Istri Dadakan

Istri Dadakan
Video Call


__ADS_3

"Kamu kenapa? Coba jelasin sini sama mas. Istri mas tuh lagi mikirin apa, sampai cemberut terus kayak gini."


Bram memosisikan ponselnya menyandar jadi bisa melihat langsung wajah istrinya yang keliatan sedang bt. Tadi juga rapat sedikit molor membuat Bram sedikit gelisah dan baru sekarang bisa menghubungi istrinya itu.


Saat rapat tadi, pikiran Bram terus berkelana ke tempat lain. Dia takut kalau istrinya ke napa-napa dan sekarang ia baru bisa lega saat melihat istrinya. Walau hanya sebagai video call saja. Belum bisa pulang, karena masih banyak yang harus Bram kerjakan di kantor.


"Mas ih ...," jawab Annisa di seberang sana. "Katanya sibuk, kok nelepon aku? terus tumben banget sampai video call kayak gini. Kamu nggak ke napa-napa kan?"


Bram terkekeh.


"Mas baik-baik aja. Harusnya mas nggak sih yang ngomong gitu sama kamu?" sarkas Bram sambil alisnya terangkat. "Kamu kenapa? kok mas denger kabar kalau kamu lagi gak baik-baik aja. Oh ya ... udah makan sama nyemil buah? mas kan udah bilang, kalau ada masalah tuh di ceritain sama mas. Bukannya di pendem sendiri sampai kamu lupa waktu makan kayak gini."


Annisa hanya terkekeh.

__ADS_1


"Tapi aku udah makan kok," jawab Annisa supaya Bram tidak marah lagi.


"Iya karena mas suruh dulu kan? kalau mas nggak minta tolong sama mbak di rumah. Pasti sampai sekarang kamu belum makan kan? jangan di ulang lagi ya Annisa. Mas gak suka kalau kamu udah begini."


Bram menghela napas.


"Ingat, kalau sekarang bukan cuma kamu doang. Tapi ada dedek bayi di perut kamu. Kamu harus rawat diri kamu sama dedek. Mas nggak mau kalau kalian sampai sakit. Jadi, tolong turunkan ego kamu dan tetep lakuin apa yang mas minta. Kalau kamu lupa, kamu bisa ambil jadwal yang udah mas tulis di laci kamar. Oke?"


Memang waktu iri, Bram mengetahui kalau Annisa selalu melupakan jadwal penting dalam menjaga sang anak.


"Iya mas ... mas kapan pulang?" tanya Annisa dengan sedikit merengek.


Ah, hati Bram seakan memberontak. Dia juga mau pulang. Tubuh lelahnya juga ingin berbaring di kasur yang super nyaman. Bram juga mau memeluk Annisa dan menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi favoritnya itu.

__ADS_1


Bram cemberut melihat wajah istrinya yang sudah memajukan bibir bawahnya.


"Nanti ya sayang, mas juga mau pulang dan meluk kamu terus. Tapi mas beneran nggak bisa. Sebenarnya mas bisa aja manfaatin kekuasaan mas buat pulang. Tapi mas pasti bakal di cap gak profesional."


Annisa mengangguk di seberang sana.


"Iya mas, nggak apa-apa. Mas kerja aja, akunya aja yang lagi kangen sama kamu. Udah abaikan aja. Video call gini aja udah cukup banget buat aku."


Bram terkekeh.


Masih dengan panggilan yang menyala, Bram beralih untuk menyalakan laptopnya. Ia mengurus hasil rapat tadi sambil sesekali merespon Annisa yang terus bercerita.


Setidaknya dengan cara seperti ini membuat mereka jadi merasa terhibur.

__ADS_1


sampai Bram kembali ingat niat awal untuk menelepon. Ia menoleh ke arah ponsel.


"Oh iya, sebenarnya kamu kenapa? tadi mas belum dapet jawabannya. Jadi, kenapa sedari tadi muka kamu ditekuk terus kayak gini? hmm ..."


__ADS_2