
...Masih Flash back...
" Suatu saat, kita akan tumbuh dengan memiliki kekuatan yang besar. Siapa tahu, anak-anak seperti kita juga bisa menguasai Negeri ini! "
Tekat, hanya itu yang tersisa dalam diri seorang bocah berusia 10 tahun untuk memerangi dunia yang sudah berani mencampakan hidupnya. Tanuki kecil, sudah melepaskan harapan akan mendapat uluran kasih dari orang-orang dewasa di luar sana. Ia tidak memiliki siapa pun untuk menjadi tempat perlindungan selain dirinya sendiri. Untuk itu, ia bertekat menjadi seseorang pengguna sihir yang kuat dan membalas perbuatan orang-orang yang telah merendahkannya.
......................
Dalam kurun waktu dekat, peperangan kembali pecah di beberapa titik perbatasan antara Negeri Hoshi dan juga Negeri Sora.
Infansi Militer sihir Negeri Hoshi menyebabkan militer Sora sempat kewalahan untuk menghalau pergerakan musuh yang mulai memasuki wilayah perbatasan. Berbagai strategi militer sudah dikerahkan, ribuan prajurit sihir sudah bersiap di garda depan untuk memerangi musuh dari negeri bintang tersebut. Bahkan sayup-sayup, genderang perang sudah mengalun. Terdengar nyaring, menggema ke seluruh wilayah, seolah sang algojo sedang menunggu di luar sana.
"Kizuna, Kau dengar itu? " ucap Tanuki sambil menghentikan langkahnya. Ia tidak bisa bergerak bebas dengan tangan terikat, serta kaki dibelenggu sebuah bola besi. Kizuna, hanya mengangguk dengan raut wajah ketakutan.
" Perang sudah dimulai. " bisiknya
Tanuki, Kizuna serta ratusan anak-anak korban perang kembali dijual oleh penadah dan di bawa ke sebuah pangkalan militer Sora. Anak-anak polos dan tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa menuruti apa perintah orang-orang dewasa yang menyeret mereka, tanpa tahu sesuatu yang buruk mungkin bisa saja merengggut nyawa mereka.
"Tanuki, seberanya mau dibawa kemana kita sekarang? " ucap Kizuna sambil menatap sekitarnya. Manik hitamnya menangkap ada banyak barak prajurit, berbagai tumpukan senjata sihir juga memenuhi tempat itu.
" Entahlah! Tapi yang pasti, orang-orang militer itu akan melibatkan kita ke dalam peperangan! "
" Berhenti! " perintah seorang prajurit di depan sana. Semua anak kompak megghentikan langkah.
Pria dengan baju zirah berlambang awan itu pun langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengecek barisan anak-anak didepannya. Dengan sedikit gertakan, para prajurit itu memerintahkan untuk memisahkan anak-anak menjadi dua bagian. Pria dan Wanita. Tidak memerlukan waktu lama, dua kelimpok anak-anak tercipta.
"Bawa bocah laki-laki dan beri mereka senjata lengkap! Sementara bocah perempuan, bawa mereka ke pangkalan medis untuk membantu tim medis! Cepat! " printah prajurit tadi.
" Baik Kapten! "
Tanuki dan Kizuna kini di seret ke sebuah tempat mirip camp latihan militer, bersama anak-anak lain mereka diberikan sebuah perlengkapan perang yang sama persis digunakan prajurit militer tadi.
Kizuna hanya menatap peralatan di tangannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Meskipun ia hanya seorang anak kecil, namun melihat kelagat aneh orang-orang dewasa di sekitarnya membuat ia sedikit curiga.
"Psst! Tanuki, bukankah ini aneh? Kenapa mereka memberikan perlengkapan perang yang sama persis digunakan para prajurit militer itu? Bukankah anak-anak seperti kita biasanya digunakan sebagai penyalur logistik dalam perang?! " bisik Kizuna.
Meski masih tergolong muda, Kizuna sudah paham mengenai peperangan. Tanpa perlu mempelajari dari buku, anak-anak sepertinya sudah mengerti asam garam peperangan lewat pengalaman langsung yang mereka miliki. Jadi menurutnya, jika harus terlibat ke dalam sebuah peperangan, paling tidak anak-anak lemah seperti mereka hanya bisa digunakan distributor logistik.
