Istri Dadakan

Istri Dadakan
Segala Ketakutan Rama (1)


__ADS_3

Bram dan Annisa memilih untuk pulang saat merasa masalah udah selesai. Tapi begitu tiba di rumah dan baru mau masuk pintu rumah, mereka langsung mendengar suara tangisan Rama. Tak lama juga salah satu pelayan beranjak menghampiri mereka.


“Tuan ... mbak ... dari tadi den Rama mengamuk, sempat tidur karena kecapen nangis tapi tadi bangun lagi dan tahu kalau mbak sama tuan belum pulang. Jadinya nangis lagi deh. Saya nggak tau harus apa. Ini sebelumnya saya minta maaf karena nggak bisa diemin den Rama.”


Wajah Annisa langsung panik. Ditaruhnya asal belanjaan yang ada di genggaman dia dan Annisa langsung beranjak menghampiri kamar Rama di lantai dua. Annisa memegang bahu pelayan yang berdiri di depan pintu kamar anaknya dan meminta untuk pergi meninggalkan mereka.


“Rama?” panggil Annisa dengan pelan


Anaknya itu mendongak dan hati Annisa langsung sakit melihat wajah Rama yang memerah dan keliatan sangat sembab. Dengan perasaan bersalah Annisa langsung menghampiri Rama dan memeluk Rama dengan begitu erat.


Rama membalas pelukan dengan sangat erat. Tangannya menggenggam begitu erat pakaian Annisa.


Annisa melihat anaknya sampai seperti ini begitu terkejut dan langsung sadar kalau perbuatan dirinya sama Bram tadi sudah sangat salah karena begitu menyakiti hati anak itu.


Kini, perasaan bersalah mulai menyelimuti Annisa.


“Mamah ... mamah kenapa pergi ninggalin aku?” tanya Rama dengan isakan tangisnya. “Aku takut mamah pergi lagi kayak waktu itu. Apalagi tadi mamah pergi sama ayah buat aku mikir kalau mamah sama ayah memang pada mau pergi ninggalin aku. Aku kira mamah sama ayah udah nggak sayang sama aku lagi karena ada dedek.”


“Hah?” kaget Annisa mendengar penuturan sang anak.

__ADS_1


Dielapnya wajah Rama, ia menggeleng kuat-kuat. “Husss ... mana ada mamah sama ayah nggak sayang kamu lagi. Pemikiran dari mana itu?” tanya Annisa dengan sedikit bentakan kecil. “Selamanya bunda sama ayah akan selalu sayang sama kamu, apa pun yang terjadi. Jadi, jangan pernah mikir hal kayak gitu ...”


Rama menunduk.


“Hei jawab ...” paksa Annisa. “Kenapa kamu nyimpulin mamah sama ayah nggak sayang sama kamu?” tanya Annisa lagi dengan tegas. Bertepatan dengan itu, Annisa melihat Bram yang mendatangi kamar anaknya.


Rama yang membalakangi tak sadar. Tapi Annisa langsung sadar, ia hanya bisa menggeleng menatap Bram. Seolah memberi sinyal supaya suaminya tidak masuk terlebih dahulu. Ada hal yang harus dia urus untuk saat ini.


Begitu Bram menatap pintu kamar dengan perlahan, Annisa membawa Rama ke pangkuannya tapi anak itu langsung mangkir dan menolak.


Rama menahan tubuh sang mamah dan langsung turun dari pangkuan Annisa lalu duduk di atas kasur. Ia palingkan wajahnya karena tahu mamahnya sedang menatap kecewa pada dirinya itu. Rama sadar tapi ia nggak mau mamahnya ke napa-napa.


"Loh ... kamu marah sama mamah?" Annisa memasang wajah memelas. "Mamah minta maaf kalau main pergi gitu aja. Di sini mamah beneran minta maaf sama kamu. Maaf kalau tadi mamah udah buat kamu kecewa. Tapi maksud mamah gak kayak gitu."


"Bukan gitu mah," elak Rama. "Kalau aku dipangku mamah. Yang ada kasian mamahnya. Takut aku nekan perut mamah. Aku kan nggak mau mamah sama adik ke napa-napa. Jadi, maaf ya mah kalau tingkah aku malah buat mamah jadi kecewa."


Annisa mendongak.


"Tapi ... maksud kamu tadi ngomong gitu apa? kamu kenapa asumsi kalau mamah nanti nggak sayang sama kamu? padahal selamanya mamah sama ayah akan selalu sayang sama kamu."

__ADS_1


"Walaupun ada adek juga, kami akan selalu sayang sama kamu. Mamah nggak suka ah kalau kamu mikir kayak gini," lanjut Annisa.


"..."


"Tadi mamah sama ayah tuh ke rumah sakit. Ayah kamu itu bilang kalau kamu ada trauma sedikit ke rumah sakit. Di sini ayah kamu nggak mau jelasin alasan kamu takut. Jadi mamah mau nanya, apa yang kamu takutin selama ini dari rumah sakit? Juga ... kenapa kamu berpikir kalau mamah sama ayah itu pergi ninggalin kamu karena udah gak sayang sama kamu?"


Rama menatap Annisa dengan hati-hati.


/Apakah ia harus memberi tahu mamahnya hari ini?/


"Kenapa diem aja? kamu sendiri yang bilang kalau anak tuh harus saling terbuka sama orang tuanya. Tapi sekarang kenapa kamu malah nggak mau terbuka sama mamah? mamah ada salah sama kamu tah sampai kamu nggak percaya lagi sama mamah?"


"Bukan begitu ..." elak Rama dengan suara mencicit.


"Makanya jelasin sama mamah." Annisa menggenggam tangan Rama sembari mengusapnya perlahan. Memberi afeksi supaya anak itu nggak ketakutan. "Mamah memang bukan orang tua kandung kamu, mungkin mamah nggak akan pernah bisa seperti bunda kamu. Tapi mamah akan berusaha untuk menjadi terbaik buat kamu. Jadi, kamu bisa jelasin apa yang terjadi, karena sungguh mamah mau tau segalanya tentang kamu."


Rama menunduk. Mendengar ketulusan mamahnya membuat hati anak iri bergetar.


"Ada apa sebenarnya? jelasin coba, mamah mau dengar semuanya. Mumpung waktu mamah dan kamu juga kosong jadi kamu bisa ceritain semuanya. Kamu percaya kan sama mamah?"

__ADS_1


Rama mengangguk dengan cepat.


"Jadi gini ...


__ADS_2