
Tiga orang berjubah hitam, berdiri di sebuah dahan pohon besar tersembunyi di tengah hutan lebat , mereka tampak memperhatikan sebuah rumah megah, yang terletak tepat di depan tempat mereka berdiri
Angin berhembus pelan, membuat jubah hitam ketiga orang itu berkibar, malam yang gelap membuat kebradaan mereka sulit di ketahui, mereka pun mulai membuka tudung jubah hitamnya
Seorang pria, dengan setelan tentara lengkap dengan lambang awan merah di lengannya. Mengawasi keadaan rumah mewah. Matanya mengekor setiap pergerakan penjaga yang me gawasi rumah besar itu dalam diam
"Apakah dia target terakhir kita, Akuma? " ucap salah seorang dari mereka, suara lembutnya menandakan bahwa ia seorang wanita
Namun, laki-laki yang dipanggil Akuma itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan wanita itu, membuat wanita di sampingnya berdecik kesal
" Hm.... Seorang petinggi dari kumpulan bangsawan bodoh itu, dialah yang membuat Tuan Tanuki Marah" ucap Laki-laki di sampingnya, ia membuka tudung jubahnya.
Dia adalah Jigoku, pria yang menyerang Xio di perbatasan Negeri Mizu, ucapannya masih sama. Terdengar nada merendahkan di setiap kata yang ia ucapkan
"Sekarang.... Metode apa yang harus kita lakukan? Ish.... Cuaca malam ini panas sekali" ucap wanita itu, ia pun membuang jubah hitamnya begitu saja
"Para wanita memilih baju cantik untuk dikenakan, bukan untuk ditutupi oleh jubah jelek seperti itu"
"Kau masih mementingkan penampilanmu? Ingatlah... Kau hanya bibi-bibi berwajah gadis, Maya" ledek Jigoku
"Berisik, atau aku akan membunuhmu" ucap wanita bernama Maya, sama seperti Akuma atau Jugoku, lambang awan merah senantiasa terlihat melingkari lengan mereka
"Kalian, diamlah" suara berat Akuma menghentikan pertengkaran kecil antara anak Buah Tanuki itu
"Tugas kita membuat kematiannya serapi mungkin, sekarang Bergeraklah..... "
Tap.......
Secara bersamaan, mereka menghilang di tengah kegelapan malam
......................
Sementara itu, di Desa Sora, malam sudah menampakkan wujudnya, orang-orang mulai mengakhiri aktifitas kerja mereka dan mulai pulang kerumah selepas bekerja seharian
Mirai berjalan cepat, di depannya tampak seorang gadis berambut pendek tengah merapikan beberapa barang di meja, dan bersiap pulang
"Hanna, apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta? "ucap Mirai
" Hn.... Ini..... Tapi apa boleh kita mengecek data pribadi pasien kita? Sebenarnya apa yang kau rencanakan dari tadi Mirai" ucap Hanna mulai frustrasi, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu
Mirai tengah serius membaca lembar dokumen di tangannya, mata cantiknya pun menemukan apa yang ia cari selama ini
"Ah.... Ketemu..... "
Miraipun menatap sahabatnya, Hanna.
" Hanna, maukah kau membantuku? Kita perlu membersihkan sampah malam ini" ucap Mirai penuh arti
"Sampah? " Hanna hanya mengakat alisnya, sambil memasang wajah tidak paham
......................
Tap.... Tap....
Bayangan Hitam terlihat di sebuah rumah kecil di pinggir desa. Sebuah rumah sederhana yang jauh dari kata layak. Dua bayangan tengah menguntai rumah kecil itu dari luar, kedua orang itu adalah Hanna dan Mirai
" Sebenarnya apa yang kau rencanakan Mirai? " bisik Hanna
" Ssttt" Mirai memberi tanda untuk diam, ia masih mengawasi apa yang terjadi di rumah kecil itu
__ADS_1
Mereka dapat melihat, isi rumah itu lewat pintu samping rumah yang terbuka lebar
Brakkkkkk......
Suara benda jatuh terdengar dari dalam rumah, Hanna dan Mirai tampak mengawasi keadaan rumah itu
Mata Hanna membulat, ia melihat dua orang anak yang merangkak ketakutan, salah satu tangan anak itu bahkan masih dililit perban
Kedua anak itu, tengah menatap takut orang di depan mereka.
