Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Arc Awal dari Sebuah Akhir : Kebangkitan Nue!


__ADS_3

Langit masih menunjukan sisi gelapnya. Matahari yang memiliki cahaya paling abadi, mulai kehilangan kekuasaanya. Bulan merah berdarah, hampir menuju puncak tertinggi. Pengaruh sihir kegelapan, akan sangat kuat ketika bulan merah mencapai titik tertinggi langit. Jika sampai saat itu tiba, dan segel Nue belum bisa diperbaharui. Maka makhluk mistis yang sudah tertidur lebih dari 10.000 tahun itu akan bangkit ke dunia.


"Bulan Merah sudah hampir mencapai puncak. Saat ini, kita hanya memiliki waktu kurang lebih satu jam. Kita harus memperbaharui segel, sebelum segel yang menjerat Nue rusak. "


Yora menatap langit kelam di atasnya. Mereka bertiga, sudah memasuki Desa Sora. Pemandangan mengerikan terlihat di sekitar mereka, Desa megah yang dulunya tertata cantik dipenuhi rumah-rumah warga, kini musnah dan hanya menyisakan puing bangunan. Tidak ada yang tersisa. Semua rata dengan tanah, karena efek serangan yang dikirimkan Kurasu. Bahkan penghalang sihir yang dibuat prajurit Sihir dan Mirai, tidak ada apa-apanya.


Mirai memulai langkahnya, menyusuri jalanan desa yang dipenuhi sisa-sisa ledakan. Sementara, Yora dan Aora hanya mengikuti kemana gadis didepannya melangkah.


Tidak ada satupun percakapan yang keluar di antara mereka. Baik Yora, Aora atau pun Mirai, mereka tenggelam kedalam pikiran masing-masing. Bagaimanapun desa Sora adalah rumah mereka. Bagaimana perasaan kalian rasakan jika melihat rumah kalian sudah hancur menjadi puing? Mungkin itulah perasaan yang memenuhi diri mereka sekarang.


Mirai, Aora dan Yora akhirnya sampai di tempat dimana keberadaan Kuil Nue berada. Ledakan yang besar, menyebabkan bukit kecil yang menjadi pintu masuk ke Kuil hancur. Mirai melirik Aora, pria berambut abu-abu itu segera mengaktifkan gyokunya. Sebuah batu kristal merah muncul, dan mulai mengeluarkan sinar sihir yang pekat.


"Pada dasarnya, air terjun yang kita lewati untuk masuk menuju Kuil Nue adalah sebuah pintu dimensi Sihir. Kuil itu memang berada di Sora, tapi letaknya berada di dimensi sihir yang lain.


Karena pintu utama sudah hancur, kita memrlukan kekuatan batu pilar ke empat untuk membukanya. Aora bisakah kau serahkan batu itu padaku? " pinta Mirai, Aora segera menyerahkan batu itu.


Mirai mulai mengaktifkan Gyoku saljunya. Sihir yang keluar lewat Gyokunya kini bercampur dengan sihir batu pilar ke empat.


" Buka! "


Tanah di sekitar mereka mulai bergetar hebat. Menciptakan lubang yang sangat besar dan dalam. Cahaya terang mulai muncul dari dalam lubang, perlahan siluet sebuah atab bangunan megah mulai muncul dari dalam tanah.


Bagunan itu terus bergerak naik, hingga menapakan sebuah kuil megah yang berdiri kokoh tepat dihadapan Mirai, Yora dan Aora.


"Jadi inilah penampakan Kuil Nue yang sesungguhnya? " gumam Aora kagum. Aora memang pernah memasuki Kuil Nue, tapi waktu itu kedua matanya harus ditutup demi keamanan. Ia bahkan tidak tahu letak kuil Nue ada di Sora. Ia begitu terpukau melihat arsitektur kuil yang berusia puluhan ribu tahun itu. Ukiran batu khas tersusun rapi. Empat pilar megah menopang kuil, ada dua patung yang menyerupai Nue mengapit pintu masuk. Meskipun tersembunyi di dimensi lain, kuil itu tidak pernah kehilangan pesonanya.


"Ayo kita masuk. "


Mirai mulai melangkahkan kaki untuk menaiki tangga menuju pintu megah di atas sana. Ada sekitar 100 anak tangga yang harus dilalui hingga ke pintu utama. Hal serupa dilakukan Yora. Kini, hanya Aora yang belum mengambil langkah pertamanya.


