
Seperti perkataan Yukio, di dunia nyata Aora tengah berjuang menyelamatkan jiwa Mirai dari jeratan Nue dengan seluruh usahanya. Sedikit demi sedikit, energi kegelapan Nue mulai beralih dari tubuh Mirai ke tubuh Aora.
Usaha Aora tidak sia-sia, perlahan sorot merah di kedua mata Mirai mulai memudar. Kini iris seindah bunga lavender kembali menghiasi tatapan sayu Mirai. Jiwa Nue sudah sepenuhnya hilang dari tubuh Mirai. Gadis berambut panjang itu akhirnya kehilangan kesadarannya, dan jatuh ke pangkuan Aora.
Aora sedikit berkenyit, rasa sakit mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Bukan hanya itu, sebuah lambang segel Salju juga terlihat di telapak tangannya. Simbol Salju adalah lambang segel yang menjerat kekuatan besar di dalam tubuhnya. Meski begitu, berkat kekuatan Aorasu, Aora masih bisa mempertahankan kesadarannya.
Bulan merah darah mulai berangsur menghilang. Sementara di langit kelam, Matahari hampir mendapatkan cahayanya kembali. Waktu untuk melenyapkan Nue hampir berakhir. Aora sadar, hal itu juga berarti waktunya tidak lama lagi.
Dengan lembut, Aora mengusap wajah Mirai. Suara paraunya memanggil pelan nama wanita yang tengah terlelap di pangkuannya.
"Mirai.... "
Kelopak mata Mirai mulai mengerjap, perlahan ia mulai membuka matanya. Hal pertama yang netra Mirai lihat adalah wajah khawatir Aora. Tetes air mata perlahan mengalir dari pelupuk mata sayu Mirai, terjatuh pelan mengikuti lekuk wajahnya.
" A- aora? " gumam Mirai pelan.
" Hm... Ini aku. " Aora hanya mengangguk dengan seutas senyuman pilu. Jujur, ia tidak kuasa menghadapi kenyataan pahit, bahwa ia juga akan pergi meninggalkan Mirai seorang diri.
Mirai sudah cukup kehilangan orang-orang yang ia sayangi, bahkan sekarang Mirai harus menerima kenyataan bahwa Aora akan pergi dari sisinya.
Aora mencoba membuat Mirai duduk bersandar di dadanya. Pria berambut abu-abu itu mengenggam tangan Mirai erat.
"Kau baik-baik saja? " Mirai hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Aora.
" Apa- " suara Aora tercekat, rasa sakit kembali ia rasakan. Namun, ia tetap harus menyembunyikannya dari Mirai. Aora kembali mengatur nafasnya, dan melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.
" Apa kau masih merasakan sakit, Mirai? "
" Tidak. Aku baik-baik saja, Aora. "
" Syukurlah. "
Aora sebisanya, menyembunyikan perasaannya dari Mirai. Sihir kegelapan sudah menyebar ke seluruh tubuh Aora, rasa sakit yang teramat sangat membuat sekujur wajahnya dipenuhi keringat dingin.
"Mirai... " ucap Aora dengan suara bergetar. Mendegar panggilan Aora, Mirai mengalihakan tatapan sayunya ke wajah Aora. Hal aneh Mirai rasakan.
" Kenapa, tanganmu dingin sekali, Aora? Wajahmu juga berkeringat. "
Mirai menggenggam erat tangan dingin Aora. Bukan hanya itu, tangan Aora yang biasanya hangat kini bergetar. Mirai tidak bodoh, ia sadar ada sesuatu yang terjadi. Mirai segera beranjak, kali ini ia melemparkan tatapan sarat kekhawatirnnya pada Aora.
" Katakan apadaku, ada apa denganmu? Kekuatanku mungkin belum sepenuhnya pulih. Tapi aku bisa merasakan, sesuatu yang mengerikan memenuhi jiwamu! Apa yang sebenarnya terjadi? "
Aora tidak menjawab pertanyaan Mirai, ia pun mengambil pedang kehidupan yang berada di sampingnya.
Aora membuat Mirai menggenggam pedang tumpul itu. Megarahkan bilahnya tepat ke hadapannya. Melihat hal itu, Mirai hanya bisa mengangkat alisnya heran. Bukankah ini pedang pemberian pertapa agung Tora?
"Kenapa pedang ini ada padamu? "
Mirai kembali teringat, bukankah Nue tengah di segel ke dalam dirinya. Lalu kenapa ia merasa baik-baik saja? Sebelumnya siksaan moster itu membuatnya hampir mati.
" Jangan bilang, kau- " Kenyataan menampar Mirai, ia seakan paham kenapa Aora memberinya pedang kehidupan itu.
