Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
SPESIAL CHAPTER : STAND BY ME 2 (Bisa skip)


__ADS_3

...🍃Paradise : Stand By Me 🍃...


...Bab IV : Di Negeri tanpa Perang, ternyata kejahatan tetap ada....


Sorakan penonton memenuhi arena olahraga yang terlatak di lantai dasar gedung. Semua sisiwa berkumpul di satu tempat, mereka sangat antusias melihat pertandingan Basket yang tengah berlangsung seru.


Hampir seluruh Siswi yang menonton jalannya pertandingan, mendukung tim yang terdiri dari anak-anak Sora Boys. Dengan kaki panjang mereka, Yora dan kawan-kawannya tampak lincah menggiring bola dan memasukkannya ke keranjang lawan. Masing-masing siswi meneriakan nama idola mereka, tertawa riang sambil melompat girang.


Mirai yang sedari tadi duduk di bangku depan, hanya bisa mengela nafas bosan. Memang, ia akui Hotaru dan Yang lain tampak mempesona dengan seragam berangka yang mereka kenakan. Tapi, apa harus merebutkan satu bola?


"Katanya mereka kaya. Kenapa justru memperebutkan satu bola sih! Apa bola itu terbuat dari emas! Hah, aku sama sekali tidak mengerti dunia ini. " gumam Mirai pelan sambil menautkan tangan didepan dada


" Lihat! Kapten Aora sudah tiba! " teriak histeris salah satu siswi. Mendengar kata Aora, Mirai segera mengalihkan pandangannya menuju pintu utama stadion itu. Mata Mirai bergetar, akhirnya ia melihat Aora vesi dunia ini


Dengan mata yang hampri terpejam, Aora memasuki arena pertandingan. Lebih dulu ia membuka masker yang menutupi setengah wajahnya. Ia sama sekali tidak memperduliakan teriakan para siswi yang memanggil namanya. Sambil menguap, ia melirik tepat ke arah Mirai berada. Mirai tersentak kaget, ketika pria berambut abu-abu itu tersenyum lebar ke arah Mirai. Lesung pipit terlihat jelas menghiasi pipi tirusnya, sementara mata Aora terpejam dan membentuk bulan sabit - eye smile


Pertukaran pemain. Aora memasuki area, sementara Hisui keluar dan memilih duduk di samping Mirai. Sorak sorai menonton semakin menjadi, ketika Aora mengambil alih permainan dan mencetak skor dimenit pertama ia bermain


"Dia memang seorang pemalas. Tapi di arena basket, dia kapten yang hebat. " gumam Hisui seolah menjawab pertanyaan di benak Mirai. Ia pun merogoh botol di depannya dan menenggaknya cepat


" Kau belum menentukan pilihanmu, kan Mirai? Dari kami ber enam, siapa yang akan kau pilih. " ucap Hisui pelan. Ia seolah menunggu jawaban dari Mirai


" Pilih? Apa maksudmu? "


" Pilihan mengenai siapa dari kami yang berhak memilikimu. Kau bisa memilih satu dari kami, dan mengatakan pada orang tuamu untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan kami. Bukankah hubungan di antara anak seperti kita, selalu berhubungan dengan bisnis orang tua? " ucap Hisui dengan senyuman hangat.


" Hentikan omong kosongmu. Aku pergi dulu! " ucap Mirai sambil berlalu pergi.


Hisui hanya menatap punggung gadis yang mulai menghilang di ramainya penonton. Senyum tipis tersemat di wajahnya, sambil menyandarkan tubuhnya, Hisui mengambil handuk kecil untuk mengusap keringat di wajahnya


" Benar kata teman-teman. Mirai bersikap terlalu aneh. Dalam situasi itu, ia seharusnya menjawab satu orang sebagai pilihan seumur hidupnya! "


Mirai berjalan tergesa-gesa keluar dari stadion. Sambil menjambak rambut hitam sebahunya, ia terlihat frustrasi. Sebenarnya sampai kapan ia harus terjebak didalam dunia aneh ini?


