
Sreshhh.........
Ten memotong kedua bilah tali yang menjerat tangan Yume, dengan cepat Ten menangkap tubuh Yume. Tubuh yang lemas penuh luka siksaan. Gadis berambut violet itu bahkan tidak sadarkan diri. Kini tubuh Yume berada di pangkuan Ten, dengan cepat Ten menggendong tubuh Yume dan membawanya keluar dari markas Cops Merah
......................
"Cepatlah Hanna! " ucap Ten dengan tergesa-gesa, sementara Hanna hanya mengikuti kemana langkah Ten dengan raut wajah bingung, ia pun berusaha mengejar Ten dan mensejajarkan langkahnya
Mereka kini berada di depan sebuah apartemen. Ten dengan tergesa-gesa membuka pintu rumahnya
" Setidaknya jelaskan dulu, ada apa ini, Ten? " ucap Hanna sambil terus mengikuti kemana Ten pergi. Ia masih belum mengerti, kenapa pria yang selalu tenang serta berpikir rasional seperti Ten tiba-tiba panik dan bahkan tidak menjelaskan apa yang terjadi padanya
Hingga Hanna menemukan seseorang yang tengah berbaring di ranjang, dalam keadaan terluka cukup parah. Hanna baru pertama kali melihat sosok lemah dihadapannya
" S-Siapa dia Ten? " ucap Hanna sambil menatap Ten bingung, ia menuntut penjelasan dari sahabatnya itu. Namun Ten tidak menjawab pertanyaannya, ia hanya memegang tangan Hanna erat dengan sorot mata putus asa
" Nanti aku jelaskan Hanna! Aku mohon.... Tolong sembuhkan dia! " ucap Ten ririh
Hanna pun mendekati tubuh Yume, ia memeriksa keadaan gadis itu. Dengan sigap ia meletakkan tangannya ke tubuh Yumme, dan mengalirkan Kenkounya. Ten yang berdiri di belakang mereka, terus memperhatikan Kondisi Yume dengan raut khawatir. Darah masih saja menetes dari luka ditubuh Yume. Sementara wajah cantiknya, dipenuhi bekas luka lebam yang memperihatinkan
"Kau tunggulah diluar Ten. Aku harus memeriksa tubuhnya dengan lebih teliti! "
......................
Ten yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tengah Apartemennya masih menunggu hasil pemeriksaan Yume. Jika sesuatu terjadi pada Yume, Ten bahkan tidak bisa melanjutkan hidupnya lagi. Yume adalah satu-satunya alasan Ten Hidup dan menjadi prajurit militer seperti yang Tanuki mau. Karena alasan itulah, Tanuki dengan mudah mengendalikan Ten untuk memata-matai Zen secara langsung. Yume menjadi ancaman bagi Ten untuk mengkhianati teman-temannya. Sekaligus berbagi data rahasia yang ia peroleh lewat Cops Putih. Bahkan tugas Ten meliputi pemberishan kejahatan ilegal yang dilakukan Tanuki secara rahasia
Hanna keluar dari kamarnya dan menghampiri Ten yang tengah gelisah. Ten yang menyadari kedatangan Hanna langsung menanyakan kondisi Yume
"Bagaimana keadaanya? "
" Lukanya cukup dalam, ia kehilangan banyak darah. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku sudah mengobatinya, dia hanya perlu istirahat" ucap Hanna dengan wajah pucatnya. Ia terlalu banyak menggunakan Kenkou sihirnya. Tubuhnya pun berubah memucat seiring dengan terkurasnya energi tubuhnya
"Syukurlah, terimakasih banyak Hanna! "
"Tidak usah berterimakasih padaku Ten, kalau boleh tau, siapa gadis itu? " Hanna masih penasaran, siapa wanita yang ia obati itu. Apa hubungan wanita itu dengan Ten?