__ADS_1
" Mari kita akhiri semua ini....Takdir terkutuk di antara kita. Kau harus menyelamatkan semua orang, dan juga menyelamatkanku. Aku mohon, Mirai.... " ucap Aora dengan suara bergetar.
Menyegel Nue ke dalam tubuhnya, membuat Aora menanggung siksaan rasa sakit yang luar biasa kuat. Meski dengan kekuatan Aorasu, tubuhnya tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
" Untuk menyelamatkan nyawaku. Kau menyegel Nue kedalam tubuhmu?! Kenapa kau melakukan hal itu?! "
" Maafkan aku. " Hanya itu kata yang keluar dari mulut Aora. Satu kata, berjuta makna.
Aora turut mengenggam pedang yang ada di genggaman Mirai. Secara ajaib, bilah pedang yang dulunya tumpul, berubah runcing dalam sekejap. Energi kehidupan pekat kini memenuhi sekujur bilahnya.
Seperti pesan Tora, pedang itu tidak bisa membunuh musuh. Pedang itu ada untuk menyelamatkan orang-orang yang berharga bagi pemiliknya. Pedang itu sudah memilih.
Dengan kekuatan kehidupan, Mirai bisa menyelamatkan semua orang dan juga mengeluarkan pria yang dicintainya dari siksaan rasa sakit akibat jeratan Nue. Meski itu artinya, ia harus menebas tubuh Aora dengan pedang itu.
Brusssh....
Darah mulai keluar dari mulut Aora, ia bahkan sudah mulai kehilangan kesadarannya. Kedua manik merah kecoklatannya mulai meredup. Kekuatan Nue mengoyak jiwa Aora dari dalam.
"Tidak... " Mirai yang melihat hal itu, hanya bisa menagis sejadinya. Melihat Aora menahan rasa sakit hebat, membuat hatinya lebih 100 kali lebih sakit.
"Aku yakin, kau bisa melalui semua ini. Kau gadis yang tangguh. Untuk itu Mirai, aku mohon. Bebaskan aku dari rasa sakit ini.... "
Aora tahu, permintaanya pada Mirai sangatlah berat. Tapi, semua itu harus Mirai lakukan. Setidaknya untuk Aora. Mati di tangan wanita yang ia cintai, itu adalah pilihan terbaik yang bisa Aora ambil. Ia sadar ia tidak bisa diselamatkan. Jiwanya sudah dijerat perjanjian anatara ia dan Aorasu, bahkan tanpa menyegel Nue pun, ia kahirnya akan tewas.
" Tidak! Aora! Aku tidak bisa melakukannya! "
Mirai menggeleng cepat. Bagaimana bisa, ia membunuh Aora dengan tangannya sendiri.
Aora tersenyum pelan, sambil mengusap air mata Mirai yang menetes. Tangannya beralih mengengam erat kedua tangan Mirai yang memegang pedang kehidupan. Perlahan, Aora mulai menuntun tangan Mirai, bersamaan dengan itu, ia mulai memajukan tubuhnya.
Brassss..
Tubuh Aora tertembus bilah tajam pedang Kehidupan. Darahnya bahkan mengenai tangan Mirai yang masih bergetar.
"Tidak... " Mirai membulatkan matanya. Ia masih tidak percaya, apa yang telah terjadi.
" Ini pilihanku. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu... "
Mirai secara otomatis memeluk tubuh Aora erat, bahkan sedetikpun ia tidak ingin melepas pelukannya itu. Tubuh Aora semakin melemah detik demi detik.
" Tidak.... Aora... "
Aora mencoba melepas pelukan Mirai. Untuk terakhir kalinua, manik merah kecoklatannya menatap lekat wajah cantik didepannya. Dengan tangan berlumur darahnya sendiri, ia mengelus pipi Mirai yang basah. Ia harap itu bisa menenangkan Mirai dengan sentuhannya.
" Terima kasih.... Sudah datang kedalam hidupku yang kelam ini, Mirai. "
" Tidak, Aora! Kau tidak boleh pergi seperti ini! " tangis Mirai semakin menjadi, tatkala melihat tubuh Aora mulai meredup.
Kekuatan pedang menembus tubuh Aora. Perlahan sihir kegelapan Nue lenyap tertelan cahaya putih yang menyilaukan. Sinar merah mulai muncul di tubuh Aora, retakan-demi retakan terjadi di beberapa bagian tubuhnya. Bak tembikar yang pecah, tubuh Aora perlahan luruh menjadi kepingan abu kecil. Sedikit demi sedikit mulai terhampas angin lembut.
