Istri Dadakan

Istri Dadakan
Menjemputnya (2)


__ADS_3

Setiap detik Bram terus saja berdoa supaya dia dapat hal yang baik-baik saja untuk ke depannya. Ia berharap supaya tidak ada hal buruk yang terjadi pada Annisa yang mana akan berpengaruh pada pernikahan mereka. Ia udah terlanjur sayang pada Annisa dan nggak mau pernikahan dia kenapa-napa.


Ia bangun pagi-pagi sekali.


"Mom ... maaf ya karena aku. Mom jadi harus bangun pagi juga," sesal Bram yang sedikit merasa nggak enak melihat sang ibu yang sedang menyiapkan makanan untuk bekal mereka.


"Nggak masalah ... mom harus pastiin kalau kamu nanti nyaman sama Rama. Terus juga, kalau di jalan nanti Rama ngeluh ini itu. Jangan di marahin. Turutin aja apa yang dia mau. Mom nggak mau lagi denger kabar kalau kamu gak bisa nahan emosi kamu sama anak sendiri."


"Iya ..."


"Jangan iya-iya aja! Sekarang kamu nggak boleh emosi sama sekali. Kamu jaga keluarga kamu sendiri. Jangan sampai emosi kamu kembali nyakitin orang lain."


Laki-laki itu mengangguk.


"Mom tenang aja, setelah kenal sama Annisa. Bram jadi belajar untuk bersikap lebih tenang. Bram nggak akan kayak dulu lagi. Jadi, mom tenang aja. Nanti Bram bakalan usaha buat nggak marah sama Rama sekaligus Rama bertingkah di dalam mobil."


"Bagus ... Annisa memang membawa pengaruh baik buat kamu."


Diam-diam Bram menyetujuinya.


Banyak yang udah berubah darinya dan itu karena Annisa. Hal itu yang membuat Bram selalu mengucapkan banyak syukur pada Tuhan karena sudah dipertemukan dengan perempuan yang begitu baik dan memiliki hati yang sangat lapang.


"Kenapa jadi melamun!"


Lamunan Bram buyar dan ia mengedipkan mata.


"Kamu masih ngantuk ya?" tanya mom Chika memperhatikan wajah anaknya yang sedikit sendu. "Kalau ngantuk, kamu bawa supir aja deh. Mom nggak tega kalau kamu nanti bawa mobil sendiri. Apa lagi ini perjalanan jauh. Apalagi kamu juga bawa Rama. Pasti double capeknya. Jadi bawa supir aja ya?" paksa mom Chika. "Mom beneran bakal lebih tenang kalau begini. Mom juga nggak akan khawatir takut terjadi sesuatu sama kamu."


Bram menepuk bahu mom Chika, berusaha menenangkan nya.


"Aku baik-baik aja. Tadi lagi mikir tentang Annisa aja kok," beri tahu Bram lalu beranjak ke dapur untuk membuat kopi. "Oh iya ... nanti mom naik maskapai yang mana? dan penerbangan jam berapa?"


"Maskapai L dan jam sore. Biar sampai di sana pagi. Mom lebih suka kalau istirahat di pesawat. Biar nggak terlalu berasa capeknya."

__ADS_1


Bram mengangguk.


"Ini nggak perlu Bram antar kan? Bram nggak perlu nunggu sore dulu buat antar mom baru nanti ke kampung Annisa?" tanya Bram berulang kali untuk memastikan.


"Nggak usah Bram ... mom bisa sendiri kok," jawab mom Chika lalu mendorong tubuh anaknya menjauh dari kompor itu. "Kamu bangunin Rama dulu aja. Keburu siang."


"Iya mom, makasih ..."


***


Bram mengetuk pintu kamar anaknya. Merasa tak ada jawaban sama sekali. Bram langsung membuka pintu kamar. Baru mau memanggil, Tiba-tiba Rama muncul dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.


Bram mengerjap lalu tak tahan tertawa melihat anaknya yang bahkan udah siap, sebelum ia pinta itu.