" Sial! " Tanuki hanya berdecak kesal, sementara Kizuna hanya menaikkan alisnya heran.
" Ada apa? " Tanuki menatap Ke arah Kizuna, sambil mencengkram baju zirah di tangannya.
" Alasan mereka memberikan barang-barang ini. Mereka akan memanfaatkan kita sebagai prajurit pengalih perhatian. "
Tubuh Kizuna membeku, tentu ia tahu arti dari ucapan Tanuki. Prajurit militer pengalih perhatian itu bukanlah sebuah devisi militer atau apapun.
Prajurit itu dibentuk bukan dari orang-orang militer berpengalaman, melainkan dari orang-orang biasa yang tidak tahu cara berperang atau bahkan memegang senjata dengan baik. Orang-orang ini biasanya diambil dari budak pemerintah, anak-anak yang di jual atau rakyat yang dipaksa mengikuti perang. Tujuan komandan militer mengirim mereka bukan untuk menyerang, melainkan mengalihkan perhatian musuh dengan membuat satu batalion pasukan 'palsu' yang seolah-olah mereka adalah bagian pasukan utama. Ketika musuh terkecoh, pasukan sebenarnya akan menyerang dari dua arah berbeda dan melumpuhkan alam sekali serangan.
Sebuah strategi yang brilian dimana tingkat kemenangan yang tinggi. Namun, setiap strategi perang yang terlihat menguntungkan, pastinya memerlukan banyak darah untuk melancarkannya. Salah satunya, nyawa anak-anak beserta Tanuki dan Kizuna didalamnya.
"Jadi, mereka ingin kita menjadi perisai panah sihir Hoshi?! Sial! Tanuki kita semua harus segera kabur dari sini! " Kizuna mulai terlihat gelisah, bocah berambut hitam itu juga mengkhawatirkan nasib anak-anak lain.
" Kau benar, kita harus segera kabur. Tapi, Kizuna lihatlah kesekeliling kita!
__ADS_1
Kita tidak memiliki celah untuk bisa kabur dari tempat ini. " gumam Tanuki sambil melihat lingkungan sekitarnya. Tangannya mengepal kuat, penjagaan ketat militer membuat mereka tidak bisa berkutik sedikitpun. Salah sedikit saja, bukanya dibunuh musuh, mereka bahkan akan dibunuh prajurit negeri mereka sendiri karena pengkhianatan.
"Lalu bagaimama ini? Apa kau mau menunggu mereka mengirim kita untuk mati di tangan Hoshi! "
" Tentu saja tidak. Kita akan kabur setelah keluar dari benteng militer ini! "
Perintah bergerak segera terdengar. Kizuna dan Tanuki kemudian digiring untuk bergegas menuju benteng Timur. Meski dengan tubuh gemetar, anak-anak itu dipaksa membawa senjata dan berjalan ke arah pasukan Hoshi berada. Di sebuah lapangan rumput ilalang luas, anak-anak itu mulai bergerak sambil mengendap-endap. Misi yang diberikan para prajurit militer untuk mereka cukup mudah, mereka hanya perlu bergerak ke sisi Hoshi dengan hati-hati.
"Operasi Pengalihan sudah dimulai. Pengawasan prajurit Sora juga sudah menipis. Ini kesempatam kita Tanuki! Kita semua harus segera kabur sebelum Hoshi- " belum sempat Kizuna menyelesailan ucapannya, salah satu anak mulai berteriak sambil menunjuk ke arah langit.
" A- apa i- itu? "
Mendengar hal itu, Kizuna sontak memandang langit di atasnya. Matanya membulat sempurna ketika melihat ratusan gumpalan bola api kecil perlahan mulai membesar dan melesat cepat menuju ke arah mereka.
" Sial! Hoshi sudah mulai menyerang. " gumam Tanuki.
" Semua! Cepat berlindung! " teriak Kizuna memperingatkan anak-anak yang lain. Tapi sayang, semua terlambat. Serangan Hoshi, sudah lebih dulu tiba dan menghantam sekuruh daratan.
Cusss!
Booooommmm!
