
“Sebentar deh ... sepertinya saya tahu kalau hubungan kamu sama orang tua kamu tuh kurang baik. Tapi sepertinya saya juga kurang tau banyak tentang kamu sama keluarga kamu. Memang nya kamu tidak sedekat itu kah sama mereka?”
Annisa terhenyak. Bayangan masa lalu di hidupnya menyapa kembali benaknya, sampai dia nggak sadar sama sekali kalau hubungan dia sama orang tuanya memang sejauh itu. Dia hanya bisa menunduk kecil.
“Annisa?” panggil Bram pelan. “Jangan sungkan ya cerita ... seperti yang saya bilang tadi, kalau saya mau memulai semuanya dari awal. Bukan untuk Rama saja, tapi untuk kamu juga. Saya mau memiliki hubungan baik dengan kamu. Jadi ... kita bisa memulai semuanya dari awal. Yaitu bisa saling mengenal satu sama lain. Jadi ... cerita kan semuanya yang kamu mau.”
Annisa menggigit bibir bawahnya, menatap takut-takut ke arah Bram.
Apa dia bisa percaya sama laki-laki di hadapannya ini? apa dia bisa cerita tentang keluh kesahnya. Untuk saat ini Annisa berusaha memahami apa yang sedang di alami sama Bram. Karena laki-laki itu pasti butuh tempat cerita juga. Tapi perempuan itu takut kalau nanti istri nya kembali, apa Bram masih memikirkan yang sama. Gimana kalau rahasia aku nantinya malah jadi boomeran buat mas Bram? Dan itu jadi titik kelemahan aku?
Banyak pertanyaan yang timbul di benak Annisa membuat perempuan itu sama sekali nggak paham.
“Selesai,” ucap Bram membuat lamunannya terhenti. Ia merasakan sebuah tepukan pelan di pipi Annisa. “Udah selesai ... besok pagi saya akan buka lagi perbannya dan cek. Semoga saja nggak menimbulkan infeksi lainnya atau apa gitu.”
Annisa mengerjap dan terkekeh canggung.
“Luka kayak gini mah kecil buat aku,” ucapnya lagi. “Jadi ... aku rasa nggak akan ada masalah lainnya. Udah ya mas, kita tidur aja. Besok mas kerja kan? Jadi dari pada telat bangun, lebih baik kita tidur aja,” ucap Annisa sambil berdiri tapi tangannya di tarik sama Bram membuat tubuh Annisa terduduk lagi di samping Bram.
“Saya belum selesai bicara Annisa, kita bicara dari hati ke hati terlebih dahulu. Baru nanti kita istirahat. Tapi sekarang waktu yang tepat untuk mengenal lebih dekat,” jelas Bram dengan sangat serius. “Kamu mau hubungan kita terus kayak gini?”
Annisa menggeleng.
“Saya juga sama Annisa,” lanjut Bram dengan serius. “Mungkin menurut kamu pernikahan ini cuman bercanda saja, tapi tidak bagi saya. Walaupun kita bertemu tanpa hubungan sama sekali. Bertemu dengan tiba-tiba tanpa ikatan sama sekali. Tapi saya tetap serius dengan status pernikahan ini. Kita sudah sah di mata Tuhan dan negara, jadi saya nggak mau kalau hubungan kita selesai begitu saja.”
“...”
“Dan saya membenci omongan kamu yang mengatakan akan cerai. Tidak ... saya sama sekali nggak menyukai pilihan dan omongan kamu yang satu ini.”
Annisa menggigit bibir bawahnya. Menatap bingung pada Bram.
“Mas ... kamu nggak bohong kan ngomong kayak gini?” tanya Annisa. “Maksudnya, kamu udah tahu sendiri kan kalau Aqilla alias istri kamu itu belum meninggal. Yang artinya mas Bram masih punya status sama mbak Aqilla. Jadi, aku rasa ... kalau nanti kamu ketemu sama mbak Aqilla, kamu pasti kembali sama dia.”
Annisa menggeleng dengan sangat sedih.
