
Di tepi sebuah Kolam kecil, Tora masih menatap langit berbintang dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Ekor harimaunya masih ia lambaikan anggun, seolah sedang menunggu kedatangan seseorang dari atas sana.
Sebuah energi sihir berwarna putih muncul di langit. Bergerumul membentuk kabut putih pekat, di dalam kabut itu sesosok siluet wanita berambut panjang terlihat. Wanita yang masih terpejam itu adalah Mirai. Tubuhnya yang masih diliputi sihir Tora, perlahan turun hingga kakinya benar-benar menapak tanah.
Mirai perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah sosoh harimau putih beserta jendral bertopeng rubah disisinya. Mirai paham, ia sudah kembali ke dunia Yokai, itu artinya ia sudah menjalankan misi yang diberikan Tora dengan baik
"Selamat datang kembali, Putri. Perjalanan yang kau tempuh, pasti sangatlah panjang. " ucap Tora sambil berjalan pelan menghampiri Mirai. Di belakang Tora, Karura sang Jendral hanya bisa mengernyitkan alisnya heran. Perjalanan panjang? Bukankan tadi manusia-manusia didepannya hanya menghilang beberapa menit?
Mirai juga kebingungan, seingatnya ia sudah berjam-jam terjebak didunia antah berantah. Terlebih ketika ia harus melewati pertarungan dengan sisi gelapnya. Anehnya, waktu di tempatnya saat ini seolah tidak berjalan sedikitpun.
"Kau tidak perlu memasang wajah bingung seperti itu, Putri. Waktu yang terlewat didunia nyata sangatlah berbeda dengan waktu yang kau kunjungi di Alam Fana.
Kau bisa merasakan waktu terlewat berjam-jam bahkan berhari-hari ditempat itu. Tapi disini, di dunia Nyata. Waktu hanya berjalan selama 10 menit lamanya semenjak kepergian kalian. " Tora mencoba menjelaskan keadaan. Ia pun melirik tanda berlian berwarna ungu di dahi Mirai
"Sepertinya kau benar. Waktu bahkan hanya berjalan beberapa menit disini. "
Mirai melirik Bulan yang masih setia bertengger di ufuk timur. Langit bahkan masih menampakkan semburat jingganya.
"Sepertinya kau mampu melewati ujian paling berat. Tidak semua orang mampu mengalahkan kegelapan di dalam diri mereka. Kebanyakan dari mereka akan termakan amarah dan kebencian mereka dan berakhir menjadi monster.
Simbol didahimu menjadi bukti bahwa kau sudah berdamai dengan dirimu sendiri dan mencapai penyucian jiwa. Bahkan dengan sisi paling gelap di jiwamu, Putri! "
Mirai segera mengusap dahinya, ia juga merasakan sesutu kekuatan aneh ketika keluar dari dunia Fana. Tapi fokusnya kini justru beralih ke sekelilingnya. Nee dan Zou, Mirai menyadari kedua rekannya itu belum kembali
" Kemana Nee dan Zou? Apa mereka belum kembali? " ucap Mirai dengan tatapan bingung. Tora kembali menatap langit di atasnya sambil bergumam pelan
" Mereka akan segera kembali. Tapi setelah mereka memutus takdir yang mengikat mereka berdua! " ucao Tora penuh arti.
Mirai hanya bisa mengerutkan alisnya. Harimau didepannya selalu menggunakan kata-kata yang sulit dicerna. Apa mungkin karena usianya yang sudah menginjak ribuan tahun? Semua kata-kata Tora begitu kuno dan terkesan sulit dipahamu. Mirai pun turut menatap langit, ia penasaran apa yang sedang terjadi dengan kedua rekannya itu.
"Aku harap, kalian juga mampu keluar dari dunia itu. " gumam Mirai pelan
......................
Dua orang pria berdiri menghadap satu sama lain. Sorot mata Hazel kini bertemu dengan mata sebiru lautan. Nee bukan lagi menjadi sosok dingin berwajah menyeramkan, melainkan sosok tuan muda dari sebuah Negeri di tengah laut Hoshi bernama Hikari.
Begitu pun sebaliknya, sosok pria imut berambut merah menyala, bukan lagi sosok cerewet bernama Zou. Melainkan seorang mantan penguasa sebuah Negeri besar Tsuki bernama Hirui.
Bahkan hanya dengan saling bertukar pandang, cerita masa lalu diantara mereka seolah tersampaikan satu sama lain.
Hikari memberanikan diri menatap mata Hazel rekan Tengunya itu. Ia tidak menyangka, takdir masih setia bermain dengan hidupnya. Rekan yang selalu ia anggap super cerewet dan bahkan sedikit menyebalkan ternyata menyembunyikan identitas besar di belakangnya. Seorang mantan pemimpin musuh negerinya, sekaligus ayah dari wanita yang menempati tempat khusus di hatinya.
