
"Jadi ini bunda kamu?"
Rama mengangguk. "Aku nggak ada foto sama bunda. Aku cuman bisa lihat dari foto yang ayah kasih doang. Jadi aku nggak tau gimana bunda sebenarnya. Tapi ayah ngomong, bunda baik banget dan udah pasti sayang sama aku!"
Annisa tersenyum pedih mendengarnya. Orang yang sangat di sayangi dia laki-laki di rumah ini malahan menjadi orang yang udah menyakiti dia di hidupnya. Mereka nggak bisa saling berkaitan sebenarnya. Tapi entah kenapa, Annisa memikirkan kalau semua ini takdir yang membawa mereka pergi.
"Tante kenapa keliatan sedih?" tanya Rama menatap khawatir sambil mengusap air mata yang turun dari mata Annisa.
"Nggak apa-apa ... tante cuman kangen aja sama kakak tante."
“Ternyata tante punya kakak ya,” gumam Rama lalu turun dari tempat duduknya lalu duduk memangku di pangkuan Annisa. “Pasti enak ya tante punya saudara gitu? Kata ayah, seru tuh. Rumah jadi rame. Tapi aku .. aku nggak punya siapa-siapa di sini. Aku kesepian. Makanya Rama seneng banget pas tante datang. Aku mau terus bareng sama tante, jadi tante nggak boleh tinggalin aku ya ...”
“Tante nggak bisa janji, tapi tante akan usahain supaya nggak ngecewain kamu.”
“Okei tante ...”
“Jadi ... sekarang kamu ceritain lagi ya,” pinta Annisa dengan hati-hati. “Apa yang kamu tau tentang bunda kamu? Semuanya ... kamu pernah nggak ketemu sama keluarga bunda kamu dan kamu tau gimana kehidupan bunda kamu?” tanya Annisa.
“Ih tante ... jangan tanya banyak-banyak. Aku lupa,” sebal Rama sambil menoleh ke arah tantenya itu. “Tanya satu-satu ...”
“Hahaha ... maaf ya sayang, jadi apa yang kamu tau tentang bunda kamu?”
Rama merenung. Lalu ia turun dari dari pangkuan Annisa dan mengambil sebuah buku album foto dari dalam laci meja belajarnya. Ia membuka foto itu. Di sana banyak kumpulan foto Aqilla sama Bram. Annisa menatap tajam. Melihat itu semua membuat Annisa merasa kalau Aqilla sama Sakilla memang orang yang sama. Gaya berpakaian mereka sangat mirip, nggak cuman itu doang, dari wajah sama beberapa kebiasaan dari foto itu mereka terlihat sangat mirip.
“Kata ayah ... bunda orang tercantik di dunia ini,” ujar Rama yang disetujui Annisa.
/Ya gimana nggak tercantik di dunia ini, nyatanya kecantikan Aqilla bisa menarik perhatian berbagai kalangan. Dari yang perempuan sampai yang laki-laki./
“Aku nggak tau bunda sama sekali. Aku nggak pernnah ketemu sama bunda, tapi kata ayah bunda tuh baik banget ... perempuan yang lembut. Makanya ayah selalu bilang, kalau bunda ada di sini, pasti bunda beneran sayang banget sama aku. Aku sebenarnya sedih tante ... aku nggak suka kalau nggak pernah ketemu sama bunda. Tapi ... kata ayah, aku nggak boleh banyak sedih karena pasti bunda ikutan sedih di atas sana. Jadi, aku nggak pernah mau sedih.”
__ADS_1
Annisa semakin bingung. Yang ia lakukan hanyalah menggigit bibirnya. Ia benar-benar bingung sama kondisi sekarang.
“Terus tadi tante juga nanya ya kalau aku pernah nggak ketemu sama keluarga bunda? Hmm ... aku nggak pernah ketemu sih. Karena aku pernah denger ayah yang marah sama nenek. Nenek tuh orang tuanya bunda. Aku juga denger pas ayah ngobrol sama oma—
“Oma?”
Rama mengangguk, “oma tuh, orang tuanya ayah. Aku manggilnya oma sama opa.”
“Oh ...”
“Mereka ada di sini?”
