dengan kekuatan panas yang tercipta dari elemen petir dan api milik mereka.


Tapi hal itu justru akan menguras tenaga dan sihir mereka lebih banyak lagi. Untuk itu, Aora dan Yora memilih bertahan dan membiarkan suhu panas alami gurun untuk menetralkan sihir es Maya


"Haha-haha! Kalian tidak bisa keluar dari pengaruh sihirku! Pecundang! " ejek Jigoku. Kelereng sihirnya sudah terbentuk sempurna. Melayang di udara dan siap untuk diledakan. Ia pun mulai menautakn kedua tangannya


" Ledak! "


Kelereng milik Jigoku akhirnya meledak. Sebuah kekuatan cahaya putih menyilaukan tercipta. Dengan cepat, metapu kota tua di sekelilingnya. Tidak hanya itu, dengingan memekik telinga terdengar keras. Siapapun yang mendegar suara itu, ia tidak akan bisa bergerak dan lumpuh seketika. Hal itu terlihat jelas, ketika ada sekumpulan burung terbang yang tiba-tiba jatuh begitu saja


"Arghhhhh! " Aora menghentikan langkahnya. Tubuhnya seakan membeku. Sambil memegang kedua kepalanya, ia tampak terkena imbas ledakan kelereng Jigoku.


Efek lain serangan Jigoku, siapapun yang terkena gelombang bunyi sihirnya akan mengalami efek kehilangan pendengaran ektrem yang mampu merusak otak dan memecah genderang telinga musuh.


Gelombang bunyi mulai memenuhi tempat itu. Maya segera melapisi diri dengan elemen es miliknya untuk menghindari efek sihir Jigoku. Sementara Akuma, masih diam mengamati tanpa melakukan apapun.


"Nikmati rasa sakit yang aku berikan, pecundang! Hahaha! " tawa Jigoku memenuhi tempat itu. Ia seakan puas melihat musuh-musuhnya kewalahan.

__ADS_1


Lalu, mampukan Aora dan Yora bertahan dari serangan keroyokan murid-murid budiman Tanuki?


__ADS_2