
Bak penuh air berwarna merah pekat masih mengiasi sebuah ruangan luas bernuansa hitam. Tidak jauh dari sana, dua buah ranjang pasien telah disiapkan. Aora dan Yora hanya terbaring lemah, luka di tubuh mereka memang sudah tertutup sempurna. Namun, bekas-bekas pertarungan dasyat nyatanya masih berimbas hingga kedua pria itu masih belum sadarkan diri.
Mirai duduk terdiam diantara Yora dan Aora. Selama proses penyembuhan menggunakan darah istimewanya, Mirai tidak sengaja melihat masa lalu dua saudara itu. Tidak ada yang bisa disalahkan, kenapa dua saudara yang saling menyanyangi itu berakhir menjadi musuh yang membawa dendam seumur hidup mereka.
Mereka sama-sama mengetahui rasa sakit kehilangan seseorang yang mereka sayangi. Rasa trauma akan kematian, membuat perasaan khawatir akan kehilangan sesuatu yang berharga akhirnya menjadi bumerang. Jalan yang mereka tempuh selama ini, adalah cerminan ketakutan dalam diri mereka
Kini tatapan Mirai tertuju pada Gyoku Salju di tangannya. Ia kembali teringat ucapan Kurasu. Bahwa setiap tetes darah di jiwanya akan membawanya ke dalam kutukan tanpa akhir. Baik ia, Yora dan Aora akhirnya kehilangan sosok berharga karena Kutukan kegelapan yang bersemayam di dalam jiwa mereka
"Mereka (Yora dan Aora) kehilangan orang tua, ketika kegelapan Nue mengambil alih jiwa mereka. Sementara aku, harus kehilangan Ayahku karena darah Terkutuk didalam tubuhku. Bahkan aku tidak tahu, siapa ibuku. Siapa sebenarnya wanita yang telah membawaku lahir kedunia ini? Siapa sebenarnya yang memberikan kekuatan mengerikan ini? " gumam Mirai
Mirai mulai beranjak dari tempat duduknya, ia pun mulai mengemas beberapa barang kedalam tas kecil yang selalu ia bawa. Yuri yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu hanya bisa mengerutkan alisnya, heran
" Kau mau kemana Mirai? Kondisimu belum sepenuhnya pulih" Yuri memperhatikan perban yang membalut tengan kiri Mirai. Sebuah luka yang sengaja Mirai buat untuk menyelamatkan Aora dan Yora
Mirai masih sibuk mengemas barang-barangnya. Sebuah Kitab putih Nue ia keluarkan dari kantong perlengkapan Yora. Kitab yang akan menuntunya menemukan pecahan batu Pilar ke-3
"Aku akan bergabung dengan Nee dan Zou untuk mencari kepingan batu Pilar Ke-3! " ucap Mirai singkat. Ia pun membuka lembar kitab yang memberitahukan letak dimana posisi batu itu berada. Di salah satu halaman, sebuah sajak tertulis dengan gambar batu kristal berbentuk tetesan air berwarna putih
'*Sebuah k**ekuatan murni*, kekuatan yang mengetahui segala sesuatu didunia. Kekuatan yang dijaga oleh sosok roh sihir putih yang perkasa. Hanya ada Hitam dan Putih. Cahaya dan Bayangan. Kebenaran akan membawa keadilan. Sementara dendam, akan membawa penyesalan'
Tentu saja petunjuk yang Mirai temukan dalam bentuk sebuah teka-teki rumit. Alis Mirai bertaut, ia tidak paham apa maksud sajak yang ia baca.
"Lalu bagaimana dengan Yora dan Aora? Mereka belum sepenuhnya pulih. Mereka masih membutuhkan pengobatan darimu!" ucapan Yuri memecah lamunan Mirai
Yuri mencoba menghentikan Mirai "Bagaimana jika sesuatu terjadi ketika kau tidak ada disini, Mirai?" ucap Yuri dengan nada khawatir. Mirai menatap Aora dan Yora sekilas, kemudian pandangannya kini tertuju pada gadis berambut merah dengan wajah pucat pasi didepannya
"Aku serahkan mereka padamu, Yuri. Aku yakin kau bisa menjaga Aora dan Yora jauh lebih baik dariku! Meskipun mereka belum sepenuhnya sadar. Tapi aku tetap harus pergi! "
Mirai mulai beranjak pergi dari ruangan itu. Ia pun mengaktifkan Gyoku saljunya. Gumpalan salju tipis berputar cepat mengelilingi tubuhnya. Sebelum Mirai benar-benar menghilang dari sana, seulas senyum terukir di wajah cantiknya
"Aku percaya padamu Yuri!" Mirai pun menghilang dari rungan itu. Hal terakhir terlintas dibenaknya adalah menyegel secepatnya kekuatan Nue. Baik yang berada di kuil suci atau ditubuh Aora. Mirai tidak mau, kegelapan kembali mengendalikan ia, Yora ataupun Aora. Untuk itu ia harus bergerak cepat
Jika terus berdiam diri seperti ini, orang-orang bahkan dunia ini sendiri akan hancur ditangan pria menyeramkan itu (kurasu)! Tidak akan aku biarkan!