Dataran seketika luluh lanta. Ratusan bom sihir diluncurkan pihak Hoshi dan menyapu tubuh-tubuh ringkih anak-anak tak berdosa itu. Kizuna berusaha bertahan sebisanya, dengan manipulasi sihir tanah yang sempat ia pelajari sebelumnya, Kizuna menciptakan sebuah ruang tanah (mirip gua) dengan sihir, ia berusaha menyelamatkan beberapa anak lewat kekuatan gyoku miliknya.
"Bertahanlah! " ucap Kizuna pada anak-anak yang ia selamatkan. Kizuna membuat sebuah pelindung tanah untuk menghindari ledakan. Namun sayang, karena besarnya getaran serta banyaknya anak yang ia harus ia lindungi, Kizuna tidak bisa mempertahankan sihir miliknya lebih lama lagi.
Sementara itu, Tanuki memanfaatkan manipulasi elemen dasar api miliknya untuk menghancurkan runtuhan batu yang menyasar ia dan Kizuna. Tanuki juga sadar, perlindung yang diciptakan temannya tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
"Kizuna! Persempit benteng tanahmu! Dengan kekuatanmu saat ini, kau tidak bisa mempertahankan pelindung ini lebih lama lagi! Tungu apa lagi! " Teriak Tanuki
" Kau ingin membunuh kita disini! Jika kau terus mempertahankannya, kita semua akan mati tertimbun tanah pelindungmu! Kita tidak punya pilihan, kita harus berkorban untuk menyelamatkan nyawa kita!
Kita dalam kondisi berperang! Kita tidak bisa menyelamatkan nyawa setiap orang yang ada disini! "
" Tapi- Arkh! " Kizuna mulai merasakan efek kehabisan energi sihirnya. Sedikit demi sedikit, perlindung sihir yang ia ciptakan luruh. Tanuki meyadari hal itu, ia tidak memiliki pilihan lain selain memotong tanah perlindung dengan pedang miliknya.
Brasssss....
Pedang Tanuki tertancap, dengan sekuat tenaga ia mulai memotong dingding pelindung dan hanya menyisakan ruang untuk dirinya dan Kizuna. Sementara anak-anak lain, mulai tertimbun pelindung tanah milik Kizuna yang sudah kehilangan kontrol pemilik sihir.
......................
"Apa yang baru saja kau lakukan, Tanuki? " gumam Kizuna pelan, ia masih belum percaya apa yang dilakukan Tanuki
" Aku melakukan semua itu untuk menyelamatkanmu. Sebuah pengorbanan harus kita lakukan untuk bisa keluar dari dalam neraka ini! " ucap Tanuki datar, sedikit saja tidak ada penyesalan terlihat di raut wajahnya.
" Tapi kau tidak harus mengorbankan nyawa anak-anak lain untuk keselamatan kita! " suara Kizuna meninggi, ia begitu marah dengan apa yang baru saja Tanuki lakukan
Tangan Tanuki mengepal kuat, ia langsung menggapai kerah baju Kizuna dan melayangkan sebuah pukulan tepat di wajahnya
Bugggggggh....
" Sudah aku katakan! Kita berada dalam sebuah peperangan! Kita harus mengorbankan orang lain, sebelum orang lain mengorbankan kita! Kau harus ingat itu, Kizuna! " ucap Tanuki dengan nada digin.
__ADS_1
Pukulan Tanuki membuat pertahanan sihir Kizuan hancur, namun tanpa mereka sadari serangan dari pihak Hoshi sudah lama berhenti.
Tanuki kembali mengarahkan pandangan ke sekeliling. Dataran ilalang yang sebelumnya kuning, kini berubah merah (terbakar) dan hancur akibat ledakan yang dikirim pihak Hoshi. Ratusan tubuh teman-teman seperjuangannya sudah tergeletak di sepanjang mata memandang. Tidak ada yang selamat. Hanya ia dan Kizuna yang masih bernafas di tempat itu.
Langit seakan menjadi saksi perjuangan mereka, awan mendung mulai memenuhi tempat itu dan membawa badai hujan lebat. Tanah yang sebelumnya membara, kini tersapu hujan dan hanya menyisakan kepulan asap dan tubuh kaku anak-anak tidak berdosa yang harus mati karena sistem busuk dunia.
