
"T.... Tapi?"
Ketua Zen pun berdiri, ia berjalan menuju teras samping rumah itu. Meski masih terlihat sembrawut, nyatanya taman yang cukup luas dengan kolam ikan yang mengering terlihat jelas di sampingnya. Dulu tempat ini merupak rumah paling megah di Desa Sora
"Dulu..... Aku iri sekali, Aoryu memiliki rumah sebesar dan seindah ini. Aku tidak menyangka tanggung jawab yang di emban sahabatku itu begitu besar. " ucap Ketua Zen sambil menatap langit biru yang cerah
Ia pun berbalik, menatap Aora yang sedari tadi duduk di belakangya
"Aku ingin menyerahkan jabatan ini kepada pemiliknya. Bisakah kau membantuku, Aora? " ucapnya sambil tersenyum
"T- Tapi Guru..... Jaman sudah berubah, tidak ada lagi peraturan Clan matahari yang harus memimpin desa. Dan lagi, Kau lah yang di segani masyarakat desa Sora sebagai pemimpin. Bukankah salah, memilih seorang pemimpin hanya karena garis darah? " ucap Aora
" Aku tidak memilihmu semata karena kau keturunan terakhir Clan Matahari. Alasan aku memilihmu karena aku percaya kau dapat melindungi Negeri Sora ini. " ucap Ketua Zen Mantap
"Untuk itu, aku mau kau memimpin pertemuan Ketiga Negara Besar, Aora! "
Aora hanya tertunduk, tatapannya kini mulai menunjukkan keraguan akan dirinya.
"Aku..... Aku gagal melindungi ibuku. Aku juga gagal membantu Ayahku. Lebih parahnya lagi, Apa yang Yora lakukan dimasa lalu. Apa kau masih mempercayaiku? Tidak....
Lebih tepatnya..... Apa rakyat Sora masih mempercayaiku?! "
" Aora! Hentikan menyalahkan dirimu! " Suara Zen mulai meninggi. Ia tidak ingin murid kesayangannya itu, terus terpuruk dengan masa lalunya. Ketua Zen pun berjalan ke arah Aora
" Itu bukan kesalahanmu. Waktu itu usia kalian baru saja menginjak 15 tahun, kalian masih terlalu muda.
Jika ada yang perlu di salahkan, mereka bisa menyalahkan ketidak becusanku. Akulah yang seharusnya di salahkan! " ucap Ketua Zen. Pandangannya kini berubah lembut, ia mencoba menenangkan Aora. Memberi pe gertian bahwa Aora tidak perlu menanggung semua sendirian.
"Kau tidak harus memikul beban ini sendiri. Ingatlah.....
Masik ada aku, gurumu yang akan terus membingbingmu. Masih ada Teman-temanmu yang siap mendukung dan membantumu
Jangan pernah kau menanggung semua sendirian. Mengerti? " ucap Ketua Zen
Melihat Ketua Zen menaruh kepercayaan padanya, hati Aora menjadi sedikit luluh. Aora pun mengangguk, meski ia belum sepenuhnya yakin dengan dirinya
" Setidaknya..... Biarkan aku memikirkannya.... " ucap Aora pelan
" Tentu. Karena itulah aku menyuruhmu memimpin pertemuan itu. Kau bisa mengambil langkah pertamamu dari sana. Sebagai calon pemimpin di masa depan. "
Ketua Zen pun mulai duduk kembali di depan Aora, ia mengambil minuman dingin yang di sajikan di depannya. Sekilas, ia masih dapat melihat keraguan di mata muridnya itu. Untuk itu ia membuat alasan konyol untuk Aora
"Emmmm..... Kau tahu Aora, pemimpin Tsuki dan Hoshi? Kau pasti pernah bertemu Hotaru dari Hoshi kan? “ tanya Zen, Aora pun mengangguk.
"Ehem...... Aku hanya tidak mau terlihat paling tua di pertemuan itu. Pemimpin Hoshi masih muda. Pemimpin Tsuki tidak jauh beda.
Ada rumor mengatakan mereka sangat tampan, cocok menjadi keelokan yang melambangkan kharisma dari Bintang (Hoshi) dan Bulan (Tsuki). Setidaknya langit (Sora) juga tidak kalah kan?
Kau ingin Sora mengirim kakek bau tanah sepertiku? Aku pun akan insecure jika berada di antara mereka. Berbeda jika aku berusia 30 lebih muda kan?
Untuk itu Aora~~~
Kau saja yang mewakili Sora.... Hm......?
