Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Mulai Terkuak


__ADS_3

Seekor gagak Hitam, terbang begitu rendah, hanya mengelilingi sebuah konplek Apartemen Di Desa Sora.


Gagak Hitam besar itu seakan menantikan kehadiran seseorang, sambil terus berputar di wilayah yang sama. Burung hitam itu pun akhirnya turun dan mengetuk jendela salah satu kamar dengan paruhnya


Tok... Tok... Tok...


Sang pemilik kamar terlihat membukakan jendela, membiarkan burung itu masuk lewat jendela rumahnya


"Ada apa? " ucap Mirai, burung itu ternyata masuk ke dalam kamar Apartemennya


"Sebuah Misi tambahan" ucap Burung sihir itu, di lihat dari cara bicaranya orang yang menghubungi Mirai adalah Nee


"Apa itu, Nee? "


" Leader menugaskan kita untuk menyelidiki Cops Merah. Aku sudah mengirimkan beberapa informasi yang kami dapat lewat gagak ini.


Yuki apa kau masih belum bisa menemukan letak keberadaan Kuil Nue? "


Mirai pun berjalan menuju salah satu lemari di kamarnya, dengan menggunakan sihirnya ia menggeser lemari itu. Di balik lemari itu, terdapat sebuah peta desa Sora, beserta letak gedung penyimpanan dokumen yang tersebar di seluruh desa


Tandan silang berwarna merah pun memenuhi peta, itu berarti selama ini Mirai sudah menyusup di beberapa tempat yang sudah ditandai itu


"Masih Belum..... Sudah hampir 80% tempat penyimpanan dokumen sudah aku periksa. Badan Intelejen Sora, Kantor Kepala Militer.... Bahkan Pos Militer Kecil.....


Semua tempat sudah aku periksa.... Tapi aku belum menemukannya" ucap Mirai sambil menatap peta di dingdingnya


"Tentu... Kami sudah menduga, keberadaan kuil itu pasti sulit ditemukan" ucap Nee melalui sang gagak


"Kami mendapat Informasi, bahwa Tanuki telah mengembangkan sebuah eksperimen menggunakan darahmu. Keberadaanmu mungkin dalam bahaya, mengingat kau bahkan masuk ke sarag musuh


Cops Merah tidak akan membiarkanmu, jika identitasmu bocor


Apa yang akan kau lakukan, Yuki? " ucap Nee


Mirai hanya terdiam, baginya Misi Tengu sekaligus penyelidikannya mengenai masa lalu orang tuanya tidak boleh berhenti di sini. Terutama, siapa yang membunuh ayahnya


" Cops Merah, ya? Satu-satunya markas yang belum pernah aku masuki hanya markas Cops itu...... " gumam Mirai


" Apa kau berencana menyelinap ke sana? Lebih bai jangan Yuki.... Itu sangat beresiko"


"Tidak... Justru sesuatu yang beresiko tinggi, justru menyimpan sesuatu yang berharga


Kalau begitu, sampai di sini dulu. Nee" ucap Mirai mengakhiri komunikasinya


Ia pun mengaktifkan Gyokunya, dan membuat gagak sihir itu hancur di atas kertas. Pecahan tubuh sang gagak berubah menjadi tulisan, sebuah informasi yang Nee katakan tadi


Mirai pun membaca informasi itu dengan teliti, namun konsentrasinya menjadi buyar akibat sesuatu yang gosong tercium oleh hidungnya


"Bau apa ini? "gumam Mirai, otaknya masih mencerna keadaan


" Oh ya.... Aku kan sedang memasak Sup..... Ya ampunn"


Mirai pun langsung berlari menuju dapurnya, benar saja semangkuk sup berubah menjadi semangkuk arang

__ADS_1


"Hah... Apadahal aku bersusah payah membuatnya" ucap Mirai sambil menghela nafas


Bahkan dapur kecil di depannya, penuh dengan bahan yang berserakan, perabotan kotor yang menumpuk dan tentu saja masakan yang gosong


"Seharusnya aku tidak berusaha memasak, hasilnya bahkan lebih beracun dari bunga rubah! "


......................


Sentara itu, di sebuah tepi Sungai kecil seorang pria bermasker tampak menikmati hari dengan hanya tiduran di bawah pohon rindang


Hembusan angin meniup surai keperakkannya, semantara mata merah kecoklatannya hanya memandang langit biru di atasnya


Terik matahari yang cerah di halangi rimbunya pohon, suara gemericik air sungai yang menenangkan serta tiupan angin sepoi-sepoi seakan mendukung pria pemalas itu, membuang harinya hanya untuk rebahan di bawah pohon.


Aora sambil terus menatap langit di atasnya, ia pun mengangkat tanganya, membuat langit biru terhalang dengan telapak tangan besarnya. Ia pun melepas sarung tangannya dan memlihat sibol Gyoku matahari miliknya


Sebuah simbol matahari berwarna hitam, yang ia tahu hanya dimiliki oleh Clannya saja.


"Kenapa kau juga memiliki simbol langka seperti ini, Mirai?


Bukankah kau berasal dari Desa Shii, lalu kenapa kau memiliki simbol Clan salju? " gumam Aora


Ia masih tidak mengerti, yang ia tahu Clan salju sangat pantang menikah dengan orang biasa, apalagi dengan orang di luar desa. Clan bangsawan yang begitu ketat menjaga garis darahnya, bahkan lebih ketat dari Clan Bulan dan Matahari


Aora juga masih ingat, ia pernah berhadapan dengan seseorang berelemen es saat pengejaran Kuru di ladang Soba. Meski ia tidak dapat melihat sosok orang itu, tapi ia yakin dialah pengendali es yang membekukan kakinya


"Pengendali elemen es.... Juga muncul dalam insiden kekerasan anak beberapa waktu lalu, itu artinya pengguna elemen itu berhasil menyusup ke desa. Lalu siapa dia?