" Aish! Aku tidak tahan lagi! Sampai kapan aku harus menghadapi sikap aneh teman-temanku! Memilih diantara mereka? Bukankah mereka semua sudah memiliki orang spesial di hati mereka!


Dunia ini benar berbalik dengan duniaku. Memang disini tidak ada perang atau sihir! Tapi status sosial yang mereka patok berdasarkan kekayaan membuatku semakin gila!"


Mirai berjalan menuju Lift, ia hendak kembali ke ruang atas dan memikirkan cara untuk kembali ke negeri Sihir. Namun, di depan pintu Lift Mirai hanya bisa termenung sambil memukul keningnya


"Benar juga! Aku tidak paham bagaimana cara mengoperasikan benda ini! Aish, haruskan aku meminta tolong Hisui? " Tatapan Mirai menyapu ke segala arah, ia berharap ada orang lewat dan mau membantunya untuk pergi ke laintai atas. Namun tidak ada seorang pun


" Hah! Di saat seperti ini, aku merindukan kekuatan sihir ditubuhku. Aku bisa berpindah tempat sesuka hati dengan sihir teleportasi. Aku juga merindukan bertarung dengan kekuatanku sendiri.


Tampaknya, tubuh Mirai di dunia ini tidak dilatih dengan baik. Lihatlah tubuh kurus tanpa otot ini! Hah! " Mirai menyandarkan tubuhnya di tembok.


Ia menatap lurus telapak tangan kananya. Simbol gyoku miliknya biasa terlihat cantik menghiasi tangannya


" Sebaiknya aku naik tangga saja! "


Baru saja Mirai mulai beranjak pergi, seseorang dari belakan membekap mulut dan hidungnya. Obat yang terkandung di dalam sapu tangan membuat Mirai merasa mengantuk. Ia akhirnya jatuh pingsan dan membiarkan dua pria asing membawa tubuhnya.


Gelap. Mirai merasakan tubuhnya mengigil kedinginan. Samar, ia mendengar suara beberapa orang pria. Matanya ditutup dengan sesuatu kain berwarna Hitam. Entah kenapa, kenangan masa lalu mengenai penyekapan anggota Cops Merah kembali terlintas di benaknya. Tangan Mirai menggeliat, mencoba melepaskan ikatan yang menjerat tubuh, tangan serta kakinya. Dalam situasi seperti ini ia baru sadar bahwa sihir begitu penting.


"Siapa kalian! Cepat lepaskan aku! " gertak Mirai.


Orang-orang itu mulai melepas kalin yang menutup matanya. Kini, Mirai bisa melihat jelas wajah sangar orang-orang yang berani menculiknya. Kumpulan orang berbadan kekar itu mengelilingi sambil menyeringai jahat. Mirai merasa dirinya menjadi mangsa diantara orang-orang itu


Di sebuah gudang terbengkalai, mereka menyekap Mirai dengan mengikatnya di sebuah kursi tepat didepan sebuah api unggun.


Mirai menatap tajam laki-laki sangar didepannya. Tidak sedikit pun raut ketakutan di wajahnya. Bagi Mirai, tanpa sihirpun ia bisa mengalahkan laki-laki didepannya dengan mudah. Tapi tetap saja ia tidak bisa berbuat banyak ketika tangan dan kakinya diikat


"Apa mau kalian! Jika berani, lepaskan ikatan di tanganku dan hadapi aku! "


Semua orang di ruangan itu tertawa lantang " Hei! Nona muda! Kau yakin dapat mengalahkan kami hanya dengan tubuh lemahmu itu?


Akan lebih baik kau segera menghubungi orang tuamu yang kaya itu. Beritahu mereka agar segera mengirimkan uang tunai dan menebus nyawa putri mereka yang berharga!"


