
"Nantinya mamah sama ayah akan pergi dari hidup kamu."
"Hah?" Rama terkejut bukan main. Wajahnya menatap bingung pada sang mamah, matanya berusaha mencari jawaban. Walau pada akhirnya dia nggak bisa bertemu dengan maksud sang mamah.
"Mamah berniat pergi ninggalin aku? mamah tega ninggalin aku? aku janji nggak bakalan nakal lagi kok sama mamah. Tapi kenapa mamah malah mau pergi ninggalin aku?"
Rama beranjak turun dari tempat tidur dan berdiri di balkon.
Annisa mengikutinya dari belakang dan mereka saling berdiri di pinggir balkon sambil tidak tahu harus melakukan apa. Tak ada tatapan. Annisa dan Rama sibuk dengan pikiran masing-masing. Keduanya menatap jauh jalanan dari lantai dua.
"Kamu pernah tahu kalau manusia hidup itu sudah di atur dengan takdir Allah? kamu tahu kalau suatu saat nanti kita akan dipanggil karena harus kembali pada sang pemilik dunia ini."
Rama menggeleng pelan.
"Ah ... nyatanya kamu memang masih kecil. Kamu harus tau kalau semua yang ada di dunia ini nggak abadi. Kalau segala hal ini di dunia ini pasti kembali ke sang Pencipta. Artinya, akan ada saatnya bunda sama ayah pergi ninggalin kamu."
Wajah Rama sangat syok begitu mendengar penuturan sang mamah.
"Enggak ... aku mau selamanya sama mamah dan ayah."
"Mamah juga maunya begitu. Tapi nggak ada yang tahu kapan Allah akan memanggil mamah. Mamah juga mau terus sama kamu, sama ayah Bram, sama dedek bayi yang ada di perut mamah. Tapi, yang namanya takdir itu nggak bisa di ganggu gugat. Jadi, mamah nggak akan pernah bisa menang melawan takdir apa pun itu."
"..."
Annisa memandang kosong ke arah jalanan. Hatinya juga sakit.
"Mamah nggak mau kamu bergantung hidup sama mamah dan juga ayah. Apa kata kamu tadi? hidup kamu bakalan hancur kalau mamah sama ayah pergi? enggak ... mamah nggak mau hal itu sampai terjadi. Mamah nggak mau kalau anak mamah sedih kalau misalkan nanti mamah pergi lebih dulu. Mamah mau kamu jadi anak yang kuat dan terus bangkit di sela masalah apa pun."
"..."
Annisa menoleh dan mengambil lengan Rama, menaruhnya di dada anak itu.
"Rama cuma punya diri kamu sendiri. Sedih tapi memang itu faktanya. Mamah nggak mau kamu berlarut-larut kalau selalu menggantungkan hidup kamu ke orang lain. Kamu berdiri di atas kaki kamu sendiri, jadi yang menguatkan dan segalanya itu ya tubuh kamu sendiri."
".."
"Seumpamanya nanti mamah pergi duluan. Kamu tidak terlalu sedih sampai berlarut-larut, karena kamu nggak pernah menggantungkan hidup sama mamah."
__ADS_1
"Tapi tetap aja .."
Annisa mengangguk.
"Sedih itu wajar. Tapi kalau kamu terlalu menggantung kan hidup kamu sama orang lain terus orang itu pergi. Pasti kamu akan bingung mau lanjutin hidup kamu kayak gimana. Gak cuma itu aja, kalau terlalu menggantungkan hidup sama orang lain. Pasti kamu bakalan kacau banget nantinya dan mamah nggak mau kalau hal itu sampai terjadi. Mamah gak mau kamu hancur nantinya."
"..."
"Memang sedih membayangkan nya, tapi kalau memang takdir mamah nggak bisa bersama kamu. Mamah nggak mau nanti di atas sana malah ngeliat kamu hancur. Mamah cuma mau kamu bahagia ada mamah atau pun nggak ada mamah."
Annisa menumpu kakinya di lantai dan menangkup wajah Rama.
"Kamu itu anak hebat. Mamah nggak mau karena mamah, malah buat kamu hancur. Jadi, janji ya kalau misalkan nanti mamah pergi. Kamu harus tetap kuat dan jangan hancur. Mamah nggak mau lihat mamah sendiri hancur karena mamah."
