
Di sebuah dataran subur yang dijuluki Lembah kehidupan. Hamparan pegunungan tinggi nan cantik memeluk tempat itu. Ada berbagai jenis hewan dan tumbuhan hidup dan bergantung dengan kekayaan alam. Ratusan sumber mata air berubah mejadi anak sungai, mengalir dari kaki gunung hingga menjakau ke seluruh Negeri, menghidupi pertanian rakyat dan mebuat Sora menjadi Negeri Kaya yang makmur.
Dari sanalah kehidupan berasal. Tepat di tengah daratan lembah, ada sebuah Kuil kecil untuk menghormati jasa Dewi Salju. Kuil itu terletak di atas sebuah tebing pegunungan yang curam. Tampak begitu cantik, dengan ratusan anak tangga yang menghiasi.
Zen manapakan kakinya pada tangga terakhir menuju kuil, langkahnya sempat terhenti.
Sambil menatap lurus pintu kayu raksasa didepannya, ada dua buah patung yang menyambut ke hadirannya. Di sebelah kanan terdapat sebuah patung malaikat dengan wajah rupawan. Sementara di sisi kiri, ada sebuah patung iblis yang menatap ke arahnya tajam. Sebuah simbul keseimbangan, dimanapun terdapat cahaya yang menyinari pastilah ada sebuah bayangan yang memberi sisi gelap mengikutinya.
Zen mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke area Kuil. Dengan sebilah katakana di tangannya, tampaknya pria paruh baya itu sudah siap menghadapi apapun yang akan menyambutnya.
Kretttttt!
Pintu besar itu mulai terbuka lebar. Di ujung ruang, terlihat siluet pria berkimono hitam. Ia tampak berdiri membelakangi Zen, hanya diam sambil menatap patung besar di depannya.
Patung dewi salju tampak berdiri kokoh, dengan tangan tercakup di dada, sang dewi seolah berdoa kepada Yang Maha Kuasa dan senantiasa menjaga Negeri Sora agar tetap terlindung.
"Kau datang, Zen! " ucap Tanuki sambil merilik ke arah Zen dengan ekor matanya.
" Aku menerima pesanmu dari Itasuke. Sudah beberapa kali aku peringatkan kau, agar berhenti memanfaatkan anak-anak tidak berdosa diluar sana! "
" Kau bertemu dengan Itasuke? Itu artinya, dia sudah menceritakan segalanya padamu. " ucap Tanuki sambil tersenyum simpul. Tangan Zen mengepal kuat. Wajahnya tampak menegang menahan amarah.
" Katakan padaku, apa benar kau membantu monster kegelapan untuk bangkit ke dunia ini?! Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Tanuki! Apa kau sudah gila?! " geram Zen dengan suara meninggi.
" Gila?! Hahaha!" Tanuki tertawa lantang, memecah ruangan kosong yang berada di sekeliling mereka.
Ucapan Zen seolah terdengar lucu olehnya. Namun sedetik kemudian, ekpresi Tanuki kembali serius.
"Jika aku harus menjadi orang gila untuk menghapus sistem busuk didunia ini! Dengan senang hati, aku akan melakukannya.
Kau, Kizuna dan juga aku. Kita adalah orang-orang lemah yang hampir tewas terbunuh oleh sistem busuk dunia sihir ini. Hanya karena kita terlahir dari rakyat lemah. Tanpa darah bangsawan, tanpa kekuatan dan juga tanpa kekuasaan! Kita hanya menjadi alat yang bisa disingkirkan kapanpun para penguasa itu inginkan. " ucap Tanuki dengan suara pelan.
" Sebuah sitem dunia yang busuk? " Zen mengulangi ucapan Tanuki, pandangannya tertuju ke arah patung Sang dewi.
" Kau benar, Tanuki. Kita pernah hidup dalam masa-masa sulit seperti itu... "
......................
...~Flash Back On~...
__ADS_1
Sejarah pertikaian atara tiga Negara Besar, tidak bermula dari sepuluh atau dua puluh tahun belakangan. Riwayat permusuhan antara Negeri Sora, Tsuki serta Hoshi sudah ada sejak era leluhur. Ratusan tahun sudah berlalu dan terus belanjut hingga melintasi beberapa generasi di kehidupan manusia.