Pria itu menyerahkan sebuah handphone. Dan meminta Mirai menghubungi Ayah dan ibunya. Pria itu juga menyerahkan sebuah kertas yang bertuliskan angka dengan banyak nol dibelakangnya. Mirai hanya mengerutkan alisnya. Ia heran kenapa pira itu memberinya kotak kecil dengan cahaya keluar dari wadahnya.


"Hei! Benda aneh apa yang kau berikan! Jika kau mau menghubungi seseorang. Kau harus memberikan seekor elang pengirim pesan! " ucap Mirai dengan polosnya. Pria berbadan sangar itu hanya menatap Mirai bingung. Sedetik kemuadian tawa menglegar terdengar


" Hahahaha.... Kau pikir ini jaman kerajaan! Hei! Gadis kaya aneh! Cukup basa basinya dan segera hubungi orang tuamu! Kami tidak peduli kau gila atau benar-benar bodoh! Tapi kami tidak main-main dengan nyawamu. Hidupmu berada di tangan kami! " pria itu menodongkan pisau di leher Mirai. Gadis itu hanya menatap tajam, lagi-lagi tanpa takut sedikitpun


" Sial! Orang jahat sepertimu juga hidup di dunia ini, seharusnya aku hisap jiwamu hingga mengering tanpa sisa! Lepas ikatanku dan lawan aku! Pria botak jelek! " ucap Mirai


" Apa katamu! " pria itu mulai murka. Ia hendak melukai Mirai dengan pisaunya.


Brakkkkk!


Gerombolan motor menembus pintu gudang dan menghancurkannya begitu saja. Enam motor mengelilingi tempat dimana Mirai di sekap. Semua preman disana tampak kebingungan. Dengan pisau dan benda tumpul di tangan mereka, para penculik itu siap menyerang kapanpun


Motor-motor itu berhenti. Salah satu pria yang mengendari motor besar berwarna hitam mulai membuka helm yang menutupi wajahnya. Rambut abu-abu mencuat tersapu pelan. Sementara iris merah kecoklatannya menatap tajam ke arah barisan penculik didepannya.


Sama seperti Aora. Teman-teman yang lainnya juga turut memperlihatkan wajah tampan mereka.


"Oi kalian! Berani sekali macam-macam dengan teman kami! Kami pastikan akan membunuh kalian semua malam ini. " ucap Aora dengan suara beratnya


" Aora! Jangan gegabah! Kuta cukup beri mereka pelajaran dan menjebloskan mereka kepenjara selama sisa hidupnya! Group Hoshi akan memastikan hal itu. Kalian lupa, kami memiliki firma hukum terbaik di negeri ini?! Ucap Hikari berusaha menakuti para penjahat di depannya


"Hentikan omong kosong kalian! Tuan muda lemah seperti kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan kami! " ucap salah satu penculik. Meski begitu, ia terlihat gemetar menghadapi siswa-siswa sma yang kini bertranspormasi menjadi genk mafia dadakan


" Serang mereka! "


Perkelahian diantara mereka tidak dapat dihindarkan. Meskipun para penculik memiliki senjata di tangannya, Aora dan yang lain tetap bisa melawan mereka dengan hanya bermodalkan tangan kosong. Pukulan mentah Aora daratkan ke wajah penculik


" Kalian semua lemah! Bagaimana kalian bisa dikalahkan bocah-bocah manja seperti itu! "


Orang yang mengancam Mirai tengah lengah, ia masih sibuk melihat anak buahnya yang hampir dikalahkan Aora dan yang lain. Mirai tidak membuang kesempatan itu, ia menendang penculik itu dengan kaki terikat. Pria itu tersungkur dengan pisau terhempas jauh


"Cih! Kukira keras ternyata kertas! " ejek Mirai


" Aish! Kau berani menendangku! " laki-laki sangar itu marah dan mengambil bongkahan kayu berisi bara api di depannya. Pria itu hendak memukul tubuh Mirai. Namun, Aora segera datang dan menendang pria itu hingga jatuh tersungkur


