Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Hubungan Rumit Si Kembar


__ADS_3

Malam yang damai di Desa Sora, lampu rumah-rumah warga di pusat desa tampak berkelap-kerlip di lihat dari sebuah rumah yang terletak di dataran tinggi, tidak jauh dari pusat desa


Sebuah Rumah yang cukup besar, dengan aksen khas jepang kuno, berdiri kokoh di sebuah dataran tinggi, yang menghadap langsung ke pusat Kota di bawahnya.


Seorang pria berkimono hijau, sempoyongan keluar dari rumah itu, sedangkan sang murid dengan sigap membopong gurunya yang setengah mabuk itu


"Kalau begitu, aku pulang ya.... Aora... Huk... Huk.... " ucap ketua Zen sambil cegukan, wajahnya memerah akibat terlalu banyak minum sake


" Apa kau yakin, bisa pulang sendiri, guru? "ucap Aora sambil menunjukkan muka khawatir di balik maskernya


" Kau lupa? Aku pemimpin desa ini, bahkan dengan mata tertutup, aku bisa pulang ke rumah.... Huk... Huk... "ucap Ketua Zen sambil sempoyongan


" Seharusnya kau ikut pulang dengan yang lain (Hanna, Ten, Rou). Malah kau ingin minum lebih banyak lagi...... "


" Ust..... Diam Aora.... Kalau begitu..... Aku pulang...... "


Seketika itu, ketua Desa Sora menghilang dengan satu hempasan angin yang menelan tubuhnya. Aora pun menggelengkan kepalanya, meskipun gurunya itu super sibuk ia masih sempat menyisihkan waktunya untuk datang ke peringatan mendiang ibunya. Bahkan teman-temannya juga, namun mereka memilih undur diri sebelum malam lebih larut.


Belum sempat Aora membalikkan tubuhnya, ia melihat siluet gadis yang berjalan ke arahnya. Seorang gadis berambut hitam panjang, dengan mata cantik seindah bunga lafender. Mirai, dengan seikat bunga di tangannya, ia melambaikan tangan ke arah Aora


"Bagaimana kau tahu tempat ini, Mirai? " ucap Aora, senyuman tergambar di matanya yang membentuk bulan sabit itu


" Hanna yang memberitahuku, bagaimana kau tidak memberitahuku tentang acara yang penting ini heh? " ucap Mirai kesal


" Maaf, maaf..... Masuklah, diluar dingin sekali" ucap Aora sambil membukakan pintu gerbang rumahnya lebar


......................


Kini Mirai memasuki sebuah ruang tengah rumah besar itu, sesekali ia melihat dekorasi rumah yang sangat menjungjung budaya kuno itu, di lihat dari tata letak barang, serta furniture yang dominan berbahan kayu.


Sebuah lukisan, Bulan yang memeluk matahari pun terpangpang cantik, membuat Mirai kagum dengan isi rumah itu


"Masuklah, Mirai..... " ucap Aora


Mirai memperhatikan ruangan yang sedikit agak berantakan itu. Sebuah meja dengan botol-botol sake kosong dan beberapa piring makanan peneman yang sudah tidak tersisa


" Tadi Rou, Ten, Hanna serta ketua Zen mampir ke sini, setiap tahun mereka selalu ikut memperingati hari ini" ucap Aora cepat, sambil membereskan kekacauan itu


"Aneh juga.... Aku melihat rumahmu yang berantakan Aora" ucap Mirai


Ia tahu kebiasaan Aora yang rapi dan disiplin, Mirai pun berjalan menuju Altar peringatan di sampingnya. Seikat bunga Anyelir berwarna Pink tampak cantik di tangannya, ia bawa sebagai persembahan serta penghormatan bagi Ibu Aora


"Aku membawa bunga Anyelir, aku harap ibumu menyukainya" ucap Mirai sambil meletakkan bunga di Altar leluhur itu


Namun, pandangannya tertuju pada tag leluhur di depannya, sebuah nama yang tidak asing lagi tertulis di Tag leluhur itu


Yoshiro?


Bukankah ini nama ibunya Xio?


Apa ini sebuah kebetulan? Tapi.... Kenapa harinya bahkan sama?