"Sial! Kenyataan macam apa ini? Jadi selama ini aku selalu bersama putra dari musuh bebuyutanku. Aku tidak menyangka kau adalah putra dari Hozuki, Nee! Tidak. Apa kau harus memanggilmu Hikari dari Hoshi?! "
Tangan Hirui terkepal kuat. Ia kembali mengingat deretan penderitaan yang dibawa Negeri Hoshi untuknya. Kehilangan kesempatan untuk berpamitan dengan Istrinya untuk terakhir kalinya. Mengirim anak-anaknya sendiri menuju ke medan perang. Serta apa yang menimpa putra-putri kecilnya kala itu. Hal itu membuat Hirui semakin membenci pria yang kini berdiri tertunduk didepannya
"Karena ayah dan Negerimu! Aku kehilangan semua yang berharga untukku! Dan apa? Aku bahkan menghabiskan waktu lebih satu dekade bersama putra musuhku! Menganggapnya rekannku! Bahkan setelah semua yang menimpaku?! " geram Hirui kesal
Mendengar ucapan Hirui, Hikari hanya bisa tertunduk dengan tangan mengepal. Rasa bersalah memenuhi dirinya.
" Maafkan aku, Zou. " ucap Hikari ririh. Ia pun mulai berlutut. Penyesalan tampak jelas di kedua sorot mata Hikari yang bahkan tidak berani mengangkat kepalany. Hirui segera melangkah maju, ia segera mencengram kerah jubah Hikari. Dengan tatapan tajam, ia mencoba menumpahkan amarahnya didepan Hikari
" Maaf saja tidak bisa mengembalikan kaki Putriku seperti semula! Ia selalu menderita karen luka yang ayahmu buat! Harui harus menghabisakan sisa hidupnya bertumpu dengan sebuah tongkat!
Putriku yang ceria! Begitu menyukai berlarian di tengah hamparan bunga musim semi! Tapi karena ulah kalian, justru merebut kegembiraan itu darinya! "
Hirui mencengkram erat kerah jubah Hikari. Suaranya bergetar hebat dipenuhi emosi yang memuncah. Ingatan mengenai Harui yang tumbuh dengan keterbatasan karena luka dikakinya tidak sekalipun bisa dilupakan Hirui. Selama hampir 10 tahun lebih, Hirui memperhatikan kondisi anak-anaknya dari kejauhan.
Selama aktif di Tengu, diam-diam Hirui akan berkunjung ke Tsuki untuk sekedar mengetahui bagaimana kondisi Hisui dan Harui. Ia tidak bisa menampakkan wujudnya di depan anak-anaknya. Bagaimanapun Hirui sudah dianggap mati oleh rakyat Tsuki. Ia hanya bisa memperhatikan kehidupan mereka dari kejauhan. Terkadang ia merasa senang, melihat Hisui akhirnya diangkat menjadi pemimpin Tsuki. Hirui sangat bangga dengan putranya yang mampu melampauinya. Namun ada juga saat dimana Hisrui merasa benar-benar hancur.
Saat dimana putri kesayangannya diremehkan dan dicemooh orang karena kondisi fisiknya. Sama seperti ketika ia tidak sengaja bertemu Harui di sekitaran rumah Judi Zuryu. Seribu keinginan dibenaknya untuk memanggil nama putrinya, tapi urung dilakukan Hirui mengingat akibat yang mungkin akan terjadi jika Hirui membuka identitasnya
__ADS_1
"A-aku benar-benar menyesali kejadian itu disepanjang hidupku " ucapan ririh Hikari membangunkan Hirui dari lamunanya
" Diam kau! "
Bughhhh.....
Hirui melayangkan bogem mentah ke wajah Hikari. Membuat pria berambut biru pucat itu terpental jauh dan menabrak tanah yang keras. Hikari tidak bergeming sama sekali. Baginya ia memang pantas menerima amarah dari Hirui
" Bagunlah berengsek! "
Hirui kembali menghampiri Hikari yang masih duduk ditanah. Bercak darah terlihat disudut bibir Hikari. Hirui kembali mencengkam kerah jubah Hikari, mengukung tubuh lemah didepannya kedalam kendalinya. Kali ini ia melayangkan beberapa pukulan yang telak mengenai wajah babak belur Hikari
Bughhhh....
" Kenapa?! "
Bughhh....
" Kau! "
Bughhhh...
" Diam saja! Hah! "
Bughhhh....
Hirui terus saja menonjok wajah Hikari hingga luka lebam memenuhi paras tampannya. Melampiaskan semua amarahnya dengan melayangkan pukulan mentah ke arah Hikari yang pasrah. Pukulan yang penuh amarah akhirnya membuat tenaga Hirui cepat terkuras.