" Mirai! Apa kau baik-baik saja? " ucap Aora khawatir. Di tengah kekacauan itu, ia bahkan sempat memeluk tubuh Mirai erat


" Aora! Hentikan! Cepat lepaskan ikatan tubuhku lebih dulu. Mulai sekarang, biarkan aku memberi mereka semua pelajaran! " ucap Mirai. Aora hanya bisa memandang Mirai heran. Bukankah dalam situasi seperti ini tokoh perempuan akan menangis haru dipelukan tokoh laki-laki yang menyelamatkannya?

__ADS_1


" Hya! Jangan melamun, Aora! Cepat lepaskan ikatanku. Sebelum bagian menyenangkan berakhir begitu saja! " ucap Mirai sambil menatap tajam Aora


" I- iya Mirai. Kau tidak perlu menatapku dnegam pandangan menakutkan seperti itu! " Aora pun nelepaskan ikatan Mirai


Tubuh Mirai akhirnya terbebas. Ia langsung bangkit berdiri, sambil melemaskan otot-otot tubuhnya yang kaku. Mirai juga meregangkan persendian jarinya membuat suara khas tulang. Hal itu justru membuat Aora menelan ludah kasar. Sebenarnya, apa yang merasuki Mirai. Ia dikenal sebagai wanita anggun yang bahkan jauh dari jangkauan kekerasan. Seorang putri konglomerat, yang dijaga bak bunga di dalam ruang kaca. Rapuh dan lemah.


"Mati kalian semua! " ucap Mirai dengan seringai dingin khasnya


Tapi, wanita didepannya berbeda. Hanya dengan tekad yang berkilap dimatanya, ia bahkan mampu menghabisi siapapun yang menghalangi jalannya. Aora reflek memundurkan langkahnya


" Oi! Kalian semua berhenti! " teriak Mirai. Semua mata tertuju padanya. Mirai segera meraih handphone yang tergeletak begitu saja dilantai. Memegangnya erat, bak senjata yang mampu melukai siapapun didepanya.


" Yora dan yang lain mundurlah! Biar aku yang memberi kumpulan kecoak botak itu pelajaran! "


Semua teman-teman Aora menatap ke arahnya heran. Aora hanya memberikan isyarat dan menyuruh semua mundur dari sana


" Cih! Gadis sombong! Semua serang gadis itu! " ucap salah satu penculik. Mereka semua kompak berlari ke arah Mirai


" Datanglah bayi kecoak botak! Akan aku beri pelajaran. Beraninya kalian menculik seorang Mirai! "


Mirai berlari ke arah para penculik itu. Mirai begitu licah menghidari serangan yang menargetkan tubuhnya. Dengan cepat, ia memukul titik vital di tubuh orang-orang berbadan kekar itu.


" Satu! "


Dak!


" Dua! "


Dak!


Hanya dengan sekali serangan Mirai, mereka semua ambruk ke tanah. Pingsan dengan mulut berbuih sambil memegang perut mereka yang nyeri.


" Sepuluh! "


Dak!


Mirai merobohkan pemimpin penculik, pria itu menjadi target terakhir pembalasannya. Mirai menatap puas ke arah belakangnya. Tidak sia-sia ia melakukan pelajaran sihir medis yang mampu membuatnya hafal dimana letak tanda Vital manusia. Mirai tersenyum puas sambil membenarkan seragamnya yang kusut


"Orang-orang tanpa sihir, memang mudah dikalahkan! Hah! Tidak menarik sama sekali. Heh? Ada apa dengan wajah kalian? "


Mirai melirik kumpulan teman-temannya yang menatap ke arahnya kagum. Hotaru bahkan menujukan ekpresi kosong, tanpa ia sadari tangannya secara otomatis bertepuk tangan. Mereka semua begitu terpukau dengan cara bertarung Mirai