" Dia adalah temanku, aku akan menemaninya. Maaf merepotkanmu, nanti aku berjanji akan mentraktirmu sebagai balasan, okey! " ucap Ten pergi meninggalkan Hanna begitu saja. Hanna sedikit kecewa. Setelah semua yang ia lakukan, hanya itu balasan dari Ten. Ia tidak mengharapkan lebih, tapi setidaknya harapan Hanna pria yang ia taksir sejak dulu sedikit meliriknya
"Tatapan Ten, aku belum pernah melihatnya dengan wajah sekhawatir itu, siapa sebenarnya wanita itu? "
__ADS_1
Meski di penuhi rasa penasaran, Hanna pun meninggalkan rumah Ten. Meski ada sesuatu yang mengganjal hatinya
......................
Di dalam kamar, Ten terus menggenggam tangan Yume erat. Meski gadis di depannya hanya tertidur, wajahnya tidak lepas dari rasa khawatir
Yume perlahan membuka matanya, pandangan yang pertama ia lihat dengan kedua matanya, adalah wajah khawatir pria yang kini menggenggam tangannya hangat
"Kau sudah bangun Yume? Apa kau baik-baik saja sekarang? Apa tubuhmu masih sakit? "
" Aku baik-baik saja Ten, di mana aku sekarang? Bagaimana dengan Tuan Tanuki? " Yume megedarkan pandangannya. Ia tahu ia tidak berada dirumah sakit. Sebuah kamar kecil yang tertata rapi disekitarnya benar-benar tampak asing untuknya. Ia menebak ini adalah kamar Ten.
" Kau masih saja memikirkan orang yang membuatmu seperti ini? Aku mohon Yume! Berhentilah bersikap, seakan kau berhutang budi padanya! " ucap Ten dengan nada sedikit meninggi. Ia begitu kesal, gadis yang bahkan sudah disiksa sekejam ini masih mengkawatirkan ayahnya
"Aku memang berhutang budi dengannya Ten, seumur Hidupku! " ucap Yume pelan. Jika ada yang bisa Yume sebut rumah, itu adalah organisasi Cops Merah Tanuki
"Dia hanya memanfaatkanmu saja Yume, kau tidak bisa menyerahkan hidupmu pada seseorang seperti itu! "
Ten menatap tangan Yume, tangan yang masih menyisakan luka lecet di mana-mana. Di jari manis Yume, terdapat sebuah Tatto bergaris hitam, yang melingkari jarinya
"Seharusnya aku memasangkan cincin cantik di jari manismu ini, tapi orang yang aku sebut ayah, justru memasang kutukan dalam dirimu! "
"Setidaknya, dengan tanda ini. Aku bisa terus melihatmu, Ten"
...****************...
Saat berusia 10 tahun, Yume di bawa Tanuki ke Sora. Sebagai korban perang, ia tidak lagi memiliki keluarga atau rumah. Tanuki membawa Yumme kecil karena potensi yang dimilikinya, ia di masukkan sebagai bagian dari Cops Awan Merah. Ia di latih dan di besarkan dengan sistem Cops Merah, yaitu tampa memiliki emosi sedikitpun. Sebagai misi utamanya waktu itu, ia di beri tugas menjaga Putra Tuan mereka secara rahasia
Tanuki memiliki sebuah kutukan sihir, yang diberikan khusus kepada orang yang berhutang budi dengannya, atau mau dengan sukarela menyerahkan kesetiaan mereka lewat sebuah kutukan sebagai kontrak
Kutukan itu berbeda dengan segel yang di miliki di setiap Cops Merah. Istimewanya, kutukan layaknya kontrak yang di lambangkan dengan Tatto melingkar di jari manis korban memiliki fungsi pesis seperti cicin yang mengikat janji antarara Tanuki dan Korban
Dengan kontrak Kutukan itu, Tanuki mengusai dan dapat mengendalikan tubuh atau pikiran orang yang di kontrak tanpa terkecuali.
Misi membuat Ten dan Yume mengerti perasaan masing-masing seiring berjalannya waktu. Kesepian yang mereka alami membuat mereka saling terikat dan berakhir tumbuh menjadi cinta
Tentu itu ditentang keras oleh Tanuki, namun pria licik itu memanfaatkan perasaan Ten terhadap Yume, agar bisa mengendalikan Ten dengan Yume sebagai kelemahannya.
...****************...
