
Mata Mirai bergetar, mendengar suara yang paling ia benci dalam hidupnya menembus gendang telinganya. Meski Mirai tidak pernah melihat wajah Tanuki, namun Mirai tidak pernah lupa, bagaimana suara orang yang menyeretnya menuju lubang hitam kesengsaraan dalam hidupnya sedetikpun
"Jadi, semua itu ulahmu" ucap Mirai dengan suara bergetar, menahan amarah yang memuncah dalam dirinya
Ia ingin sekali membunuh Tanuki, membalas penderitaanya selama lebih sepuluh tahun, atas rasa sakit yang ia terima. Namun, jika ia membunuh Tanuki begitu saja, hal itu justru menjadi hukuman yang begitu mudah
"Kenapa? Kau ingin membunuhku? Lakukanlah, selagi kau memiliki kesempatan! " tantang Tanuki dengan seringai liciknya
Tangan Mirai mengepal hebat. Nafasnya berburu karena emosi di dalam dirinya. Jika terus seperti ini, mungkin saja ia akan di kuasai sihir kegelapan dan berakhir mengamuk tidak terkendali seperti Aora
Tidak, Mirai tidak sebodoh itu. Pria tua itu sengaja memancing emosinya, hal yang sama dilakukannya pada Aora. Hal itu justru membuatnya mudah untuk dikalahkan
Mirai mengabil nafas panjang, ia berusaha mengendalikan emosi dalam dirinya. Ia tatap Tanuki dari balik topeng, sambil mengaktifkan Gyoku saljunya
"Kau tahu? Kematian apa yang paling menyakitkan serta menyedihkan didunia ini?
Kematian, ketika kau tidak memiliki apapun atau siapapun yang menghargai keberadaanmu
Kematian, ketika kau begitu putus asa, hingga kau sendiri mengharapkan kematian itu datang menjemputmu
Dan aku pastikan, aku akan memberikan kematian seperti itu untuk iblis sepertimu!!!"
Mirai memusatkan kekuatan sihir birunya di Gyokunya, membuat semua tempat membeku disertai badai salju menggerumul disekelilingnya
"Kematian tanpa rasa sakit, adalah sebuah anugrah. Aku tidak mau kau mati seperti itu!!!! "
Wusssssss........
Brasssssss.......
Mirai menyerang Tanuki dengan badai es dasyat, membuat seisi ruang bawah tanah Tanuki membeku dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan es
Kekuatan mematikan Mirai tidak sampai di situ. Target sebenarnya adalah pria tua didepannya. Hanya dengan hentakan tangannya, kabut putih yang berisi elemen es miliknya ia arahkan untuk memburu Tanuki
"Aku tidak akan membunuhmu, tapi aku juga tidak akan sudi membiarkanmu keluar dengan tulang yang utuh! "
Tanuki hanya bisa tetegun, melihat grumulan kabut es yang begitu besar menghampirinya. Dengan cepat ia mengaktifkan gyoku di tangannya lalu menyemburkan elemen api miliknya
" Tidak akan semudah itu! "
Brusssss.......
Tanuki melawan elemen es Mirai dengan gumpalan bola api raksasa. Mengadu kedua sihir hebat dengan kelemahan elemen masing-masing
Brasssshhhhhhh......
Karena benturan panas bara api dengan es yang dingin, menyebabkan seisi ruangan dipenuhi kabut tebal akibat asap yang ditimbulkan oleh sihir keduanya
__ADS_1
Pandangan Tanuki menjadi kabur, ia tidak bisa melihat dimana Mirai berada
"Apa aku berasil mengalahkannya? Hah.... Hah... Hah"
Nafas Tanuki terengah, setelah mengeluarkan sihir yang cukup hebat untuk menandingi diri daru elemen es Milik Mirai. Namun, matanya membulat sempurna, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
"T- tidak mungkin"
Angin berhembus pelan, menghempaskan kabut sisa pertarungan dengan cepat. Medan pertarungan antara Tanuki dan Mirai sudah kembali jernih. Tapi, apa yang Tanuki harapkan tidak terwujud, justru apa ketakutkanlah yang ia dapat saat ini
Mirai hanya berdiri santai di atas gumpalan es, elemen api Tanuki bahkan tidak dapat menyentuh helai pakaiannya.
Elemen es Mirai dapat membekukan api Tanuki seketika. Bisa di bilang, Sihir Tanuki tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan Mirai
"D-dia membekukan elemen apiku? Apakah ini kekuatan sebenarnya reikarnasi Dewi Salju? " ucap Tanuki gugup, dengan keringan mengucur di keningnya
Tap.....
Mirai kembali mendaratkan kakinya di lantai, bongkahan es besar di mengelilinginya. Mirai seakan ingin menunjukkan, bahwa kekuatan spesialnya, tidak bisa dianggap remeh oleh Tanuki
" Kenapa? Kau takut?
Aku bahkan baru memulainya"
Sressssss......
Mirai menghentakkan tangannya. Kekuatan sihirnya menjerat tubuh Tanuki yang masih mematung
Mendengarnya saja membuatku bersemangat...