"Memang semangat banget ya kamu. Udah bangun loh, padahal ayah belum bangunin kamu. Ini kamu tidur kan?" tanya Bram sambil membantu mengeringkan tubuh Rama.


"Tidur dong! aku sengaja pasang alarm yah. Untung aja aku bangun terus pas bangun, aku denger suara ayah sama oma di bawah. Makanya aku milih buat mandi aja."


Bram mengusap rambut Rama.


Ia mengambil baju lalu mengenakannya pada Rama. Tak lupa ia memakaikan minyak telon, bedak dan parfum pada Rama. Supaya anaknya rapih seperti biasa.


Setelah selesai. Bram meminta Rama untuk duduk di meja rias. Lalu dengan telaten Bram menyisir rambut anaknya.


"Ih ini pertama kalinya nggak sih ayah sisir rambut aku?" tanya Rama sambil menatap wajah serius Bram dari cermin di depannya.


Bram mengangguk, waktunya dengan si kecil Rama nggak sebanyak itu karena kesibukan Bram dan ini yang membuat Bram sangat menyesal. Ia telah melewati masa paling indah bagi seorang anak.


Tapi seperti biasa. Annisa akan menenangkannya. Waktu itu Annisa melarang Bram untuk bersedih. Annisa malah minta Bram untuk berjanji supaya ke depannya ia harus lebih memperhatikan Rama dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.


"Maafin ayah ya nak."


"Ih kok jadi sedih sih." Rama berbalik dan memeluk Bram. "Aku ngomong gini bukan karena marah sama ayah. Aku cuma seneng aja karena bisa ngerasain di sisirin sama ayah."

__ADS_1


"Maaf karena ayah telat ngelakuin semua ini. Buat ke depannya, kalau ada yang mau kamu lakuin sama ayah. Jangan sungkan buat bilang langsung ya sama ayah. Ayah bakalan lebih seneng kalau kamu terbuka."


"SIAP AYAH!"


***


Tidak seperti di jadwal sesungguhnya yang akan pergi pukul lima pagi. Kini Bram sama Rama baru selesai bersiap tepat di pukul tujuh pagi. Tapi apa pun itu, keduanya tetap nekat untuk melanjutkan perjalanan. Walau Bram harus melewati macetnya perjalanan kalau sudah telat begini.


"Yang penting kan berangkat nak." Mom Chika menyadari wajah resah anaknya. Ia mengusap pipi Bram itu. "Kamu nggak usah mikirin yang buruk-buruk dulu. Doa aja semoga jalanan lancar."


"Aamiin ..."


"AYAH AKU SIAP!"


Rama turun dari lantai dua sambil membawa dua tas besar. Baru mau melayangkan protes, mom Chika sudah memberi kan lirikan tajam supaya Bran tidak protes sama sekali.


"Masukin aja ke dalam mobil," ucap Bram pada akhirnya.


"Mau berangkat sekarang yah?" tanya Rama setelah naruh barangnya dulu di dalam mobil


"Pamit dulu sama oma kamu."


Rama berpamitan sama mom Chika. Setelah selesai ia langsung masuk kembali ke dalam mobil dan meminta Bram untuk cepat masuk ke dalam.


Bram hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Rama yang membuatnya telat tapi sekarang malah anak itu yang sok mau buru-buru.


"Ingat jangan marah!" titah sang mommy dengan wajah tegasnya. "Nggak usah lampiasin kekesalan kamu sama anak sendiri."


"Iya mom."


Bram menyalimi tangan mom Chika.


"Mom doakan ya semoga aku bisa ketemu sama Annisa dan nggak ada masalah sama sekali di antara kita. Do'ain semoga aku bisa bawa Annisa kembali tanpa ada masalah apapun itu."

__ADS_1


Mommy Chika mengangguk dengan tulus. "Pasti, pasti mom doakan untuk kamu."


Setelahnya Bram beranjak masuk ke dalam mobil dan mobil mulai melaju meninggalkan rumah yang begitu kerasa sepi karena tidak ada Annisa di dalamnya.


__ADS_2