
"Kalian! Cepat buang Jasad dua orang itu ke gurun!" perintah Mitsusuke pada dua orang prajurit Cops Merah didepannya.
"Baik Kapten! " balas mereka kompak. Pria berjubah hitam itu pun mulai beranjak pergi.
Sementara Yuri masih diam mematung, ia merasa kakinya begitu lemas hingga tidak bisa menopang tubuhnya. Manik ruby Yuri bergetar hebat. Mulutnya seakan terkatup rapat tanpa bisa mengatakan sepatah kata lagi. Ia menatap dua tubuh tak bernyawa didepannya dengan tatapan tidak percaya.
Apa kedua tawanan ini adalah Yora dan Aora?!
Aura sihir serta pakaian yang mereka kenakan, sangat mirip dengan milik Yora dan Aora. Tidak mungkin, mereka sudah-
Dengan tangan bergetar, Yuri mencoba menyingkap kantong hitam yang menutup wajah didepannya. Berusaha memastikan bahwa tubuh tanpa nyawa didepannya itu memang benar kedua rekannya atau tidak.
"Tunggu! " suara berat Mitsusuke kembali terdengar.
Laki-laki itu tidak sepenuhnya meninggalkan ruangan, entah apa maksudnya, ia justru berbalik dan berjalan menghampiri dua prajurit yang masih diam mematung.
Mistusuke menatap lurus kedua anak buahnya dari balik topeng seram miliknya, ia sempat melirik gelang identitas prajurit didepannya. Angka romawi SII-IV serta LII-V terlihat jelas digelang mereka. Itu artinya mereka dari devisi Penjaga dan Devisi Patroli Markas Cops Awan Merah
"Gunung! " ucap Mitsusuke lantang. Ia seolah mengucapkan sandi kata untuk mengetes dua orang prajurit didepannya. Jika benar mereka bagain dari Cops Awan Merah, mereka pasti bisa menyambung kata miliknya dengan kata sandi dari masing-masing devisi. Tapi jika kenyataan mereka adalah penyusup, mereka pasti kesulitan menebak. Tentu saja Mistusuke akan membunuh dua prajurit itu di tempat.
Dua prajurit itu masih terdiam.
"Gunung! " ulang Mitsusuke. Ia menghunuskan pedang miliknya yang masih berlumuran darah. Bersiap menebas leher dua prajurit didepannya
" Lembah! " / " Sungai! " jawab mereka kompak.
Mitsusuke menurunkan pedangnya, ternyata dua prajurit didepannya mampu menyambung kata sandi miliknya.
" Setelah membuang dua mayat ini, kembalilah ke pos devisi masing-masing! Bukankah kalian dari unit penjaga penjara serta unit Patroli markas?!
Perketat penjagaan! Terutama pengawasan diantara tawanan dan lingkungan sekitar markas. Jangan biarkan satu semut pun menembus Markas Kita! Mengerti! "
" Baik Tuan! "
Mistusuke pun berubah menjadi asap hitam dan menghilang dari sana. Merasa situasi aman, salah satu prajurit mulai berjalan ke arah Yuri. Gadis berambut merah itu mulai bersiaga, diam-diam ia mengambil pisau medis dari dalam sakunya.
Tanpa menghiraukan tatapan tajam Yuri, pria bertopeng dewa kematian itu terus berjalan mendekatinya. Sambil mengambil sesuatu dari kantong peralatannya, dan mulai berjongkok tepat di hadapan Yuri.
"Luka ditanganmu masih mengeluarkan darah. " ucap pria itu datar sambil membalut luka gores dilengan Yuri dengan perban. Mata Yuri membulat sempurna. Suara dan nada bicara pria itu begitu mirip dengan seseorang.
" Yo... Yora? " ucap Yuri tidak percaya. Prajurit itu kemudian membuka penutup kepala beserta topeng yang menyembunyikan wajahnya. Manik hitam kelam miliknya menatap lurus wajah pucat gadis didepannya
" Kau tidak apa-apa, Yuri? " prajurit satunya juga membuka penutup kepalanya. Rambut abu-abunya mencuat keluar, sementara mata merah kecoklatannya menatap area sekitar was-was, untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mendekat.
