
Mata hitam kelam Xio masih megerjap, ia mulai mengumpulkan kesadaranya kembal. Hal pertama yang ia lihat adalah gadis berambut merah, yang menatapnya khawatir dari balik kaca matanya.
Xio mulai bangkit untuk duduk, sambil memegang kepalanya yang masih berputar. Salahnya mengaggap remeh efek racun Yuri
"Akhirnya kau sadar juga, aku pikir kau mati tau! " dengus Yuri Kesal.
"Sudah berapa lama aku pingsan? "
" Sudah satu hari, Tuan" ucap Oro-ryu yang kini berwujud ular putih kecil. Xio bergegas untuk bangun, setelah lama tidak sadarkan diri kini kondisinya telah pulih kembali. Ia hendak beranjak pergi dari sana, namun Yuri segera menghentikannya
"Apa kau baik-baik saja Tuan? "
" Hey! Kau harus istirahat dulu, kau mau pergi kemana heh? " ucap Yuri
" Tunjukan aku dimana batu 3 Pilar kau sembunyikan. Itu pasti berada di dekat sini, aku bisa merasakannya dengan jelas. "
Xio melihat sekeliling Gua itu, ia yakin dengan apa yang dirasakannya.
"Jika kau ingin melihatnya, kau harus minta ijin denganku dulu, Yora! " ucap Yuri dengan raut wajah yang mulai memerah.
"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi. Namaku Xio! "
Xio menatap tajam gadis di depannya, mata hitam kelamnya seakan menembus lurus mata semerah Ruby milik Yuri.
DDDONG..... DDONG.... DDONG.....
Suara lonceng menggema di dalam gua. Suara seakan memanggil pemilik gua yang kini bersama Xio. Ia langsung menoleh ke asal suara, Xio jelas mendengar suara lonceng yang di pukul di luar gua.
"Akhirnya..... Dia datang juga...... " ucap Yuri penuh arti
......................
Seorang pemuda berambut merah, berdiri menghadap Gerbang Gua tempat Oro-ryu tinggal. Lengkap dengan orang-orang yang diikat tangan serta kaki dibelenggu bole besi berdiri di belakangnya
Orang-orang yang diikat itu tampak sangat lusuh. Dengan kaki tampa alas diberikan beban berupa bongkahan besi padat, serta pakaian kotor dengan rambut yang urak-urakan.
Lebih dari 200 orang diikat dan dipaksa mengikuti pria berambut merah itu. Mereka dengan tubuh gemetar berlutut di depan gerbang menyeramkan itu
Suara decihan pintu raksasa terdengar nyaring terbuka, seakan menambah kesan mencengkram. Pintu gua di buka secara keras, dan mebampakkan Yuri yang mulai keluar dari mulut Gua yang gelap
Wanita berkaca mata itu, tampak berpenampilan berbeda dari sebelumnya. Kini ia mengenakan setelan kimono dengan motif yang sama persis dikenakan laki-laki di depannya. Motif Peonixs biru, melambangkan orang yang mengenakan lambang burung legenda itu adalah keturunan seorang penguasa negeri Mizu.
Laki-laki itu adalah Putra Mahkota negeri Mizu, sekaligus adik kandung dari Yuri, ia bernama Pangeran Hiko
"Apa kabar? Kakak.... " Pria itu menunduk, memberi salam dengan sikap yang sopan.
Yuri melihat pemandangan di depannya, ia pun tersenyum, tidak.... lebih tepatnya ia tertawa lepas. Jengah sekaligus merasa terhina
__ADS_1
" Hahahahah........ Tidak aku sangka, ibu lebih memilih menyerahkan rakyatnya, dari pada sekedar datang ke sini. Setidaknya untuk menghunuskan pedang di leherku secara langsung! "
Yuri memasang wajah seriusnya kembali, kini ia perlihatkan mata Ularnya ke seluruh orang di depannya. Membuat orang-orang di depannya gemetar ketakutan
Suasana tampak hening, tidak ada satupun orang yang berani berbicara, bahkan menghembuskan nafasnya karena rasa takut dalam diri mereka. Aura monster yang dikeluarkan Yuri mampu membius siapa saja yang menatap kedalam sorot mata ularnya.
