Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Arc Xio : Sang Penyelamat


__ADS_3

Yuri berlutut tepat di depan kepala Oro-ryu. Pedang Xio masih setia bertengger di leher gadis berambut merah itu. Kepala yang sedari tadi merunduk, kini tampak menatap ular besar di depannya. Mata Yuri berubah, dengan pupil bergaris vertikal tipis layaknya mata ular.


Tanpa Xio sadari. Gadis itu mengaktifkan Gyoku di tangannya. Leher serta pergelangan tangan kanannya kini dipenuhi sisik ular berwarna putih


Brasssss........


Tiba-tiba ia berubah menjadi tumpukan ular putih kecil, menyabar dan melilit tubuh Xio. Salah satu ular kecil itu, berubah kembali menjadi sosok Yuri. Lengkap dengan Pisau yang balik menghunus leher Xio dari belakang


Yuri melepas kaca mata yang membingkai matanya, menampakkan sorot mata ular dari kedua mata cantiknya.


"Tidak akan aku biarkan, kau menyakiti Oro-ryu! " Yuri langsung menusuk punggung Xio dengan pisau kecil itu


"Mulai sekarang, kau akan mati perlahan akibat racun yang aku tambahkan padamu! " geram Yuri kesal. Ia memperdalam tebasan pisau di punggung Xio. Darah segar mulai mengalir keluar. Xio berbalik dan menatap Yuri dengan tatapan dingin Khasnya


"Kalau kau berencana membunuhku dengan racu. Setidaknya kau harus menggunakan racun yang kuat, bukan yang lemah seperti ini! " Xio mencengkram erat tangan Yuri, ia dengan mudah mencabut pisau yang tengah menacap dibahunya


"Sial! Kau bisa bertahan juga rupanya! " decih Yuri


Seketika Yuri menyerang Xio dengan cepat. Mereka bertukal pukulan satu-sama lain, meski Yuri adalah seorang wanita, Xio mengakui ilmu bela diri Yuri tidak dapat diremehkan.


Beberapa kali Xio dapat menghindari serangan Yuri. Meski begitu Yuri tetap saja menyerang Xio dengan cepat, namun terkesan gegabah


Xio meluncurkan pukulannya ke arah wajah Yuri, namun urung di lakukannya karena suatu alasan. Xio lebih memilih menghindar dan menjauh secepatnya dari Yuri


"Cih. Kau bahkan tidak bisa balas memukulku. Kalau begitu, aku saja yang menyerangmu! " Yuri mulai berlari ke arah Xio. Pria bermata kelam itu mulai merasakan efek racun ditubunya. Rasa pusing menghujam kepalanya.


Meski berada di bawah efek racun, stamina Xio jau di atas Yuri. Ia dengan gesit menghidar serangan berupa tendangan atau pukulan dari gadis itu. Tapi tetap saja, Xio tidak pernah membalas serangan Yuri


Xio pun mengaktifkan Gyoku Bulannya, ia hendak mengendalikan tanah di sekitar Yuri untuk menjerat lawannya itu.



Oro-ryu yang sedari tadi terus mengawasi pertandingan tersebut, tampak terkejut dengan apa yang dilihat. Sibol bulan ditangan Xio, tampaknya simbol yang cukup familiar untuknya


"Yuri Hentikan! JANGAN KAU LANJUTKAN LAGI! " teriak Oro-ryu. Ia ingin menghentikan pertarungan, tapi jeratan sihir Xio masih membelenggu tubuhnya


" Selama aku masih bisa bertahan, aku akan terus membela diri! " ucap Yuri yakin, ia berniat menyerang Xio lagi


"Tidak! Yuri.... Aku bilang HENTIKAN!"


Sontak Yuri menghentikan perlawanannya, begitu pula dengan Xio. Mereka hanya memandan Oro~ryu dengan tatapan penuh tanya.


" Ada apa Oro-ryu?! "


Ular putih raksasa itu, mengangkat sedikit kepalanya. Meskipun sebagian besar tubuhnya dikekeng oleh kekuatan Xio. Ia memperhatikan penampilan Xio, dari ujung kaki hingga kepala. Mata ularnya membulat sempura.