Sriiingggggg


Baru saja Aora hendak melangkahkan kaki di tangga pertama, sebuah dengingan keras terdengar memekik telinganya. Bukan hanya itu, ia juga merasakan sakit kepala hebat. Aora mencoba memandang ke arah Mirai, namun pandangannya seketika buram dan berputar cepat.


"Ada apa denganku? Arkh! " Aora meringis pelan, sambil memegang kepalanya. Tanpa ia sadari, segel di dadanya mulai menunjukan sinar hitam pekat.


" Aora! Tunggu apa lagi? Kita harus bergegas. " Yora menyadari Aora hanya diam mematung. " Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja? "


Aora segera menggelangkan kepalanya cepat, berharap rasa sakit itu akan segera hilang


" Aku baik-baik saja. Mungkin karena efek pertarungan tadi, kepalaku sedikit pusing. Kau tidak perlu cemas, Yora.


Ayo! Kita tidak boleh membuang waktu lagi! "


Aora tidak mempeduliakan rasa sakitnya. Ia pun mempercepat langkah dan menyusul Yora dan Mirai.


......................


Mirai meletakkan batu ke empat pada tempatnya. Sinar merah yang keluar dari batu pilar ke empat mulai menjalar ke tengah segel salju. Kini cahaya sihir yang mengaliri segel salju raksasa di lantai Kuil sudah sepenuhnya lengkap.


Mirai mulai melangkah menuju posisinya. Mirai berdiri tepat di bawah patung dewi Salju, sementara Aora di bawah patung Aorasu sang pilar Matahari dan Yora di bawah patung Yorasu sang Pilar Bulan. Tepat di bawah kaki masing-masing, sebuah simbol Clan mereka terukir. Kini para Pilar Penjaga Langit sudah berkumpul dan berdiri di tempat ayah dan ibu mereka dulu. Generasi yang baru, telah dimulai.


"Kalian sudah siap? " ucap Mirai


Mereka bertiga saling bertukar pandang, sebuah anggukan menunjukan bahwa mereka semua sudah siap.


" Kami Siap! "


" Mari kita mulai ritual pengukuhan segel Nue! "

__ADS_1


Mereka bertiga kompak mencakupkan tangan, sebuah sinar sihir muncul di gyoku mereka. Hitam untuk pilar Bulan, Merah untuk Pilar Matahari dan Ungu pucat untuk pilar Salju.


Ketiga sinar itu bertemu tepat di atas segel Nue. Berputar cepat, membentuk sebuah harmoni warna yang cantik Kekuatan mereka mulai memenuhi segel. Proses pengukuhan segel Nue tengah berlangsung.


"Segel Nue, sudah lama tidak diperbaharui oleh keturunan Tiga Pilar Penjaga. Aku merasakan, segel ini sudah semakin rusak. Untuk itu, kita harus memfokuskan seluruh kekuatan kita untuk membenagi segel ini. "


Mirai mulai menjelaskan apa yang ia rasakan. Sebegai keturunan Clan Salju, segel Nue bagaikan bagian dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, meski baru pertama kali ia melakukan ritual, ia sudah mengerti bagaimana kondisi segel moster kegelapan itu.


Mirai, Yora dan Aora memejamkan matanya, mereka mulai memfokuskan pikiran. Namun, sesuatu yang aneh tampak di rasakan Aora sejak ritual berlangsung. Alisnya bertaut kasar, sementara keringat mengalir deras di wajahnya. Tanpa seorang pun yang sadar, simbol segel matahari di dadanya mulai memudar. Sihir kegelapan, perlahan mulai memenuhi tubuh Aora


"Aora, kau benar-benar pria yang naif. Kau pikir, sebilah pedang biasa yang ditancapkan si pengkhianat Tanuki bisa membebaskanmu dari jeratanku?


Aku masih hidup dalam dirimu. Aku sengaja mengalah untuk mempercepat momen ini. Hahahahha! "


Suara Kurasu tiba-tiba memenuhi pikiran Aora. Tubuh Aora membeku seketika, ia merasakan rasa sakit yang amat kuat menghujam kepalanya, tangannya menjambak kasar rambut abu-abu miliknya. Aora tidak bisa lagi menopang tubuhnya, ia pun akhirnya jatuh ke lantai.