" B-bagaimana kau melakukannya Mirai? Kau belajar dari guru bela diri mana? Ijinkan aku ikut kelasnya! Wuah kau keren sekali! " ucap Hirui sambil menghampiri Mirai


" Kau akan tahu jika mempelajari ilmu medis sihir selama beberapa tahun. Ops! " Mirai keceplosan, ia segera membekap mulutnya dengan kedua tangannya


" Sihir? " ucap Yora dengan tatapan bingungnya. Mirai segera mengalihkan topik pembicaraan. Bisa gawat jika orang-orang disini tahu bahwa ia berasal dari dunia lain.


" Lupakan! Aku hanya asal bicara. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan kalian? Apa kalian terluka? " ucap Mirai


" Kami semua baik-baik saja. Tapi- " Hotaru melirik Aora. Mata Mirai membulat ketika mengetahui ada luka di lengan Aora


" Sepertinya, waktu Aora menyelamatkanmu. Tangannya sedikit terluka akibat balok kayu berapi milik penculik itu." sambung Hotaru. Mirai segera menghampiri Aora, tentu raut khawatir tidak bisa lepas dari paras cantinya


"Lukamu cukup serius. Aora ikutlah denganku! "


......................


Langit mulai berubah jingga. Semilir angin lembut menghempas rambut hitam Mirai. Pemandangan taman cantik terbentang di bawah sana, sekolah menegah Sora benar-benar megah jika dilihat dari atas Rooftop gedung


Semua orang tampak duduk di bangku atap sambil menikmati pemandangan langit sore yang indah. Sementara disisi yang cukup jauh dari tempat teman-temannya. Mirai, masih sibuk merawat luka di lengan Aora


"Cepat lipat lengan bajumu! "perintah Mirai. Aora segera melipat lengan kemejanya, sebuah luka bakar tampak menghiasi lengan kokohnya


" Aku baik-baik saja, Mirai. Ini hanya luka bakar ringan. " ucap Aora tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari wajah cantik didepannya


" Luka bakar sekecil apapun akan sulit diobati jika tidak mendapat pertolongan pertama! " Mirai membalut luka Aora dengan perban. Dalam diri Mirai menyesali, jika saja ia masih memiliki sihir.


Teknik Kenkounya akan sangat cepat menyembuhkan luka bakar seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, sihir ditubuhnya benar-benar lenyap tanpa sisa.


" Cih! Akan sangat mudah mengobati jika Kenkou ku masih ada. Tapi apa boleh buat, aku hanya perlu membalut lukanya agar tidak terkena air! " gumma Mirai pelan


" Mirai! Kau bisa mengatakan semua padaku " ucap Aora pelan. Mirai menghentikan kegiantannya, ia lantas menatap manik merah kecoklatan Aora heran


" Apa maksudmu? "


" Mirai, aku tahu kau bukanlah Mirai yang aku kenal selama ini. Wajah kalian memang mirip, tapi perasaanku mengatakan kau adalah Mirai yang datang dari tempat yang jauh. " ucap Aora, tubuh Mirai sontak membeku.


" B-bagaimana kau tahu itu? "


" Bagaimana aku tidak mengenali wanita yang selama ini menjadi duniaku. Mirai yang selalu tertutup dan pendiam, tiba-tiba berubah menjadi gadis yang hiperaktif. Kau bahkan berteriak ke arah Hotaru, Hisui dan Hirui. Berteriak seperti itu bukanlah kebiasaanmu selama ini.


Satu lagi, kau sangat membenci Strawberry. Namun, hari ini kau bahkan memuji buah itu dan mengatakan rasanya enak. Kau selalu mengagumi karya novel berbahasa asing, bagimu membaca novel adalah sebuah kesenangan, tapi tadi kau justru menolak membacanya. Itu smeua jauh dari kepribadianmu "


" Jadi, kau memperhatikanku selama ini? "


Tanpa Mirai sadari, Aora memperhatikan tingkah lakunya satu hari ini. Dengan bantuan teman-temannya, ia mengungkap kejanggalan didiri Mirai. Meskipun gadis itu mengalami amnesia sesaat, ia tentu tidak akan pernah melupakan sesuatu yang ia benci atau sukai.