Mirai membeku, pandangannya tertuju pada Tag leluhur di depannya. Bagaimana pun, nama ibu Aora dan Xio mirip dengan tanggal kematian yang sama


"Tentu, ibuku pasti menyukainya Mirai" ucap Aora, memecah lamunan Mirai


Tidak seperti Altar milik Xio, Altar ibu Aora di lengkapi foto mendiang. Seorang wanita cantik, dengan rambut panjang, serta mata hitam kelam, yang memancarkan sorot lembut, tergambar jelas dari potret yang di pajang di samping Tag leluhur itu



Mirai masih menatap lekat Foto di depannya , meski dengan berbagai pertanyaan yang mengalir di otaknya, sungguh tidak sopan jika ia tidak menundukkan kepalanya kepada mendiang, Miraipun memulai doanya.


Mirai membuka matanya, kini di sampingnya terlihat Aora yang meletakkan dupa di altar sang Ibu.


"Terima kasih, kau datang kesini Mirai" ucap pelan Aora, mata merah kecoklatannya menatap sendu ke arah foto sang ibu

__ADS_1


"Sudah semestinya..... Kau tidak perlu berterima kasih Aora" ucap Mirai, sambil menatap lekat pria di sampingnya


"Ibu..... Kau tahu?


Wanita di sampingku ini, berhasil membuat jantungku kembali berdetak......


Bukankah dia cantik, bu?


Dia juga tipe wanita galak, dan lebih sering memukulku dari pada memelukku....


Tapi.....


Aku sangat menyukainya..... Ibu......


Aku harap kau juga menyukainya...... " gumam Aora sambil menatap foto sang Ibu


Mirai yang mendengar itu, langsung merasa pipinya memanas


" K... Kau..... Pasti sangat menyayangi ibumu, Aora..... " ucap Mirai, nada grogi terdengar jelas dari ucapannya


" Hn..... " ucap Aora singkat, pandangannya kini berganti, wajah Aora di penuhi sebuah penyesalan yang tampak jelas di raut mukanya


" Ibuku........ Ibuku meninggal..... Karena aku terlalu lemah........ " ucap Aora


Mirai hanya bisa memandang wajah Sedih pria di sampingnya itu, ia pun menepuk bahu Aora pelan. Setidaknya hanya itu yang bisa Mirai lakukan untuk menghibur Aora


" Jika itu berat, kau tidak perlu memaksa untuk menceritakannya padaku, terlebih di hari seperti ini, Aora"


Mirai sadar, sangat sulit menceritakan pengalaman buruk di masa lalu kepada orang lain. Ketika seseorang menceritakan masa lalu pahit mereka, sama saja ia merobek lagi luka lama di hati mereka. Sebuah luka yang lama sembuh, yang setia terukir tanpa mengenal waktu


Puk... Puk... Puk...


Dengan lembut, Mirai menepuk bahu Aora, menenangkan pria yang kini di penuhi raut penyesalan di wajahnya yang tertutup masker


Kreoooookkkkkk.......


"Kenapa di saat seperti ini, sih.... Dasar bodoh! " gumam Mirai untuk dirinya


" Kau mau makan ramen, bersamaku? " ucap Aora sambil tersenyum


" Ya? Tapi ini......masih terlalu awal" Mirai memasang muka terkejutnya


"Bukankah kau lapar? " balas Aora dengan tampang polos


Mirai...... Apa maksud pikiranmu ini!!!!!!!!!!


(Jikalau kau suka nonton drakor, pasti tau dengan kode 'ramen' ini..... Eits.... Jangan traveling dulu..... Wahai kaum yadong)


Mirai hanya mengangguk, sambil menampakkan wajah merah padamnya. Ia mengutuk pikirannya yang em.... Begitulah....


Sedangkan Aora, dengan santai dan tampanh tidak berdosanya, mulai pergi ke dapur membuat Ramen


......................


Aora tengah sibuk memasak ramen instan di dapur, sedangkan Mirai melihat lihat sekeliling ruang tengah Rumah itu. Rumah yang di tata dengan rapi, meskipun terkesan kuno, Aora tampak memadukan desain perabotan terkini, sehingga rumah itu jauh dari kata Kuno membosankan dan Tua


Mata Mirai tertuju pada foto keluarga yang di pajang di rak didepannya. Ia mengenali pria berambut putih yang berdiri di samping ibu Aora


"Apakah dia Ayah Aora?


Pantas saja...... Wajah tampannya serta mata merah kecoklatannya ia dapat dari sang ayah........ " ucap Mirai sambil tersenyum



Tunggu......

__ADS_1


Ayah dan ibu Aora, bukankan mereka juga ada di dalam foto lama itu?