"Arghhhhhh! Hentikan! " Aora menggerang keras. Tubuh Aora akhirnya ambruk


Proses pengukuhan berhenti di tengah jalan, akibat kekuatan pilar Matahari menghilang. Pengukuhan segel Nue yang hampir berhasil, kini harus menelan kegagalan.


Mirai yang mendegar rintihan Aora mulai membuka matanya. Ia begitu terkejut, melihat pria berambut abu-abu itu menggeliat menahan sakit sambil memegang dadanya.


"Aora! Ada apa denganmu? " Yora dan Mirai mulai menghampiri Aora.


" Aku sudah katakan, takdir antara kau dan Mirai adalah sebuah kutukan. Salah satu dari kalian harus mati. "


Pandangan Aora mulai memudar, samar ia melihat Mirai dan Yora berlari ke arahnya. Dunia di sekeliling Aora tiba-tiba hening. Ia hanya bisa melihat wajah Mirai yang dipenuhi khawatiran mengguncang tubuhnya keras. Anehnya, Aora tahu Mirai berteriak ke arahnya, tapi entah kenapa Aora tidak bisa mendengar suara apapun.


"Aora! Sadarlah! Kau harus menguasai tubuhmu! " Mirai menggoncang tubuh Aora keras. Namun, pria itu hanya mematung sambil menatap kosong ke arahnya.


" Di mulai dari wanita yang kau cintai, dengan tanganmu sendiri kau akan menbunuh Mirai. "


" Aora! Sadarlah! "


Perlahan Tangan Aora mulai terulur, dengan lembut ia menggengam tangan Mirai.


" Tidak ada waktu lagi. Salah satu dari kalian, harus membunuhku sekarang juga. Jika tidak, Kurasu akan kembali menguasai tubuhku. " mata Aora mulai menapakan kilapan cahaya merah. Simbol di dadanya hampir menghilang, sejalan dengan itu sihir hitam pekat mulai menelan tubuhnya.


" Cepat! Tebas dadaku dengan pedang Shiroi ini! " Aora buru-buru menyerahkan pedangnya ke hadapan Yora dan Mirai.


Bulan Merah sudah menyentuh titik tertingginya. Sinar kegelapan yang terpancar, mulai memenuhi segel Nue. Sinar batu pilar mulai meredup, diganti dengan sinar hitam kemerahan yang dipancarkan bulan iblis di angkasa.


"Arghhhhh! " Aora kembali menggerang. Ia seakan kehilangan kewarasannya.


Meski berat, Yora mulai mengulurkan tangannya untuk menyentuh pedang Shiroi milik Aora. Sementara Mirai, hanya bisa terisak sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak Aora! Aku yakin, kita masih memiliki jalan keluar lain untuk itu! Kau tidak boleh mati! Aku mohon, bertahanlah! " ucap Mirai dengan nada putus asa.


" Mirai menjauhlah dari sini. Tugas ini, biar aku yang melakukannya! "


" Tidak! Leader! Aku mohon jangan! "


Yora mulai menjauhakn Mirai dari Aora. Mirai mencoba berontak dan menghalangi Yora untuk membunuh Aora. Dengan berat hati, Yora harus menggunakan sihir terkuatnya untuk menjerat Mirai.


" Maafkan aku. Tapi kali ini, Aora mungkin saja tidak akan pernah kembali. Kau harus menerimanya, Mirai. " Tanpa sadar air mata Yora menetes. Melihat tangis Mirai, serta kondisi Aora. Ia nerasakan hatinya dihujami ribuan pedang.


Yora mulai mengupulkan tekatnya. Ia tahu, hari ini akan datang suatu saat nanti. Ia ingat pesan Aora, bahwa apapun yang terjadi Yora harus menghentikannya berubah menjadi moster yang berakhir menyakiti orang-orang disisinya. Meski berat, sebagai kakak Yora harus memenuhi permintaan Aora. Untuk menyelamatkan orang banyak dan juga Mirai.


"Mirai jika ini terlalu berat, kau bisa memejamkan matamu. "

__ADS_1


Yora mulai mendekat ke arah Aora. Saudaranya itu hanya berlutut sambil menundukan kepalanya. Aura hitam pekat memenuhi tubuhnya. Tidak ada pergerakan berarti dari Aora. Dengan tangan bergetar, Yora mulai mengangkat pedangnya. Dan bersiap menebas tubuh Aora.


