
Sinar keemasan memenuhi cakrawala di ufuk timur. Pegunungan yang dipenuhi bebatuan curam di utara Sora tampak gagah, tersapu warna jingga milik sang surya yang perkasa.
Pos pertahanan militer, sebuah benteng megah yang terletak di area demeliterisasi yang berbatasan langsung dengan dua negera besar lainya, Tsuki dan Hoshi. Benteng yang berdiri kokoh, di tengah lautan pegunungan terjal dengan medan yang terkenal ganas. Terisolir dan sulit dijangkau. Di sanalah, selama delapan bulan terakhir Kizuna menghabiskan waktunya demi menjaga Negeri yang sudah ia anggap rumah, Sora.
Di sebuah ruang khusus pemimpin militer, Kizuna masih terlihat sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen. Sudah semalaman, ia tenggelam dalam pekerjaan dan bahkan belum sempat merasakan tidur barang sebentar. Kizuna kahirnya menyelesaikan tumpukan dokumen terakhir, ia bahkan merasakan matanya sudah sangat sempat.
Di sela-sela kesibukannya, Kizuna masih sempat untuk mengulang membaca Surat-surat yang rutin dikirimkan Yukio. Meski sudah berulang kali membaca surat yang sama, Kizuna tidak pernah bosan.
Ada satu Surat dari Yukio yang sangat disukai Kizuna, bahkan jika dihitung ia sudah membaca 100 kali lebih surat itu. Sebuah kalimat yang ditulis Yukio sendiri, dimana Yukio menumpahkan rasa cintanya dan memberitahunya mengenai kehamilannya.
Jika Kizuna ingat hari dimana surat itu sampai ditangannya, ia hanya bisa menertawakan dirinya sendiri atas sikap bodohnya. Bagaimana tidak, saking senangnya ia bahkan ingin meloncati pagar besi dan hendak menghampiri Yukio. Jarak tempatnya ke kuil Salju bahkan terpisah 100 km, untung saja anak buah Kizuna tanggap menghentikan sang kapten kabur dari pos, dan hanya membiarkan Kizuna berteriak kegirangan bak orang gila di ladang ranjau (?)
Sejak mengetahui ia akan menjadi seorang ayah, hari-hari Kizuna tampak lebih berwarna, mekipun ia harus terjebak di tengah benteng dan jauh dari istri dan anaknya.
"Sebentar lagi, aku akan menjemputmu dan anak kita. Tunggulah sebentar lagi, Yukio. Kita bertiga akan hidup bahagia bersama-sama. " gumam Kizuna pelan.
Kizuna berencana untuk pensiun setelah tugasnya berakhir. Seperti rencana Yukio, ia ingin agar keberadaan bayi mereka tetap rahasia, sebelum mereka melepas jabatan masing-masing. Setelah Yukio menyelesaikan tugas dan lengser secara hormat. Kizuna dan Yukio berencana pergi dari Sora dan menetap di sebuah negeri kecil sebagai orang biasa. Tanpa sihir atau hiruk pikuk kekuasaan yang melelahkan. Membayangkannya saja, sudah membuat senyum menawan mengembang di wajah tanpan Kizuna. Dua bulan lagi, Kizuna hanya memerlukan waktu dua bulan untuk menyelesaikan tugas dan bertemu Yukio.
"Hah! Aku tidak sabar akan hari dimana kita berkumpul sebagai keluarga. Hidup dengan wanita yang aku cintai dan anak yang mirip dengan kami berdua. " Kizuna pun kembali mengemas surat-surat dari Yukio.
Sambil memijat keningnya, ia bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela besar di belakang meja kerjanya.
Saat hendak menggeser kursi, Kizuna tidak sengaja menyenggol potret (foto) yang ia pajang di ujung jendela. Potret itu pun pecah berserakan. Kizuna terpaku sejenak, sambil menatap bingkai remuk, tempat ia menyimpan foto dirinya dan Yukio.
"Perasaan apa ini? " gumamnya pada dirinya sendiri. Kizuna mencoba mengabaikan perasaan aneh yang ia rasakan. Kizuna hendak membereskan pecahan kaca, namun suara pekikan elang pembawa pesan mencuri fokusnya.
" Pesan apa yang dikirim markas pusat sepagi Ini? " gumam Kizuna pelan, ia putuskan untuk melihat pos pengamat dari jendela kantornya.
Dari kejauhan, ia melihat burung elang pembawa pesan sudah kembali diterbangkan, itu berarti sebuah pesan sudah diterima anak buahnya. Beberapa orang sudah mulai bergerak. Kizuna menaikan alisnya heran, pesan apa yang membuat anak buahnya seheboh itu? Apakah perang kembali pecah?
Kizuna hendak turun kebawah, ia ingin memastikan pesan apa yang telah diterima anak buahnya. Baru saja ia hendak mengambil seragam militernya, dengungan sangkakala (itu loh, kerang besar yang ditiup prajurit) Benteng sudah terdengar di segala penjuru.