Senyuman di wajah cantik Mirai memudar. Mirai menatap lekat foto di depannya, pandangannya kini tertuju ke sebuah foto dengan dua orang anak berseragam Militer Sora. Salah satu anak yang memiliki rambut hitam serta mata kelam yang sangat familiar dengan seseorang



Anak di samping Aora...... Bukankah dia Xio....?


Mirai benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bagaimana mungkin, orang-orang, memiliki hubungan rumit di sekitarnya.


Mulai dari Ayah dan Ibu Aora, yang terlihat di foto lama bersama Ayah Mirai. Sedangkan yang lebih mengejutkan lagi, kenapa ada foto Xio dengan Aora?


Mirai masih membeku di tempat itu, otaknya seakan berkutat mencoba mencerna apa yang terjadi. Sebenarnya siapa pemilik rumah ini, apakah mereka mengenal Ayahnya?


"Mirai, ramenya sudah siap....... " ucap Aora sambil meletakkan sepanci ramen instan rebus di meja


Ia pun menghampiri Mirai, yang masih diam membeku sambil melihat foto keluarga Aora


" Ada apa Mirai? " ucap Aora penasaran


" Aora....... Kalau boleh tahu, siapa mereka? "


Mirai memberanikan diri bertanya langsung ke Aora. Meski ia sudah sesikit menebak apa yang akan di ucapkan laki-laki berambut abu itu


Aora menghela nafasnya sejenak, tidak mungkin juga ia merahasiakan semua tentang dirinya ke Mirai. Sudah cukup sabar Mirai tidak menanyakan apa-apa mengenai dirinya, dan itulah salah satu alasan Aora sangat menghargai Mirai, wanita di depannya itu sangat menghormati privasi dan rahasia yang ia miliki


"Kau pasti tahu, wanita berambut hitam itu, adalah Ibuku..... Namanya adalah Yoshiro.... Dia adalah keturunan Dari clan Bulan Sora


Sedangkan laki-laki betambut putih di sampingnya, dia adalah Ayahku yang bernama Aoryu.... Dia berasal Dari Clan Matahari


Sedangkan anak di sampingku itu.....


Dia adalah saudara kembarku..... Dia bernama Yora" ucap Aora sambil menatap lekat foto di depannya


"Yo...... Yora? "


Mata Mirai melebar sempurna, bagaimana Mungkin kedua orang berharga dalam hidupnya itu, ternyata dihubungkan dengan garis darah yang sama


" Yora........ Entah karena apa..... Ia melakukan kudeta.... Dan membunuh ketiga clan Utama Sora...... Termasuk kedua Clan orang tua Kami, dan juga... "


Aora tampak mengepal tangannya erat, sorot matanya memancarkan kemarahan yang besar ke arah foto saudara kembarnya itu


Kaki Mirai tiba-tiba saja melemas, ia masih belum mencerna apa yang di katakan Aora barusan. Aora yang sedari tadi berdiri di belakang Mirai, dengan cepat menopang tubuh Mirai yang mulai roboh


"Kau kenapa Mirai? "ucap Aora Khawatir


Mirai segera mengumpulkan kembali tenaganya, ia pun mencoba berdiri kembali. Bagaimana pun, Aora tidak boleh mengetahui hubungannya dengan Xio yang tidak lain adalah Yora, saudara kembarya


" A... Aku baik-baik saja Aora, mungkin karena terlalu lapar, kakiku menjadi lemas" ucap Mirai sambil tersenyum


Mirai mencoba menyembunyikan wajah terkejutnya dari Aora. Aora yang percaya dengan senyum Mirai pun, memapahnya menuju meja di belakang mereka


"Bagaimana seorang Team Medis, tidak mempeehatikan kondisinya sendiri..... Sekarang makanlah Ramennya, sebelum mengembang" ucap Aora


Mirai yang masih linglung duduk dengan bantuan Aora, dengan cepat Aora mengambil sumpit, dan menambahkan Ramen ke mangkuk yang lebih kecil untuk memudahkan Mirai memakannya


"Sekarang.... Makanlah.... Makanlah yang banyak Mirai" ucap Aora memberikan semangkuk Ramen panas


Apa yang terjadi sebenarnya.......


Leader.... Sama sekali tidak pernah menyinggung masalah ini.......


Jika kedua orang Tua mereka (Yora dan Aora) berada di foto yang sama dengan ayahku


Apakah mereka mengenal Ayahku?

__ADS_1


Tidak......


Mungkin saja mereka tahu, siapa ibuku*?


__ADS_2