Tanuki menatap langit, titik-titik hujan mulai membasahi wajah kumelnya.
"Hentikan tangisan dan penyesalanmu! Kita harus segera kabur dari sini! “
Tanuki mulai beranjak ke arah sahabatnya, sementara Kizuna masih setia berlutut dengan kepala tertunduk. Rasa bersalah membuat air matanya tak hentinya mengalir. Hatinya jauh lebih remuk dari pada luka pukulan yang dilanyangkan Tanuki
"Sejak pertama, aku tidak pernah bilang kita akan kabur dengan semua anak-anak itu. Itu semua bukan salahmu, Kizuna. Anak-anak itu, hanya kurang beruntung karena mereka itu lemah!"
Tanuki mulai menarik lengan Kizuna dan mengajaknya untuk segera pergi dari sana. Kizuna hanya bisa mengikuti kemana Tanuki pergi, meski setengah jiwanya sudah hilang entah kemana.
"T- tolong aku... " sebuah suara samar terdengar.
Langkah Kizuna terhenti, baru saja ia mendengar seseorang meminta tolong padanya.
" Ada apa? "
Kizuna langsung menghempas tangan Tanuki. Ia pun segera mengarahkan pandangan kesekelilingnya.
" Baru saja, ada suara orang minta tolong. Seseorang pasti selamat dari ledakan itu! " Kizuna langsung berlari untuk mencari asal suara.
" Kita Harus Menyelamatkannya! "
" Itu tidak mungkin. Kau pasti salah dengar. Bisa saja, hujan lebat ini membiasakan pendengaranmu. Kau belum pulih sepenuhnya Kizuna, kita harus segera pergi sebelum musuh muncul! "
" Tidak! Aku jelas-jelas mendengarnya! "
Pandangan Kizuna tertuju pada semak-semak yang bergerak aneh didepannya.
" Tanuki! " teriak Kizuna sambil menunjuk semak-semak itu. Tanpa mempedulikan apapun, Kizuna langsung menghampiri semak itu.
Benar saja, seorang bocah tengah berlindung di dalam tumpukan ilalang. Luka bakar di kakinya cukup parah, karena itu ia tidak bisa bergerak sedikitpun
"Hya! Kau baik-baik saja?! "
Kizuna langsung membantu anak itu untuk berdiri. Dengan tertatih, anak itu mencoba berdiri. Tubuhnya bergetar hebat, sementara tangannya langsung mengapai erat lengan Kizuna tanpa mau melepaskannya
" Aku mohon, bawa aku bersama kalian! Aku takut berada disini! Aku mohon! Jangan tinggalkan aku sendirian di tempat ini! " rengek anak itu.
" Tentu saja, kami tidak akan meninggalkanmu! " ucap Kizuna sambil terkekeh. Sementara Tanuki, hanya bisa menghela nafas keras.
" Satu orang yang kehabisan energi sihir sudah cukup untukku. Kini ditambah satu orang yang terluka, itu tidak mungkin. Kizuna ayo kita tinggalkan dia disini! Kita tidak mungkin membawanya! " tegas Tanuki
" Tanuki kau tidak bisa bicara seperti itu, kau tidak lihat dia juga selamat sama seperti kita. Kita harus menolongnya! "
" Aku mohon! Bukankah namamu Tanuki? Aku mohon Tanuki, ijinkan aku ikut kalian! " ucap anak itu dengan nada putus asa.
Tanuki sempat teediam sejenak. Melihat cara anak itu memohon dengan tubuh gemetar dan terluka, mengingatkan ia pada dirinya beberapa waktu lalu. Tanuki kemudiam melirik ke arah Kizuna, jika bukan karena kebaikan Kizuna waktu itu, ia mungkin sudah memilih mati.
__ADS_1
" Ayo! Kita harus cepat pergi dari sini! Kizuna dan kau, siapa namamu? " ucap Tanuki sambil melirik anak didepannya. Dilihat dari ekpresinya yang mulai melunak, Tanuki sepertinya mengizinkan anak itu untuk ikut bersamanya
" Zen! Kau bisa memanggilku Zen. " ucap anak itu sambil tersenyum cerah.