Kizuna terdiam sejenak, ia memperhatikan beberapa kali cangkang besar kerang di tiup. Jika itu satu kali dan lantang , itu berarti perang sudah pecah. Jika itu dua kali, maka Sora mengalami situasi genting. Dan jika tiga kali, itu adalah tanda bahwa seseorang petinggi telah meninggal dunia.
"Satu. "
Kizuna menghitung setiap tiupan.
" Dua. "
Kizuna pikir, ini akan menjadi tiupan terakhir. Tapi dia salah.
" Tiga? Apa itu berarti salah satu pemimpin Sora telah mangkat? " gumam Kizuna.
__ADS_1
" Kapten Kizuna! " suara anak buah Kizuna membuyarkan lamunannya. Kizuna kembali mendapat fokusnya, ia pun segera memakai rompi militer dan bersiap mencari tahu mengenai berita kematian itu
" Ada apa? Apa salah satu Tetua Clan Utama ada yang meninggal? "
" Mengenai itu, kami telah mendapatkan berita langsung dari markas Pusat. Mereka telah melaporkan, bahwa penyegelan di kuil Nue berjalan dengan baik. Tapi- "
Kizuna menghentikan aktifitasnya, ia pun mengarahkan pandangan ke anak buah didepannya. Namun prajurit itu hanya diam menunduk, sambil mencakupkan kedua tangan didepan.
" Tapi apa! Cepat katakan padaku. "
" Pemimpin Clan Salju, Putri Yukio dinyatakan meninggal setelah menyelesaikan ritual pengukukan segel Nue, Kapten. " ucap prajurit itu pelan.
Kizuna hanya terdiam, otaknya masih mencerna apa yang dikatakan prajurit itu kepadanya. Wajahnya tampak terkejut, namun Kizuna masih menolak mempercayai apa yang ia dengar
" Apa katamu? Kau bilang, Yukio meninggal?! " ucap Kizuna dengan suara bergetar.
......................
Bendera berlambang Salju, sudah diturunkan dari barisan bendera Clan Utama serta bendera berlambang awan. Penurunan bendera, menyimbolkan bahwa Sora tengah berduka.
Sudah dua jam lamanya, Kizuna hanya duduk termenung sambil melihat potret dirinya dan Yukio. Wajah Kizuna berubah pucat, sementara kedua matanya memerah akibat menahan tangis. Beberapa jam terakhir, ia masih mencoba menerima kabar buruk yang datang. Bak petir di siang hari, bahkan hati dan otaknya seakan tidak menerima kabar kematian Yukio.
"Aku harus menemui Yukio! Sebelum aku melihatnya sendiri, aku tidak bisa mempercayainya! "
"Zen, sedang apa kau disini? Apa kau sudah mendengar berita konyol itu. Bagaimana mungkin Yukio sudah- " ucapan Kizuna terhenti.
Pandangannya kini tertuju pada sahabat yang berdiri dengan wajah letih didepannya. Ada satu hal yang mencuri perhatian Kizuna, kenapa Zen membawa bayi di pelukannya?
" Kau harus menerima kenyatan, bahwa Yukio sudah pergi Kizuna " suara Zen terdengar serak, ia pun berjalan menghampiri Kizuna. Dengan pelan, Zen menaruh bayi didekapannya di meja Kizuna
Mirai kecil tampak tertidur pulas, sesekali menyesap jari jemarinya. Sebelum tertangkap prajurit Tanuki, Mito menemui Zen untuk meminta bantuannya. Ia ingin Zen membawa Mirai ke Kizuna. Apapun yang terjadi, Zen harus melindungi bayi malang itu. Zen tidak mempunyai pilihan lain, di tengah malam bersalju ia melintasi puluhan kilo jarak agar sampai ke markas Kizuna.
"Yukio mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi anak ini. Dan Mito, memintaku agar tetap melindungi bayi ini dan menyerahkannya langsung ke ayahnya. "
Mata Kizuna kembali bergetar, sekali lagi ia tatap potret versi kecilnya itu. Rambit Hitam cantik, serta Mata bulat seindah bunga lavender itu. Tidak salah lagi, bayi ini adalah anaknya. Zen lantas mengeluarkan surat, yang di beberapa bagiannya di penuhi berkas darah.
" Ini surat dari Yukio, mungkin ini adalah surat yang ia tulis untukmu di saat-saat terakhirnya. Aku menerima kabar dari Mito, Yukio mengeluarkan segenap kekuatannya untuk mempertahankan bayi ini. Anakmu terpaksa terlahir prematur.
Kondisi Yukio pasca melahirlan semakin parah, ditambah ia harus melakukan pengukuran segel. Mungkin itu sebabnya- "
" Cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi!- " Kozuna belum siap mendengar kejadian yang menimpa istrinya. Debganntangannyang masih bergetar, ia mengambil surat yanhbdisodorkan Zen.