"Jangan menagisi kepergianku, Mirai. Melihatmu menagis, membuat hatiku semakin sakit... "
__ADS_1
Aora sadar, ini mungkin perpisahan terakhirnya dengan Mirai. Ia melihat tangannya sudah hancur menjadi abu. Waktunya sudah habis. Aora tersenyum pelan ke arah Mirai. Meski ini akan menjadi kenangan menyakitkan bagi Mirai, Aora ingin ia diingat Mirai dengan senyuman.
" Sayonara, Mirai..... "
Dibanding mengucapkan selamat tinggal, Aora lebih memilih menucapkan sampai jumpa. Setidaknya itu tidak terdengar terlalu menyakitkan. Entah untuknya atau Mirai.
......................
Tubuh Aora hancur menjadi abu. Bersamaan dengan tubuhnya yang lenyap, sinar matahari mulai merambat lurus dan menyinari seluruh permukaan bumi. Langit yang kelam, berubah cerah. Tidak ada kegelapan, kini hanya ada cahaya sang surya yang hangat, menyapu seluruh permukaan bumi tanpa terkecuali.
Sebuah gunoalan bola sihir biru muncul. Gumpalan itu pecah dan mulai membebaskan jiwa manusia. Jiwa-jiwa manusia mulai terbebas, melesat pergi mencari keberadaan tubuh mereka. Patung-patung batu yangbsudah dirasuki jiwa, kini mulai luruh dan berubah menjadi manusia kembali.
Semua orang tampak heran, melihat keadaan sekitarnya kembali seperti sedia kala. Tidak ada Yurei sejauh mata memandang, pertempuran benar-benar sudah berakhir.
"Kita semua bebas! Kita menang! "
" Horeee! "
" Kita Berhasil! "
Sorak sorai prajurit sihir menggema. Hotaru, Hisui, Ten dan bahkan Rou. Mereka saling merangkul satu sama lain, dan menikmati kemenangan mereka. Semua orang bersuka cita, kecuali Mirai.
Gadis itu masih tertunduk lemah, menagisi kepergian orang yang paling ia cintai. Takdir Mirai sungguh kejam. Untuk menyelamatkan umat manusia, ia harus mengorbankan miliknya yang paling berharga. Kini, ia benar-benar merasa sendirian.
Salju mulai turun, bahkan di langit yang cerah. Butiran-butiran es rapuh itu membawa energi kehidupan yang kuat. Begitu Salju menyentuh pernukaan tanah, secara ajaib semua kehidupan kembali sepeti sedia kala. Pohon-pohon yang mengering dan mati, hidup kembali dengan suburnya. Bukan hanya itu, air yang sempat mengering kembali mengalir deras. Kekuatan kehidupan menyembuhkan kembali binatang-binatang hutan yang sempat termakan aura gelap Kurasu.
Dunia kembali dipenuhi kehidupan.
Air mata Mirai jatuh membasahi tanah. Tanpa ia sadari, seseorang berdiri didepannya.
Sosok Wanita cantik berkimono putih, seluruh tubuhnya dipenuhi energi kehidupan menatap Mirai iba. Ia datang bersamaan dengan salju yang menyembuhkan kehidupan di bumi.
Wanita yang kini berdiri di hadapan Mirai adalah sosok dewi Salju.
"Yuki Mirai.... "
Dewi Salju mulai mengulurkan tangannya, menyentuh pelan pundak Mirai.
"Kau dan dua pilar yang lain sudah melaksanakan tugas yang digariskan takdir untuk kalian. Dunia sudah terbebas dari jeratan Nue. Dengan ini, kutukan di dalam darah kalian sudah sepenuhnya terangkat. "
Mirai mendongakkan kepalanya. Matanya tampak memerah karena terus menangis. Ia begitu terkejut, mendapati dirinya sendiri berdiri didepannya. Mirai seakan melihat cermin Mereka berdua sangat mirip, bahkan identik.
" Kau? "
" Ini aku, Dewi Salju. Aku mengerti apa yang kau rasakan saat ini. 10.000 tahun lalu, aku juga merasakan hal yang sama. Kita kehilangan orang yang paling kita cintai. "
Dewi salju kembali mengambil pedang miliknya. Sekarang tidak ada alasan, pedang itu ada di bumi. Pedang kehidupan, lenyap begitu saja ketika dewi Yuki menyentuhnya.
" Mirai, dengarkan aku. Kau mungkin kehilangan takdirmu saat ini. Tapi, jika kau bisa menunggu lebih lama lagi. Takdir itu akan kembali padamu. Kau harus menemukan takdirmu sendiri, Mirai. "
" Sebuah takdir, yang akan kembali padaku? "
__ADS_1