Peperangan tidak hanya membawa korban nyawa di pihak orang militer, efek yang ditimbulkan juga dirasakan rakyat sipil yang lemah. Selama periode berdarah itu, ratusan bahkan ribuan orang tewas akibat kelaparan yang melanda. Orang-orang militer sibuk bertarung dimedan perang, seluruh dataran luluh lanta. Sementara rakyat, tidak bisa mencukupi desakan penguasa Negeri untuk menyediakan pangan orang-orang yang pergi ke medan perang.
Kemiskinan, menyebabkan beberapa orang tua rela menjual anaknya sendiri agar bisa tetap bertahan hidup. Membiayai pengeluaran perang, tentu rakyat sebagai kaum bawah yang diperas darah dan keringatnya.
Hal serupa juga di alami Tanuki kecil. Sistem busuk dunia, benar-benar menghancurkan pandangan seorang bocah yang kala itu baru berusia 10 tahun.
Brakkk!
Tubuh Tanuki kecil jatuh membentur lantai yang dingin. Tubuh ringkihnya dipenuhi luka memar, sementara kepala serta wajahnya merah akibat darah yang mengalir dari luka di kepalanya. Tanuki, menatap ruang gelap disekelilingnya dengan sorot ketakutan.
Pandangannya kini terhenti ke sekumpulan anak yang duduk di sudut ruang sambil memeluk lututnya - ketakutan. Tanuki kembali menatap ke arah ayahnya, sambil merangkak pelan ia mencoba memohon kepada sang ayah agar tidak menjualnya.
"A- ayah! A- aku mohon, jangan jual aku. M-mulai sekarang, aku akan menuruti semua perkataanmu. Aku akan bekerja dua kali lebih keras! Jadi ayah! Aku mohon, jangan tinggalkan aku di tempat menyeramkan seperti ini! " Tanuki menggapai kaki sang ayah. Dengan putus asa, ia memohon agar ayahnya tidak menjualnya.
" Berhenti mengangguku! Kau bocah! Sial! "
Teriak ayahnya, pria itu pun langsung mendorong tubuh Tanuki keras. Beberapa kali, pria itu memukuli tubuh Tanuki. Namun, anak itu hanya bisa meringkuk sambil berusaha mempertahankan dirinya.
" Sial! Kau benar-benar menyusahkan! " gerutu pria itu, kini pandangannya kembali di tujukan ke sang penadah.
" Jadi, dia hanya setengah orang militer? Kekuatan sihirnya mungkin akan sangat lemah. Bagaimana kalau aku hargai 75 keping koin? "
Penadah itu mencoba membuat kesepakatan dengan ayah Tanuki. Bahkan untuk harga sebuah jiwa anak, mereka hanya berani mrmbayar sebesar dua kantong beras.
Ayah Tanuki tampak berpikir sejenak, sambil menatap Tanuki yang masih meringkuk menahan sakit. Ia kemudian menghampiri Tanuki, berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka
"Dengar dan ingat ini, semua bukan salahku. Jika kau membenci sesuatu, bencilah dirinu sendiri. Tanyakan pada dirimu, kenapa kau terlahir lemah! Ibumu yang selalu menjagamu sudah mati di medan perang, jadi tidak ada alasan bagiku untuk terus merawatmu.
Anggap saja, harga yang aku terima karena menjualmu sebagai tanda perpisahan di antara kita. Mengerti, Tanuki?! " ucap sang ayah dengan seringai mengejek.
Tanuki yang mendengar hal itu hanya bisa mengepalkan tangannya, kuku-kuku jarinya remuk karena amarah yang ia rasakan.
" Baiklah! Aku terima harga itu! Cepat kasih uanganya padaku! "
Kata-kata itu menjadi kata-kata terakhir yang Tanuki dengar dari sang Ayah. Ia pun diseret oleh bererapa pria dan dimasukkan ke sebuah ruang sempit dimana anak-anak yang bernasib sama dikurung.
Lagi-lagi Tanuki diperlakukan kasar, tubuhnya didorong keras hingga membentur tembok ruangan. Pintu tertutup dan terkuci dari luar, hanya mengandalkan cahaya lampu redup ruangan sempit itu bak neraka yang bersiap menelan tubuh ringkihnya.
