Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Pengakuan


__ADS_3

Angin malam bertiup lembut. Sementara bintang-bintang di langit tampak begitu cantik dari atas balkon tertinggi gedung pemerintahan Desa Sora. Ketua Zen hanya berdiri termenung, dengan raut wajah sayu, laki-laki nomor satu di desa Sora itu menatap hamparan kerlap-kerlip lampu rumah-rumah warga di bawah sana. Kekhawatiran memenuhi wajahnya.


"Malam sudah semakin larut, Ketua. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu. " suara seorang pria memecah lamunan Zen. Pria paruh baya itu langsung membalikan tubuhnya.


" Kau rupanya, Ten. Hah! Langit malam ini begitu cerah. Tapi entah kenapa, perasaanku mengatakan ada sesuatu yang mengerikan yang akan di turunkan langit. Saking cerahnya, langit mungkin menyembunyikan badai di kuar sana. " ucap Zen sambil terkekeh.


" Ketuan Zen, kau selalu saja mengkhawatirkan apa pun yang belum terjadi. Langit malam begitu cerah karena besok adalah hari yang baru. " ucap Ten nenimpali candaan Zen


Ten lantas berjalan mendekati Zen, wajah pria itu tampak kusut. Dilihat dari penampilannya, sudah pasti Ten menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk bekerja. Zen sedikit melirik ke arah anak asuhnya itu, bukannya ia tidak menaruh perhatian dan menyuruh Ten pulang untuk sekedar istirahat.


Namun, semangat masa muda tunas Sora di sampingnya membuat Zen urung dan memilih membiarkan Ten melakukan apa maunya.


"Bagaimana? Apa kau menemukan keberadaan Aora atau Mirai? "


" Kami masih menyisir seluruh daerah Hutan Iblis. Situasi hutan itu cukup rumit, dengan berbagai segel pelindung yang mustahil kami sentuh. Beberapa anak buahku menemukan bekas medan pertempuran, kami yakin Aora terlibat dalam sebuah pertarungan hebat dengan Tengu. Tapi untuk Mirai, aku sama sekali tidak bisa melacak jejaknya. " Ten mengarahkan pandangan ke pria paruh baya di sampingnya, lantas melanjutkan ucapannya dengan yakin


" Tapi, aku yakin kami akan segera menemukan keberadaan Mirai dan Aora. Kau tidak usah khawatir Ketua Zen! "


Ucapan Ten membuat seutas senyum mengembang di wajah Zen. Zen lantas membalikan tubuhnya, menghadap lurus pemuda yang kini berdiri didepannya. Dengan telaten, ia membenarkan letak rompi khas Cops Awan Putih milik Ten. Bak seorang ayah yang bangga dengan hasil kerja keras putranya, Zen memberikan sedikit perhatian kecil untuk Ten.


"Kau sudah makan tepat waktu? Meski kau harus mencari keberadaan murid bandelku Aora, kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri, Ten. " ucap Zen dengan suara lembutnya


" Ketua... "


Tangan Ten mengepal. Kilapan matanya menujukan penyesalan yang kuat. Jauh di dalam dirinya, ia begitu menyesal telah membohongi pria sebaik Zen.


Bukan tanpa sebab, Ten hanya takut pria yang sangat ia hormati kecewa. Ten ingin mengakui segalanya. Fakta bahwa ia adalah putra Tanuki, dan kennyataan bahwa selama ini ia tidak hanya bekerja untuk Cops Awan Putih. Melainkan sebagai agen ganda untuk membereskan kekacauan yang di buat ayahnya beserta Cops Awan Merah


"Terima Kasih, kau telah memperhatikan kondisiku, Ketua.


Dan satu hal lagi, mengenai Keberadaan Buronan Tingkat Tinggi, Tanuki. Cops Awan Putih masih berusaha melacaknya! "


" Mengenai Tanuki, " Zen memotong pembicaraanya sejenak, ia tatap lekat Ten yang masih menundukan kepalanya. Zen sadar, anak didepannya tidak pernah berani menatap lurus ke arahnya. Selalu menunduk dan menghindari menatap lurus matanya, seolah Ten memiliki suatu hal yang tidak bisa ia bicarakan.


