Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kembali


__ADS_3

Hampir dua jam lamanya Bram menghabiskan waktu dengan beberapa warga di sini dan untung saja keadaan berjalan kondusif. Kini sisa dua puluh lima kepala keluarga lagi yang masih belum bisa dibayar olehnya.


Bram sudah memberi pengertian kepada mereka kalau bank tidak bisa mengeluarkan banyak uang sekaligus. Jadi harus dilakukan bertahap dan asistennya yang akan mengurus mereka selanjut. Jadi, mereka tidak perlu khawatir sama sekali. Karena Bram beneran akan membayar mereka semua.


Dan setelah melewati hari yang panjang, kini Bram sama Ibu Dini sudah ada di dalam rumah besar itu dan bersantai.


“Bu ... makasih banyak ya bu. Inisiatif ibu buat bawa polisi kesini beneran sangat membantu. Kalau saya ibu tidak datang tadi. Nggak tahu deh apa yang terjadi sama saya dan Rama.”


Ibu Dini mengangguk. Ia melirik ke arah Rama yang tertidur di pangkuan Bram. Sejak tadi anak itu tidak mau melepas pelukan Bram. Masih syok dengan apa yang ia lihat di depan matanya itu.


“Tidak masalah ... buat selanjutnya kamu mau langsung cari Annisa atau bagaimana?”


Bram mengangguk.


“Saya akan mencari Annisa ke tempat yang sering ia kunjungi itu sambil menunggu informasi dari orang suruhan saya untuk mendapatkan informasi tentang Annisa. Saya akan berusaha untuk bertemu sama Annisa. Walau di otak saya nggak ada bayangan sama sekali tentang keberadaan Annisa. Karena saya yang memang kurang tahu tentang keluarga besar Annisa.”


Ibu Dini mengangguk.


“Ibu hanya mendoakan supaya semuanya berjalan lancar dan kamu bisa bertemu sama Annisa dengan keadaan baik.”


“Aamiin ...”


Waktu berjalan dengan cepat dan kini asisten Bram sudah tiba. Bram menginformasikan semua hal yang terjadi dan apa yang harus di lakukan sama asistennya itu besok.


“Kamu nggak perlu khawatir. Seperti nya mereka udah percaya dan nggak akan ricuh lagi. Juga setiap jam sepuluh polisi bakalan datang ke sini untuk memantau. Jadi kamu nggak akan sendiri.”


Asisten Bram mengangguk. “Baik tuan.”


“Dan kamu tidak masalah kalau tidak di tempat sebesar ini dan sendirian?”


Asistennya itu menatap sekeliling rumah yang sangat besar. Tapi ia menggeleng. “Tidak masalah tuan. Saya tidak percaya dengan hal mistis seperti itu.”


“Baguslah ... Rumah ini nyaman kok. Jadi, kamu tenang aja. Tidak perlu khawatir. Semua peralatan mandi dan selebihnya ada di kamar mandi. Di sini ada banyak kamar dan kamu bebas mau tidur di mana saja. Tapi di lantai bawah ya. Nggak usah ke atas. Saya juga udah beli banyak kebutuhan dan makanan. Kamu bisa mengonsumsinya. Kamu bebas lakuin apa aja. Dan kalau ada sesuatu bisa langsung hubungi saya dan kalau Annisa pulang ke sini. Tahan dia, jangan sampai dia pergi lagi.”


Asisten Bram mengangguk lagi.


“Baik tuan dan makasih atas kepercayaannya untuk menginap di rumah sebesar ini.”

__ADS_1


“Sama-sama ... saya yang harusnya berterima kasih sama kamu karena mau di repotkan di sini.”


Ia menggeleng, merasa tidak apa-apa.


“Tuan mau langsung pulang sekarang atau bagaimana?” tanyanya.


Bram mengangguk.


“Saya harus kembali ke kota dulu dan berusaha menghubungi semua orang yang di temui sama Annisa. Pokoknya saya harus langsung cari. Saya khawatir sama Annisa.”


“Saya doakan supaya tuan bertemu dengan nona Annisa.”


“Terima kasih ...”


