
Tubuh Kurasu kembali terpental, tendangan Aora menghantam telak dan mengenai wajahnya. Darah mengalir di sudut bibirnya, Kurasu masih tidak percaya apa yang terjadi pada dengan Aora.
"B- bagaimana mungkin? "
Tanpa Kurasu sadari, Aora menggunakan klon miliknya untuk memperdayai Kuarsu. Bisa dibilang, Aora selangkah lebih maju jika berurusan dengan taktik. Aora sengaja mengirimkan klon sihir, agar ia seolah masuk ke dalam permainan Kurasu. Dan untuk mengelabuhi Kurasu, ia menbiarkan klon miliknya membawa pedang Shiba. Dengan begitu, Kurasu tidak akan sadar, bahwa yang tengah di hadapinya justru hanya sebuah klon sihir.
Sementara tubuh Aora asli terbang menjauh untuk menyiapkan rencana selanjutnya. Hanya dalam beberapa saat, Aora kembali ke medan pertempuran. Waktu yang sangat tepat, ketika Kurasu berhasil menjebak Clon miliknya, seperti yang sudah terjadi, Aora melayangkan tendangan ketika Kurasu lengah.
Aora tersenyum simpul, melihat wajah Kurasu merah padam karena telah termakan jebakannya.
" Entahlah, mungkin karena kau terlalu meremehkanku? Kau menganggap, kaulah yang paling kuat dan selalu meremehkan lawanmu.
Jadi, bagaimana rasanya, berhadapan dengan lawan yang mempermainkanmu, Kurasu? "
Aora balik memanas-manasi Kurasu. Ia pun mengeluarkan sebuah jam pasir kecil. Gerhana matahari hampir berakhir, Aora sadar ia harus segera mengakhiri pertarungan ini.
Energi gyokunya hampir melemah. Kekuatan yang Aorasu pinjamkan memang luar biasa kuat, tatapi sesuai perjanjian, kekuatan besar itu memiliki limit waktu yang singkat.
Aku harus segera mengakhiri pertarungan ini. Tapi untuk mengalahkan Kurasu, aku memerlukan sedikit waktu agar 'benda' itu aktif.
Aku harus mengulur waktu dengan cara memancing emosinya keluar!
Aora menatap jam pasir yang terus bergerak turun. Ia sudah menyiapkan serangan terakhir, dan untuk merealisasikan rencanaya, ia hanya perlu mengulur waktu selama 15 menit.
Kurasu tersenyum kecut, tatapannya kini berubah menyeramkan. Kilapan amarah di kedua iris merah darahnya terlihat jelas. Aura hitam bahkan menyelimuti seluruh tubuhnya.
" Tutup mulutmu!"
Brasss!
Kurasu melesat ke arah Aora. Keduanya kembali melanjutkan pertarungan, kali ini hanya menggunakan serangan fisik tanpa bantuan senjata apapun.
Kurasu melayangkan pukulan ke arah Aora, fisiknya yang besar dan kekar memberinya keutungan untuk melesatkan tinju mematikan. Pergerakan Kurasu juga lincah, bukan hanya sihir, Kurasu juga mahir dalam pertarung jarak dekat sepeti ini.
Aora masih bisa mengimbangi kemampuan bertatung Kurasu, sebagai mantan kapten Cops Awan putih, tentu kekuatan fisiknya tidak bisa di remehkan begitu saja. Bahkan tanpa senjata di tangannya, Aora mampu mengalahkan sedikitnya 50 orang militer hanya dengan mengandalkan kemampuan bertarung jarak dekat.
Aora membalas serangan Kurasu, sebuah pukulan telak kembali melayang ke wajah Kurasu. Namun pria berambut hitam itu langsung membalas serangan Aora, sebuah tendangan berhasil mengenai rusuk Aora.
Brassss!
Aora terpental, tubuhnya menabrak tebing batu hingga membuatnya jatuh tersungkur di tanah. Luka dalam Aora dapatkan, bahkan dalam kondisi itu, ia sempat melihat waktu di jam pasirnya. Waktu kisaran 8 menit tersisa.
Aora melirik ke arah langit, sebuah cahaya terang mulai muncul di sembilan penjuru mata angin. Sedikit lagi, rencananya akan segera ia lancarkan.
