
Di ruang Autopsi Sora, jam sudah menunjukan pukul 5 sore, sudah hampir 6 jam lamanya Mirai dan Rou berkutat menyelidiki kasus peledakan di Asrama Sora.
"Hah..... Hanya sejauh ini yang kita temukan, kita masih belum mengetahui, kenapa wanita ini membunuh dirinya sendiri" ucap Rou sambil duduk di sebuah kursi, meregangkan kakinya yang lelah akibat terus menerus berdiri
Ia menatap gadis berambut panjang di depannya sambil menggelengkan kepalanya.
Mirai seakan terobsesi untuk segera memecahkan kasus ini, dilihat dari keseriusannya yang bahkan tidak kenal waktu
"Mirai.... Duduklah sebentar, mayat itu tidak akan hidup lagi jika kau terus menatapnya..... Kau juga perlu istirahat" ucap Rou, bahkan dia sendiri sudah merasa capek berkutat di ruang yang pengap itu
"Setidaknya kita harus berusaha, Aora.... Tidak.... Maksudku Sora dalam keadaan bahaya jika kita tidak mengungkap kasus ini hingga besok" ucap Mirai
Ia masih saja memperhatikan sekecil apapun petunjuk, memastikan tidak ada yang terlewat sama sekali
"Hah.... Seandainya saja setitik energi kehidupan masih tersisa di tubuhnya, mungkin aku bisa membaca pikirannya" celetuk Rou
Mirai serasa mendapat ilham, seketika itu matanya berbinar. Ia pun menatap Rou yang masih setia bersandar di kursi belakang. Rou memang tidak bisa membaca pikiran orang yang sudah mati, namun dengan bantuan Mirai mungkin hal itu tidaklah mustahil
"Meski dengan sedikit energi kehidupan, apa kau bisa membaca ingatan korban, Rou? " tanya Mirai sedikit antusias
" Cih.... Kau meremehkan ku Mirai, untuk apa aku menjabat posisi ini di usiaku, jika kemampuanku biasa saja.....
Tunggu....... " Rou baru mudeg dengan maksud Mirai, ia pun menatap Mirai penuh harap
" Aku dengar Level Kenkou milikmu sudah di tarap tertinggi, jadi......... Aku rasa itu tidak mustahil Mirai
Kau hanya perlu menyalurkan Kenkou mu ke tubuh mayat itu, sehingga energi kehidupan kembali mengalir di tubuhnya, secara otomatis memori di otaknya juga bisa terbaca dengan teknik sihirku" ucap Rou sambil berdiri
"Jadi jika aku melakukannya, sampai batas mana kau dapat membaca ingatan korban? "
" Aku tidak bisa membaca ingatan secara keseluruhan, mungkin ingatan paling membekas di otaknya lah yang bisa terbaca. Sayangnya, aku hanya memiliki limit waktu satu hari di ingatan korban" ucap Rou
"Itu lebih dari cukup, kita pasti dapat membaca ingatan korban sesaat sebelum ia tewas. Jadi apa yang harus aku lakukan Rou? " Mirai menanti arahan dari ketua Devisi Intel Sora
" Kau hanya perlu menyalurkan Kenkou milikmu seperti biasa, aku juga akan mengajakmu melihat ke dalam ingatan Korban, jadi ulurkan tanganmu Mirai" ucap Rou
Mirai pun mengangguk, ia meletakkan tangan kananya di dada mayat, segel Gyokunya mengeluarkan cahaya merah jambu, menyebar di deluruh telapak tangan Mirai
Sedangkan tangan kirinya, ia cakupkan dengan tangan Rou. Mirai pun memberi isyarat ke Rou, bahwa semua telah siap
"Sekarang, pejamkan matamu. Kita akan masuk ke dalam memori wanita ini" ucap Rou
Ia pun mengaktifkan segel Gyokunya, tangan Rou mengeluarkan cahaya berwarna ungu. Kemudia ia meletakkan tangan kirinya di kening mayat di depannya. Sedang tangan kananya memegang tangan Mirai