Wajah wanita di depan mereka sangat menakutkan, mata ular dengan sisik putih memenuhi sekujur lehernya
Hiks! ..... Hiks! .... Hiskk! .....Huaaaaa......
Salah satu anak yang ada di pelukan ibunya menangis keras, melihat wujud Yuri membuat anak itu tidak bisa menahan tangisnya
Sang ibu, dengan wajah ketakutan berusaha menenangkan anak itu, ia pun mulai berlutut dan memohon belas kasihan Yuri
"Aku mohon, Tuan Putri. Ampuni kelancangan Putraku....... Tolong jangan bunuh Putraku! " ucao wanita itu, tangannya terus gemetar ketakutan. Lagi-lagi, Yuri tertawa lantang.
"Hahahahahah....... Apa kalian takut, aku akan memakan kalian? "
Yuri tertawa, bukan karena menikmati wajah ketakutan orang di depanya. Ia tertawa karena merasa heran, apa sebegitu menakutkanya rumor mengenai dirinya. Mulai dari memakan manusia hidup-hidup, mengisap darah anak-anak, hingga mengincar pria berparas tampan untuk di bunuh. Orang-orang itu, bahkan tidak pernah melihat atau mengetahui bagaimana ia sebenarnya
Xio yang memperhatikan dari dalam kegelapan tampak bingung atas sikap gadis berambut merah itu. Sadar tuannya itu memerlukan penjelasan, Oro-ryu pun menceritakan kenapa sikap Yuri seperti itu
"Sama seperti ucapanmu kemarin, Yuri hanya memperlihatkan sikap sesuai apa yang di pikirkan rakyat Mizu. Seorang Putri terkutuk, yang haus darah manusia"
"Kenapa ia menunjukkan sikap yang bertentangan dengan dirinya, dia sama saja membongongi dirinya sendiri. "
"Itu karena ia sangat merindukan Ibunya, Ratu Negeri Mizu. Sejak ia di bawa ke sini, aku sama-sekali tidak memperdulikannya, entah dia mati atau hidup, aku hanya mengabaikannya, karena aku membenci manusia.
Gadis kecil yang ceria. Perlahan ia bisa meluluhkan hatiku dan mulai peduli kepadanya.
Aku pun mengijinkan ia kembali untuk bertemu ibunya, aku katakan kekuatan di dalam dirinya tidak akan pernah membahayakan negerinya
Dengan wajah yang ceria, ia kembali ke istana. Namun, semua itu tidak sesuai harapannya. Sang Ratu, menyeretnya kembali kesini, dan mengatakan ia hanya anak terkutuk bagi Negeri Mizu. Tentu kata-kata itu lebih menakutkan dari pada bertemu moster sepertiku. Seorang gadis kecil, mendengar kata-kata tajam dari mulut ibunya sendiri.
Meski ia menyembunyikan perasaannya dariku, beberapa kali ia mencoba membunuh dirinya sendiri atau sekedar melukai dirinya.
Ia mencuri racunku, dan meneteskanya ke matanya, hingga kini pun pengelihatanya rusak. Melihat hal ektrim yang dilakukan anak sekecil itu, aku putuskan menyegel setengah diriku ke tubuhnya, agar aku bisa mengontrolnya jika ia melakukan hal gila lagi. Aku juga memberikan kekuatan batu pilar untuknya, karena dia gadis berharga untukku"
"Lalu kenapa Yuri meminta budak kepada Sang Ratu? "
" Dia hanya ingin Ratu marah, dan datang kesini atas kemauanya sendiri. Sudah lebih 20 tahun Yuri tidak pernah menemui ibunya.
Setiap tahun, selama 10 tahun ia meminta 'tumbal manusia', namun Sang ratu justru menyetujuinya. "
"Lalu? Apa yang ia lakukan dengan orang-orang itu? "
......................