" K-kalian! A-aku kira kalian sudah- " Yuri tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Ia akhirnya bisa bernafas, rasa lega memenuhi dirinya saat ini. Setidaknya dua orang rekannya baik-baik saja.
" Maafkan kami membuatmu terkejut seperti ini. Tapi, menjadi tawanan membuat kami tidak bisa bergerak bebas. Oleh sebab itu, kami menyamar menjadi prajurit Cops Merah. " jelas Aora sambil mendekat ke arah Yuri dan Yora
" T- tapi bagaimana mungkin? Aku yakin merasakan aura kuat sihir kalian berdua di dalam tubuh dua pria yang terbunuh tadi. Kalian tahu, aura sihir seseorang berbeda-beda. Seperti halnya sidik jari manusia, tidak ada aura sihir yang sama didunia ini. Mustahil untuk menukar atau menyembunyikannya.
Sebaliknya, Aku tidak bisa merasakan kekuatan kalian sekarang. Warna sihir yang aku rasakan di tubuh kalian saat ini tidak sama! Seolah-olah kalian adalah orang asing, bahkan dengan sensor ular milikku! "
__ADS_1
Yuri melirik ke arah Aora dan Yora bergantian. Ia berharap dua pria didepannya bisa menjelaskan situasi padanya.
Seperti biasa, Yora hanya terdiam sambil terus melilitkan perban di luka Yuri. Sementara Aora, hanya menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. Mungkin ia sedang mencari jalan bagaimana menjelaskan semua pada gadis berambut mereha didepannya
"Hah! Menjelaskan adalah sesuatu yang merepotkan. " gumam Aora pelan
"Oi! Kalian berdua. Cepat Jelaskan padaku! Atau aku akan melepas ular-ularku untuk menggigit kalian semua! Hah! " kesabaran Yuri sudah habis. Setelah dibuat spot jantung oleh dua laki-laki aneh didepannya, tentu meminta penjelasan adalah hal yang wajar
" Hei! Hei! Baiklah kami akan jelaskan! " Aora memamerkan senyum terpaksa dari balik maskernya. Wanita ketika marah, selalu membuat Aora bergidik. Kemarahan Yuri membuatnya teringat akan kebar-baran Mirai. Ia yakin jika dua gadis itu dipertemukan, mereka tidak akan pernah terkalahkan
" Tapi, sebelum itu kita harus mencari tempat yang aman dulu! " ucap Aora
......................
" Jadi rencana kalian akan mulai memeriksa setiap hal di markas dengan memanfaatkan penyamaran ini? " Yuri menatap sekilas topeng dewa kematian di tangan Aora. Saat ini, mereka sengaja memilih tempat mirip gudang untuk berdiskusi mengenai perubahan rencana.
" Tapi, bagaimana mungkin kalian merubah aura sihir di tubuh kalian? Bahkan kemampuan aneh itu bisa mengelabuhi sensor ular milikku! "
" Semua ini berasal dari kekuatan spesial milik Yora. Kau tahu, kemampuan sihir memanipulasi pikiran miliknya merupakan sesuatu yang menyeramkan! " ucap Aora sambil melirik saudaranya
" Sebelum masuk lebih jauh, aku menanamkan ilusi pikiranku ke dua orang penjaga yang tewas tadi. Kami lalu bertukar tempat. Di dunia ilusi milikku, aku mampu mengendalikan apapun sesuai kehendaku. Termasuk menanam aura sihir miliku kedalam tubuh penjaga tadi. Bisa dikatakan kami bertukar identitas untuk sejenak. "Jelas Yora
" Tapi itu hanya bekerja untuk dirimu saja. Bagaimana dengan orang ini?! Lalu bagaimana kalian tahu kata sandi orang-orang disini?! " ucap Yuri sambil melirik Aora.
Ia bisa mengerti, dengan kemampuan Yora. Pria itu bisa melakukan apapun dnegan kekuatan manipulasi miliknya. Tapi, bagaimana dengan Aora. Bagaimana bisa pria itu juga mamapu menyembunyikan aura sihirnya?