Rou mulai memejamkan matanya, sekarang bisa di katakan pikiran ketiga orang itu terhubung dengan prantara Teknik sihir pembaca pikiran Rou. Baik Mirai dan Rou, mampu melihat memori ingatan yang terekam di kepala korban, namun teknik Rou memiliki kendala karena korban sendiri sudah meninggal
Ia hanya bisa membaca ingatan sehari sebelum korban meninggal, itupun hanya ingatan yang benar-benar membekas bagi korban (Bukan ingatan 1 hari Full)
~DALAM INGATAN KORBAN~
Mirai dan Rou memasuki dan mulai terhubung dengan ingatan korban. Rou hanya mampu melihat apa yang di lihat, dirasakan serta apa yang terjadi dengan korban melalui pesepektif penglihatan korban
__ADS_1
Suasana pasar di Sore hari, korban berjalan melintasi salah satu jalan utama di Desa Sora. Ia tampak menengteng sekantong belanjaan,setelah beberapa saat langkahnya tehenti, korban melihat kerumunan orang di dekat pintu gerbang desa Sora
"Tunggu..... Bukankah mereka Hisui dan Aora? "ucap Mirai, ia menemukan Aora dalam ingatan wanita itu
" Hm..... Tampaknya wanita ini berada tidak jauh dari Gerbang Sora. Bukankah hari itu juga Aora menyambut kedatangan Pemimpin Tsuki, Tuan Hisui? "
Wanita itu tampak penasaran, ia pun membawa dirinya menembus kerumunan, dalam ingatanya ia begitu memandang lekat kedua pemimpin muda di depannya
" Wanita ini seperti menggumamkan sesuatu, lihatlah ia begitu antusias...... Hei Rou.... Apa kita tidak bisa mendengar suara apapun? " ucap Mirai sambil protes.
Ia sama sekali tidak bisa mendengar suara apapun dalam ingatan wanita itu, ia hanya merasakan bahwa wanita itu begiti senang, lewat gerak tubuhnya
" Ish..... Sudah untung kita bisa melihatnya, jika itu orang lain.... Kau tidak akan pernah bisa membaca pikiran mayat Mirai " Rou mulai kesal
Wanita itu membututi kemana rombongan negara Tsuki pergi. Hingga ke tempat di mana para utusan menginap, ia kembali melihat sosok laki-laki berambut merah, Hisui. Hendak berjalan memasuki penginapan
Namun tiba-tiba, ia membuang tas belanja di tangannya, dan mulai menerobos masuk menuju ke arah Hisui
"Hei... Hei... Kenapa wanita ini, kenapa ia menerobos masuk? " ucap Rou terkejut
Wanita itu sempat dihentikan beberapa orang pengawal Hisui, namun sang penguasa Tsuki itu memerintahkan anak buahnya untuk mundur
Wanita itu langsung memegang tangan Hisui, tampaknya ia mengutarakan sesuatu langsung ke Hisui
" Ish.... Ini benar-benar menjengkelkan. Apa kau tidak bisa berbuat sesuatu Rou? Kita perlu mendengar apa yang di katakan wanita ini....... "
Rou mulai terengah, membaca pikiran membuat energinya cepat terkuras
Wanita itu menggenggam erat tangan Hisui, terlihat Hisui pun mengucapkan sesuatu. Lalu tampak jelas pemimpin Tsuki itu tersenyum lembut ke arah wanita itu, senyum yang menunjukan ketulusan, bahkan tidak ada niat jahat yang terlihat dari mata berwarna jade miliknya
"Hisui, pria ini tampak tersenyum tulus ke arah koban. Bagaimana mungkin ia di tuduh membunuh...... " ucap Mirai, lagi-lagi dengan nada tidak terima
Selepas berbicara dengan Hisui, wanita itu pun berjalan menyusuri gang sempit di antara bangunan yang bermimpit. Nampaknya ia mengambil jalan memotong untuk pulang ke asrama Sora
Namun, seseorang tampak membekap mulutnya, dan meyeretnya ke sebuah rumah kosong
"Sedikit lagi..... Kita akan tahu penyebab kematiannya.... " ucap Mirai penuh harap
Blasssss.......