__ADS_1
"Aku sangat bersyukur, bisa bertemu orang sebaik dirimu Ten. Apa kau ingat? Dulu kau bahkan tidak mau masuk ke akademi, karena khawatir, aku yang mengikutimu kehujanan saat mengawasimu dari luar" ucap Yume tersenyum sambil mengenang masa lalunya.
Di ingatannya masih sangat jelas, Ten kecil yangat senang bermain dengan teman sebayanya rela membolos sekolah. Waktu itu hujan sangat deras. Sebagai pengawal rahasia, Yume harus mengikuti kemana Ten pergi tanpa seorang pun yang tahu akan keberadaanya. Misi mengharuskan ia bertahan ditengah cuaca yang ekstrem. Melihat anak-anak seusianya tertawa riang didalam kelas yang hangat sementara Yume harus menahan rasa dingin di luar sana. Hal itu membuat Ten tergerak.
"Aku tidak mau, gadis yang aku perhatikan sakit karena ulah ayahku yang menyuruhmu menjagaku 24 jam. Bahkan kau tidak bisa tidur dengan baik atau makan dengan baik! "
"Aku bisa makan dan tidur bahkan di tengah misiku, semua karena kau memberiku makanan mu. Kau sengaja serta tidur lebih awal, sehingga aku dapat beristirahat dengan baik kan? "
Mereka mengenang masa lau mereka. Hubungan yang dulu hanya sebatas pengawal dan Tuan, kini berubah menjadi sepasang orang yang saling memperhatikan satu-sama lain.
Yume kini bangkit dari tidurnya, tengan bantuan Ten kini ia duduk sambil menatap pria di depannya. Yume mengelus kepala Ten dengan lembut,
"Meskipun Hidupku berada di tangan Tuan Tanuki dan bersumpah untuk setia dengannya. Melihatmu aku jadi memiliki sebuah impian untuk pertama kalinya........
Aku ingin melihatmu di sepanjang sisa hidupku, itulah mimpiku. Namun, mimpi itu adalah hal yang mustahil untukku" ucap Yume
Air mata terus menetes, membasahi wajah cantiknya. Yume tidak henti mengelus kepala orang yang paling ia cintai itu. Ten mengulurkan tangannya, mengusap lembut tangan kecil Yume yang masih bertengger di wajahnya. Sebesit ide terlintas di otak Ten. Meski ia tahu, apa yang tengah ia pikirkan adalah hal yang percuma
"Apa kau mau melarikan diri denganku? ayo kita hidup di desa terpencil jauh dari sini. Kita akan menikah dan hidup layaknya orang biasa tanpa harus terlibat dengan dunia sihir ini"
Yume hanya tersenyum, ia tahu itu hanya sebuah hal yang mustahil baginya
"Bahkan membayangkannya saja, sudah membuatku senang Ten. Tapi, jika itu terjadi. Aku mungkin tidak bisa melihatmu lebih lama lagi
Bahkan jika aku keluar saja dari jangkauan Tuan Tanuki, ia bisa membunuhku kapanpun. Tapi yang lebih membuatku takut, dia bisa saja menyakitimu, Ten. Sama halnya dengan misi pertamaku, aku berjanji akan melindungimu! "
Mereka seolah terjebak di ruang tanpa jalan keluar. Kekangan Tanuki, membuat kedua insan itu harus merelakan kebahagian serta cinta tulus mereka. Jika mereka nekat melarikan diri, nyawa merekalah yang menjadi taruhan
"Kotrak kutukan? Tidak Yume, Aku janji aku akan membuat ayah melepas kutukan itu. Bersabarlah Yume, dan percayalah padaku"
Ten memegang kedua tangan Yume erat, tatapan lelaki itu begitu lekat dengan harapan terpancar di matanya
"Aku memang selalu percaya padamu Ten" ucap Yumee
Yume memang tengah tersenyum, namun air matanya tak henti menetes. Ia pun membuka tangannya lebar, bermaksud memberikan pria di depannya sebuah pelukan hangat
Yume memeluk Ten erat, begitu pula dengan Ten, ia memeluk gadis yang ia cintai itu sambil mengelus rambut violet panjangnya
"Meskipun harus mengorbankan hidupku, aku janji Yume, aku akan melepaskan jeratanmu dari ayahku, apapun akan aku lakukan"
__ADS_1