" Kau pikir hanya Yora saja yang bisa melakukannya! Aku juga bisa, hanya saja cara kami melakukannya berbeda. Yora dengan menanam ilusi dipikiran manusia, sementara aku mengendalikan semua dengan kemampuan mataku. " Aora menujukan kilapan mata merah darahnya. Yuri sedikit tertegun. Sejak kapan ia memiliki mata menakutkan itu?
" Aku masuk ke dalam pikiran mereka. Dengan kemampuan mataku, aku menukar aura sihir di tubuh penjaga dengan miliku, sementara aku memakai identitas sihir miliknya.
Lalu, untuk mengetahui kata sandi mereka, aku sedikit menggunakan trik milikku. Sama seperti cara kerja hipnotis, aku juga mengetahui kata sandi milik penjaga itu dengan kemampyan mataku! Jadi, semua penjelasan kami bisa menjawab rasa penasaranmu, kan? "
" Hua! Kemampuan kalian benar-benar sulit dipercaya. Kalau kalian sehebat ini, untuk apa juga aku ikut kesini! " Yuri mulai merasa dirinya ditak berguna ikut kedalam misi. Bahkan tanpa bantuannya, Yora dan Aora pasti bisa bertahan dengan kemampuan hebat mereka
" Bisa-bisa aku hanya akan menjadi beban kalian. " ucapnya pelan
" Hentikan omong kosongmu. Kami masih memerlukan kemampuanmu! " ucap Yora datar.
" Yora benar! Dalam misi berbahaya ini, kerja sama dan kemampuan semua orang dipertaruhkan. Yuri, apa kau mengetahaui sesuatu? " ucap Aora dengan wajah serius
Yuri terlihat berpikir sejenak " Setelah sampai ditempat ini, mereka mengunci pergerakanku dengan memasang lonceng ini di kakiku. Mereka bilang, jika aku berani menyusup keluar, lonceng ini akan otomatis berbunyi dan meledak.
Karena belenggu ini sudah dipasang, maka mereka mengijinkanku berkeliling untuk mengecek konndisi para tahanan. "
Yuri kembali teringat dengan ruang bawah tanah aneh yang ia sempat temukan. Di sana, ada sebuah laboratorium yang khusus digunakan untuk menguji sesuatu. Bau amis darah serta tempat gelap nan pengap mengelilingi tempat aneh itu.
" Di salah satu ruangan, ada tempat yang digunakan para peneliti untuk menguji sesuatu ke dalam tubuh para tawanan. Sesuatu zad berwarna hitam pekat yang cukup membunuh tawanan jika mereka tidak bisa mengatasi obat yang para ilmuan suntikkan ke dalam tubuh orang itu. Sekilas aku sempat melihat, mereka menggeliat menahan sakit. Bukan hanya itu, tubuh para objek percobaan berubah menghitam. Tampaknya mereka tengah mengembangkan sesuatu yang aneh didalam sana! "
" Apa kau bisa mengetahui, jenis obat apa yang mereka suntikkan? " ucap Aora. Yuri menggeleng pelan.
" Aku akan mencari tahu obat atau sihir apa itu. Tapi, selain itu ada satu hal aneh lagi yang kalian harus tahu! " ucap Yuri pelan. Ia mulai mendekatkan diri ke arah Yora dan Aora. Yuri pun mulai berbisik pelan
__ADS_1
" Jauh di ruang paling dalam tempat ini. Ada salah satu ruang yang sengaja ditutup menggunakan segel sihir khusus. Aku tidak diperbolehkan mendekat ke ruangan itu. Ruangan itu terlihat mirip seperti ruangan penyimpanan. Mungkin sesuatu disembunyikan disana! " bisik Yuri
Yora dan Aora berpikir sejenak. Mereka kemudian saling bertukar pandang, lalu mengangguk pelan
" Kami mengerti! Informasi dari mu sungguh membantu Yuri. Kami akan mencoba menyusup masuk ke dalam ruangan bersegel itu. Sementara kau, bisakah kau mencaritahu obat apa yang digunakan para ilmuan untuk disuntikan ke dalam tubuh para tawanan? " ucap Aora
Yuri mengangguk pelan. " Tentu! "
Yuri mulai bangkit berdiri, setelah semua rencana tersusun ia hendak kembali menuju ruang tugasnya.
