
Setalah orang tua Annisa pindah mobil, sisa dari mereka langsung melanjutkan perjalanan ke tempat pemakaman umum yang sebenarnya tidak jauh lagi.
"Di sini mas?" tanya Annisa setelah mobil terparkir di sebuah lapangan, dan di seberang jalan ada tempat pemakaman umum yang menarik perhatiannya sejak tadi.
"Hmm ... tapi kita nunggu orang mas dulu ya."
Annisa mengangguk.
Perempuan itu melipir ke belakang mobil dan menatap pemakaman dari kejauhan. Jika dulu Annisa membayangkan akan datang ke kakaknya dengan senyuman lebar, tapi siapa sangka kalau sekarang ia akan datang ke kakaknya dengan jeritan di hatinya?
Semua bayangan indah yang mau dia lakukan selama ini seketika lenyap saat melihat barisan makam di depannya.
"Kak ... padahal banyak hal yang mau aku lakuin sama kakak. Aku beneran marah loh kak, kenapa kakak malah ninggalin aku sendirian di sini?" papar Annisa dengan suara sangat kecil. "Bukannya kakak juga janji mau ajak aku jalan-jalan, tapi kenapa malah kakak pergi ninggalin aku gitu aja?"
Perempuan itu tersenyum miris.
__ADS_1
Memang hidup tidak ada yang tahu.
Dulu, dua anak perempuan yang hidup serba susah itu sama-sama memiliki janji akan memiliki keluarga dan hidup bahagia. Mereka berjanji akan terus bersama dan mencari kebahagiaan bersama. Tapi nyatanya ... mereka lupa kalau semua itu memiliki kaitan dengan takdir Yang Di Atas.
Mereka lupa kalau keduanya hanya makhluk yang menerima takdir dan melupakan Sang Pencipta yang menentukan garis takdir tersendiri.
Rasanya sangat sesak. Sejak tadi Annisa terus memilin ujung bajunya, sampai tampak sangat kusut.
Selanjutnya,
"Ayah," panggil Rama membuat Bram menaruh ponselnya di kantung celana dan menatap lurus mata anaknya.
"Iya ... kenapa? kamu butuh sesuatu?" tanya Bram
Rama menunjuk Annisa yang masih berdiri di tempatnya berdiri tadi. Seolah memberi tahu kalau Annisa sedang sedih.
__ADS_1
"Aku harus apa yah?" bisik Rama setelah Bram jongkok di depannya. "Tadi aku memang takut pas mamah marah, karena aku nggak pernah lihat mamah marah. Tapi aku gak suka liat mamah nangis kayak gitu. Kayak ada yang kurang dan aku beneran nggak suka banget!"
Bram menatap istrinya itu, sebenarnya sejak tadi Bram lihat kok gesture sedih istrinya. Bahkan orang tuanya yang milih diam di dalam mobil juga sadar akan kesedihan dari menantu mereka itu. Tapi nggak ada yang berani datang ke Annisa. Karena mereka semua pernah merasakan betapa sedihnya kehilangan orang yang disayang dan mereka juga tau jika sedang sedih begini. Mau dinasehati apa pun nggak akan bisa.
Jalan satu-satunya mereka cukup diam sampai menunggu Annisa lebih tenang. Baru setelah sudah mereka akan nemuin Annisa dan menemani perempuan itu.
"Ayah!" panggil Rama lagi dengan cepat membuat lamunan Bram teralihkan.
"Ayah ngapain gitu, jangan biarin mamah sendiri. Kasihan mamah, yang ada nanti mamah nangis. Aku bingung harus ngelakuin apa Kalau aku yang datang, nanti malah mamah yang ngurus aku bukan aku yang malah buat mamah jadi tenang."
"Masih ada yang harus ayah urus. Coba kamu datang ke sana dan meluk mamah kamu itu. Peluk aja, jangan bilang apa-apa. Jangan nanya apa-apa. Karena ayah yakin kalau yang mamah kamu butuhin itu cuma pelukan doang bukan yang lain. Jadi, kamu mau ya ..."
Rama menimang-nimang permintaan Bram dan berakhir mengangguk membuat Rama mengacak rambut anaknya yang udah semakin dewasa itu.
"Sekarang kamu peluk mamah kamu, kasih ketenangan buat mamah kamu."
__ADS_1
"SIAP AYAH!"