Tiba-tiba saja Mirai keluar dari ingatan wanita itu, ia pun membuka matanya dan hendak protes ke Rou. Bisa-bisanya ia menghentikan penyelidikan di tengaj jalan
" Rou! Apa maksudnya ini.... Kenapa kau.... "
Belum sempat Mirai melanjutkan protesnya, ia menatap pria berkacamata di sampingnya. Ia merasakan tangan Rou yang berkeringat. Rou tampak kelelahan dengan keringat membasahi wajahnya
Mirai juga melihat, hidung Rou mengeluarkan darah. Ternyata membaca pikiran seseorang memerlukan ketrampilan sihir tingkat tinggi, selain itu juga energi oengguna sihi terkuras dalam waktu singkat. Jika dipaksakan, tubuh pengguna akan rusak, inilah yang terjadi dengan Rou
"Kau tidak apa-apa Rou? " ucap Mirai khawatir
Mirai pun menuntun Rou untuk duduk, sambil membawa tissue untuk mengelap darah yang terus mengalir dari Hidung Rou
__ADS_1
" Hah.... Hah... Hah.... A.... Aku... B.... Baik saja... Mirai" ucap Rou
Mirai mengetahui laki-laki itu membohonginya. Bagaimana mungkin ia baik-baik saja, jika tangan dan kakinya lemas
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu. Lihatlah kondisimu ini ckckck.....kau itu bekerja dengan tubuhmu.... Bukan mulutmu Rou.... " ucap Mirai
" Lihatlah siapa yang berbicara" ucap Rou sambil terkekeh. Bukankah dari tadi Mirailah yang bekerja dengan mulutnya, protes sana sini
"Diam! " hentak Mirai
Mirai pun mengalirkan Kenkou nya ke kepala Rou, membantu memulihkan kondisi Rou dengan cepat.
Nafas Rou semakin membaik, dengan bantuan Mirai ia dapat pulih dengan cepat. Ia pun hendak melakukan penyelidikannya lagi
" Sudah cukup Mirai. Aku sudah pulih kembali.... Sekarang kita lanjutkan apa yang tidak sempat kita lihat...... " ucap Rou
" Apa kau yakin kau baik-baik saja? " ucap Mirai
" Hn... Tentu.....sekarang Mirai.... Tangan..... " ucap Rou
Rou benar-benar memperlakukan Mirai bagai anak anjing. Dengan memintanya mengulurkan tangannya dengan perintah bernada imoet.
" Jika saja kita tidk dalam kondisi seperti ini. Aku sendiri yang akan mengikatmu seperti anak anjing" ucap Mirai geram dengan perkataan Rou
Ia pun mengulurkan tangannya. Mereka kembali masuk ke dalam pikiran wanita itu
Pandangan wanita itu tampak kabur, tubuhnya berjalan sendiri. Bahkan ia tidak sadar, kakinya menginjak beling dan hanya berjalan lurus tanpa mempedulikan sekitarnya
"Apa ini? Dia seperti sedang dikendalikan....." ucap Rou
"Seseorang yang membekapnya, mungkin saja memasang ilusi ke otaknya. Karena itulah kita tidak bisa membaca ingatannya ketika ia di bawa ke rumah kosong itu
Kau sadar Mirai, hari tiba-tiba saja sudah malam...... Lihatlah.... Bukankah itu muridmu, Yuhee?"
Setelah Yuhee masuk ke dalam gedung, wanita itu mengunci seluruh akses keluar di lantai satu. Ia pun langsung menuju lantai dua, ke arah dapur umum berada. Dengan menggunakan pisau dapur, ia menggores selang gas
"Jadi... Dialah penyebab ledakan itu..... " ucap Rou
" Tapi.... Ada sesuatu yang janggal........ Jika dia yang menyalakan api... Kenapa kau menemukan jejak warna sihir berelemen gabungan tanah dan api?
Bukankah elemen itu dimiliki Hisui juga? " tanya Mirai
" Tidak... Elemen seperti itu, bisa kita jumpai di beberapa kasus. Meski orang-orang yang menguasai gabungan elemen tanah dan api sangat jarang. Bisa di bilang pengguna elemen lava sangat langka, tapi tidak menutup kemungkinan mereka adalah orang yang berbeda" ucap Rou
"Jadi begitu..... Tunggu...... Sesaat kejadian aku menemukan sebuah gelang aneh.... Mungkin itu bisa menjadi sebuah petunjuk"
Dalam ingatan wanita itu,ia langsung menuju lantai 4 asrama. Membuka salah satu pintu kamar, terlihat 8 orang anak tengah belajar di dalam kamar. Wanita itu lantas menguci pintu kamar dari luar
Ia pun turun kembali menuju lantai dasar gedung. Saat berada di lantai dua, ia menemui sesosok pria berjubah hitam, dengan topeng dewa kematian
"Cops Merah? “ ucap Mirai dan Rou kompak
__ADS_1