
"Sudah lama sekali ya...... Ibu" ucap Yuri, sambil membungkuk hormat kepada wanita yang tengah duduk di depannya
"Kk..... Kau? " ucap sang Ratu tidak percaya
Yuri pun berjalan mendekati wanita yang amat ia rindukan selama ini, Seribu bahkan berjuta kali keinginan langsung memeluk ibunya, senyum cantiknya tidak dapat ia sembunyikan lagi.
Ia hendak memberikan seikat Lili putih dan sebuah kantung berisi hadiah untuk sang Ibu
Namun harapnnya pupus dengan satu kata dari sang ibu
" Kenapa kau kesini? Gadis sepertimu tidak pantas menginjakan kaki di istanaku" ucap Ibunya dingin
Langkah Yuri terhenti, ia hanya memandang wajah sang ibu dengan begitu banyak pertanyaan. Kenapa?
"Apa seorang putri, ingin menemui ibunya sendiri adalah sebuah dosa?
Kenapa ibu tidak bisa menunjukkan sedikit rasa rindu, kepada putri ibu sendiri? "
" Rindu? Cih............ Mendenengar kau memanggilku ibu saja aku sudah muak"
Tangan Yuri mengepal, ia mencoba untuk terus menahan luapan emosinya, dengan bibir yang bergetar, ia mulai bertanya kepada ibunya
"Aku selalu penasaran..... Kenapa kau sangat membenciku? Apa karena aku memiliki kekuatan ini? Apa karena mataku yang menyeramkan?
Aku...... Aku sangat putus asa menantikan perhatian darimu, aku bahkan sangat iri dengan Hito.......... Dia bahkan mendapat semua cinta dari mu ibu......... Ibu..... Apa kau sama sekali tidak kasian kepadaku? "
" Ibu.... Ibu.... Ibu...... Aku bilang hentikan memanggilku seperti itu, kau membuatku muak,
Kau bukan putriku.... Kau hanya moster yang lahir dari rahimku
Sekarang pergilah..... Melihatmu membuatku semakin Muak" Sang ratu pun memalingkan mukanya acuh
Mata Yuri tidak sanggup lagi menahan air matanya lagi, butiran bening terus terjatuh dari mata seindah Ruby miliknya
"Kau sesikitpun tidak pernah menunjukkan rasa khawatirmu padaku, meski kau hanya menganggapku gadis terkutuk.... Kau setidaknya menunjukkan sikap keibuanmu atau bahkan rasa kasihan, meski hanya sedikit
20 tahun lalu, apa kau ingat?
Aku berlari ke sini, setelah Oro-ryu melepasku pergi. Aku berharap setelah ibu mengetahui kekuatanku tidak berbahaya, ibu akan memelukku dan menerimaku
Tapi, kau justru mengusirku, aku begitu putus asa hingga aku nekat menuang racun ke mataku, agar mata menyeramkanku ini tidak pernah muncul lagi
Bahkan dengan taruhan nyawaku, kau bahkan tidak bergeming melihatku melakukan hal menyakitkan seperti itu? "
" Sudah aku bilang padamu, kau bukan putriku. Kau hanya kutukan yang datang dalam hidupku"
"Jika....... Jika seandainya aku tidak memiliki kekuatan ini, apa kau masih membenciku? "
Pranggggg.........
Ratu melempat guci hias di samping tempat tidurnya, tepat di depan Yuri. Dengan mata membulat, ia menatap Yuri dengan tajam, ia pun menunjukkan senyuman dingin miliknya
"Bagiku kau, ataupun kekuatan terkutukmu itu..... Mengingatkanku pada sosok Monster itu
Bahkan selama aku hidup sebagai putri negeri Mizu.....
Aku sama sekali tidak pernah berlutut pada siapa pun....... Tapi.... Aku justru terpaksa berlutut pada siluman ular itu......
Melihatmu saja, aku teringat pada penghinaan itu.
Jadi.... Meskipun kekuatanmu hilang dan bahkan jika kau mati pun...... Aku masih membencimu.......
__ADS_1
Sekarang pergilah........
Aku hanya membutuhkan anak yang membuatku bersinar........ Bukan anak terkutuk yang bahkan meminta manusia tuk dijadikan santapan.....
Di mataku... Kau hanya moster yang sama seperti Ular Putih itu"
Mata Yuri terpejam, dengan segenap tenaganya ia menahan emosi, bagaimanapun wanita di depannya tetaplah ibunya, orang yang membawanya ke dunia ini
Yuri pun melepas ikat pinggang kimononya, dan melepas lapisan luar kimono dengan lambang Phonixs birunya
Ia pun berbalik membelakangi Ratu, dan menyibak sedikit lapisan Kimono dalamnya
Sesuatu mengerikan terlihat di punggung kecil gadis itu, sebuah batu berwarna Hijau Touska tertanam di punggungnya
Lengkap dengan sisik putih yang mengelilingi batu itu. Batu itu adalah batu Tiga Pilar yang di cari Xio
"Aku terlahir, dengan batu itu di dalam tubuhku. Jika bukan karena Oro-ryu. Aku mungkin tidak bisa mengimbangi kekuatan ini.
Apa kau sadar, kau lah yang menanamkan batu ini ke tubuh putrimu?