“Walaupun kedengerannya sedih sih,” gumam Annisa dnegan pelan. “Soalnya ngebayangin nanti Rama lebih sayang sama perempuan lain, ah ... aku tahu kok kalau mbak Aqilla itu ibu kandung dari Rama. Tapi ... aku udah sayang banget sama Rama. Jadi, ngebayangin Rama lebih deket sama perempuan lain buat aku sedih banget.”
Bram mengubah posisi duduknya jadi menghadap ke arah Annia. Ia abaikan tv yang menyala, ia melihat wajah istrinya yang terlihat sangat mendung. Bukan, Bram mau berbicara serius bukan untuk membuat Annisa jadi sedih. Ia hanya mau membuat hubungan mereka menjadi baik.
“Annisa,” panggil Bram membuat Annisa menatap suaminya itu. “Pertama ... boleh biasain panggil Sakilla saja? karena saya mengenalnya sebagai Sakilla bukan Aqilla atau yang lain sama sekali. Saya tidak terbiasa dengan panggilan itu. Jadi, boleh kalau manggilnya Sakilla saja?” pinta Bram dengan sangat sopan.
Annisa mengangguk kecil. Walau sedikit bingung karena dirinya juga lebih mengenal Aqilla di banding Sakilla. Tapi dia akan berusaha untuk memanggil dengan nama yang di kenal sama Bram. Supaya nggak menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka.
“Dan untuk point pertama tadi, kamu nggak perlu khawatir sama sekali. Di sini saya jelas tahu kalau Sakilla memalsukan kematiannya dan saya benar-benar kecewa karena masalah yang satu ini.” Bram menarik napas dalam. Masih berusaha menyangkal fakta yang jelas-jelas sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. “Dan saya bukan tipe orang yang mudah memaafkan kalau sudah kecewa.”
“Jadi ... maksud mas?” bingung Annisa
__ADS_1
“Yang artinya saya akan menceraikan Sakilla begitu nanti menemui lokasi aslinya dan nggak hanya itu saja, saya akan bertanya lebih lanjut sama Sakilla. Tentang alasan perempuan itu melakukan ini semua. Jadi ... setelah meluruskan semua masalah. Saya akan menceraikan Sakilla dan melanjutkan pernikahan dengan kamu.”
“Mas?” gumam Annisa pelan. Hatinya berdebar mendengar penuturan manis laki-laki itu.
“Iya Annisa ... kenapa?”
“Mas nggak salah ngomong?” tanya Annisa lalu tertawa kecil sambil menggeleng. “Mana mungkin laki-laki yang di kagumi banyak orang kayak kamu, malah milih perempuan nggak jelas kayak aku. Aku beneran nggak percaya sama sekali. Derajat aku sama kamu aja udah jauh banget. Eh ... kamu malah ngomong kayak gini. Kalau bercanda nggak usah sejauh ini, mas. Aku nggak akan percaya.”
“Apa yang nggak kamu percaya?”
“Ya ... semua omongan kamu,” gumam Annisa seraya menghembuskan napas. “Ngebayangin bisa bersanding sama mas aja sebenarnya udah buat aku minder. Apa lagi gaya hidup mas sama aku jauh berbeda. Ditambah kalau inget omongan mas yang bilang sejatuh cinta itu sama mbak Sakilla ... jadi omongan mas terdengar sedikit bullshit di telinga aku.”
“Sejauh itu kah kamu percaya sama saya?” tanya Bram
Bram menghela napas kasar dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menatap kosong ke arah televisi yang menyala. Kini laki-laki itu sadar kalau perbuatannya cukup menyakiti hati perempuan di sampingnya. Semua kepercayaan sudah hilang membuat Bram harus bergerak lebih ekstra supaya Annisa bisa percaya kepada nya lagi.
“Kamu tahu nggak sih sebenarnya alasan saya setuju sama permintaan konyol kamu waktu itu?” tanya Bram pelan. “Padahal kalau di ingat-ingat, bisa aja saya langsung nolak kamu. Apa lagi kita cuman orang asing yang bahkan nggak pernah ketemu sama sekali. Tapi, saya memilih untuk membantu dan menyetujui permintaan kamu.”
