
Dua orang di dalam satu ruangan yang beberapa waktu lalu kelihatan mesra itu kini sangat berubah. Keduanya memilih diam tanpa berniat mengatakan apa-apa lagi. Pengakuan Annisa selama ini mampu memukul telak Bram yang selama ini menyepelekan masalah besar kayak gini dan Annisa juga terbuai sama rasa sedih sekaligus kecewa yang membuatnya memilih diam.
“Kita pulang sekarang,” titah Bram sambil mengambil jasnya yang tergantung
Annisa menurut dan mengikuti suaminya keluar ruangan.
Selama di lobby, tatapan terus tertuju ke mereka. Membuat Annisa tanpa sadar memberi jarak antara mereka. Ia melangkah sambil menunduk.
Selama di perjalanan juga, Annisa sama Bram sama-sama diam. Tidak ada yang mulai bicara sama sekali. Termasuk Annisa yang hanya memandang jalanan.
***
“Kamu ada masalah sama Annisa?” tanya mom Chika setelah menggiring anaknya ke halaman belakang rumah mereka.
“Mom ... kayaknya Bram ngelakuin kesalahan deh,” jujur Bram yang sudah memijat keningnya yang terasa pusing itu. “Annisa kecewa sama sikap Bram dan Bram baru sadar kalau selama ini udah nyakitiin Annisa. Mas nggak tahu kalau sikap mas bakal buat Annisa sampai kayak gini. Bram nggak tahu kalau Annisa tersiksa sama perbuaan Bram. Ternyata apa yang Bram kira baik buat Annisa, nggak buat istrinya Bram. Ini malah kebalikannya banget.”
“Maksud kamu?”
Dengan sedikit ragu, Bram menceritakan seruan Annisa di kantornya tadi. Tanpa mengurangi atau menambah apa-apa lagi, Bram jelaskan semuanya pada sang mommy. Berharap mendapat saran karena Bram beneran buntu, nggak tahu harus melakukan apa ke Annisa yang udah sangat kecewa sama dirinya.
“Ya ampun ada-ada aja .. ternyata beneran ketakutan mom selama ini kalau Annisa bakalan menagih ini. Di sini mom nggak mau menyalahkan kalian berdua. Karena kalian berdua sama-sama salah. Entah kamu yang nggak mau terbuka sama istri kamu atau Annisa yang selalu mikirin semuanya sendiri dan nggak bagi keluh kesahnya sama kamu. Jadi, kalau ada masalah kayak gini tuh malah semakin membesar, karena Annisa udah nahan kekesalannya selama ini. kamu paham kan maksud mom?”
Bram termenung untuk sesaat.
“Jadi makin besar gitu ya?”
“Nah ...”
Mommy Chika menatap Bram, anaknya yang selama ini tidak pernah peduli sama hal seperti ini kini kelihatan sangat pusing.
Perempuan berumur itu tersenyum maklum sambil mengangguk kecil.
“Sekarang kalau udah kayak gini, kamu mau ngelakuin apa? karena kamu nggak mungkin diem aja dan mommy nggak mau kalau hubungan kamu sama Annisa malah memburuk karena masalah ini.”
“Bram juga nggak mau.”
Mommy Chika duduk menyandarkan tubuhnya. Sedikit takjub sama keadaannya saat ini.
“Dulu ... di sini, tempat yang sama. Mom inget pernah jadi tempat cerita kamu, karena kamu mengaku suka sama lawan jenis untuk pertama kalinya dan sekarang tempat ini jadi saksi kamu curhat tentang istri kamu. Ah ... hidup cepat berlalu ya."
"Mom ..." Kenapa jadi kemana-mana kayak gini
"Maaf mom cuma sedikit nostalgia aja, jadi kamu udah tau mau ngelakuin apa sama Annisa?"
Bram menggeleng. Benaknya masih terus kepikiran wajah murung Annisa, tapi mau bagaimana juga sifat keras kepala nya mendominasi membuat Bram berusaha keras untuk gak peduli sama perasaan istrinya itu.