__ADS_1
Perlahan, Tanuki mencoba bangkit. Tangisannya sudah lama mengering, bahkan secuil emosi didalam dirinya sudah tidak bisa Tanuki rasakan. Marah? Memang siapa dia bisa merasakan emosi seperti itu ditengah kondisinya yang tertindas.
Tanuki kecil tidak bisa berbuat banyak, yang bisa ia lakukan hanya mengusap wajah yang masih mengeluarkan darah segar.
"Makanlah! Kau pasti belum makan sejak tadi. " suara seorang anak terdengar lembut. Tanuki melihat seseorang menyodorkan sepotong kue untuknya. Di telapak tangan anak itu, Tanuki melihat sebuah simbol berlian berwarna hitam. Simbol gyoku, itu artinya anak itu orang militer sama sepertinya.
Tanuki mengarahkan pandangannya ke sosok anak didepannya. Rambut hitam yang kelam, serta senyuman yang hangat. Bahkan di tengah kondisi itu, anak laki-laki didepannya masih bisa tersenyum.
"Tunggu apa lagi! Terimalah kue ini, tanganku sidah pegal tahu! Oh ya, kalau boleh tahu, siapa namamu? "
Dengan ragu, Tanuki mulai menggapai kue yang disodorkan anak itu. Tanuki tertunduk malu, jujur baru kali ini ada orang yang menganggapnya ada. Entah ayah atau orang-orang dewasa yang pernah ia temui sebelumnya, mereka selalu bersikap sama. Merendahkannya karena ia anak yang lemah.
" Tanuki. " ucapnya sambil mefemas kue ditangannya. Ia mencoba meredam amarah yang memuncah dalam dirinya.
Anak didepannya sempat terdiam sejenak. Dengan tampang polos, ia menatap Tanuki dengan pandangan yang sulit Tanuki artikan.
" A-ada apa? " gumam Tanuki. Ia heran apa ia membuat sebuah kesalahan?
" Tanuki, bukankah itu artinya Rakun? Pftttt... Namamu lucu sekali! " ucap anak itu jujur sambil berusaha menahan tawanya.
Tanuki berdecih, ia tahu arti namanya adalah rakun. Tapi tetap saja, anak didepannya sudah membuatnya malu. Bukan salahnya juga ia memiliki nama seperti itu bukan!
" Maaf... Maafkan aku, mulai sekarang aku tidak akan menertawakan namamu. Aku janji!
Ah, iya. Aku juga harus memperkenalkan diriku... "
Anak itu mulai mengulurkan tangannya, meski ragu Tanuki mulai menjabat tangan anak itu. Masih dengan senyuman yang hangat, anak itu mengenggam erat tangan Tanuki.
Sama sepertinya, tangan anak itu dipenuhi luka lebam. Tanuki berpikir, jadi tidak hanya dia yang bernasib malang. Ada banyak orang-orang lemah dan tertindas di luar sana termasuk bocah laki-laki didepannya.
"Perkenalkan! Namaku Kizuna. Mulai saat ini, kita adalah teman. Okey? "
Kizuna adalah teman pertama yang Tanuki miliki. Nasib mereka berdua tidak berbeda. Kizuna juga dijual oleh orang tuanya. Tapi yang membuat ia berbeda dengan Tanuki adalah alasan kenapa ia bisa berakhir di tempat seperti ini. Peperangan mengharuskan orang tuanya berberang, sementara saudaranya harus mennaggung pajak dengan harga yang mustahil. Berbeda dengan Tanuki yang memiliki ayah yang jahat, Kizuna rela mengorbankan hidupnya demi kelangsungan hidup keluarganya yang miskin. Ia diharuskan merekalakan hidupnya.
Lagi-lagi. Sebuah Sistem dunia, mengharuskan anak-anak tidak berdaya diperlakukan dengan begitu kejam.
"Kizuna! Apa kau tidak berniat keluar dari takdir menyedihkan ini dan berubah menjadi kuat? " ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulut Tanuki. Sorot mata Tanuki berubah, kali ini ia menampakan ambisi besar dalam dirinya
" Apa maksudmu? "
__ADS_1
" Suatu saat, kita mungkin tumbuh dengan memiliki kekuatan yang besar. Siapa tahu, anak-anak seperti kita juga bisa menguasai Negeri ini! "