__ADS_1
Yuri pun menatap wajah adiknya, meski semua orang menakuti Yuri tapi itu tidak berlaku untuk sang adik. Dia mengetahui maksud Yuri yang sebenarnya. Hiko pun mengangguk, dan mulai berbalik menghadap orang-orang itu
" Mulai sekarang kalian di anggap mati, sebagai tumbal untuk Putri Yuri. Kalian akan lepas dari status budak kalian, dan tidak akan kembali lagi ke negeri Mizu.
Tapi......
Kalian harus pergi dari sini dan jangan sekali-kali kalian menginjakan kaki kalian di negeri Mizu! "
Semua orang tampak bingung, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Bukankah mereka kesini akan menjadi tumbal untuk siluman Ular putih? Mata Yuri pun kembali normal, ia memakai kembali kaca matanya
"Aku sudah menyuruh adikku Hito, diam-diam memasukkan kalian menjadi warga Sora. Kalian bisa hidup layak dan lepas dari status budak kalian! " ucap Yuri
Xio yang sedari tadi memperhatikan gadis itu pun menatap Oro-ryu penuh prasangka. Ia kira ular itulah yang akan memakan manusia-manusia itu
"Tuan........ Aku tidak memakan manusia..... Bagaimana aku memakan sesuatu yang aku benci! " ucap ular putih itu membela diri dari tatapan 'menuduh' Xio
Orang-orang itu pun menampakkan raut muka bahagianya. Mereka dengan kompak memberi hormat kepada Putri yang selama ini mereka maki-maki, tanpa tahu mengenai kebenaran sang Putri
"Pergilah! " ucap Hiko. Semua budak akhirnya terbebas dan pergi dari sana.
Kini Hiko menatap wanita di sampingnya, wanita yang memiliki rambut yang sama persis dengan miliknya itu.
"Kakak yakin, tidak mau menemui ibu? Aku bisa mengatur pertemuan kalian tanpa ada yang tahu! " Yuri menggeleng pelan, ia punmembalikkan tubuhnya membelakangi Hito
"Sudahlah....... Lagipula..... Aku akan segera pergi dari sini. " ucap Yuri sambil berjalan menuju ke dalam Gua
"Apa maksudmu, kau akan meninggalkan bukit Hebi? "
" Kini aku tidak lagi menjadi beban untukmu, ataupun menjadi ketakutan bagi ibu kita. "
Yuri berjalan menuju arah Xio dan Oro-ryu, namun perkataan Hito membuat langkah Yuri terhenti.
"Ibu...... Ibu kita, sakit keras kak! Setidaknya sebelum kau pergi, kau harus menemuinya! "
Mendengar berita dari Hitu tubuh Yuri membeku. Meski ia sangat membenci Ibunya karena memperlakukannya seperti Moster, Yuri tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia sangat menyayangi wanita yang melahirkannya itu. Wanita yang bahkan menyerahkan putrinya sendiri ke seekor monster. Tangan Yuri mengepal kuat
" Pergilah Hito, terima kasih untuk semuanya. Hanya kau satu-satunya orang yang mempercayaiku" ucap Yuri setenang mungkin, meski tidak bisa dipungkiri suaranya sedikit bergetar
"Tapi- "
Pintu gerbang itu pun tertutup rapat, menutup pandangan antara adik kakak tersebut
" Apa kau baik-baik saja, Yuri? " ucap Oro-ryu khawatir
" Bagaimana aku bisa baik-baik saja....... "
Yuri mulai jatuh bersimpuh. Ia memegangi wajahnya, menyembunyikan tangisnya yang tidak bisa ia tahan lagi.
__ADS_1
~Di balik tampilanya yang tangguh, ia hanya gadis dengan jiwa seputih Bunga Lili. Maksud kitab Nue. Batu ke dua, melindungi kekuatan besar, kekuatan yang dikelilingi oleh simbol kelicikan serta racun penuh makna, tidak ada yang berani menatapnya, namum memiliki jiwa lembut layaknya lili putih
Bukan merujuk ke seekor moster Ular, melainkan sikap kejam manusia, yang lebih buruk dari seekor Monster~