"Maafkan aku, Aora... Hyaaaaaa! "


" Tidak! " Mirai spontan memejamkan matanya.


......................


Trsssaaaas!


Tag!


Mata Yora membulat sempurna, Aora mem-block serangan Yora dengan sebuah armor sihir. Senyuman licik terukir di wajah Aora, dua iris mata yang berbeda warna (hitam, merah) menatap tajam ke arahnya.


" Terlambat. Tubuh ini, sudah kembali menjadi miliku! " bisik Kurasu pelan


Trassss


Kurasu menghempas kuat Tubuh Yora dengan kuat, menggunakan kekuatan armor sihir yang berfungsi melindungi serta menjadi senjata mematikan. Serangan tiba-tiba Kurasu membuat tubuh Yora terpental jauh hingga keluar kuil.


Kurasu mulai bangkit berdiri, sambil meregangkan tubuhnya ia mulai mengambil pedang Shiroi yang tergeletak dilantai.


"Kini giliranmu, Mirai. "


Kurasu berlari cepat ke arah Mirai. Dengan kekuatannya, ia melenyapkan penghalang Yora dengan mudah. Mirai yang masih memejamkan matanya, ia menyadari sesuatu mendekat ke arahnya. Tepat ketika ia membuka matanya, pedang Shiroi sudah menembus perutnya


Brassss


Kurasu menekan pedang putih itu untuk menikam lebih dalam lagi perut Mirai. Mirai berusaha menghetikan dorongan Kurasu menggunakan kedua tangannya. Bilah tajam Pedang Shiroi menusuk serta mengiris telapak tangan Mirai. Darah spesialnya mulai menetes deras, jatuh ke lantai hingga membuat sebuah genangan kecil


"A- aora? Apa yang terjadi? K-kenapa kau- " ucapan Mirai tercekat ketika melihat kedua sorot mata didepannya. Mirai sadar, pria didepannya bukan lagi Aora yang ia kenal.


" Kurasu? "


Senyuman licik kini terukir di wajah Aora atau yang lebih tepatnya Kurasu


" Bagaimana rasanya, dikhianati orang yang paling kau percayai Mirai? Tidak. Apa aku harus memanggilmu Dewi Salju?


Sama seperti yang kau lakukan 10.000 tahun yang lalu, kini aku membuatmu merasakan hal yang sama! "


Pandangan Kurasu menyapu ke wajah cantik didepannya. Wajah yang mengingatkannya pada sosok yang paling ia percayai melebihi dirinya sendiri. Masih segar diingatannya, bagaimana saudara-saudaranya serta kekasihnya tega menghianatinya.


" Sudah menjadi Tugas Dewa Bumi, untuk menjaga dunia tetap aman dan Damai. Tapi karena ulah manusia, keserakahan mereka akhirnya membawa kehancuran. Aku hanya ingin menghukum mereka. Membakar semua kekacauan dengan api abadi.


Manusia lahir dengan perasaan kasih satu sama lain. Kasih itu akan berkembang menjadi cinta. Sementara, untuk melindungi orang tercinta mereka, manusia berubah menjadi serakah dan melahirkan penderitaan.


Penderitaan membawa kesedihan. Kesedihan membawa amarah. Amarah membawa dendam. Tidak perlu waktu yang lama dendam akan menciptakan sebuah api peperangan dan berahir dengan kehancuran. Aku ingin menghentikan itu. Tapi kalian justru meragukanku. "


Kurasu hanya ingin menghukum manusia yang mulai menunjukan penyimpangan. Apa ia salah? semua yang dilakukannya itu demi membantu dunia agar tetap damai.


Tapi, Dewi Salju justru menentang niatnya. Hal itu membuat Kurasu dipenuhi rasa kekecewaan dan berakhir menjadi moster kegelapan


"Aku tidak pernah mengkhianati siapapun. Tapi kenapa, orang-orang disisiku yang malah mengkhianatiku? "


Segel Nue akhirnya rusak. Aura kegelapan mulai memenuhi seisi Kuil. Samar suara derangan moster mulai terdengar. Kurasu melirik ke arah belakangnya, ia begitu puas wujud terkuatnya akhirnya bangkit ke dunia


" Untuk itu, aku akan memusnahkan manusia dan membawa kembali apa yang menjafi milikku. Bangkitlah! Nue! "


" Arghhhhhghhhhhhh! "

__ADS_1


__ADS_2