"Aku sangat yakin dengan kecurigaanku ketika Hisui menanyakan pertanyaan mengenai memilih satu diantara kami untuk menjadi kekasihmu. Mirai pasti tahu, kami memiliki pasangan masing-masing. Tapi kau justru menghindari pertanyaan itu. Bahkan ketika kita telah resmi berkencan. Kau seharusnya dengan yakin menjawab, akulah pilihanmu. "


Mirai menunduk pelan, ia bahkan tidak berani menatap mata Aora. Ia merasa bersalah, telah membohongi pria itu


" Maafkan aku, Aora. " ucap Mirai ririh. Namun, tangan besar Aora langsung menggengam tangannya erat


" Tapi dari manapun kau berasal, aku tetap menganggapmu Mirai. Wanita yang aku cintai lebih dari apapun. "


Ucapan Aora seolah menjadi angin segar bagi Mirai. Gadis itu tersenyum lembut


" Kau benar. Aku tidak berasal dari dunia ini, Aora. Jauh di alam semesta sana, ada sebuah dunia sihir tempat dimana aku berasal. Dunia tempat dimana sihir tercipta. "


" Dunia sihir? " Aora menatap telapak tangan Mirai. Sebuah cahaya terlihat, beserta simbol aneh yang mulai muncul. Aora tidak pernah sekalipun percaya bahwa dunia fantasi seperti dunia sihir ada di suatu tempat di alam semesta ini. Namun, semua terbantahkan ketika ia melihat gadis didepannya


"Mirai, tanganmu- " ucap Aora tidak percaya


Mirai menatap telapak tangan kananya. Mata Mirai membulat sempurna, simbol Gyoku yang sebelumnya hilang kini perlahan mulai tampak


"T- tidak mungkin. Simbol gyoku ditanganku kembali muncul. Sepertinya, aku akan segera pergi dari dunia ini! "

__ADS_1


Mirai begitu gembira mengetahui simbol sihir di tangannya kembali pulih. Namun, itu tidak berlaku dengan pria didepannya. Aora menatap sayu ke arah Mirai. Meski gadis itu bukan berasal dari dunia yang sama dengannya, tentu Aora tidak bisa melepaskan Mirai begitu saja


"Jadi, sebentar lagi kau akan pergi" gumam Aora pelan


Tangan Aora mengenggam erat tangan Mirai, menenggelamkan simbol salju ke dalam tangannya yang membuat fokus Mirai teralihkan sejenak.


"Mirai, Ijinkan aku bertanya satu hal padamu "


Mirai menatap manik merah kecoklatan Aora yang mulai bergetar. Meski begitu, senyuman lembut terukir indah di wajah tampannya


" Apa didunia itu. Ada sosok lain diriku? Aku penasaran, apakah di dunia itu aku juga mampu melindungimu?"


Mirai tersenyum lembut. Ia arahkan tangannya untuk mengusap wajah tampan yang masih setia menunduk sedih


"Di dunia itu, kau selalu ada disisiku. Bahkan sebelum aku mengenalmu, kau selalu melindungiku. Sebagai pahlawanku dan juga kekasihku.


Kini aku sadar, Aora. Bahkan di dunia asing ini, kau selalu berdiri disisiku. Selalu menjadi pelindungku, kapan pun aku membutuhkanmu. "


Gyoku Mirai tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih. Ia tahu, waktunya didunia ini sudah hampir habis.