" Kau tidak usah memikirkannya. Aku akan mengurusnya bersama anak buahku. Tugasmu sidah selesai, pulang dan beristirahatlah. Ini bukan pemintaanku, tapi perintah! "


" Dan juga Ketua- " Ten mengepalkan tangannya kuat, memcoba mengumpulkan keberanian untuk membuat sebuah pengakuan di hadapan Zen.


Ten sadar, jika ia mengakui rahasia yang selama ini ia simpan, mungkin saja Zen akan berbalik membencinya. Namun, itu semua adalah bayaran yang harus ia tanggung. Kesalahan yang dibuat ayahnya, sudah sepantasnya ia sebagai putralah yang akan mempertanggung jawabannya


"Aku ingin mengakui sesuatu. Memgenai siapa aki sesungguhnya. Bahwa sebenarnya, aku adalah putra- "


Di tengah pembicaraam Zen dengan Ten, seorang pria bertopeng hewan muncul di hadapan mereka. Sambil menunduk hormat, pria bertopeng itu melaporkan sesuatu yang cukup membuat Zen terperanjat.


" Apa yang baru saja kau bilang? Salah seorang kapten Cops Awan Merah ingin bertemu denganku secara langsung?! "

__ADS_1


" Benar Tuan. Saat ini, pria misterius itu masih berada di pintu depan dengan penjagaan ketat Anggota Cops Awan Putih! "


Mendengar Cops Awan Merah di sebut, tubuh Ten sedikit membeku. Apa mungkin ayahnya membuat ulah lagi?


" Baiklah! Aku akan segera pergi kesana! " Zen mulai bersiap pergi, namun sebelum itu, ia kembali melirik Ten dan memanggil nama Ten lembut


" Ten! "


Ten segera mengangkat wajahnya, meski dengan mata bergetar ia berusaha tetap tenang sambil mengulas senyuman ke arah Zen. Ia pikir, mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat. Namun Ten bertekat, cepat atau lambat ia akan mengungkapkan idetitas dirinya sebenarnya.


" A-ada apa ketua? "


" Maafkan aku, pembicaraan kita mungkin akan sedikit tertunda. "


" Kau tidak usah mengkhawatirkan aku Ketua. Sudah sepantasnya Desa menjadi prioritas! Aku baik-baik saja. "


Zen tersenyum lembut,


" Ten.....Semua kekacauan yang ditimbulakn Tanuki, bukanlah kesalahanmu. Satu-satunya orang yang patut disalahkan adalah aku, teman tidak bergunanya.


Sebagai teman, aku seharusnya mengingatkan Tanuki agar tidak mengambil jalan yang salah untuk mencapai tujuannya.


Aku harap kau mengingat kata-kataku ini, Ten. Dan berhentilah menganggap bahwa semua ini adalah kesalahanmu! " ucap Zen. Ia pun segera bergegas mengikuti kemana prajurit bertope g mengantarnya.


Sementara Ten, hanya diam mematung sambil menatap punggu Zen yang mulai menjauh. Apa maksud ucapan Zen? Apa selama ini, dia sudah mengetahui identitas sebenarnya Ten? Jika begitu, kenapa pria itu masih meperlakukannya dengan hangat?


......................


Tepat di depan gerbang megah Desa Sora, seorang pria berjubah hitam lengkap dengan topeng dewa kematian tengah belutut, dengan pedang tertancap di tanah. Senjata yang tertancap, menandakan bahwa pemilik pedang sepenuhnya menyerah tanpa berniat melakukan perlawanan.


Sementara, puluhan anggota Cops Awan Putih mengepung pria misterius itu. Dengan pedang terhunus, mereka bersiap menyerang kapanpun perintah diturunkan. Rou sebagai kepala tim sensor juga bersiap di garda depan.


"Kapten Rou! Ketua Zen sudah datang! "


Salah seorang anggota Cops datang menghadap dan memberitahukan kedatangan ketua Zen.


"Ada apa ini, Rou? " ucap Zen sambil bergegas memghampiri Rou


" Kau datang, Ketua! " Rou memberi hormat, ia pun segera melirik pria berjubah hitam yang masih bersimpuh didepannya.


" Seperti yang kau lihat, pria misterius yang mengenakan jubah Cops Awan Merah di depan sana membuat permintaan agar ia bisa berbicara langsung denganmu. Kami sudah menggunakan segala cara untuk membuatnya berbicara. Namun tetap tidak berhasil.