“...”
“Ya ... walaupun malamnya saya langsung cek kamu dengan KTP yang kamu kasih ke saya. Saya mencari tahu semuanya tentang kamu dan merasa kamu cukup baik serta tepat untuk saya. Makanya pas itu saya menemui kamu lagi dan benar-benar mengurus pernikahan dengan mendadak. Tapi alasan di balik itu semua, kamu tahu kenapa saya melakukan ini?”
Dengan bingung Annisa menggeleng.
“Karena itu kamu.”
“Saya melihat ada tatapan berbinar yang kamu tunjukan saat meminta pertolongan sama saya sampai buat hati saya yang beberapa tahun ini mati jadi bergetar. Hanya karena seorang perempuan yang nggak pernah saya temui sama sekali. Dan saat itu ... Rama sedikit sulit bertemu sama orang asing. Tapi dia malah diam aja dan ngeliatin kamu terus. Kamu seperti ada magnet tersendiri yang buat saya ngerasa tertarik.”
“Mas ...” lirih Annisa
Bram menarik napas dalam dan menoleh pada istrinya itu.
“Mungkin sampai detik ini kami masih asing. Kamu yang masih punya mimpi memiliki suami yang sesuai dengan tipe kamu dan saya yang masih tenggelam dengan masa lalu. Tapi apa ada salahnya kalau kita mulai merelakan semua impian kita. Demi apa yang udah ada di depan kita? Dengan kata lain menerima jalan hidup yang sudah kita lalui saat ini.”
“Aku takut ...” jujur Annisa
“Apa yang kamu takutin?” tanya Bram. “Saya janji akan memperlakukan kamu dengan baik. Kamu bisa lihat, walau sikap saya buruk sebelumnya. Tapi saya nggak pernah jahat sama kamu kan? Saya nggak pernah main fisik kan sama kamu? Jadi ... apa yang kamu takutin lagi sama saya?”
“Bukan itu.”
Bram mengubah posisi duduknya, kembali menatap Annisa.
“Jelasin sama saya ... tadi saya udah bilang supaya kita jujur sama isi hati kita berdua. Biar kita bisa paham satu sama lain dan mempelajari apa yang nggak kita ketahui. Jadi, kamu cerita. Apa yang buat kamu takut sama saya?”
“Banyak mas ... banyak bayangan buruk yang di benak saya,” ucap Annisa dengan suara kecil. “Dan itu semua karena kita berbeda. Kamu yang ada di atas dan aku yang ada di bawah,” ucap Annisa sambil menatap sekeliling mansion Bram yang begitu besar, sangat jauh dengan rumah dirinya.
__ADS_1
“Status hanyalah hal yang nggak terlihat, Annisa. Saya bukan orang yang akan menjatuhi kamu hanya karena kita berbeda. Saya bukan orang yang jijik sama orang di luaran sana, hanya karena saya memiliki banyak harta.”
“Mungkin kamu memang begitu, tapi bagaimana dengan orang?” tanya Annisa. “Nggak hanya itu, mas. Kita juga terlalu asing. Kita benar-benar sangat asing sampai aku ngerasa kalau kita ini bukan suami istri. Alias aku cuman pengasuh dari Rama doang.”
“Annisa!” bentak Bram membuat perempuan itu tersentak dan langsung minta maaf. “Tidak ... saya tidak marah sama kamu. Saya hanya kesal sama omongan kamu yang tadi. Dari mana kamu terlihat sebagai pengasuh Rama. Kamu mamahnya. Orang yang udah membuat Rama jadi berubah dan sering tersenyum. Jangan pernah nyangkal apa yang kamu perbuat lagi. Karena saya sangat nggak suka itu.”
Annisa mengangguk dan meminta maaf lagi.