" Sepertinya waktuku tinggal sedikit. Terima kasih, Aora. Aku senang, dapat mengenalmu hari ini. "


" Hm... Aku juga. Tapi ijikan aku mengucapkan selamat tinggal dengan pantas sebelum kau pergi. "


Aora menggapai wajah Mirai. Ia lantas mendekatkan wajahnya ke wajah gadis setinggi dadanya itu. Gadis itu hanya mengikuti kemana alur membawanya, sambil menutup kedua matanya, Mirai memeluk pinggang Aora erat. Mencengkram kemeja pria itu, solah tidak mau melepaskannya sedetikpun


Jarak diantara mereka semakin menipis. Aora dengan lembut mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Mirai. Mereka tanpak menikmati cumbuan lembut diantara keduanya. Sebuah ciuman dalam, menjadi ucapan selamat jalan antara dua insan berbeda dunia itu


Sementara gerombolan 'nyamuk' yang tidak dianggap, hanya bisa menatap dua insan didepannya iri.


"Aku merindukan, Tsuyu! " ucap Hotaru sambil meleyot mentapa dua kekasih yang 'tidak tau tempat dan situasi'


" Setelah ini, aku akan meminta Kazumi menciumku! Pasti! " ucap Hisui dengan tatapan berapi-api


" Hah! Makanan apa yang ingin aku masakkan untuk Harui ya? " ucap Hikari sambil menggosok dagunya. Sementara itu, Hisui hanya bisa memasang wajah masam


" Sial! LDR membunuhku. Apa aku harus terbang ke luar negeri untuk bertemu kekasihku? Haha! Aku merindukannya! " celetuk Hirui


Namun, seketika itu semua tatapan menghakimi tertuju pada Yora. Pria kalem nan dingin itu selalau menjadi bulan-bulanan rekannya karena masih betah menjomblo


" Kenapa kalian menatapku?! "


" Hentikan cinta sepihakmu dengan Mirai. Gadis itu sudah milik saudara kembarmu sepenuhnya! Move on bro! Yora, kau masih melakukan tarik ulur dengan Yuri, heh! " ledek Hotaru


" Kalian semua, berisik! " ucap Yora dengan wajah datar khasnya


" Ya.. Ya.. Ya.... Lakukan apa maumu, Yora. Kau pasti akan menyesalinya. Kau tahu, Yuri tengah gencar-gencarnya didekati siswa pindahan bernama Itasuke kan? Aku dengar, ayahnya pemilik perusahaan investasi dan Kasino terkenal di luar negeri. Kau yakin, ingin melepas Yuri begitu saja?! " Hirui berusaha memanas manasi Yora. Tangan Yora mengepal kuat.


" Tentu saja, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Lebih dari pecundang itu, aku jauh lebih baik! "


" Baguslah. Tenang saja, kami akan membantumu. Tapi sebelum itu, kita sebaiknya pergi sebelum mereka keluar kendali! " ucap Hikari sambil menunjuk ke arah Aora dan Mirai. Mereka semua mengangguk, dan kompak diam-diam pergi menuju pintu atab


Sementara itu, Mirai mulai melepas pangutan Aora. Nafasnya sedikit beradu. Semburat merah terlihat jelas dikedua pipinya. Mirai tersenyum pelan, ia merasakan kekuatan batu pilar mulai memenuhi dirinya. Waktunya hampir habis. Ia kembali teringat janji ayahnya, sepertinya Mirai lah yang kini tidak bisa menepati janji


"Aku sangat senang bertemu denganmu, Aora. Tapi ada satu hal yang aku sesali. Setidaknya, sebelum benar-benar menghilang dari dunia ini. Aku harap, aku bisa melihat wajah ayah dan Ibuku! "


Mirai sedikit sedih. Tapi ia tidak bisa bersikap egois. Setidaknya, di dunia ini ia sempat melihat dan memeluk ayah yang begitu ia rindukan. Itu lebih dari cukup. Senyum kembali mengembang di wajah cantiknya


" Sampai jumpa Aora. Aku harap, kau dan aku yang tinggal di dunia ini akan selalu-"


Belum sempat Mirai mengucapkan kata terakhirnya, suara lembut ayahnya memanggil namanya


"Mirai! " Kizuna muncul dari balik pintu atab. Ia langsung berlari menuju Mirai dengan wajah cemas.