"Sebelum kamu mau minta maaf atau mau ngelakuin hal yang buat istri kamu baik lagi. Harusnya kamu paham kan sama kesalahan kamu? kamu tuh harus tahu apa yang kamu buat sampai istri kamu itu kayak gini."
Bram terdiam.
"Kalau kamu minta maaf tapi nggak tahu kesalahan kamu apa tuh ya buat apa?" seru sang mommy menyadarkan Bram. "Yang ada kalau kamu nggak sadar sama kesalahan kamu, nanti kamu malah ngulangin terus. Gitu aja sampai istri kamu capek."
__ADS_1
"..."
"Dulu aja ... pas sama Sakilla, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Deket banget sama dia, jadi pendengar yang baik. Pokoknya kamu udah beneran pas untuk di definisiin suami yang baik. Tapi ternyata ada aja yang nggak kamu tau. Kamu ditipu habis-habisan sama mantan istri kamu itu. Oh iya," seru mommy Chika yang jadi ingat sesuatu karena bahas Sakilla. "Masalah kamu sama Sakilla udah sampai mana? kenapa kayak nggak ada apa-apa? Kamu beneran nggak bela dia kan?"
"Mana ada mom ..."
"Mommy takut aja, karena nggak ada yang pantau kamu. Kamu jadi seenaknya dan bela dia lagi. Mom nggak mau lihat Sakilla biasa aja setelah semua yang dia lakuin."
"..."
"Yang kayak gini, mom terkadang juga nggak suka kalau kamu udah kayak gini. Nggak terbuka sama mommy. Ya, kalau mommy sendiri cukup kecewa tapi ya sudah lah. Tapi kan beda sama istri kamu. Mungkin dia mau kenal kamu lebih dalam, tapi kamunya sendiri malah kayak gini."
"Ya maaf mom," sesal Bram sambil mengusap canggung tengkuknya.
"Minta maaf sama istri kamu, bukan sama mom."
"Iya nanti Bram minta maaf sama Annisa, tapi apa yang harus kamu lakuin."
Bukannya menjawab, mommy Chika malah berdiri dan menepuk tengkuk sang anak.
"Untuk itu kamu pikir sendiri ya," ucapnya membuat Bram menghela napas lelah. "Mommy nggak mau terus cekokin kamu, kamu udah besar. Cari solusi dari masalah yang kamu buat. Ini pernikahan kamu, mommy nggak mau terus ikut campur."
mommy Chika meninggalkan anaknya yang kini hanya bisa pasrah.
Bram menghembuskan napas kasar.
"Ya ampun ... apa yang harus aku lakuin biar dapet maaf dari Annisa?"
Begitu membuka pintu kamar Rama, ia melihat Annisa yang sedang duduk bersama anaknya. Bram sempat kepikiran untuk putar balik, tapi tidak jadi. Ia memilih masuk dan duduk di kursi meja belajar anaknya sambil menatap dua orang kesayangannya saat ini.
"Ayah ..."
"Iya kenapa?" balas Bram. "Kamu mau sesuatu? mau main bertiga? atau mau jalan-jalan bertiga? Nanti ayah wujudin. Mau sekarang juga hayu!" Mumpung ada kesempatan kan? Bram bakalan memakai Rama untuk mendapat maaf dari Annisa
Tapi wajah acuh Annisa dan gelengan Rama membuat Bram menghela napas pelan.
"Ayah aneh!" seru sang anak
"Ayah mau tanya sesuatu deh sama Rama. Siapa tahu Rama udah di ajarin, jadi boleh kan ayah tanya sesuatu sama Rama?" bujuk Bram lagi membuat anaknya itu mengangguk.
"Nanya apa yah?"
"Tuhan marah nggak kalau kita marah sama temen kita?" pancing Bram sambil meneliti wajah istrinya. "Kalau orang marah, terus temennya minta maaf. Itu harus di maafin atau enggak?"
"Ya dimaafin dong!"
"Tuh kan ..."