__ADS_1
......................
Di Laboratorium rahasia Cops Merah, tidak jauh dari tempat itu. Ada sebuah desa miskin yang terletak di tengah pegunungan yang Tandus. Orang-orang yang tinggal disana bukanlah orang-orang dari Negeri Sora. Melainkan sekumpulan penduduk yang terdiri dari budak-budak pekerja yang melarikan diri dari negara kecil di sekeliling Sora. Mereka tinggal menetap di tengah hutan, dengan bermodalkan tenda usang sebagai tempat berteduh
Sesosok pria berjubah putih, dengan tudung kepala menutupi rambut putihnya. Mata merahnya memancarkan sorot kegelapan yang kuat. Pria itu hanya duduk tenang di atas sebuah dahan pohon. Menatap desa miskin di bawahnya tanpa seorangpun yang menyadari kehadirannya
Di tengah aktifitas penduduk desa yang tengah sibuk mengumpulkan kayu untuk dijual, sekelompok bandit tiba-tiba datang dan merusak apapun yang mereka temukan. Mereka tidak peduli dengan para penduduk yang kebanyakan perempuan dan anak-anak malang gemetar ketakutan. Kehadiran para bandit itu hanya untuk bersenang-senang. Terlebih dengan orang-orang lemah, yang mudah mereka permainkan
"Kenapa Tuan-tuan datang kemari?! " ucap seorang pria paruh baya. Ia memberanikan diri menghampiri segerombolan pria berbadan kekar yang datang kepermukimannya
" Aku dengar, kalian adalah budak yang melarikan diri dari Tuan kalian! Kami datang untuk membawa kalian ke Tuan kalian! Siapa tahu, dengan membawa budak mereka yang lari, kami akan dibayar mahal oleh orang-orang kaya itu! " ucap salah satu pria berbadan kekar. Seringai jahat terukir di wajahnya
Mendengar hal itu, para penduduk mulai ketakutan. Jika mereka dibawa kembali dan menjadi budak, mereka tidak akan pernah selamat dari hukuman. Mereka pun mencoba kabur dari tempat itu. Namun belum sempat pria tua itu beranjak dari tempatnya, halauwan pedang tajam menyayat punggungya. Pria tua itu pun akhirnya kehilangan nyawa
"Haha.... Hahah.... Kalian mencoba kabur dari kami?! "gertak para bandit dengan tawa meremehkan. Merekapun mengumpulkan penduduk dalam satu tempat. Mengelilinginya sambil membawa senjata tajam sebagai ancaman
" Jika kalian tidak mau diseret ke negeri Tuan kalian. Cukup bayar kami dengan harta berharga kalian! " ucap bandit itu. Namun belum sempat mereka melanjutkan aksinya. Sosok pria berjubah putih muncul dihadapan mereka
Semua orang terkejut, bahkan para bandit mengangkat sejata di tangan mereka, waspada. Sosok berjubah putih dengan tudung menutupi wajahnya itu hanya diam berdiri memperhatikan mereka
" Jagan katakan, kau adalah pahlawan kesiangan yang ingin menolong orang-orang rendah ini! Jika itu terjadi, kami akan membunuhmu lebih dulu! "
Senyum dingin terukir di wajah pria berjubah putih itu. Perlahan ia mengangkat tangannya dan melepas tudung yang menutupi setengah wajahnya. Rambut putih mencuat serta tatapan tajam iris berwarna merah membuat barisan para bandit meneguk ludah kasar. Bahkan aura pria itu dapat membuat para pria bertubuh kekar begidik ketakutan. Sosok pria itu adalah Kurasu
Barkkkk.....