Dengan nafas terengah, Hirui hendak melayangkan pukulan terakhirnya. Namun, tangannya refleks berhenti ketika ia melihat kodisi Hikari.
"Kau-" ucap Hirui tidak percaya, mata hazel Hirui bergetar hebat. Pria berambut biru pucat didepannya bahkan tidak berniat melawan sama sekali. Ia hanya terdiam sambil menerima dengan iklas setiap pukulan keras yang dilayangkan ke arahnya
Tubuh Hirui tiba-tiba melemas, kepalan kuat di tangannya seketika melemah. Ia menatap rekan Tengunya yang sudah babak belur dihajarnya. Ucapan Hikari seakan terngiang dikepalanya. Membunuh?
"Kenapa kau tidak membalas seranganku? Padahal posisiku bukan hanya sebagai korban. Bagaimanapun, aku juga turut andil dalam membantai prajurit Hoshi. Bukankah mereka adalah rakyat berhargamu juga?!
Kau seharusnya membalas seranganku. Dengan begitu, akan lebih mudah bagiku untuk membunuhmu! "
Peperangan adalah lingkaran neraka tanpa akhir. Semua berawal dari keinginan melindungi orang-orang yang dicintai yang akan berubah menjadi sebuah pengorbanan. Pengorbanan seseorang akan melahirkan sebuah kebencian orang yang kehilangan. Sementara kebencian akan melahirkan dendam. Maka hanya dalam sekejap, dendam yang menumpuk akan memicu sebuah peperangan.
"Karena aku memang pantas mendapatkannya! Setidaknya dengan ini aku bisa menebus kesalahnku pada Harui! Mati di tangan ayah yang begitu Harui hormati, bukanlah hal yang buruk! "
" K-kau, mengenal putriku? " ucap Hirui tidak percaya. Hikari tersenyum kecut bahkan ketika darah segar memenuhi mulutnya
" Harui adalah teman yang luar biasa untukku. Aku tidak menyangka, ia justru memiliki ayah sepertimu, Zou.
Tapi, bagaimanapun juga. Harui memiliki sosok ayah yang hebat. Ia selalu menghormati serta bangga padamu. Aku justru sangat iri dengan itu! " ucap Hikari sambil tersenyum kecut. Ia mengingat sosok ayahnya, Hozuki. Pria berdarah dingin yang terkenal karena kediktaktoran serta ambisi yang besar.
Tidak ada yang dapat Hikari pelajari dari sosok ayahnya. Sementara Zou, yang selalu ia kenal dengan sosok cerewen nan kekanak-kanankan ternyata seorang ayah yang hebat yang mampu menuntun putra-putrinya ke jalan yang terhormat
"Anak-anak seharusnya bercermin dari sosok ayah mereka. Tapi bagiku, aku tidak punya sosok untuk tempatku bercermin " gumam Hikari pelan. Ia pun menutup matanya pasrah. Bersiap menerima semua hukuman dari Hirui. Bahkan dengan nyawanya sekalipun
" Mungkin aku tidak bisa menebus dosa yang ayahku buat untuk Negeri Tsuki ataupun untukmu. Tapi setidaknya, dengan nyawaku aku bisa sedikit menebus kesalahan yang aku buat untuk Harui.
Aku mohon Zou, cepat bunuh aku dengan kedua tanganmu! " ucap Hikari mantap
Hirui yang geram langsu mengaktifkan Gyoku di tangannya. Sebuah jarum sihir tercipta. Jarum runcing dengan ujung dilapisi cairan beracun yang sangat mematikan. Hirui segera mengarahkan jarum ditangannya tepat di dada Hikari.
Tangan Hirui tampak bergetar hebat. Sekelibat bayangan disepanjang kebersamaanya sebagai Zou dengan Hikari sebagai Nee berputar cepat di kepalanya. Waktu ketika mereka tidak mengenal identitas satu sama lain, waktu ketika tidak ada dendam dan hanya menyelesaikan misi sebagai bagian dari Tim Tengu memenuhi ingatan Hirui.
Bahkan ingatan ketika Nee mengorbankan nyawanya untuk menolongnya dari jeratan Jendral Kitsune menbuat keraguan Hirui semakin besar
__ADS_1
Tranggg....
Jarum di tangan Hirui jatuh begitu saja. Ia langsung bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Hikari
"Capat bangun, Nee! " ucap Hirui pelan. Ia bahkan memanggil Hikari dengan nama Tengunya. Hikari yang terheran memberanikan diri membuka matanya. Uluran tangan Hirui merupakan hal pertama yang netranya tangkap
" Kenapa? "
" Bukankah setelah pertengkaran antar teman. Selalu ada perdamaian untuk menyelesaikan setiap masalah? "
" Tapi, kenapa kau melakulan itu? Aku ini bukan temanmu. Aku ini musuhmu, Zou! " ucap Hikari
" Lihatlah kau bahkan masih memanggilku Zou! Itu artinya kau masih Nee, rekanku di Tim Tengu. Rekan yang selalu bersedia mengorbnakan nyawanya kapan pun!