Sayang, Annisa malah sibuk sendiri dengan lego Rama. Membuat Bram menghela napas sedih. Lantaran istrinya itu tidak menanggapi apa-apa selain keningnya yang semakin mengerut.
"Memangnya siapa yah yang marah?"
__ADS_1
"Enggak ... ayah cuma mau nanya aja sama kamu. Terus kalau nggak di maafin gimana? nanti—
BRUGH!
Annisa menaruh lego dengan kasar dan meninggalkan Dua laki-laki itu begitu saja. Bram menelan saliva. Ini dia salah lagi ya? Bram mengacak kasar rambutnya. Ternyata usaha dia malah membuat mood Annisa semakin buruk.
"Bunda kenapa?" tanya Rama menyadarkan laki-laki itu.
"Enggak ... mamah nggak ke napa-napa. Kebelet kali, makanya langsung keluar gitu."
Dengan wajah polos Rama hanya mengangguk saja dan menatap mainannya lagi. Sama sekali tidak sadar kalau ayahnya sedang sangat pusing.
"Ayah ke depan dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan sendiri di sini?"
"Dulu juga pas mamah belum dateng, aku sendirian terus kok," sindir Rama membuat laki-laki itu semakin merasakan nggak enak di hatinya.
"Iya .. maafin ayah ya yang dulu selalu ngabaiin kamu dan nggak peduli gitu. Ayah belum bisa jadi ayah yang baik. Ayah minta maaf ya."
"Ih kok jadi minta maaf, Rama kan bercanda!"
Bram tetap merasa ini salahnya karena sudah menyia-nyiakan Rama dari dulu dan selalu sibuk sendiri. Bram mencuri kecupan di kening Rama sebelum melangkah keluar.
Begitu keluar Bram langsung mencari keberadaan Annisa. Hingga langkahnya terhenti saat mendapati Annisa yang sedang membuat sesuatu di dapur. Laki-laki itu tidak berani mendekat sama sekali.
Seolah semua keberaniannya direnggut hanya melihat punggung wanita yang selama ini selalu dia sakiti.
"Maaf Annisa."
Dengan segala keyakinan, Bram mendekati Annisa dan berdiri tepat dibelakangnya. Tangan laki-laki itu melingkari tubuh Annisa, tidak ada protes sama sekali karena Annisa terus fokus sama pisaunya.
Bram menghirup aroma tubuh Annisa dalam-dalam, Ah ... sangat menyenangkan dan menenangkan.
Kepalanya ia dusel di ceruk leher perempuan itu. Mendapat atensi itu, Annisa sedikit memberontak. Tapi kalah sama kekuatan Bram yang sedikit menggelitik lehernya itu.
"Mas minta maaf," ucapnya sambil menaruh wajahnya di bahu Annisa. Mulai menatap kerjaan sang istri.
"Kamu marah?"
Annisa menggeleng pelan.
Melihat itu membuat Bram sedikit geregetan dan menarik tubuh Annisa hingga ke meja yang minum peralatan masak. Bram berhenti dan mendadak membalikkan tubuh Annisa, menatap wajahnya dalam beberapa detik sebelum secepat kilat mengangkat tubuh istrinya ke meja itu tanpa sempat Annisa berseru protes, karena Bram yang mengecup lembut bibir ranumnya.
Annisa yang kaget tidak bisa apa-apa selain memejamkan mata, menikmati atensi yang diberikan Bram.
Tidak ada gairah panas, hanya ada ketenangan yang diberikan Bram. Bram sama sekali tidak ******* dan hanya mengecup singkat. Kini keduanya berusaha menyamankan diri. Setelah kecupan singkat selesai, Bram membawa Annisa ke pelukannya. Mengusap belakang kepala sang istri itu.
Betapa sayang laki-laki itu sama istrinya. Tidak ada niatan untuk menyakiti Annisa, tapi ternyata sikapnya yang kayak gini udah membuat Annisa sedih dan merasa nggak dianggap.
Bram melepas pelukan dan menangkup wajah Annisa yang memerah itu.
"Jangan diemin mas ya, mas nggak suka ..."
__ADS_1