"Ma.... Maafkan Zuma, A.... Ayah... " ucap Anak yang tangannya di perban,
Sambil mencakupkan tangannya yang terluka, ia memohon agar saudara yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya untuk di ampuni
Hanna tidak tahan melihat perlakuan kejam di depannya, ia pun hendak menolong kedua anak kembar di depannya. Namun, tangan Mirai menghentikan langkahnya.
Hanna memandang Mirai dengan wajah khawatirnya sekaligus ia mencoba menebak apa yang terjadi lewat tatapanya
Mirai pun mengangguk
"Hmm..... Luka di tubuh mereka Itu adalah tindak kekerasan kepada anak-anak, pria yang mereka panggil ayah yang melakukannya"
"B.... Bagaimana kau bisa Tahu, Mirai? "
Mirai hanya menatap lurus kedepan, tangannya kini mengepal kuat. Sejak dulu, ia begitu benci dengan orang-orang yang memperlakukan anak kecil kasar. Termasuk juga apa yang di alaminya sewaktu kecil
Mirai menyadari, waktu ia bertemu dengan Zuma, keadaan anak itu tidak terlihat seperti demam biasa, melainkan menahan rasa sakit hebat. Terlebih pakaian anak itu, terkesan sengaja di buat tertutup oleh sang Ayah, untuk menutupi suatu hal
Sikap laki-laki itu juga tampak aneh, dan terlihat gelisah
"Lalu, apa yang Harus kita lakukan? Jika kita melakukan hal gegabah pada rakyat sipil non militer, semua kesalahan pasti akan titujukan kepada kita Mirai" ucap Hanna
Seperti kata Hanna, aturan orang militer di larang keras menggunakan kekuatan sihir mereka untuk menyakiti orang biasa dengan alasan apapun.
"Apa sebaiknya kita laporkan ke pihak Militer Sipil? (pihak penanggung jawab kejahatan orang-orang sipil/biasa) " ucap Hanna khawatir
" Tapi... Sebelum itu, anak-anak itu pasti sudah mati" ucap Mirai
Mereka melihat, laki-laki itu membawa botol Miras, dan hendak memukul anak-anak itu
......................
"Kami mohon ayah, kami akan diam. Aku dan Zuma tidak akan lagi keluar rumah lagi"
"Eh.... Kalian memang anak-anak kurang ajar, bisa-bisanya kalian mengadu kepada tetangga.....
Apa kalian akan melaporkanku karena memukuli kalian hah!!!!!! " ucap pria setengah mabuk itu dengan nada tinggi
" Tidak.... Kami janji.... Tidak akan keluar lagi, tapi...... Aku mohon jangan pukul kami lagi..... " ucap anak dengan perban di tangannya
" Betul ayah, aku dan Zumo tidak akan mengulanginya lagi" mohon Saudaranya
"Alah..... Kalian memang mirip dengan ibu kalian yang cengeng itu, dia bahkan kabur dariku...... " ucap pria yang mulai sempoyongan karena mabuk
" Kalian hanya menyusahkanku saja!!!" teriak Pria itu, ia pun mengayunkan botol kaca Minumannya ke arah anaknya
Tessss......
Lampu tiba-tiba saja padam, membuat pandangan pria jahat itu kabur, Hanna tampak membawa anak-anak itu pergi, tanpa sepengetahuan ayah mereka. Sedangkan pria itu masih sempoyongan sambil terus berteriak
"SIAPA YANG BERANI MAIN-MAIN DENGANKU? HAH!!!! “ ucap pria kasar itu
Sebuah cahaya biru tampak samar, terlihat sosok wanita berdiri di depan pria itu. Cahaya bulan belum cukup, untuk pria itu mengetahui siapa wanita di depannya
Kreeeet..... Krettt....
__ADS_1
Lautan cahaya biru menyebar di lantai rumah itu, membekukan lantai dan membuat laposan es tebal
Tiba-tiba, kaki pria itu mulai di lapisi es, membuatnya tidak bisa lagi bergerak keman-mana.