Bram berlalu ke kamar dan mengajak Rama untuk merapihkan barangnya. Rama menurut dan memasukkan semua mainan yang sengaja ia bawa waktu itu. Dengan harapan ia akan bisa bermain dengan Annisa. Tapi ternyata malah masalah baru yang ia temukan di sini.


“Nak ... maaf ya, kamu sampai libur dari sekolah. Walaupun tinggal nunggu rapot doang sih. Tapi seharusnya sekarang ayah sama mamah kamu lagi mengurus SD kamu. Tapi kamu malah terjebak di sini dan belum cari sekolah sama sekali.”


Rama menggeleng.


“Gak masalah yah. Sekarang yang utama itu nemuin mamah. Aku khawatir banget sama mamah dan kangen banget sama mamah.”


Rama hanya mengangguk.


Ia mendorong kopernya menuju ke luar diikuti Bram. Asisten Bram langsung membantu dan ikut keluar sampai ke mobil Bram.


“Kamu beneran tidak masalah saya tinggal di sini.”


“Beneran, tidak masalah tuan. Tuan tidak perlu mengkhawatirkan masalah di sini. Saya akan mengurus sisanya dengan baik. Jadi, tuan cukup fokus untuk cari keberadaan nona Annisa.”


Bram berterima kasih sekali lagi karena asisten nya sudah mengerti posisinya.


Setelah berpamitan, Bram dan Rama masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu.


“Kita ke tempat ibu Dini dulu ya. Kamu juga belum kasih hadiahnya kan? Terus kita harus berterima kasih karena tadi ibu Dini udah bantu kita.”


Rama menggenggam seatbelt dan senderan di sana.

__ADS_1


“Kalau mamah udah ketemu, aku urungin niat aku buat nginap di sini,” jujur Rama pelan


“Kenapa begitu?”


Rama memajukan bibirnya. “Aku masih marah sama mereka yang udah jahat sama ayah. Aku beneran benci banget.”


Bram tertegun. Sebelah lengannya ia usap ke pipi Rama.


“Gak usah mikirin yang macam-macam lagi. Ayah gak kenapa-napa. Udah kita turun. Tuh ibu Dini udah nunggu kkita.”


***


“Kalian beneran mau pergi?”


Rama yang sedang sibuk dengan kue yang di sediakan sama ibu Dini langsung mengangguk.


“Nanti kalau mamah udah ketemu aku bakalan suruh ayah buat jemput mbah ke sini ya. Nanti kita ke kota dan aku bakal nunjukin ke mbah kalau di sana ada taman yang bagus banget dan pasti mbah suka! Gimana?”


Ibu Dini tersenyum lembut.


“Dengan senang hati, Rama. Mbah akan ikut kemana pun yang kamu minta.”


Bram menyeruput kopi dan kembali menatap serius kepada ibu Dini.


“Bu mohon pantau rumah itu pas jam sepuluh ya. Di sana udah ada asisten saya yang akan menunggu setiap harinya. Tapi saya takut kalau keadaan bakalan ricuh lagi. Jadi saya minta tolong sama ibu supaya pantau aja. Nggak usah lama. Sebentar aja dan kalau sempat ibu bisa kasih makanan pas siang. Jadi, asisten saya itu makan nggak hanya mengandalkan makanan instan saja."


Bram mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Ini buat ibu."


"NGGAK USAH!" Ibu Dini langsung menolak. "Ibu ikhlas membantu kamu dan kalau ini untuk bayaran makanan asisten kamu. Gak usah. Ibu gak perlu sama sekali."


Bram menggeleng.


"Ini memang rezeki ibu. Jadi tolong diambil ya bu dan anggap saja, saya kasih ini karena ibu udah nolong Annisa dan saya beneran berterima kasih banget karena hal ini. Jadi sekali lagi Terima ya bu."


Dengan hati tak enak, ibu Dini akhirnya menerima karena wajah memohon Bram.

__ADS_1


"Ibu terima ya dan makasih banyak karena kamu udah membantu ibu dan mengurus semuanya di sini. Ibu harap semua hal baik datang ke hidup kamu."


"AAMIIN."


__ADS_2