“Dan apa yang buat kita asing?” tanya Bram lagi butuh kepastian
Annisa menggigit bibir bawahnya. Ada banyak yang mau ia utarakan untuk saat ini. Dia menoleh pada Bram. Apa dia harus mengatakan semuanya. Setelah berperang sama batinnya, akhirnya Annisa menarik napas dalam. Ia memutuskan untuk memberi tahu semuanya.
“Orang tua ... apa mas pernah cerita tentang orang tua, mas? Apa mas pernah cerita tentang keluarga mas. Bahkan pernikahan yang kita lakuin, nggak ada tuh keluarga kamu yang datang. Aku memang istri kamu. Tapi kamu nggak anggap aku kayak gitu, mas. Aku nggak tahu semuanya tentang kamu. Di saat kamu bisa bebas cari tahu apa yang kamu mau tentang aku dan ini sangat nggak adil.”
“...”
“Aku seperti di kurung di rumah ini. aku nggak bisa bebas keluar dan bebas ngomong ke orang tentang suami aku. Bahkan aku masih sering lihat kamu ngeliatin foto mbak Sakilla. Sungguh, aku nggak marah sama sekali. Tapi, dengan kamu kayak gini buat keberadaan aku nggak di hargain sama sekali, mas.”
Napas Annisa memburu, ia mengepalkan tangan. Emosinya menggebu dan ia nggak bisa berhenti mengatakan sesuatu pada Bram.
“Aku juga mau di banggain kayak orang, mas. Aku juga mau kenal keluarga kamu. Aku juga mau masakkin kamu, di saat kamu selalu ngelarang aku buat masakin makanan buat kamu. Aku mau jadi istri yang baik buat kamu. Tapi, kamu kayak nggak izinin aku buat jadi istri yang baik untuk kamu.”
“Annisa ...”
“Aku seolah punya banyak keluhan untuk kamu, mas. Bahkan aku jadi perantara antara kesedihan Rama. Kamu, nggak pernah tahu kan setiap hari Rama selalu mengeluh karena sikap kamu dan semua keinginan yang mau dia bilang ke kamu. Tapi, karena kamu nggak pernah ada di rumah. Rama nggak pernah mau cerita sama aku. Dia cuman cerita sama aku, buat aku punya beban tersendiri untuk lakuin apa yang Rama mau selama ini.”
“Tapi ... aku nggak bisa ngelakuin apa-apa, karena aku juga takut minta sesuatu sama kamu.”
Bram mengangguk, “lalu?”
“Setiap malam. Aku selalu berusaha buat nunggu kamu, mas. Dari yang kamu datang cepet sampai larut banget. Aku bakalan terus tunggu kamu. Tapi pas kamu datang, kamu nggak pernah tuh ngomong apa-apa dan malah nyalahin aku. Kamu cuman bilang kalau aku nggak perlu nunggu kamu setelah aku nunggu beberapa jam. Kayak ... apa yang aku lakuin tuh nggak di hargain sama sekali. Kayak ... aku tuh nggak suka di giniin.”
“...”
“Aku nggak butuh larangan kamu, aku butuh kamu yang nanya kabar aku. Kamu yang nanya keseharian Rama. Sungguh, mas. Aku nggak minta kamu untuk perhatian sama aku. Aku beneran nggak masalah kalau hubungan kita selamanya kayak gini. Aku cuman minta kamu bisa sayang dan perhatian sama Rama. Hanya itu.”
“Kamu sayang banget ya sama anak saya?”
Annisa mengangguk.
“Aku beneran sesayang itu sama Rama dan tangisan Rama buat hati aku sangat perih.”
“Maaf,” ucap Bram tiba-tiba membuat Annisa mendongak dan menatap bingung.
Belum bertanya, tiba-tiba Annisa merasa wajah Bram mendekat dan bibirnya dikecup dengan laki-laki yang ia kenali. Matanya membola.
__ADS_1
Sebuah kecupan hangat Annisa rasakan. Dari yang matanya membola, akhirnya ia memejamkan mata. Seraya berusaha meredakan degupan jantungnya.
Ini first kiss nya.