Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Tidak masalah... Menunjukkan Sedikit Perasaanmu....


__ADS_3

Angin behembus pelan, di tepi sebuah danau cantik, siluet pria dan wanita tengah berdiri bersanding. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka, hanya memandang hamparan air luas di depan, dalam diam


Di pikiran Yuri, ia madih herankenapa pria se-pro Itasuke bisa menyerah begitu saja, dan terjebak dalam perangkapnya dengan mudah. Apa Itasuke begitu mudah terpancing emosinya, jika berkaitan dengan barang berharganya itu


Sementara Itasuke masih penasaran, apa yang membuat gadis yang berdiri di sampingnya itu memiliki sesuatu yang mengerikan di punggungnya. Apakah benda itu yang membuatnya mengatakan hal-hal aneh, ketika hendak keluar dari ruang judi tadi. Kata-kata yang bahkan dapat Itasuke rasakan kesedihan yang keluar dari setipa tekanan ucapan Yuri


Yuri dan Itasuke hanya berdiri di tepi danau, mereka seakan tenggelam dalam pikiran masing-masing


"Kenapa kau menyerah? Bukankah peluang menangmu begitu tinggi? " ucapan Yuri memecah keheningan mereka


" Anggap saja aku masuk ke dalam perangkapmu" ucap Itasuke singkat, tanpa mengalihkan pandangannya


Ia pun memberikan Yuri sebuah amplop tebal, bagaimanapun ia ingin sekali membatu gadis itu. Setelah peratrungan hidup dan mati di meja judi tadi, entah kenapa Itasuke merasa tertarik dengan Yuri


"Ambillah, ini semua informasi mengenai Cops Merah. Koneksi, penyedia dana serta kegiatan ilegal mereka. Semua tertulis di kertas ini.


Bukankah ini yang kau dan pria itu cari? Kau bisa mempercayai Informasi yang aku miliki, lebih dari apapun" ucap Itasuke dambil melirik Zou yang berdiri jauh dari posisinya.


Yuri hanya tertegun, bagaimana Itasuke bisa tau tujuannya dalam berjudi? Namun, belum sempat Yuri membuka mulutnya untuk bertanya, Itasuke sudah lebih dulu menjawabnya


" Kau tidak perlu memasang muka seperti itu. Meski kau sudah mengalahkanku, kau lupa siapa aku? " ucap Itasuke


" A... Benar..... Kau pria yang tanpa emosi, dan juga pintar membaca pikiran orang" ucap Yuri baru ngeh, siapa orang yang ia hadapi saat ini


"Aku bukanlah pria tanpa emosi. Hanya saja aku lebih memilih menyembunyikan emosiku. Sejak kecil, aku tidak ingin mendengar orang-orang merasa kasihan dengan ku


Tapi setelah berjalannya waktu, serta kehidupanku yang keras dalam dunia perdagangan. Membuatku melupakan emosi di dalam diriku. Aku cinderung dia mengamati, bahkan ketika pisau menancap di depanku" ucap Itasuke


Selama ini, baik ia bertemu dengan para penangtang judi, atau klien yang menggunakan jasanya dalam memasok senjata, ia sama sekali tidak mau menunjukkan emosinya dan menjadi lemah atau menyedihkan di depan mereka


Karena hal itu, Itasuke di anggap menarik terlebih oleh Tanuki. Sehingga ia begitu dipercaya dalam membantu Cops Merah. Entah untuk memasok keperluan senjata, atau sekedar memegang informasi rahasia mengenai keberadaan markas Cops Merah


Pria berambut kuning Pucat itu pun kini berbalik bertanya kepada Yuri, sambil menatap gadis itu lekat


"Aku masih penasaran, apa kemampuanmu sama sepertiku? Aku menggunakan pengalamanku untuk mempelajari setiap ekspresi manusia. Aku bahkan mengetahui sezeorang berbohong, hanya dengan melihat sorot matanya


Sehingga dengan mudah dapat menebak emosi seseorang lewat ekpresi atau gerakan tubuh. Tapi apa kau juga sama? " Tanya Itasuke penasaran akan kemampuan Yuri yang dapat menandingi keahliannya itu


Yuri hanya menggelengkan kepalanya, dan hanya menunjukkan senyum yang terlihat menutupi kesedihannya


" Tidak.... Aku tidak mendapatkan hal itu dengan pengalamanku.