Tunjukkan bahwa Sora memiliki pemimpin muda juga. Aku jamin, seseorang akan membantumu, Okey?“ Rayu Ketua Zen dengan segala upayanya
Aora tidak bisa lagi berbuat apa-apa lagi. Jika ketuanya bertingkah seperti itu, ia akan terus mengganggunya sampai Aora menyatakan 'IYA'
"Baiklah Guru! " ucap Aora malas meladeni gurunya itu. Mata Zen berbinar mendengar jawaban Aora
__ADS_1
"Bagus! Kalau begitu, persiapkan semuanya. Setidaknya berikan pria tua ini sedikit bernafas. Aku sudah tidak muda lagi untuk mengurus hal-hal seperti pertemuan kaku seperti itu! "
" T- Tapi... Aku bahkan bekerja lembur berhari-hari! Tugasku masih banyak Guru, aku bahkan belum sempat bertemu pa- "
Aora menghentikan ucapannya cepat, Zen hanya bisa memandang Aora dengan raut muka penasaran. Jika ketua Zen sampai tahu hubungannya dengan Mirai. Bisa-bisa sebelum undangan Pertemuan sampai Ke negeri Hoshi atau Tsuki. Undangan pernikahannya lebih dulu di sebar oleh pria super kepo di depannya
"Pa..... Apa? "ucap Zen sambil menaikkan alisnya. Ia begitu penasaran dengan kata yang tertinggal
" Pa...... Para bawahanku! Hehe! " ucap Aora, keringat dingin mengucur di keningnya
"Bukankah mereka tinggal 24 jam di kantormu? " tanya Zen sambil menyipitkan matanya. Cepat-cepat Aora segera berganti topik bahasan.
" S- Sudahlah.... A- Apa kau tidak S- Sibuk? Guru bisa pergi sekarang! " ucap Aora gugup, mencoba mengalihkan pembicaraanya dan segera mengusir gurunya pergi. Zen hanya bisa memasang wajah super dongkol. Melihat kelakuan muridnya, sepertinya ia salan mendidik Aora
"Kau mengusir gurumu? Seharusnya kau mentraktirku makan kan? Wuahhhh! Sudah aku duga. Memiliki murid malas dan pelit sepertimu hanya membuat umurku semakin pendek! "
Tanpa menghiraukan ucapan gurunya itu, Aora mempersilahkan gurunya keluar
" Aku juga harus mempersiapkan pertemuan itu kan? Salah siapa membuatku sibuk sepanjang waktu!"
Ketu Zen pun berjalan dengan malas menuju pintu keluar, sebelum pergi menanyakan satu hal lagi ke Aora
" Ngomong-ngomong? Apa kau berencana tinggal di rumah ini? Kau seharusnya menjaga peninggalan kedua orang tuamu kan? " Aora menghela nafas pelan ketika menanggapi pertanyaan gurunya.
" Entahlah.... Mungkin aku akan pindah ke rumah ini. Bagaimanapun aku tidak boleh bersembunyi dalam ketakutanku selamanya kan Guru? " ucap Aora sambil tersenyum di balik maskernya, matanya tampak membentuk bulan sabit
" Emmm.... Terserah kau saja Aora, kalau begitu aku pergi dulu! " ucap Zen sambil tersenyum
Wusssss......
Ketua Zen pun menghilang, bersama dengan hembusan Angin yang menelan tubuhnya.
" Ha! Akibat langkanya emas. Toko-toko di pasar tidak ada yang buka. Aku sempat kewalahan ketika di suruh ibuku berbelanja! "
Keluh gadis berambut coklat pendek, yang sedari tadi berjalan beriringan dengan gadis berambut hitam panjang di sampingnya. Mereka menuju ke arah Rumah Sakit Sora. Waktu istirahat telah usai, kini waktunya kedua gadis itu kembali bekerja
" Aku bahkan jarang bertemu Aora, Rou dan Ten. Bagaimana denganmu Mirai? Apa kau kesulitan juga? " ucap Hanna yang sedari tadi berjalan di samping Mirai. Hanna lebih mendominasi percakapan sementara Mirai hanya memasang wajah datar sambil terus berjalan
" Em.... Entahlah.... " ucap Mirai singkat
Meskipun Mirai kerap kali menunjukkan sikap cuek dan dinginnya. Sikapnya tidak mempengaruhi persahabatannya dengan Hanna. Mereka dapat menerima sifat satu sama lain, Hanna yang ceria dan cerewet sedangkan Mirai yang pemarah dan dingin
" Mereka (Rou, Aora, dan Ten) pasti tengah sibuk mempersiapkan pertemuan Tingkat Tinggi itu. Hah.... Kami jadi jarang berkumpul lagi! "
Mirai hanya bisa menundukkan kepalanya sejenak, bagaimana pun akhhir akhir ini ia jarang bertemu dengan Aora. Terlebih ia juga sibuk di rumah sakit dan tidak jarang menyusup ke berbagai tempat di Sora, demi menjalankan Misi Rahasianya
Mereka Pun memasuki ruang rawat tempat mereka biasa bertugas. Mata Mirai kini tertuju ke arah ruang rawat anak di sampingnya.
"Bukankah Itu, anak yang di bawa kemarin? "
Tanya Mirai ke Hanna, ia menghentikan langkahnya sejenak. Sedangkan Hanna, hanya menatap sahabatnya bingung. Ia pun turut memperhatikan anak didepannya
Anak itu tampak mengerutkan keningnya sambil tertidur, sedangkan sang Ayah tengah sibuk berbicara dengan salah seorang perawat di sana
" Emm.... Kalau tidak salah, Anak itu memiliki saudara kembar. Aku juga sempat melihatnya kemarin.