Kizuna langsung membuka surat itu, tulisan Khas milik Yukio tampak begitu cantik terukir di atas kertas putih itu.
__ADS_1
Kizuna.... Jika aku tahu hidupku tidak lama lagi, aku seharusnya lebih sering memanggil namamu dan mengungkapkan perasaanku.....
Suamiku....
Terima Kasih, telah hadir di dalam hidupku yang kelam. Satu-satunya yang dapat aku syukuri dalam hidupku adalah bertemu denganmu. Satu-satunya cinta yang aku miliki selama ini
Putri kita, aku putuskan menamainya Mirai. Banyak yang ingin aku sampaikan. Sebagai ibu, aku ingin memeluk putriku, menciumnya dan mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Mimpiku melihat putri kecilku tumbuh, menikah dan bertemu pria sebaik dirimu. Tapi, waktu tidak bepihak untukku.
Kizuna tidak bisa membendung emosinya. Di setiap titik tinta yang di toreskan Yukio, terdapat bercak air mata pemiliknya.
"Maafkan aku, maafkan aku tidak bisa melindungimu Yukio. " gumam Kizuna sambil terisak. Ia kembali membaca paragraf terakhir surat itu
Suatu saat, putri kita akan menanyakan tentangku. Aku harap, kau bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk putri kita.
Maafkan aku dan juga Terima Kasih, Kizuna. Jika kita betemu di kehidupan lain, aku ingin kau menjadi suamiku seutuhnya.
Aku mencintaimu.....
Kizuna akhirnya menutup surat Yukio, Katana yang selama ini ia pegang jatuh begitu saja. Mirai kecil mulai terbangun, ketika melihat wajah sang ayah untuk pertama kalinya ia tertawa renyah, hal itu membuat hati Kizuna sedikit terobati. Demi Mirai, Kizuna mengurungkan niatnya pergi ke Sora. Jika ia mati sekarang, siapa yang akan menjaga putri kecilnya.
"Meskipun aku ingin menyusul kepergian Yukio, aku sadar aku harus bertahan demi anakku...... "
"Prajurit Sora akan segera datang menangkapmu, kau harus segera kabur dari Negeri ini, Kizuna! Aku akan mengulur waktu untukmu! " ucap Zen. Ia juga berencana untuk mengulur waktu, membiarkan kizuna dan bayinya kabur ke perbatasan
Kizuna mengumpulakan kekuatannya, lantas menggendong bayi kecilnya ke dalam pangkuannya.Setelah kematian Yukio, semua pasti sudah terbongkar. Prajurit Sora pasti sudah bergerak, fakta bahwa ia memiliki anak dengan Yukio pasti sudah dilaporkan. Dan Clan salju tidak akan pernah membiarkannya lolos
"Terima Kasih, Zen. "
Zen tersenyum lembut, ia pun memeluk Kizuna untuk terakhir kalinya. Entah sampai kapan, dia sahabat itu akan ketemu lagi.
" Aku jamin, mereka tidak akan pernah menemukanmu. Aku sudah mencoba untuk tidak mengetahui nama anakmu, jenis kelamin atau informasi apapun. Jika tim intelegen mengintrograsiku mereka tidak akan menemukan apa-apa mengenai anakmu.
Ah satu lagi, dia (menujuk bayi Kizuna) adalah seorang putra. Itu adalah pesan Mito untukmu. "
Meski Zen tidak tahu arti pesan itu (demi keamanan), ia tetap menyampaikannya. Kizuna paham, Mito ingin ia menyembunyikan identitas Mirai sebagai anak laki-laki. Jika sampai Clan salju tahu tentang Mirai, ia akan memburu putrinya dan menyeretnya kembali ke Sora
Kizuna mengangguk, ia lantas memgaktifkan Gyoku miliknya dan berubah menjadi gumpalan asap. Sebelum benar-benar menghilang, ia mengucapkan kata terakhir untuk sahabatnya
"Zen, aku harap kita bisa bertemu lagi! "
.....................
Demi bersembunyi dari kejaran prajurit, Kizuna hidup dari satu negara ke negara lain. Dari tempat satu ke tempat lain. Seorang diri, Kizuna berjuang untuk menghidupi Mirai. Seorang bayi merah yang bahkan belum sempat merasakan asi ibunya. Kizuna bekerja sebagai tentara bayaran, tinggal berpindah sambil merawat Mirai. Terkadang ia membayar wanita yang memiliki bayi, agar mau menyusui Mirai.
__ADS_1
Enam tahun berlalu, ayah dan anak tampak terlihat begitu manis saat bersama-sama. Mirai mewarisi sifat ayahnya yang receh dan terkadang savage. Semua berjalan seperti apa yang diharapkan Kizuna, hingga hari naas itu datang.....