" Kalau begitu, aku akan kembali ke tempatku. Sebentar lagi, pengecekan akan dilakukan. Aku tidak bisa terus di tempat ini! Bisa-bisa lomceng dikakiku meledak, dan membunuh kita disini. " ucap Yur dengan nada becanda. Seolah apa yang dikatakannya adalah lelucon semata. Tidak ada rasa takut di wajah gadis itu, dengan yakin Yuri berjalan pergi menuju tempat yang paling mengancam nyawanya itu
" Tunggu dulu, Yuri. " ucap Yora pelan.
Yuri sempat menghentikan langkahnya. Sementara Aora hanya bisa meniakan alisnya heran. Semua sudah jelas, kenapa Yora menghentikan lankah Yuri?
" Hei ada apa lagi Yora? Kita harus cepat bergerak sebelum mereka sadar keberadaan kita! " ucap Aora heran
" Ada apa Yora? " Yuri tidak kalah penasaran.
Pria bersurai hitam itu hanya memandang lonceng seukuran apel yang menjerat pergelangan kaki Yuri erat. Bekas lebam bahkan terlihat jelas menghiasi kaki tanpa alas Yuri. Yora hanya terdiam, dalam situasi seperti ini dia bahkan tidak bisa mengutarakan kekhawatirannya.
Hanya memandang kearah Yuri lekat, tanpa sepatah kata keluar dari mulut laki-laki berwajah datar itu. Aora sadar apa yang dirasakan saudara kembarnya. Mungkin hanya dialah yang mampun mengerti Yora. Sambil tersenyum pelan, Aora menggantikan Yora untuk berbicara kepada Yuri
"Hei! Yuri, berhati-hatilah menjalankan misi kali ini. Situasinya sangat berbahaya! Kau harus mampu menjaga dirimu! Mengerti?! " ucap Aora sambil melirik Yora. Sikap jail Mirai sudah menular ke Aora rupanya.
" Ingatlah! Seseorang diluar sana pasti sangat mencemaskanmu! Tau! " kata-kata itu seolah menyidir Yora
" Tentu saja aku akan menjaga diriku sendiri. Tapi, Siapa memangnya orang yang akan mencemaskanku?! Aku tidak mempunyai siapapun untuk sekedar mencemaskan keadaanku. " ucap Yuri sambil menyipitkan matanya.
" Entahlah! Mungkin~ "
Aora kembali melayangkan tatapan penuh arti ke Yora. Sementara itu, pria disampingnya langsung merasa terpanggil, dengan cepat Yora menginjak kaki Aora tanpa ampun.
" Auch! Sakit! Hei, ada apa dengamu?! " ucap Aora kesal. Tatapan tajam ia layangkan ke arah saudaranya itu
" Yuri hanya bisa pasrah melihat tingkah konyol dua saudara kembar didepannya. Ia tidak menyangka, jika makhluk sejenis Aora di dekatkan dengan makluk es berwajah papan seperti Yora. Kegilaan mereka akan saling bersautan. Sikap mereka akan berubah 180°
"Aora, berhentilah bercanda! " ucap Yuri sambil menggeleng pelan
" Aish! Maksudku seseorang diluar sana itu adalah Itasuke. Aku lihat pria itu tertarik denganmu! Heh! " Aora tersenyum jahil. Sikap Mirai 100% menular
" Ck! Itu? Aku rasa kau benar. Aku juga tahu kalau dia tertarik denganku! Puas! " Yuri mulai geram dengan tingkah Aora.
" Aku pergi dulu! " ucap Yora tiba-tiba beranjak pergi mendahului. Raut wajahnya tampak datar, tapi sorot matanya menggambarkan hal lain.
" Hei Aora! Ada apa dengannya? " bisik Yuri
" Entahlah! Dia memang terlahir dengan pikiran yang rumit! " ucap Aora asal. Yuri dan Aora hanya bisa bertukar pandang, sambil mengangkat bahu tanda tidak mengerti.
" Sial! " dengus Yora pelan sambil berjalan menjauh.
__ADS_1
...----------------...
LIKE DAN KOMEM MENGENAI CHAPTER KALI INI YA~ MAKASIH^^