Dia datang dengan damai sesuai tata cara menyerahkan diri dalam hukum militer, karena itu kami tidak bisa berbuat banyak! "


Zen mengangguk paham, tanpa ragu ia mulai melangkah menuju pria berjubah itu. Semua anggotan Cops Putih mulai meningkatkan kewaspadaanya, bagaimanapun merela harus tetap bersiap untuk melindungi pemimpin mereka apapun yang terjadi.

__ADS_1


Sadar dengan reaksi anak buahnya, Zen mulai mengangkat tangannya. Mencoba memberi isyarat agar anak buahnya tidak melakukan hal-hal yang berlebihan.


"Seperti permintaanmu, aku sudah datang. Sekarang katakan, apa yang ingin kau sampaikan! "


Pria bertopeng dewa kematian itu sedikit mengangkat kepalanya, menatap lurus Zen dari balik topeng yang ia kenakan. Sambil merogoh sesuatu dari dalam saku jubahnya.


Brakk!


Pria bertopeng itu melemparkan sebuah lencana, yang sukses membuat semua orang terkejut ketika mengetahui lencana apa itu.


Sebuah lencana yang terbuat dari perak dengan lambang awan putih. Hanya sebagian prajurit Sora yang bisa memegang lencana itu. Lencana yang menunjukan jawbatan seorang Kapten Militer Elite terpilih Desa Sora


"B- bukankah lencana itu milik Aora?! " ucap Rou tidak percaya.


" Cepat katakan! Siapa kau sebenarnya! " Rou mulai mengunuskan pedang miliknya tepat di leher pria itu. Namun pria itu tidak bergeming sedikitpun, sambil tetap menatap lurus ke arah Zen. Ia mulai membuka suara.


" Sebelum aku membuka identitasku dan dari mana aku mendapatkan lencana ini. Bisakah kau berjanji, akan mempercayai setiap informasi yang aku katakan, Ketua Zen? "


Zen terdiam sejenak. Sementara Rou mulai tersulut emosi karena apa yang dikatakan pria itu.


" Kau hanya musuh dari Cops Buronan Sora! Bagaimana mungkin kami mempercayai kata-katamu! "


" Tunggu Rou! " Zen kembali mengakat tangannya. Kali ini ia juga turut berlutut untuk mensejajarkan tingginya.


" Baiklah, aku akan mempercayaimu. Sekarang katakan, apa kau mengetahui keberadaan muridku, Aora? " ucap Zen dengan suara melembut.


Pria bertopeng itu mengangguk pelan, sambil mengulurkan tangan untuk melepas topeng yang menyembunyikan wajahnya. Tudung jubahnya mulai ia singkap. Surai kuning pucatnya terhempas angin, bersamaan dengan lepasnya topeng dewa kematian, iris biru mudanya menatap lurus ke arah Zen.


Zen tertegun sejenak. Dari ekpresi yang ia tunjukan, ia tahu siapa pria yang saat ini berlutut di depannya.


"I- itasuke?! "


" Aku membawa pesan langsung dari Kapten Aora. Aku juga mengetahui, dimana keberadaan dua pilar Penjaga yang selama ini ketua Cari.


Tapi sebelum itu, aku ingin menyampaikan sebuah berita buruk kepada anda. " ucap itasuke dengan raut wajah serius


" Berita buruk? Apa itu? "


Itasuke menunjukan sebuah tatto yang menghiasi hampir sekujur lengannya. Sebuah Tatto yang menyerupai laba-laba.


" Bukankah ini, teknik sihir mata-mata milik Cops Awan Merah? "


Tatto yang ditujukan Itasuke bukanlah Tatto sembarangan. Di dalam organisasi, ganya dialah yang mampu menguasai teknik sihir mata-mata tingkat tinggi itu. Dengan menggunakan media Tatto, ia menanan tatto derupa ke tubuh target dan mampu memata - matai segala kegiatan target dengan mudah. Bahkan tanpa terdeteksi target sedikitpun


"Tatto yang sama telah aku tanam di tubuh Aora. Dan dari apa yang aku ketahui..... " ucapan Itasuke terhenti. Ia menarik nafas sejenak, dan mengarahkan tatapan lurus ke manik coklat milik Zen

__ADS_1


" Ketua! Perang di Dunia Sihir, mungkin akan pecah sebentar lagi! "


__ADS_2