Hanya saja, aku sudah terlahir seperti ini..... " ucap Yuri pelan


Suasana begitu hening, hanya angin yang berhembus. Membuat surai merah cantik gadis berkimono hitam itu terhempas pelan


Itasuke hanya memandang Yuri dalam diam, ia sadar apa yang dimaksud Yuri adalah benda aneh yang tertanam dalam tubuhnya


"Tidak ada yang menyalahkan seseorang untuk terlahir ke dunia, apalagi menyesali kehadirannya....


Aku belajar dari pangalamanku. Hidup sendiri, membuatku berpikir sama sepertimu


Apa tidak ada orang yang menyayangiku atau memperhatikanku? Apa hidupku ini tidak diinginkan oleh orang tuaku? hanya itu, pikiran yang terus melintas di sepanjang hidupku" ucap Itasuke


Ia begitu mengerti perasaan Yuri, bagaimanapun ia juga seorang yatim piatu. Ia tumbuh tanpa mengenal kasih sayang

__ADS_1


Yuri pun melepas kalung Itasuke dari lehernya, ia tidak berniat mempermainkan pria itu dengan mengambil barang yang begitu berharga buatnya, hanya saja misi ini begitu penting


"Maafkan aku, karena telah mengambil sesuatu yang berharga untukmu" ucap Yuri dengan wajah menyesal


Itasuke menerimenya, entah kenapa wajah penyesalan Yuri membuatnya ingin lebih mengenalnya. Atau sekedar menceritakan kisahnya, bahwa Yuri bukanlah satu-satunya orang yang sendirian di dunia ini, melainkan ia juga salah satu orang yang sama


"Hanya ini, benda yang di berikan oleh orang tuaku ketika mereka menitipkanku ke panti asuhan.


Setidaknya dengan adanya kalung ini, aku merasakan bahwa aku memiliki orang tua. Meskipun mereka meninggalkanku" ucap Itasuke sambil mengambi kalung di tangan Yuri.


Namun, ucapan Itasuke itu justru membuat Yuri semakin bersalah


"Kenapa kau mengatakannya. Sekarang kau membuatku justru lebih bersalah. Aku kira itu milik kekasihmu, tau" ucap Yuri, yang sontak membuah Itasuke terkekeh dengan sikapnya


"Hahaha.... Aku ingi tahu? Kemana gadis yang dengan enteng melepas kimononya di depan pria?


Apa kau sebegitu inginnya menggoyahkanku? " ucap Itasuke sambil terus tertawa


" Kau lupa, kau bisa melihat kedalam dirimu? " ucap Yuri dengan tatapan horor, manik rubinya kini berubah menjadi pupil ular yang menyeramkan


Itasuke hanya bisa meneguk ludahnya, takut


" J... Jadi... Ini yang kau maksud dengan kemampuanmu? " ucapnya gugup


Yuri kembali ke keadaan normal " Sekarang aku bahkan dengan mudah membaca emosimu itu" ucap Yuri


"Begitukah? Aku hanya mengendalikan emosiku di arena judi saja. Diluar, aku hanya orang biasa" ucap Itasuke sambil menggosok kepalanya yang tidak gatal


"Kau tahu Yuri. Orang-orang seperti kita, cenderung menyembunyikan perasaannya dan bertidak kuat.


Padahal, jauh di dalam diri kita, perasaan rapuh tetap ada. Bukan begitu? " tanya Itasuke, pandangannya kini berubah begitu serius


Perasaan ketika kau begitu ingin bersandar padanya dan menceritakan kisahmu" ucap Yuri, dengan tatapan kosongnya


Ketika ia mengatakan hal itu, hanya satu orang yang ada dalam pikirannya. Orang itu adalah Yora. Meski berat, Yuri tidak memungkiri perasaanya goyah jika beradapan dengan Yora


Sementara Itasuke, gadis di depannya lah yang membuatnya ingin lebih mengenal, sekaligus ingin menceritakan kisahnya


Merasa suasan begitu kaku, Yuri dan Itasuke mencoba kembali ketujuan awal mereka bertemu. Yuri pun membuka amplop di tangannya


"Tapi.... Dimana kau mendapat semua informasi ini? Bahkan serinci ini? " ucap Yuri sambil membalik dokumen di tangannya


" Selain di arena judi, aku juga di percaya beberapa petinggi negara untuk mensuplai persenjataan Sora. Salah satunya untuk Cops Merah


Apa kau sudah mendengar? Beberapa hari yang lalu Cops bentukan Tuan Tanuki itu sudah resmi di bubarkan oleh Sora? " ucap Itasuke dengan tatapan serius