" Ayah, Selamat tinggal. " Mirai hanya bisa tersenyum lemah, setidaknya di saat terakhirnya ia bisa melihat wajah ayahnya


" Putriku, ibu disini! " ucap suara lembut perempuan. Samar seorang wanita muncul, tepat dibelakang Kizuna


Pandangan Mirai mulai memutih, Mata Mirai sempat menyipit. Ia harap, ia bisa melihat wajah ibunya di dunia ini


" Sebentar saja. Biarkan aku melihat wajah ibuku..... " ririh Mirai. Namun sayang, sebelum ibunya benar-benar menapakan wajahnya, Jiwa Mirai sudah ditarik kembali.


......................


" Mirai, sadarlah! " samar suara Zou terdengar. Mirai segera membuka matanya, sebuah hutan kelam dengan cahaya bulan menghiasi terlihat samar. Mirai sadar, ia sudah kembali ke dunia asalnya.


Mirai mulai bangkit, ia merasakan nyeri disekujur tubuhnya akibat tertidur di atas batu keras


"Auh! Tubuhku sakit sekali! " keluh Mirai. Tapi setelah mengingat petualangan yang ia alami, Mirai terkiki kecil


" Siapa suruh tidur di atas batu! Tapi kenapa kau tertawa seperti itu? " tanya Zou dengan tatapan aneh


" Hahaha... Aku teringat mimpi indah yang baru saja aku alami. "


"Mimpi? Mimpi apa? "


Mirai menatap hamparan bintang di langit malam. Senyum lembut terukir di wajah cantiknya


" Aku bermimpi datang ke tempat dimana Dunia tidak mengenal perang dan tidak tahu apa itu sihir. "


Zou mengerutkan alisnya " Memang ada dunia seperti itu? "


" Entahlah. Tapi dunia itu sungguh indah. Yah! Meski ada sedikit sistem sosial aneh yang mereka terapkan! Tapi dunia tanpa peperangan sangatlah indah dan cantik. Orang-orang seumuran kita akan datang ke sebuah tempat yang disebut sekolah. Para orang tua tidak perlu memgkhawatirakan anak-anak untuk ikut kedalam sebuah misi yang berbahaya. Hanya bermain dan menikmati hari-hari indah, tanpa takut kehilangan nyawa. Dunia yang bagaikan surga. "


" Ya.. Ya.. Ya... Aku harap, aku juga hidul di dunia itu. Mirai, cepat kau bangun dari sini. Kita akan melanjutkan perjalanan kita sebentar lagi! "


Mirai tersentak. Malam bahkan belum berakhir sepenuhnya. Apa bolah buat, perjalanan harus tetap berlanjut


" Hah! Seandainya ada mobil disini "


" Hentikan omong kosong mengenai mimpimu dan cepat bangun! " Zou mulai beranjak meninggalkan Mirai. Gadis itu mulai bangkit berdiri, dengan antuasia Mirai menceritakan mimpinya pada Zou. Meski pria berparas imut itu berusaha mengabaikannya


Dunia tanpa peperangan dan sihir? Mungkin dunia seperti itu memang ada di semesta yang luas ini. Begitupun sebaliknya....


...~END~...


...----------------...

__ADS_1


Yosh! Gimana chapter spesialnya? Author ingin menjadikan cerita ini satu cahpter. Tapi apa boleh buat, hp Author nge hang.


Like dan komen ditunggu. Hadiah atau apapun juga boleh jika readers suka cerita pendek ini. Cerita Novel Garis Darah Terkutuk akan kembali berlanjut di chapter depan... Mohon dukungannya.....


__ADS_2