" Maafkan aku, tidak mengenalimu Tuanku~" ucap Oro-ryu sambil menundukkan kepalanya


Yuri yang melihat perlakuan aneh itu pun langsung membalas Oro-ryu. Bagaimana mungkin Oro-ryu menyerah semudah itu. Ia bahkan merendahkan dirinya untuk Xio

__ADS_1


"Meski kita terpojok, kita tidak boleh menyerah begitu saja Oro-ryu! " ucap Yuri tidak terima.


"Tidak. Aku tidak menyerah, aku hanya memberi hormat kepada Tuanku, kalau aku tidak salah, Namamu Yora dari Clan Bulan Sora bukan? "


Mata Xio melebar, bagaimana dia bisa tahu nama kecilnya. Bahkan tidak ada satupun orang yang memanggilnya dengan nama itu sekarang, terkecuali untuk Mirai


" B- Bagaimana kau bisa tahu? "


" Meski aku sangat membenci manusia, ada dua orang di dalam hidupku yang bisa melihat jauh dalam diriku. Orang yang tidak hanya menganggapku sebagai moster belaka, melainkan sebagi teman! "


Oro-ryu menatap Yuri, gadis di depannya merupakan salah satu dari manusia yang ia maksud. Gadis itu bahkan rela mempeetaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan ia dari jeratan Xio


"Dia adalah Yuri anak kecil yang di seret sendiri oleh ibunya. Meski aku mencoba menakuti atau bahkan membunuhnya, ia tetap mengulurkan tangan untukku. "


Lalu Oro-ryu pun menatap Xio, meskipun dalam wujud moster ular, Xio dapat melihat senyuman dari wajah Oro-ryu.


"Satu lagi, orang yang mengulurkan tangannya untukku. Dia adalah Nona Yoshiro gadis yang aku temui puluhan tahun silam. Ia merupakan keturunan dari Clan Bulan. Jika tebakkanku benar bukankah dia ibumu? "


Xio hanya menatap Oro-ryu tidak percaya, meski masih dengan sikap tenangnya. Xio tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang bergetar. Untuk pertama kalinya, ia bertemu seseorang diluar negeri Sora yang mengenal ibunya dengan baik


Yuri yang sedari tadi memperhatikan percakapan keduanya, kini menatap pria di depannya itu. Ia tahu, jauh didalam diri Xio ia begitu merindukan sosok yang Oro-ryu sebutkan tadi.


" Di mana kau bertemu dengannya? " ucap Xio dengan suara sedikit bergetar menahan emosi.


" Nona Yoshiro, pernah menyelamatkanku ketika pasukan Militer Hoshi hendak merebut batu 3 pilar dariku, meski aku di kepung oleh ratusan pasukan.


Kau mungkin tidak merasakan pelindung itu. Hal itu karena kau Tuan Yora. Karena pelindung itu di buat oleh kekuatan yang sama dengan milikmu.


Ibumu memiliki wajah dan mata yang persis dengan dirimu. Meski aku sempat ragu beberapa saat, tapi melihat segel istimewamu, aku yakin kau berasal dari Clan Bulan. "


Oro-ryu masih ingat dengan jelas, bahwa wanita yang pernah menyelamatkannya itu, mengatakan bahwa ia memiliki putra kembar yang lucu.


Meski Yoshiro turut andil dalam peperangan. Ia juga pernah mengaku merindukan sebuah peedamaian. Jika peedamaian antar negera hadir, ia berharap dapat membawa kedua putranya bertemu Oro-ryu suatu saat nanti.


"Dia bahkan memberi tahuku, bahwa dia memiliki 2 orang putra yang ia beri nama Yora dan Aora. Meski ia dalam keadaan lelah seusai bertarung, aku masih ingat bagaimana wajah gembiranya menceritakan kalian berdua kepadaku, yang hanya sebatas moster ular bagi sebagian orang.


Tidak aku sangka, aku dapat bertemu salah satu putranya yang kini sudah tumbuh dewasa"


Xio yang sedari tadi hanya diam mematung, mendengarkan cerita mengenai Ibunya. Tidak ada satu patah kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menunjukkan wajah murungnya


"Aku sudah mendengar berita mengenai dirimu, bukankah kau dan saudaramu lah keturunan terakhir dari 3 Pilar penjaga


Bahkan ada rumor, kaulah yang membantai ke tiga Clan itu 16 tahun yang lalu? " ucap Yuri


Oro-ryu hanya menatap Xio, ia juga bertanya apakah berita yang dikatakan Yuri benar.