" Bubar? " tanya Yuri


" Hn..... Tapi..... Perintah pensuplai kebutuhan laboratorium di bawah Cops Merah masih datang padaku. Aku bahkan baru menerimanya barusan" ucap Itasuke


Yuri pun membalik dokumen di tangannya, ia melihat riwayat transaksi Cops Merah. Di bawah printah Tanuki, secara khusus ia meminta Itasuke untuk menyediakan berbagai macam hal, salah satunya objek manusia sebagai bahan uji coba


Yuri juga melihat catatan persebaran persembunyian atau markas Cops Merah


"Di sini tercatat, selain di desa Sora. Cops Merah memiliki beberapa markas ilegal, yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

__ADS_1


Beberapa laboratorium juga mereka miliki. Tapi apa tujuan mereka, jika semua hal itu harus di sembunyikan dari Desa Sora? " ucap Yuri mulai penasaran


" Selain senjata, mereka secara khusus memintaku untuk menyediakan beberapa bahan dan tenaga ilmuan untuk laboratorium. Aku juga diminta membantu mencarikan orang-orang sesuai kriteria mereka


Aku yakin, mereka tengah meneliti sesuatu. Aku sudah menulis laboratorium terbesar yang letaknya di salah satu kota mati. Jika perkiraanku benar, Cops merah tengah meneliti sesuatu yang besar di sana" ucap Itasuke


Meski mendapat Informasi yang sangat penting, bamun Yuri masih heran dengan Itasuke. Kenapa pria itu membantunya?


Jika karena taruhan, sudah cukup baginya menyerahkan dokumen, lalu pergi. Tapi ia malah menjelaskannya secara detail


"Kebapa kau memberitahukan semua itu padaku? " tanya Yuri


" Anggap saja, aku secara tulus ingin membantumu. Jadi apapun itu, jangan sungkan untuk memintanya padaku


Kau lupa? Kau satu-satunya orang yang berhasil mengalahkanku di meja judi? Aku adalah pria yang memegang prinsipnya, dan kekalahanku membuatku memiliki hutang denganmu" ucap Itasuke, meski alasan itu bukanlah alasan sebenarnya ia membantu Yuri


"Benarkah? Tapi apa memberikan hal seperti ini, tidak membahayakanmu?


Bagaimanapun, aku tidak ingin menyeretmu dalam bahaya" ucap Yuri


Itasuke hanya bisa tersenyum, meski telihat keras di luar, nyatanya gadis di depannya itu memiliki hati seputih bunga lili, sama seperti namanya


"Beberapa Cops Merah yang mengawasiku, akhir-akhir ini sudah hilang.... Jadi kau tidak perlu khawatir" ucap Itasuke


Yuri pun mengangguk, dan hendak pergi menuju Zou


"Kalau begitu, Terima kasih informasinya" ucap Yuri dengan senyum cerahnya, lantas berjalan pergi dari sana


Namun, sebelum Yuri lebih menjauh, suara Itasuke menghentikan langkahnya


"Tunggu! Yuri! "


Yuri pun menoleh, sambil membenarkan rambut merahnya yang tersapu angin


" Hn... Apa? "


Itasuke tersenyum, sambil melambaikan tangannya


" Sekarang kau tidak sendirian di dunia ini lagi. Ingatlah.... Aku dengan senang hati menjadi temanmu.....


Teman yang selalu mengkhawatirkanmu, dimanapun kau berada....


Jadi..... Mari kita berteman... Bagaimana? " ucap Itasuke


Yuri pun tersenyum, sambil menganggukan kepalanya


" Tentu.... Lagipula kau pria tampan dengan banyak uang.... Jadi mari kita berteman" canda Yuri yang membuat senyum lebih mengembang di wajah Itasuke


"Tentu.... Aku sangat senang jika teman wanitaku satu-satunya menghabiskan uangku... Datanglah lain kali.....Aku menunggumu " ucapnya sambil terus melambaikan tangannya.....


Yuri sudah semakin menjauh, sementara Itasuke masih berdiri di tempatnya sambil memandang kalung dengan liontin biru laut di tangannya


" Betul... Setidaknya... Kami tidak sendiri lagi sekarang" gumam Itasuke


...----------------...

__ADS_1


Hanya mau bilang....


Maafkan Author menulis tulisan yang tidak jelas ini..... Hiks.....


__ADS_2