Kemari Ayahnya membawa sang kakak, tapi sekarang justru adiknya yang masuk rumah sakit " ucap Hanna sedikit heran
Mirai merasa ada yang aneh dengan anak itu. Ia pun segera mendekati bilik tempat anak itu di rawat
__ADS_1
"Ada apa ini? " ucap Mirai ke perawat yang bertugas
" Anak ini demam serta mengeluh perutnya sakit, kami masih menunggu dokter yang bertugas Nona. " ucap perawat itu
Mirai pun melihat catatan Medis anak itu, tertera nama anak itu adalan Zuma. Ia berusia 6 tahun, sedangkan untuk detail penyakitnya masih belum tercatat
"Kalian belum memeriksa kondisinya? " ucap Mirai. Perawat itu menggeleng, sambil melihat ke arah ayah sang anak
" Aku tahu kondisi anakku, jadi cukup berikan obat pereda demam saja dokter. Bukankah rumah sakit akhir-akhir ini sangat sibuk? " ucap Ayah anak itu sopan
Rumah sakit tempat Mirai bekerja, memang rumah sakit super sibuk. Tidak jarang pasien yang masih bisa bertahan, di anjurkan menjalani rawat jalan. Baik orang Militer ataupun orang biasa sekalipun
Mirai melihat anak di depannya, meski keringat terlihat di sekitar wajahnya. Namun anehnya anak itu tetap menggunakan pakaian tebal dan tertutup, bahkan di cuaca yang panas ini
" Kebetulan aku tidak sibuk, biarkan aku memeriksa kondisinya! "
Mirai hendak memeriksa keadaan anak itu, namun dengan cepat Ayah anak itu menghentikan Mirai
"Kemarin ia bermain air dengan temannya, mungkin itulah penyebab demamnya. " Ucap sang Ayah, ia seolah mencegah Mirai untuk memeriksa kondisi anaknya
"Tapi.... Kami belum memeriksanya! " ucap Mirai keukuh
Ia pun mengaktifkan Gyoku di tangannya, mencoba memeriksa keadaan anak itu meski di larang sang Ayah. Lagi-lagi Ayah anak itu menghentikan Mirai
" Bukankah Kenkou sihir di larang digunakan kepada orang biasa? Aku tidak ingin anakku kenapa-napa! " ucap sang Ayah dengan nada meninggi
"Aku bukan orang amatiran yang tidak tahu akan hal itu. Jika digunakan dengan tepat, aku bisa dengan cepat mengetahui penyakit yang di deritanya. " ucap Mirai berusaha sabar
"Tapi.... Tetap saja..... K-kau hanya Team medis biasa di sini!
Rumah sakit ini seharusnya menghormati pasiennya, kenapa memperkerjakan dokter pemula yang lancang! " ucap Ayah sang anak, pandangan tajam ia tunjukkan ke arah Mirai
Mirai mengepalkan tangannya, ia coba untuk menahan emosinya itu. Lantas sang ayah menggenndong anaknya yang masih kesakitan, dan meninggalkan Mirai begitu saja
Entah kenapa, ada sesuatu yang aneh yang mengganjal hati Mirai. Ia pun memutuskan menggunakan elemen saljunya secara diam-diam. Sebuah butiran salju kecil, keluar dari telapak tangan Mirai, lalu terbang mengikuti kemana arah pria tadi membawa anaknya
Hanna pun mendekati Mirai lalu menepuk bahu Mirai pelan
"Sudah biasa anak kembar memiliki koneksi khusus untuk memahami satu sama lain. Jika salah satu saudaranya sakit, kembaran yang satunya juga dapat merasakannya.
Itu karena mereka berbagi sebuah ikatan khusus dari pada saudara biasanya.
Dibanding Saudara biasa, saudara kembar dapat memahami satu sama lain meski tanpa berucap apapun. Itulah yang terjadi dengan adik-adik kembarku. Kau tidak perlu khawatir Mirai. " ucap Hanna
"Apa adikmu pergi bermain air, ketika tau kalau saudaranya sakit? " ucap Mirai tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu keluar
Hanna tampak Bingung " Apa maksudmu? "
Mirai pun berjalan meninggalkan Hanna, sedangakan Hanna hanya bisa mengikuti kemana Mirai pergi dengan tanda tanya
Teng......
Di tengah perjalanan mereka, Mirai tiba-tiba berhenti. Ia merasakan sesuatu terjadi lewat es kecil yang mengikuti kemana Zuma pergi. Tubuhnya seakan membeku dengan mata lavendernya yang membulat
Mirai merasakn sesuatu yang tidak beres, dengan amarah serta tangan yang mengepal. Ia hanya berdiri mematung begitu saja
" A.... Ada apa Mirai? " tanya Hanna
" Berani sekali dia. Dasar bajingan! " gumam Mirai
__ADS_1