Rama mengangguk, “iya ... oma sama opa selalu dateng tiap bulannya kok. Memangnya kenapa tante? Kok tante keliatan kayak kayak gitu?” tanya Rama
Annisa menggeleng. Dia baru tau kalau orang tuanya Bram masih ada. Tapi kenapa semenjak awal pernikahan, ia belum ketemu? Sepertinya Annisa harus bertanya ke Bram nanti. Karena mau gimana pun, mereka harus punya restu dari orang tuanya Bram kalau mereka memang kurang setuju, mau nggak mau dirinya harus pergi dari kehidupan Bram dan Rama.
“Ah enggak, tante cuman mikirin hal lain aja. Jadi ... kamu tadi mau cerita apa? maaf tante menyela ..”
“Ah itu loh ...”
Dan mengalirlah cerita dari mulur Rama. Anak itu menceritakan isi hati dia selama ini dia juga jelas menceritakan kalau dirinya bahagia saat ini. Annisa yang mendengar hanya bisa tersenyum dan merasa bahagia, karena beruntung dirinya merasa dihargai seperti ini. Setelah selama hidupnya dia nggak pernah dihargai sama sekali.
***
Sementara itu,
Bram membaca file tentang keluarga Sakilla. Tidak ada yang aneh sampai detik ini. Ia masih nggak tau apa yang terjadi saat ini. Yang Bram tahu, semakin dipahami semua ini semakin janggal dan ia rasa semua yang di omongin sama Annisa nggak sepenuhnya salah. Jadi, dia harus mencari tahu.
Dari sikap almarhum istrinya yang dulu selalu pergi tanpa izin. Dari sikap istrinya yang malah selalu dandan saat ketemu pertemuan dengan banyak perempuan. Dari sikap Sakilla saat dulu, Bram mulai merasakan ada yang aneh. Walau di sisi lain, rasanya Bram tidak mau seperti ini. dia mau kalau percaya kalau semuanya nggak seperti yang dia pikirkan.
__ADS_1
“Kalau aku mikirin hal ini sama aja aku percaya kalau istri aku nggak baik, tapi ...”
Bram meremas kepalanya, frustasi.
“Perasaan ... selama dua tahun ini, nggak pernah ada tuh kekhawatiran kayak gini. Semuanya berjalan baik-baik aja. Tapi kenapa aku harus percaya sama omongan perempuan yang baru aku kenal? Tapi kenapa Annisa benar-benar meyakinkan? Kayak ... semua yang dia omongin itu benar ...”
Tok ... Tok .. Tok ...
“Masuk ...”
Asisten Bram masuk sambil membawakan sebuah map berisi data yang dipinta sama Bram. “Maaf tuan ... saya baru sempat menyelesaikan tugas yang tuan pinta. Tapi saya mendapat informasi lengkap. Dari alasan kebangkrutan mereka sampai kenapa mereka bisa tutup. Tapi yang saya bingung. Kenapa nama alamarhum nona bisa menyangkut sama alasan mereka gulung tikar ya tuan?”
Jantung Bram langsung berdegup cepat. “Maksud kamu?” tanya Bram dengan hati-hati.
“Mereka memalsukan sebuah informasi penting. Tapi nggak ada yang bisa mencari tahu informasi apa itu, karena mereka benar-benar menutup rapat hal ini.”
“Okei ... terus?”
“Tapi pihak polisi gitu mengetahui apa yang mereka lakukan, makanya mencabut izin rumah sakit. Jadi rumah sakit itu benar-benar nggak terurus lagi. Karena polisi akan membocorkan masalah mereka keluar kalau mereka masih terpaksa mengoperasikan rumah sakit. Tapi yang saya bingung, informasi ini berkaitan dengan salah satu pasien yaitu istri tuan. Memangnya apa yang almarhum nona lakukan di sana? Bukankah setahu saya kalau almarhum nona melahirkan di sana sampai menghembuskan napas terakhirnya? Jadi ... nggak ada pernah urusan ke sana lagi.”
“Sudah ... biar saya yang urus sisanya. Kamu keluar saja,” perintah Bram
“Tapi tuan ...”
“PERGI KAMAL!” bentaknya membuat Kamal langsung menunduk sopan dan meninggalkan Bram sendiri yang sudah memijat kepalanya.
“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” gumamnya pelan. “Sakilla ... kamu nggak mungkin ngelakuin hal itu kan? Kamu nggak mungkin lakuin hal jahat dan ngorbanin suami sama anak kamu sendiri?”
Bram tiba-tiba saja berdiri, “ya ... aku nggak mungkin diam saja. aku harus cari tahu, apa yang sebenarnya terjadi di sini!"
__ADS_1