Seharusnya Rou juga dapat mendeteksinya" gumam Aora


Aora masih belum mau mencurigai Mirai, meskipun tanda aneh di gyokunya, bisa saja pelakunya adalah orang lain. Aora juga tidak mau meragukan wanitanya itu


"Aora!! Oi...... " teriak seseorang dari arah belakangnya, Aora dapat menebak suara keras itu adalah suara Mirai


Ia pun langsung berdiri, dan menatap ke arah jalan di belakangnya


" Mirai? .... Di sini" teriak Aora sambil melambaikan tangannya.


Senyumannya tidak bisa ia sembunyikan, bahkan ketika ia menutupi setengah wajahnya. Bagaimanapun ia sangat senang mendengar suara Mirai


Ia melihat Mirai semakin mendekat, gadis itu tampak membawa keranjang yang cukup besar di tangannya. Untuk itu, Aora putuskan untuk menghampirinya


"Mirai.... Dari mana kau tahu aku disini? " tanya Aora sambil mengambil keranjang berat yang di tengteng Mirai.


Semantara tangan satunya ia gunakan menggenggap tangan Mirai


Mirai hanya bisa blushing, bagaimanapun ia masih belum terbiasa dengan perlakuan manis itu


" Aku tanya Hanna dan Rou. Bahkan jawaban mereka sama, satu-satunya tempatmu bermalas-malasan adalah sektor latihan 3 ini" ucap Mirai


Sektor Latihat 3, adalah tempat prajurit Militer khusus Cops Putih berlatih. Sebuah lapangan luas di tepi sungai. Memang cukup jauh dari desa, tapi tempat latihan itu memang dirancang untuk latihan sihir sekala besar


"Aku tidak bermalas-malasan, tapi hanya menikmati hariku yang damai, tau" bantah Aora

__ADS_1


Ia pun mengajak Mirai ke bawah pohon tempatnya rebahan tadi, sebuah karpet piknik bahkan sudah digelar. Fungsi sebenarnya bukan untuk piknik, tapi sebagai alas Aora rebahan


"Apa yang kau bawa? Jangan bilang kau memasak bekal makan siang? " ucap Aora penasaran, ia pun membuka isi keranjangnya


Aora tercengan dengan isi keranjang itu " Apa yang kau buat Mirai? " ucapnya sambil bergidik ngeri


Bayangkan, orang yang tidak bisa menggunting daging, tiba-tiba membawakan makanan yang ia masak sendiri. Tentu Aora was-was


" Aku menyiapkan bekal makanan untukmu, sebuah Nigiri serta telur dadar. Aku bahkan menghabiskan waktu 4 jam untuk membuatnya. Cobalah Aora.... " ucap Miari dengan senyum manis


Ia pun mengeluarkan kotak bekal berisi makanan, dan membuka tutupnya. Sebuah pemandangan mengesankan terlihat...


Nasi yang digulung berantakan, serta telur dadar setengah gosong berwarna coklat gelap. Tidak lupa, Mirai juga menambahkan hiasan berbentuk tengkorak dengan wortel, serta biji mata dengan telur rebus. Sungguh Horor


Aora hanya bisa meneguk ludah, ia tidak yakin apa itu makanan untuk manusia. Ia pun menatap gadis yang tersenyum ceria di depannya


Jarang-jarang Mirai tersenyum seperti itu , jadi Aora tidak berniat merubah mood gadis itu dengan menolak masakannya. Tapi masakan itu benar-benar hancur


"A... Apa kau yakin, ini tidak beracun? " gumam Aora pelan, keringat pun mengucur di keningnya.


Ia takut Mirai akan marah


" Hm... Apa? " tanya Mirai, rupanya suara Aora tidak begitu jelas ia dengar


Aora berubah pikiran, ia pun menggelengkan kepalanya " Tidak, tidak..... "


" Ini.... Cobalah..... " ucap Mirai sambil menyodorkan makanan ke arah Aora dengan muka tanpa dosanya


Meski ragu, Aora pun menarik masker wajahnya dan hendak memakan makanan mematikan itu


Satu gigitan masuk ke mulut Aora, seketika itu mata Aora membulat. Seperti dugaannya, dibalik tampilan menyeramkan masakan Mirai, tersimpan rasa yang tidak kalah mengerikan


Aora dengan terpaksa mengunyah makannanya dan mencoba menelannya. Tapi mulutnya tidak menurutinya, ingin sekali ia memuntahkan semuanya


"Mirai lihatlah...... " ucap Aora mengalihkan perhatian Mirai, ia pun langsung memuntahkan makanan di mulutnya tanpa sepengetahuan gadis itu


Fiuh..... Aora selamat.... Ia pun menghela nafas lega


" Apa? " tanya Mirai menoleh ke arah Aora


" Tidak.... Aku tadi melihat kucing terbang... Heheh" ucap Aora ngeles


Mirai hanya bisa menyipitkan matanya, ia pun hendak menyuapi Aora lagi. Merasa nyawanya terancam, Aora mencoba menyelamatkan diri


"Mirai...... Apa kau mau mengabulkan permintaanku" ucap Aora cepat


Tidak seperti sebelumnya, Aora menunjukkan pandangan seriusnya. Melihat hal itu, Mirai pun menjadi penasaran


"Apa itu? "


" Mirai.... Maukah kau....


Bertarung melawanku? " ucap Aora dengan tatapan tajam

__ADS_1


__ADS_2