Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bram dan Penyelesaian Masalahnya


__ADS_3

"Selamat tidur anak tampan, jangan khawatir mamah selamanya sayang sama kamu. Kamu nggak perlu takut akan hal buruk terjadi. Karena selama mamah ada di sisi kamu mamah akan jadi penjaga yang kuat untuk kamu. Supaya nggak akan ada kesedihan yang menimpa hidup kamu lagi."


Annisa memberi kecupan cukup lama di kening Rama.


Tadi setelah puas saling menangis di depan, Rama dan Annisa memilih tiduran di tempat tidur sambil bercerita banyak hal.


Tapi sepertinya karena tangisan, Rama kembali mengantuk dan kembali tertidur lelap.


Annisa menaikkan selimut untuk anaknya dan tersenyum tipis menatap wajah anaknya yang begitu damai saat sedang memejamkan matanya.


"Mamah harap kamu akan selalu bahagia selamanya dan selalu di kelilingi oleh orang baik."


Katanya,


Tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang seorang ibu kandung. Tapi mulai detik ini, Annisa akan mematahkan perkataan itu. Karena ibu sambung juga bisa memberikan kasih sayang yang begitu melimpah untuk anak sambungnya dan Annisa akan membuktikan kalau dia bisa melebihi seorang ibu kandung yang sayang pada anaknya.


“Mamah sayang banget sama kamu.”


Matanya semakin sayu saat ia menutup pintu, hanya helaan napas pasrah yang terdengar karena masih terasa sakit mengingat Rama yang berkata seperti tadi. Tangannya terhempas dan rasa nya jantung dia ikut berdegup kencang.


“Mas Bram,” gumamnya perlahan lalu mencari ke sembarang arah untuk menemukan suaminya itu.


Ia bergegas mencari Bram dan bertemu di ruang kerja suaminya itu. “Mas Bram.”


“Annisa!”


Keduanya terpaku karena saling memanggil satu sama lain itu. “Aku dulu mas, ada hal penting yang harus kamu dengerin dan ini tentang Rama. Jadi, menurut aku penting banget,” aku Annisa dengan wajah serius sambil menarik kursi di hadapan meja kerja suaminya dan duduk di sana.


“Omongan mas juga nggak kalah penting sih. Tapi karena ini tentang Rama, ya udah ... kenapa? Dan ada apa? eh ... kamu habis nangis?” tanya Bram menggapai pipi Annisa.


Annisa mengangguk perlahan.


Ia mulai menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir dan mengenai omongan sang tante yang identitasnya malah di sembunyikan Rama. Karena tidak mau dirinya itu marah. Di tengah cerita Annisa memijat keningnya, merasa pusing karena anak yang masih begitu belia udah mengalami hal sepenting ini.


“Mas ... aku beneran nggak bisa mas kalau diem aja. Kamu cari tau mas siapa tante yang Rama maksud. Aku mau ngomong sama dia, kalau omongannya udah jahat banget dan berlebihan untuk anak kecil. Ya ampun ... aku yang denger aja sakit hati sama Rama. Apa lagi Rama yang mendengar langsung waktu itu.”

__ADS_1


Annisa membelai dadanya, meminta tenang membuat Bram menatap khawatir.


“Kamu nggak apa-apa?”


Annisa menggeleng. Mana mungkin dia masih mengatakan baik-baik aja setelah semua yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


“Aku sedih mas, perlakuan kita tadi secara nggak langsung malah membuka trauma bagi anak itu dan ternyata Rama menyimpan luka begitu dalam. Juga ... aku nggak tau kalau tingkah aku yang kabur waktu itu ternyata membuat Rama sedih bukan main.”


Annisa menyadari kalau tingkahnya sudah kekanakan waktu itu.


Banyak kata andai yang memenuhi relungnya.


Tapi sayang,


Kata ‘andai’ tersebut tetap nggak menutupi fakta kalau dirinya sudah menambah trauma pada anak sambungnya.


“Mas ... aku harus apa? aku merasa bersalah? Bukannya menjadi ibu yang baik aku malah menjadi ibu yang gagal buat Rama. Belum apa-apa, bahkan adeknya belum lahir. Tapi Rama udah ngalamin kayak gini,” aku Annisa yang takut. “Jujur aku takut kalau ke depannya aku bakalan gagal jadi seorang ibu untuk Rama dan adek.”


“Enggak sayang ...”