Itulah dirimu, Nee. Baik sebagai Nee dari Tengu ataupun Hikari. Aku percaya kau tetap mementingkan teman-temanmu. Mungkin hal itu juga dirasakan Harui. Bukankah tadi kau bilang kalian berteman?! "
" Tapi setelah semua yang terjadi. Gara-gara Harui bertemu denganku, ia harus menanggung semua rasa sakit yang diberikan ayahku. Sudah sepantasnya kau membalas semua yang telah terjadi pada putrimu! "
Sorot mata Zou mulai melemah " Harui sangat mirip dengan ibunya. Ia akan mengajak siapapun berteman dengannya. Bahkan untuk orang sepertiku atau sepertimu. Ketika ia menganggapmu teman ia juga akan mengetahui apapun tentangmu.
Kau mungkin merasa bersalah kepada Harui. Tapi kau harus meminta maaf padanya langsung, bukan padaku. Amarahku padamu sudah aku lampiaskan memalui pukulanku tadi. Aku sekarang sudah merasa laga. Lalu apa masalahnya kalau kita memulai pertemanan kembali?! " Hirui kembali menawarkan uluran tangannya.
Hikari hanya terdiam, entah kenapa tangannya terangkat untuk menggapai uluran tangan Hirui. Mereka akhirnya berdamai dengan perasaan masing-masing. Hirui berdamai dengan penyesalan karena sudah gagal melindungi putrinya. Lewat ucapan Hikari, ia sadar bahwa ia sudah membesarkan anak-anaknya seperti yang diharapkan Haruko. Sementara Hikari, rasa bersalah yang memenuhi hatinya sedikit terangkat. Setidaknya, ia bisa meminta maaf langsung dari orang yang begitu Harui hormati.
Keduanya akhirnya saling berjabat tangan. Sinar sihir Tora kembali menyelimuti tubuh keduanya.
"Satu lagi, Hikari. Kau tidak harus menanggung semua dosa yang ayahmu perbuat.
Ingatlah, Jika seorang anak menyimpang dan membuat suatu kesalahan. Itu adalah salah orang tua karena gagal mendidik anaknya ke jalur yang benar.
Tapi, jika orang tua yang seharusnya menjadi panutan anak-anak berbuat salah. Tidak sepantasnya anak-abak mereka yang menanggung akibatnya.
Yah! Setidaknya itulah yang harus kau pahami mulai sekarang. " ucap Hisui sambil tersenyum canggung. Ia merasa keadaan serius bukanlah gayanya.
Menjadi Zou cerewet dan pecicilan merupakan sebuah kesenangan. Untuk itu, ia ingin kembali menjadi Zou yang dulu. Terlepas Hikari tahu siapa dia yang sebenarnya.
" Kau kembali ke sifat cerewetmu, Zou. " Hikari juga mendapat sebuah pembenaran. Selama ini ia berusaha menyembunyikan dirinya dan bersikap pengecut, tapi kini ia ingin menjadi seorang Hikari seutuhnya. Untuk itu, Hikari tidak akan menyembunyikan wajahnya lagu
" Kau tidak perlu bercermin pada siapapun. Karena kau sudah tumbuh menjadi laki-laki yang hebat. Setidaknya itulah yang aku lihat!"
Tubuh mereka mulai menghilang, dari negeri antah berantah itu. Sebelum benar-benar menghilang, Nee kembali mengajukan satu pertanyaan kepada Zou
"Zou, apa aku harus berbicara hormat denganmu mulai sekarang? Mengingat usia aslimu, kau bahkan cocok untuk aku pangil ayah! "
" Ck, Hentikan! Aku tidak mau mengankat putra sepertimu! Dan lagi sejak kapan kau sangat cerewet melebihiku! "
" Bukankah anak laki-laki tumbuh melihat punggung ayah mereka (maksudnya meniru kelakuan) ?"
"Cukup! Aku tidak ingin menjadi ayahmu! "
" Tapi siapa tahu. Di masa depan hubungan kita mungkin seperti itu"
"Hei! Apa maksud ucapanmu itu! "
Pertengkaran kembali memenuhi keduanya. Sihir Tora akhirnya menelan tubuh mereka dan lenyap begitu saja.
...----------------...
Nah, Loh! Cerita romeo juliet berubah. Judul yang tepat untuk chap ini : The real Azab. Teman yang selalu aku buli dan cuekin ternyata adalah ayah dari gebetanku
Like dan komen. Yang merasa chap ini gaje, maafkan Author ya.....
__ADS_1