"Cih..... Orang Militer, siapa kau? Tunjukkan wajahmu itu, jalang" ucap Pria itu
Kretttt.....
Lapisan es itu makin meninggi, kini hampir setengah tubuh pria itu beku. Wajah mabuk pria itu, berubah menjadi wajah ketakutan.
"K... Kau serius ingin menyakitiku? K... Kalau sampai dewan desa tahu.... Kau... Menyakiti rakyat sipil.... Kau tidak akan lolos..... "
" Hal yang paling menakutkan di sini, adalah pria sampah sepertimu..... " ucap Mirai datar, tanpa berpindah dari tempatnya berdiri, ia pun menghidupkan lampu rumah itu dengan kekuatannya
" K... Kau... Bukannya dokter tadi? Tunggu saja, aku akan melaporkanmu, dasar wanita jalang" mencoba menggertak Mirai
"Apa kau sempat melakukannya? Aku memang seorang dokter, tapi aku juga membunuh orang" ucap Mirai enteng, sambil memainkan jari tangannya
Pria itu hanya bisa meneguk ludahnya, tubuhnya tampak gemetar melihat ekpresi datar Mirai yang mengintimidasi
Mirai mulai menaikkan jari telunjuknya, dengan senyum dinginnya, ia berkata pada pria itu
"Kau berani menyakiti seorang anak, jadi aku biarkan kau juga merasakan rasa sakit yang di derita Zumo dan Zuma.... "
Kretekkkkkk......
Mirai mematahkan kaki pria itu, namun pria itu bahkan tidak bisa berteriak, terlebih dulu Mirai membekukan mulutnya, agar terkunci dengan rapat
" Hmptppppppppppppt"
Mirai pun berjalan ke arah Pria yang meringis menahan sakit, dengan sekujur tubuhnya membeku, namun ia tetap bisa merasakan sakit yang Mirai buat
"Bagaimana? Sakit?
Bayangkan apa yang di rasakan anak-anak itu....... " ucap Mirai, ia pun mecairkan es yang menyumpal mulut pria itu
" Lebih baik kau bunuh saja Aku......... " ucap Pria itu sambil menahan rasa sakit yang hebat
Bahkan mendengar suaranya saja, membuat Mirai ingin menghisap jiwanya. Atau tidak, ia ingin sekali membuatnya mati perlahan dengan siksaan hebat
" Kau tahu.... Aku sangat inginnnn sekali membunuhmu, tapi.......di sini bukan aku yang menghukummu
Aish..... Andai saja aku di keluar desa.... Kau pasti mati" ucap Mirai frustrasi, pandangan Mirai kini tertuju ke arah pria itu lagi
"Kalau begitu, aku akan memberikan sedikit pijatan di perutmu.... Tahan..... " sambung Mirai dengan seringai menyeramkan
Cahaya biru menyalur di kedua tangan Mirai, ia mulai menekan beberapa titik di tubuh pria itu, satu tekanan dari tangan Mirai sama saja dengan satu buah pukulan benda tumpul menerjang tubuh pria itu
Tak.... Tak... Tak....
" Dang.... Tang...... " ucap Mirai seakan bermain dengan pukulannya, di pukulan terakhirnya Mirai sengaja mematahkan tulang rusuknya, ia begitu puas bermain saat ini
Mirai sengaja membuat pria di depannya tidak pingsan, merasa cukup, Mirai menghilangkan elemen es yang membelenggu tubuh pria itu. Pria itu pun jatuh tersungkur
"T.... Tolong.... Ampuni nyawaku..... Aku mohon"
"Kau sudah sungguh beruntung, bajingan. Aku tidak membawamu ke hadapan raja neraka" bisik Mirai
Mirai menatap pria yang tengah tersungkur sambil menahan rasa sakit itu,
"Seharusnya kau meminta maaf pada Zumo dan Zuma, bagaimanapu anak-anak itu tidak berdosa, sehingga pantas kau pukuli
Akui kejahatanmu.....setidaknya itulah yang kau bisa lalukan sebagai seorang ayah " Mirai pun pergi dari sana
" Dasar sampah!!!!!! " itulah ucapan manis terakhir Mirai, sebelum berubah menjadi butiran salju dan menghilang
__ADS_1