Yang awalnya hanya terdengar isakan kecil, kini Rama sudah menangis dengan begitu kuat.
Dia menggeleng.
"Mamah jangan pernah pergi dari hidup aku."
Annisa tersenyum pedih.
"I— iya .."
"Dan tentang tadi .."
Annisa beranjak untuk duduk di salah satu kursi dan Rama berdiri di hadapannya.
"Kamu itu berharga, kelahiran kamu adalah sebuah anugerah terindah bagi ayah dan mamah. Ayah kamu sangat bahagia pas kamu hadir di dunia ini. Begitu juga oma dan opa, jadi jangan pernah menganggap buruk diri kamu sendiri. Betapa bahagianya ayah kamu pas tau kamu ada di dunia ini."
Annisa menjawil hidung sang anak.
"Laki-laki itu lahir dengan keegoisan yang tinggi."
"Aku juga dong?"
Annisa mengangkat bahu, "mungkin nanti pas besar? masih banyak hal yang harus kamu lewati. Jadi, kita nggak tau kan gimana nantinya? tapi ... yang mamah tau, kalau laki-laki itu punya ego yang tinggi."
__ADS_1
Rama mengusap air matanya dan menatap terpaku pada sang mamah.
"Jadi ... mungkin kadang kamu merasa ayah kamu nggak sayang sama kamu. Tapi nyatanya nggak gitu sama sekali. Ayah kamu cuma bingung nunjukin rasa kasih sayang sama kamu. Ayah kamu gengsinya tinggi. Kamu jangan pernah merasa ayah Bram nggak sayang sama kamu. Karena kamu orang spesial di hidup ayah Bram yang nggak akan pernah bisa tergantikan sama siapa pun."
"..."
"Juga ... kamu memang dekat sama mamah. Tapi kamu boleh sekali-kali cerita sama ayah Bram. Biar kalian berdua juga jadi lebih dekat. Kalau ada masalah kamu juga bisa cerita sama ayah Bram. Jangan kalian malah klop kalau mau kasih surprise mamah doang."
Rama terkekeh.
"Dan masalah kayak tadi," ucapan Annisa menggantung. Mengingat cerita sang anak mengenai tantenya itu. "Mamah harap kamu nggak anggap sepele sama sekali. Kalau ada orang yang menyakiti kamu, kamu bisa cerita sama ayah kamu."
Annisa meraup wajahnya, frustasi.
"Kamu jangan pernah pendem apa pun sendiri di usia kamu yang masih muda banget. Juga ... mamah nggak bisa tuh bayangin, pas kamu lagi bingung sama keadaan oma. Kamu juga harus dibuat pusing sama omongan tante kamu itu yang mamah akuin kalau kata-kata itu bukan hal biasa. Tapi hal yang jahat banget untuk di denger kamu."
"Mamah jangan marah," sela Rama sambil menatap dengan mata penuh harapan. Berbinar. "Semuanya udah berlalu, jadi mamah jangan marah lagi. Toh aku, nggak pernah lagi lihat tante itu. Jadi, mamah jangan marah ya."
Annisa menarik napas dalam dan menggeleng kecil.
"Kamu nih bisa aja ya ..." Annisa mana mungkin nggak terpengaruh sama tatapan berbinar sang anak.
Dengan perlahan, Annisa mengusap bekas linangan air mata yang ada di pipi Rama. Ia juga usap kantung mata anaknya yang sedikit membengkak.
"Mungkin udah lama ... tapi selamanya kamu bakal inget perkataan jahat ini kan?"
Rama mengangguk.
"Dan mamah nggak mau ada hal seperti ini lagi ke depan nya."
Rama mengangguk.
"Makasih ya mah. Aku jauh lebih tenang di banding sebelum nya dan juga, maaf kalau tadi aku ngamuk nggak jelas. Maaf banget."
"Enggak ... nggak ada yang salah di sini. Sekali lagi mamah tegasin kalau mamah sama ayah itu sayang banget sama kamu. Kamu harus percaya kalau kita sayang banget sama kamu. Gak usah takut."
Rama memeluk erat Annisa.
__ADS_1
"Rama juga sayang banget sama mamah dan ayah," ucap nya lalu tanpa sadar bersitatap dengan perut Annisa. "Rama juga sayang banget sama dedek bayi."