Karena keserakahanmu terhadap kekuatan. Kau tidak mengembalikan kekuatan yang dititipkan kepadamu, dan justru kau menggunakannya demi dirimu sendiri"
Yuri pun berbalik menghadap Ratu, kini dua pasang mata semerah Ruby saling bertatapan
"Jadi...... Kau menyalahkanku? Apa kau datang ke sini ingin membunuhku? "
......................
Xio yang sedari tadi menunggu di depan kamar Ratu pun bisa mendengar apa yang terjadi di dalam kamar
Mata kelamnya tidak menunjukkan ekspresi yang berarti bahkan wajahnya tampak tenang seperti biasa. Namun tangannya Xio terus mengepal, mendengar percakapan Ibu dan anak di dalam ruangan itu
Pranggggg.......
Xio dan Hito mendengar suara barang pecah dari dalam sana. Membuat Xio berdiri dari duduknya mendekati pintu tersebut
Namun, Hito menghalangi langkah Xio
"Aku yakin Kakak Yuri bisa mengatasinya"
"Kau sama saja dengan ibumu" ucap Xio dingin
"Harapan kakak Yuri, adalah bertemu dengan ibu.... Untuk meluapkan segala perasaanya. Aku juga berharap kakak Yuri dapat menyadarkan ibu kami. Jadi.... Aku mohon, Tuan tidak boleh mencampuri urusan mereka"
Xio pun kembali tenang, ia kembali ke tempat duduknya
"Tampaknya, kau juga menaruh perhatian kepada Yuri, Tuanku" bisik Oro-ryu dari dalam jubah Xio
"Bahkan Moster sepertimu, akan bersimpati dengan gadis itu" ucap Xio datar
......................
Yuri pun berjalan ke arah Ratu,
"Kau tidak bisa menyembunyikan sifat Mostermu itu. Uhuk...... Uhuk..... "
Meski dalam keadaan sakit, Ratu masih bisa tersenyum sinis ke arah Yuri
Yuri pun mengeluarkan buket Lilinya, serta sebilah pisau dari dalam gaun miliknya
Sang Ratu yang melihat tingkah menyeramkan Yuri mulai ketakutan, tubuhnya gemetar
__ADS_1
" Jangan mendekat, pergilah!!!!!! "
Yuri mengulurkan tangan berisi bunga Lili, dan menaruh bunga itu tepat di depan sanga Ratu. Ia pun mengangkat pisau di tangan kirinya
Tessas
Mata ratu mulai terpejam, namun tidak ada yang terjadi
Yuri hanya menacapkan Pisaunya di atas kantung hadiah miliknya
"Ini adalah obat penawaran sakitmu. Kau pasti tidak terima kan? .......
Justru anak terkutuk sepertiku, yang bisa menyembuhkan penyakit milikmu
Kau bisa menggunakanya..... Atau juga membuangnya
Ini adalah hadiah terakhir untukku padamu Ibu.....
Mulai saat ini, aku anggap ibuku telah mati.... " ucap Yuri
Yuri pun berbalik, dan mulai berjalan meninggalkan Ratu yang masih mematung
Namun sebelum ia mencapai pintu keluar, ia menatap sang Ibu
" Bahkan, Moster pun lebih menghargai kehidupan orang lain..... Kau sebagai seorang Ibu, bahkan tega membuang anakmu....
Aku bahkan tidak kaget..... Apa kau masih mengingat namaku?
Bunga Lili putih, adalah arti dari namaku Yuri. Setidaknya kau harus mengingatnya..... IBU.... "
......................
Kreeeeetttttt.......
Pintu kamar itu pun terbuka, menampakan Yuri dengan Kimono yang masih menyingkap. Memperlihatkan bahunya yang putih, dengan punggung sedikit terekspos
Ia tidak bisa menahan lagi air matanya, dengan sisa kekuatannya, kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi, Yuri mulai berlutut dan menangis
Xio pun menghampiri Yuri, ia mulai melepas jubah hitamnya, dan menutupi tubuh Yuri
Hito yang khawatir dengan kondisi kakanya pun mencoba menenangkan Yuri
"Maafkan aku Kakak, aku tidak bisa menyadarkan ibu kita"
Yuripun menghentikan tangisanya, ia mulai mencoba berdiri kembali
"Ini bukan kesalahanmu Hito. Mulai sekarang Hubunganku dengan Ibu ataupun Negeri Mizu telah Usai"
Yuri pun menatap Adiknya itu, dan tersenyum
"Aku mungkin iri denganmu, tapi aku tahu.... Kau juga mengalami masa yang sulit. Maafkan aku Hito dan juga Terima kasih "
Yuri pun menepuk bahu sang Adik, dan pergi meninggalkan tempat itu
Sekali lagu, Xio hanya bisa mengikuti kemana gadis itu pergi. Entah kenapa, dia sangat menurut dalam masalah ini. Melupakan tujuannya sesaat, dan justru menemani Yuri ke istana Mizu
" Aku jadi iri, Ibu-ibu di luar sana, yang bahkan rela mengorbankan nyawa demi anaknya........
Apa kau memiliki ibu seperti itu, Yora? " tanya Yuri ke pria yang berjalan di sampingnya
Xio tidak menjawab pertanyaan Yuri, ia hanya terus berjalan di sisinya tanpa sepatah kata pun dari mulutnya
__ADS_1