" Aku tidak bisa menceritakan tentang masalah itu pada kalian. Bagiku, mengumpulkan serpihan batu 3 Pilar untuk mencapai tujuanku lebih penting dari apapun di dunia ini. " ucap Xio. Oro-ryu pun memejamkan matanya sejenak. Sepertinya ia mengerti sesuatu. Hidup selama ratusan abad membuatnya mengerti sesuatu bahkan tanpa diucap sekalipun


"Jadi ini, kebenaran yang kau maksud. Kau mengatakan jika apa yang aku lihat dan aku percayai, belum tentu menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya. Aku mulai mengerti apa maksud ucapanmu itu.

__ADS_1


Jika kau tidak keberatan, ijinkan aku dan Yuri ikut denganmu, Tuan Yora"


Bagi Oro-ryu entah apa yang direncanakan Xio, ia tidak terlalu peduli. Ia ingin melindungi anak yang sangat dicintai orang yang menyelamatkannya itu, begitu pula dengan Yuri. Ia ingin membawanya ikut serta mengikuti Kemana Xio pergi. Agar ia dapat melindungi mereka berdua sekaligus


"Sekarang, bisakah Tuan melepaskan jeratan di tubuhku? " Pinta Oro-ryu


Xio pun mengankat tangannya, seketika tanah yang menjerat tubuh ular itu pun hancur. Oro-ryu berubah menjadi ular kecil, dan pergi menuju bahu Yuri


" Eh! Apa-apaan ini, Oro-ryu.... Bukankah dia ingin mengambil batu 3 pilar? "


" Lagi pula aku hanya menjaga batu itu Yuri. Orang yang seharusnya menjaganya justru keturunan dari 3 Pilar penjaga langit! "


" Benarkah? "


Oro-ryu yang sibuk berbicara dengan Yuri tidak menyadari bahwa Xio mulai menunjukkan efek racun Yuri. Xio tiba-tiba berlutut, dan ambruk ke tanah. Sambil memegang dadanya yang sesak. Meski efek racunnya tidak kuat, namun Xio tampak kelelahan akibat terlalu banyak menggunakan energi sihirnya


Brakkkkkkk........ Ia pun jatuh pingsan


"Eeeh! Bukannya tadi dia bilang, efek racunku lemah, kenapa dia pingsan! "


"Sebaiknya kau tolong dia Yuri, bukankah kemarin kau begitu naksir dia. Karena dia sesuai tipemu heh? " Ledek Oro-ryu


" Ehhhh....... Apa maksudmu? Berhenti main-main denganku Oro-ryu! "


Yuri pun mendekati Xio, ia mengambil cairan dalam sakunya lantas meneteskan ke mulut Xio. Ia pun mengangkat kepala Xio untuk bersandar di pangkuannya.


" Jadi aku salah? " ucap Oro-ryu


" Kau bahkan menyuruhku berpura-pura berubah menjadi kucing, agar kau bisa berkenalan dengannya. " sambungnya


"Hentikan! Kau berisik! "



Yuri pun menatap wajah damai Xio yang tertidur di pangkuannya itu, semburat merah terlihat di pipinya.


Meski beberapa saat yang lalu mereka bertarung habis-habisan, Ia sadar pria di pangkuannya itu tidak ada niatan untuk melukainya. Xio memiliki babyak kesempatan untuk melumpuhkan serangan Yuri. Bahkan untuk membunuh gadis sepertinya, Yuri yakin pria yang tengah tertidur karena efek racunya itu mampu melakukannya dengan mudah. Tapi itu semua tidak dilakukan Xio. Itu tandanya ia adalah laki-laki yang baik diluar penampilannya yang dingin


"Entahlah....... Aku hanya melihat, ia mirip denganku. Aku hanya melihat kesedihan dari sorot matanya saja. "


...----------------...


Entah kenapa Author ingin sikap Karin masuk ke dalam Tokoh Yuri.......


Orang bar-bar macam dia lah yang menurutku cocok bersanding dengan Uchiha Itachi visual yang dimiliki Yora


Muehehehehe


😂

__ADS_1


__ADS_2