__ADS_1
"Sedikit lagi, semua akan selesai! "
Kurasu melesat dengan kekuatan penuh, mendorong tubuh Aora yang masih tersungkur di tanah. Tendangan bertubi-tubi ia layangkan ke tubuh Aora. Kurasu melakukannya dengan sangat brutal, seolah setiap tendangan yang ia hantamkan ke tubuh Aora adalah balasan ejekan yang ia terima beberapa saat lalu.
Bug!
"Berani sekali, seorang manusia sepetimu mengajariku! "
Kurasu mencengkram leher Aora dan mengangkat tinggi tubuhnya. Kaki Aora bahkan tidak lagi menyentuh tanah. Gyoku Kurasu mulai menyerap energi kehidupan Aora. Sedikit demi sediki, jiwa Aora disedot Kurasu.
Aora sebisanya bertahan, dengan cara mencengkram kedua tangan Kurasu yang mencekik lehernya. Kekuatan Aora semakin melemah.
" Argh! Kau masih belum sadar, apa kesalahamu Kurasu. Bahkan 10.000 tahun sudah berlalu, tapi kau masih menganggap apa yang kau yakini selama ini benar.
Kau tahu? Kau itu egois, bahkan ketika saudaramu dan Dewi Salju memberimu sebuah kesempatan untuk merenungi kesalahanmu. Kau justru menganggap sikap teman-temanmu itu sebagai bentuk pengkhianatan! "
Meski dalam kondisi terpojok, Aora masih bisa mengutarakan pendapatnya. Baginya, Kurasu tidak lebih dari sosok egois yang hanya mempercayai sesuatu dari sudut pandangnnya sediri.
" Aku tidak pernah salah, dan itu tidak pernah berubah sedikitpun. Manusia terlahir dengan keserakahan yang membelenggu jiwa dan membutakan mata mereka. Sampai kapanpun manusia hadir di Dunia, pertarungan dan peperangan tidak akan ada akhirnya. Penderitaan akan terus menghantui.
Mereka akan terus menyakiti satu sama lain, sampai semua yang mereka inginkan menjadi miliknya. Hingga tanpa mereka sadari, mereka justru berbalik menyakiti orang-orang yang seharusnya mereka lindungi. Lingkaran iblis itu, tidak akan pernah berakhir sampai manusia musnah dari muka bumi ini! "
" Tapi! " Aora menyela ucapan Kurasu, dengan sorot mata tajam ia menatap Kurasu geram.
Aora teringat teman-temannya di Sora. Setelah kepergian sang ayah, Aora hidup dalam sebuah bayang-bayang dendam untuk saudaranya. Ia hanya mementingkan tujuannya, dan hidup tanpa empati sedikitpun. Bagi Aora, Siapapun yang menghalangi jalannya, ia pantas dibunuh. Tak terkecuali rekan di dalam satu tim misinya.
Di dalam keterpurukan itu, Ketua Zen mengulurkan tangan hangatnya. Dengan sabar, Zen merangkul Aora dan membawanya ke jalan penuh cahaya bersamanya. Teman-temannya selalu hadir disisnya, mereka memberi Aora sebuah arti kehidupan sesungguhnya. Perlahan Aora bisa melupakan penderitaanya, dan memandang dunia dari sudut yang berbeda.
Aora sadar, dunia bukan hanya tempat penderitaan, melainkan tempat dimana kau menemukan orang-orang yang berjuang bersamamu. Sejatinya, penderitaan ada untuk membuat manusia lebih berpikir terbuka dan menjadi dewasa.
Tanpa sang guru dan teman-temannya, Aora mungkin sudah berubah menjadi iblis berdarah dingin seperti Kurasu.
"Manuisa adalah makhluk yang tidak pernah bisa ditebak. Hati mereka terlalu dalam, untuk bisa dibaca. Mudah berubah dan goyah. Bahkan seonggok sampah, bisa berubah menjadi seorang pahlawan bahkan didetik terakhir hidupnya (Tanuki)! "
Aora mengumpulkan kekuatannya, meski kekuatan gyoku bintangnya sudah melemah. Aora masih bisa bertahan dengan kekuatan yang ia miliki.
" Aku sadar, aku tidak pernah sendirian! Di luar sana, teman-temanku tengah menungguku! "
Aora merasakan sebuah dorongan muncul, tangan-tangan hangat orang-orang yang ia cintai mulai menggapai bahunya.