Kurasu melemparkan sekantong uang. "Bukankah benda ini yang kalian butuhkan? Akan aku berikan, tapi-"
Belum selesai Kurasu berbicara para bandit itu berdecak girang dan merampas uang itu begitu saja
"Wuah! Kau pria kaya rupanya! Aku akan mengambil uangmu. Apa yang harus kami lakukan pada orang-orang ini?! "
Kurasu tersenyum simpul " Cukup kau bunuh orang-orang ini tepat dihadapanku! " perintahnya
__ADS_1
Meski sedikit ragu dengan apa yang dikatakan Kurasu. Para preman itu hanya mengiyakan perintahnya. Mereka mendapatkan uang yang banyak, sekaligus bersenang-senang dengan membunuh kumpulan orang lemah didepannya.
" Dengan senang Hati! "
Senyum jahat, para bandit itu mulai mengayunkan pedang ditangannya. Menebas orang-orang lemah yang bahkan memohon untuk kehidupan mereka
Sementara Kurasu hanya berdiri diam sambil menonton pembantaian keji didepannya. Gyoku ditangannya memancarkan cahaya hitam pekat
"Separuh diriku terluka diluar sana (Aora) . Aku harus mengisi energiku, meski harus melibatkan sampah seperti mereka! " gumam Kurasu. Ia memejamkan matanya sejenak, sambil menghirup bau amis darah yang memenuhi lingkungan sekitarnya
Semua penduduk tewas, darah mengalir ketanah hingga membentuk sebuah genangan. Para bandit yang puas bermain pun menghampiri Kurasu. Seklibat ide licik terlintas dipikiran sang pemimpin bandit. Jika orang yang memerintahkan mereka memiliki begitu banya uang. Bagaimana jika ia merampok serta membunuh orang itu juga
"Kami sangat berterima kasih padamu, Tuan. Berkat anda kami bisa bersenang-senang dan mendapat banya uang" ucap pria itu. Ia pun memberikan kode ke anak buahnya untuk mengepung Kurasu
"Tidak perlu berterima kasih padaku. Pertunjukan baru saja dimulai! " ucap Kurasu penuh arti. Alis pemimpin Bandit terangkat. Apa maksud pertunjukan baru saja dimulai?
Kurasu menghentakkan kakinya pelan, gelombang sihir kegelapan menyebar di tanah. Para bandit yang diam membeku merasakan kekuatan mencekik leher mereka.
"Arkh! Apa ini?! "
Mereka tidak bisa bergerak, sementara rasa sakit yang mencekik menggerogoti dada mereka. Kurasu menghampiri pemimpin bandit dengan tenang sambil berdiri dengan iris mata merah menyala yang menakutkan
" Kebencian orang-orang yang kau bunuh tadi, akan merasuk ke dalam jiwamu yang menjijikan itu. Kegelapan didalam jiwamu adalah hal yang aku butuhkan saat ini! " ucap Kurasu
Pemimpin bandit itu mulai beteriak histsris. Matanya membulat, sebuah cahaya hitam keluar dari mulutnya. Cahaya yang memvisualkan jiwanya dihisap habis oleh Kurasu. Sedikit demi sedikit tubuh pria itu mengering, sari-sari kehidupan terhisap habis keluar. Merubahnya menjadi kerangka bak mumi
Kurasu yang menghisap habis jiwa bandit didepannya. Mulai mendapat sensasi pemulihan tubuh yang cepat. Seperti mendapat asupan makanan, aura hitam yang mengelilingi tubuhnya semakin memekat. Urat-urat hitam mulai muncul di sekujur tubuhnya. Sambil tersenyum pelan, ia tampak menikmati santapan yang lezat sejak terakhir kali ia terbebas kedunia
Kegelapan serta kebencian dalam diri manusia, merupakan suber kekuatan Iblis sepertinya
Brakkk...
Mayat bos bandit tergeletak begitu saja, Kurasu pun melangkahkan kakinya untuk mencari korban selanjutnya
__ADS_1
"Apa dunia seperti ini yang hendak kalian lindungi? Dewi Salju, Aorasu dan Yorasu! Manusia yang kalian bela, tidak lebih dari seonggok sampah! Kalian bahkan rela mengurungku selama lebih dari 10.000 tahun. Lihatlah! Aku yang akan memusnahkan manusia dengan tanganku sendiri! "