
Sakilla terus melihat ke sana kemari. Ia sangat bangga melihat semuanya yang masih sama. Terselip rasa bahagia sekaligus sombong melihat semua susunan di rumah ini masih sama.
"Ternyata kamu masih nggak bisa ngelupain aku ya," ucap Sakilla tiba-tiba
"Hah? konteks?" bingung Bram yang disodor begitu aja
"Iya ... ini kan rumah pertama kita setelah menikah. Rumah yang kamu kasih ke aku dan aku bebas ngurus semua isi di rumah ini dan ternyata ... sampai sekarang furniture yang ada di sini masih sama. Bahkan tata letaknya nggak ada yang berubah sama sekali," lanjut Sakilla dengan tidak tahu dirinya.
"Hahaha ..." Bram mendengus. "Memangnya kamu kira masih sepenting itu kah di hidup saya?"
Kali ini giliran Sakilla yang menatap bingung ke arah Bram.
"Ma— maksudnya?" ucapnya terbata-bata.
__ADS_1
"Memangnya dengan saya nggak merubah ini berarti saya masih ada rasa sama kamu? Tidak Sakilla ... saya hanya terlalu malas mengurus semua ini dan juga ribet banget saya mesti merubah semuanya hanya karena kamu? saya bukan anak kecil yang nggak mudah lupa hanya karena kenangan seperti ini. Saya juga terlalu sibuk buat ngurus seperti ini. Tapi ... ya kalau ternyata kamu merasa seperti itu. Sepertinya saya akan mengubah semuanya."
Bram bergumam sambil memandang seisi rumah.
"Atau ... mungkin saya akan pindah? terlalu malas buat ngurus rumah ini. Kamu jadi sombong dan sok berkuasa. Padahal kamu nggak ada hak berkomentar apa-apa lagi di sini."
Sakilla diam, bungkam dan malu.
"Sebenarnya saya malas mempertemukan kamu dengan anak saya—
Bram terkekeh. Kakinya sudah ia topang ke kaki lainnya dan ia menatap malas Sakilla.
Dipandangnya wajah Sakilla. Tidak ada lagi perasaan berdebar seperti yang dulu Bram rasakan. Entah kemana semua itu pergi. Tapi yang penting, Kini Bram benar-benar membenci perempuan di depannya ini.
__ADS_1
"Sorry to say ... saya nggak sih yang harusnya ngomong begitu? kamu yang jahat sama anak kamu sendiri? saya? jahat? Kalau saya jahat, saya nggak akan mengurus Rama dari kecil. Saya akan buang dia. Tapi enggak ... saya udah belajar banyak hal. Belajar menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk Rama."
"..."
"Banyak yang udah saya usahakan sampai anak saya tumbuh jadi pribadi yang baik dan membanggakan. Lalu kamu? kamu tidak ada peran apa-apa dalam mengurus anak saya. Jadi saya berhak aja kalau mau menjauhkan kalian berdua."
"Tapi ... hubungan ibu sama anak nggak ada yang bisa menentang," lanjut Sakilla yang masih tidak tahu diri
"Ya ... tapi balik lagi. Ibu yang bagaimana?" seru Bram lalu bangkit. "Ibu yang selalu merawat anaknya dengan penuh kasih sayang atau ibu yang menelantarkan bahkan buang anaknya demi egonya?"
Bram beranjak lalu langkah kakinya terhenti dan ia berhenti tepat di depan Sakilla.
"Satu ... saya mengundang kamu ke sini bukan buat kamu mengomentari hidup saya. Kamu cuma tamu karena anak saya ada yang mah di omong kan dengan kamu. Selanjut nya kamu hanya orang asing di rumah ini. Jadi, jangan sok mengenal dan memerintah saya seperti tadi. Karena saya hanya akan semakin membenci kamu!"
__ADS_1
Bram mendesis lalu beranjak ke lantai dua. Untuk memanggil Rama.