Kau pasti bisa, Aora! Kami percaya padamu!
Zen, Mirai, Yora, Ten, Rou, Hanna, Hotaru, Hisui, bahkan ayah dan ibunya, dan semua orang-orang yang ia kenal seakan hadir dibelakangnya dan memberinya sebuah motivasi, hal itu mulai membangkitkan kekuatan sejati di dalam diri Aora.
__ADS_1
Kekuatan itu bukan kekuatan pemberian Aorasu, kekuatan itu murni karena Aora percaya teman-temannya ada untuk mendukungnya memenangkan pertempuran kali ini.
Aora mencengkram kuat lengan Kurasu, membuat jeratan Kurasu mulai melemah.
"Mereka semua percaya padaku! "
Kurasu hanya bisa membulatkan matanya, sebelumnya kekuatan Aora sudah hampir musnah. Ditambah tubuhnya yang babak belur, kenapa ia bisa mengumpulkan kekuatan sebanyak ini?
Brasss!
Aora mendorong tubuh Kurasu. Dengan sihirnya, ia membuat pedang Shiba kembali ke genggamannya. Waktu di jam pasir sudah kian menipis. Dengan cepat, Aora menebas tubuh Kurasu dengan menggunakan pedang Shiba.
"Arkh! "
Kekuatan pedang Shiba menjalar keluar dan menjerat tubuh Kurasu. Energi kegelapan ditubuhnya tersegel. Ia tidak bisa berkutik sama sekali.
Aora melirik langit di sekelilingnya, sebuah cahaya satu persatu muncul di ke sembilan sisi. Cahaya itu berasal dari kekuatan rasi bintang gyoku yang Aora tanam di sembilan penjuru.
" Seseorang pernah mengajariku. Bahwa sekuat apapun dirimu, jika kau melakukam semua hal seorang diri. Kau hanya akan menemukam kegagalan.
Dan kau, Kurasu sudah menjadi bukti bahwa perkataan itu benar adanya. " Aora kembali mengulang oerkataan yang pernah Zen ajarkan.
" Sial kau Aora, kau pikir ini akan berakhir sampai disini? Aku akan terlahir sebagai kegelapan, dan menghantui semua keturunanmu! Camkan itu! "
Tubuh Aora perlahan mulai terangkat, ia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Kurasu. Aora berencana mengakhiri semua kekacauan ini disini. Ia berjanji pada dirinya, di masa depan tidak akan ada lagi sosok Kurasu-Kurasu lain yang akan mengancam perdamaian bumi.
Tubuh Aora semakin terbang tinggi, pandangannya masih tertuju pada Kurasu di bawah sana. Hingga, sebuah sinar sihir terang menjerat tubuh Kurasu dari sembilan arah berbeda. Sinar itu terus mengulum hingga menciptakan sebuah energi besar yang siap meledak.
Aora sudah mencapai titik tertinggi, ia melihat ke dalam gyoku bintangnnya yang sudah semakin meredup.
"Kutukan yang mengalir di darah kami. Aku pastikan, penderitaan ini tidak akan pernah dirasakan keturunan kami di masa depan.
Lenyaplah! Kurasu! "
Aora merentangkan kedua tangannya, sebuah ledakan tercipta. Ledakan yang cukup kuat hingga menghancurkan sebuah planet bersama dengan Kurasu didalamnya.
......................
Di sisi lain, kekuatan kegelapan di tubuh Mirai belum menghilang sedikitpun. Bagaimanapun, Nue masih tersegel di dalam jiwanya. Luka-luka di tubuh Mirai masih mengeluarkan darah spesialnya.
Di gelapnya lagit, sebuah cahaya berkelap-kerlip muncul. Kupu-kupu bersayap biru dengan kekuatan mistis mulai terbang mendekati Mirai. Ia mengelilingi tubuh gadis itu, serbuk ajaib yang keluar dari kepakan sayapnya mulai menyembuhkan satu persatu luka di tubuh Mirai.
"Mirai.... " gumam suara lembut itu.
__ADS_1
Kupu-kupu cantik itu lantas hingga di bahu Mirai, perlahan sinar sihir memenuhi sayap kupu-kupu itu dan ia pun lenyap seketika.