Akan aku buat kau menjadi manusia tidak berdaya dan hidup menyedihkan" ucap Mirai sambil mendekati Tanuki, sambil tersenyum melihat keadaan Tanuki dari balik topengnya
Jeratan es Mirai semakin menghimpit tubuh Tanuki, membuat pria itu kesulitan bergerak atau bahkan berafas.
Es yang dingin, membuat suhu tubuh Tanuki turun drastis. Jika terus disiksa Mirai seperti saat ini, ia mungkin akan mati karena tulang remuk atau hipotermia. Hanya Mirai yang menentukan
"Benarkah? Aku ragu kau bisa melakukann itu"
Dengan sekuat tenaga, Tanuki mengaktifkan Gyokunya. Ia mungkin tidak bisa menggunakan elemen apapun dalam keadaan seperti ini
Tapi Tanuki masih memiliki keahlian spesial. Keahlian yang selama ini membuatnya dijuluki sebagai Tanuki, si rakun sihir licik
Sebuah simbol layaknya daun maple berwarna hijau muncul di keningnya. Perlahan, wajah keriputnya berubah menghitam, dan mengering. Sebuah retakan layaknya tanah kering di musim kemarau tiba-tiba memenuhi sekujur tubuhnya
Kretakkk.... Kretakkkk...
Suara nyaring tanah retak terdengar, dari celah retakan di tubuh Tanuki muncul sinar terang yang menyilaukan
__ADS_1
Cahahaya yang menusuk indra, membuat Mirai menutup wajah dengan telapak tangannya cepat. Hingga beberapa saat setelahnya.....
"Mirai~"
Suara lembut mengalun memanggil namanya, suara yang selama ini begitu Mirai rindukan. Entah kenapa kemabali Mirai dengar
Mirai langsung menurunkan tangan, mencoba melihat siapa orang yang memanggilnya lembut.
Suara itu yang begitu familiar untuknya, hanya mendengarnya sekilas Mirai tahu suara itu milik ayahnya, Kizuna
Cengkraman es yang tadinya menjerat Tanuki, berubah menjerat seorang pria muda dengan rambut hitam pekat, serta mata hitam kelam yang menawan
Dengan tampang sayu, pria tampan yang memiliki senyuman hangat layaknya musim panas itu memangil nama Mirai lembut
"Mirai Putriku~" panggil pria itu lagi
Mirai yang melihat pria didepannya, hanya bisa mematung dengan tubuh membeku. Dengan tangan gemetar, ia coba membuka topeng yang menyembunyikan wajahnya. Mirai mencoba memastikan apa yang dilihatnya adalah nyata
Mata seindah lafender Mirai, hanya bisa menitikan butiran bening kerinduan. Sedangkan mulut ranumnya bergetar hebat tanpa bisa mengucap kata dengan lantang
"A- Ayah? T- tidak mungkin...."
Mirai menggelengkan kepalanya, butiran bening di mata cantiknya terus saja berjatuhan, beriringan dengan tubuhnya yang mulai melemah
"I- ini hanya sebuah ilusi sihir, kau harus sadar Mirai!"
Mirai mencoba menyadarkan dirinya, ia pun menutup mata sambil memukul wajahnya pelan. Berharap, ilusi seperti ini tidak mempengaruhi pikirannya
" Kau tumbuh menjadi gadis cantik, ayah sangat bangga padamu, Mirai"
Deng..........
Ucapan pria didepannya, begitu mirip dengan apa yang Kizuna selalu ucapkan kepadanya. Hangat kata di setiap ucapan, serta senyuman tulus sang Ayah benar-benar mengaburkan pikiran Mirai. Ayahnya Mirai temukan dalam sosok di depannya
"Tidak..... Tidak..... Kau bukan Ayahku!!!!!! "
Kerinduan Mirai pada sosok sang ayah begitu kuat dan tertumpuk dalam hatinya. Sehingga, hanya dengan beberapa kata yang diucapkan sosok di depannya, menembus begitu saja pertahanan di hati Mirai.
Mirai tahu, sosok di depannya adalah sihir yang Tanuki tanam. Namun melihat orang yang begitu ia rindukan muncul kembali di hadapannya, tentu membuatnya sedikit goyah
"Kemarilah putriku, Ayah sangat merindukanmu" suara itu kembali memanggil Mirai
Mirai hanya bisa memejamkan mata sambil menutup kedua telinganya, berharap ia tidak akan masuk dalam jebakan Tanuki
"Tunggu apa lagi, Putriku? Kau tidak merindukan ayahmu, hem? "
Meski sosok 'ayah' Mirai terdengar lembut memanggil Mirai, namun seringai jahat terlihat jelas terukir di wajahnya
__ADS_1
Tanuki sepertinya berusaha mempermainkan perasaan dan luka di hati Mirai dengan teknik perubahan miliknya
"Mendekatlah, gadis kecil. Aku akan mengambil darah berhargamu! Mendekatlah!!!!! "