“Untuk yang tadi, itu bukan salah kamu sama sekali. Karena mas sendiri yang ajak bahkan maksa kamu, kamu inget kan kalau tadi kamu sempet nggak mau? Terus kamu juga yang terus maksa buat pulang karena kasihan sama Rama. Tapi apa? mas yang malah nggak peduli. Jadi, di sini salah mas ya ...”


Annisa mengerjap dan mengangguk perlahan.


“Jadi, jangan pernah nyalahin diri sendiri. Tadi kamu udah minta maaf kan sama Rama?” tanya Bram dan Annisa mengangguk.


“Ya udah kalau begitu, kamu tenang aja. Nanti habis ini mas bakalan minta maaf sama Rama secara langsung. Terus untuk urusan tante yang Rama maksud ... kayaknya mas tahu. Tapi mas nggak akan pernah ngasih tau kamu sama sekali.” Bram berujar dengan sangat tegas.


“Loh ... kenapa begitu?” tanya Annisa yang menatap kesal.


“Apa karena dia saudara kamu, kamu malahan bela dia? aku tau mas ... mungkin keluar kamu jauh lebih penting di atas apa pun itu. Tapi anak kamu tetep yang utama.”


Bram terkekeh.


“Bukan begitu sayang ... tapi mas nggak mau menambah besar masalah ini. Kalau tiba-tiba mas datang lagi dan nodong sama pertanyaan ini. Terus nanti dia harus ke sini lagi, maka Rama nggak akan pernah lupa sama masalah ini. Jadi, memang udah bener kita lupain aja dan kalau bisa jangan buat Rama inget lagi.”

__ADS_1


Annisa terdiam, diam-diam menyetujui omongan suaminya.


“Nah ... kita lupain masa itu. Biar nanti mas yang ngomong sama anak itu tentang masalah ini. Mas juga akan minta maaf sama Rama karena pas itu nggak ada buat Rama dan malah buat Rama simpen masalah ini sendirian. Padahal nggak seharusnya kayak gitu.”


Bram jujur merasa menyesal.


Banyak hal yang harus ia lakukan supaya dirinya bisa menjadi suami dan ayah yang sempurna untuk Annisa dan Bram.


Sayang, banyak hal yang terlewat dan ia bisa belum bisa dikatakan baik.


Seakan sadar suaminya sedang meratapi kesedihan, Annisa jadi merasa tidak enak dan menatap suaminya dengan tatapan tak bisa di artikan.


“Mas ... aku ngomong gini bukan untuk nyalahin kamu,” lanjut Annisa dengan suara yang begitu pelan. “Aku cuman butuh saran dari kamu doang. Terus selanjutnya aku mau kita cari jalan keluar bareng-bareng. Tapi kayaknya memang nada suara aku yang salah. Aku jadi keliatan marah sama kamu ...”


Bram mendorong kursi kebesarannya ke belakang dan berdiri menghampiri Annisa. Ia berdiri tepat di depan Annisa yang duduk. Tangannya melingkar di leher Annisa, memeluknya membuat perempuan itu memeluk perut Bram.


“Gak ada yang merasa begitu, cuman pemikiran kamu aja. Udah ya, kamu lagi hamil. Jangan malah mikirin hal kecil kayak gini. Mas nggak mau kandungan kamu ke napa-napa cuman buat mikirin hal remeh kayak gini.”


“Ih ini tuh bukan masalah remeh tau!” Annisa protes hingga alisnya saling bertaut satu sama lain. “Ini berkaitan sama Rama. Jadi, nggak ada hal remeh kalau ini tentang Rama.”


“Hahaha iyaa ... maaf, bukan maksud mas menyepelekan masalah ini. Mas ngomong kayak tadi supaya kamu juga nggak mikirin masalah ini.”


Bram memberikan afeksi kenyamanan sembari memeluk tubuh istrinya itu.


Tak ada yang berbicara. Annisa seolah menumpahkan segala kesedihan di dalam hatinya dan kini baru merasakan kata tenang setelah mendapat pelukan mesra dari suaminya itu.


Seteleh hampir setengah jam, Annisa yang mulai merasa pegal langsung melepas pelukan dan mendongak. Memandang wajah tampan suaminya.


“Mas ... tadi kayaknya kamu juga mau bilang kalau ada hal yang di omongin? Apa itu?” tanya Annisa


“Ah iya ... sebelum kita omongin ini. Boleh mas minta tolong untuk buatin minum dulu? Terus kita omongin di belakang biar Rama gak dengar. Gimana?”


Ah, sepertinya ini masalah penting. Jadi, mau tidak mau Annisa mengangguk sambil menatap bingung pada suaminya itu.


“Oke ...”

__ADS_1


__ADS_2