
Tiga hari kemudian,
Keluarga Annisa sudah benar-benar kembali ke kampung, membuat keadaan rumah menjadi nyaman lagi. Dengan ini membuat mereka kembali tenang karena nggak akan ada pertengkaran kecil yang membuat mereka jadi ikutan kesal bahkan sedih.
Lalu, orang tua Bram terutama daddy Bima sudah kembali ke negara lain untuk bekerja. Benar-benar daddy tuh gila kerja, kalau satu hari nggak kerja saja. Pasti dia bakalan merasa ada yang beda. Jadi, kerja udah jadi rutinitas yang membuat dia bahagia. Jadi, bukannya capek daddy Bima juga enjoy kalau sudah kerja. Sementara mommy Chika masih ada di rumah ini seperti janjinya. Mommy Chika terlalu betah di sini. Alasannya sih, lantaran kalau ikut suami nya dia malahan sendirian dan merasa kesepian. Tapi kalau di sini, dia bakalan punya teman.
Selan itu, tepat hari ini
Bram mendapat panggilan untuk menjadi saksi di persidangan Sakilla nanti. Tentu saja ia langsung setuju, ini sudah menjadi semangatnya dari kemarin. Karena dia akan membongkar semua perbuatan Sakilla yang udah menyakiti dirinya itu.
"Kamu keliatan seneng banget sih, mas."
Bram mendekati Annisa dan memeluknya dari belakang.
"Akhirnya mas bisa agak tenang karena polisi percaya sama laporan mas. Kamu tau sendiri kan gimana takutnya mas kalau semua polisi malah ketawa dan nggak percaya sama semua perbuatan licik Sakilla." Annisa mengangguk. "Tapi tadi pagi banget, mas dapet panggilan kalau mas di pinta untuk jadi saksi di persidangan Sakilla nanti. Berarti kan, kasus ini mau ditindak lanjuti sama mereka. Jadi, mas itu seneng banget."
__ADS_1
Annisa tersentak dan menoleh, memandang wajah samping suaminya.
"Kamu bersedia?"
"Udah pasti dong ... jadi, kayaknya beberapa hari ini sampai nanti waktu sidang tiba. Mas bakalan lebih sibuk karena harus nyari bukti signifikan dan harus bolak-balik ke kantor polisi buat di tanya tentang masalah ini."
Annisa meronta dan berbalik, wajah meraka kini saling berhadapan membuat perempuan itu sedikit tersipu. Tapi Annisa langsung menggeleng pelan, menguatkan diri supaya tidak malu-malu. Ini lagi serius!
"Mas ... kamu beneran nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa gimana maksud kamu?"
Tangan Annisa menangkup pipi Bram dan mengusapnya. Tatapannya sangat khawatir membuat Bram berdegup kencang melihat istrinya yang sangat khawatir seperti ini.
"Sanggup kok. Ini kan demi mendapat keadilan. Jadi, mas bakalan sanggup. Lebih tepatnya mas harus sanggup sih. Anggapan mas sekarang tuh, udah nggak mikirin apa-apa lagi yang buat mas susah. Mas cuma mikirin kalau mas harus ngelakuin cara apa pun, supaya Sakilla terkena akibat nya atas masalah ini."
__ADS_1
Annisa mendesis semakin mengeratkan lengannya di pinggang suaminya.
"Ih .. jangan buat aku khawatir mas. Kamu rela lakuin banyak cara biar mbak Sakilla terkena akibatnya. Tapi kamu nggak mikirin diri kamu sendiri."
Bram mengusap punggung Annisa.
"Selagi ada kamu mas nggak akan ke napa-napa. Kalau mas sedih atau kacau karena ingat yang dulu lagi. Mas cuma butuh pelukan kamu doang. Jadi, jangan pernah pergi ya dari sisi mas," pinta Bram dengan penuh harap sambil terus memandang mata Annisa.
Annisa mengangguk.
"Aku bakalan selalu ada di sini, aku bakalan terus ada di samping kamu selamanya. Jadi, kamu datang aja ke aku kapan pun itu. Karena aku bakalan terus ada di sini."
Keduanya tersenyum lebar dan saling berpelukan dengan sangat erat. Bram berulang kali mengecup puncak kepala Annisa yang begitu menenangkan.
"Mas," panggil Annisa masih memeluk suaminya
__ADS_1
"Iya!"
"Sebelum itu semua dimulai, aku boleh nggak ketemu sama mbak Sakilla?"