Istri Dadakan

Istri Dadakan
Berlalu


__ADS_3

Tak kuasa Annisa melihat Rama yang terus menangis. Berbagai cara sudah Bram dan Annisa lakukan untuk menenangkan anak itu, tapi tidak membuahkan hasil sama sekali. Sekarang, mereka tidak tahu lagi harus melakukan apa selain menunggu Rama lelah dan berhenti menangis.


Akhirnya,


Setelah satu jam menunggu, Rama sudah tertidur di gendongan Bram dan kedua orang dewasa itu memilih langsung masuk mobil dan meninggalkan tempat persidangan dengan cepat.


"Kayaknya dia masih kaget banget," ucap Annisa sambil menatap sang anak dengan penuh rasa prihatin. "Ngeliat Rama yang gini, aku jadi nyesel ngajak ke sini. Ya ampun, aku gak pernah lihat Rama sampai sesedih dan sehisteris tadi."


"Dia juga seperti itu pas kamu waktu itu pergi."


Annisa refleks menoleh. "Iya kah mas?"


Bram mengangguk.


"Iya atuh ... kamu salah satu orang yang sangat berarti di hidupnya. Jadi, gak ada yang salah kalau memang dia sedih dan histeris pas kamu pergi. Waktu itu ... mas sampai bingung harus apa. Ya akhirnya, mas milih kayak tadi. Mas cuma bisa nunggu sampai dia capek dan tidur."

__ADS_1


Annisa termenung. Tangannya refleks mengusap rambut Rama yang sudah penuh dengan keringat. Ia juga mengusap sisa air mata di pipi Rama dengan lembut.


"Pasti Rama ngerasa bersalah karena awalnya udah cuek sama mbak Sakilla. Makanya pas mbak Sakilla dibawa pergi, ia bingung harus apa. Karena masih banyak yang mau anak ini omongin dan ya akhirnya dia nangis ..."


"Sudah lah, jangan terlalu di pikirin. Sudah berlalu juga."


Annisa mengangguk kecil.


"Iya mas ... cuma kasihan aja. Tapi seenggaknya dengan peristiwa ini. Semua masalah jadi selesai. Hubungan Rama jadi baik sama mbak Sakilla. Mereka udah akur dan nggak ada lagi yang bawa-bawa masalah ini lagi dan aku harap juga ke depannya, akan selalu begini. Mereka akir atau nanti Rama mau diajak buat jenguk mbak Sakilla."


Bram yang sedang menyetir sampai menoleh mendengar penuturan sang istri. Tanpa sadar dia tertawa sambil terus menggeleng kecil.


Annisa sedikit tersinggung. "Maksud kamu?" seru Annisa dengan sedikit sewot.


"Ya ... begini aja harusnya kamu udah bersyukur karena terlewati dengan baik. Waktu itu, kamu mau mereka saling memaafkan bukan? dan sekarang semuanya terwujud. Terus masa iya kamu meminta sesuatu lagi. Jangan terlalu berharap. Takutnya Rama yang terpaksa lagi dan jatuhnya gak ikhlas jalanin ini semua."

__ADS_1


Ia diam, termenung dan akhirnya mengangguk kecil. Benar kata Bram dan Annisa gak bisa menyangkal sama sekali selain setuju.


"Benar kata kamu, mas ..."


Lengan kiri Bram menjangkau Annisa dan mengusap surai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Sudah lah, semuanya udah berlalu. Jangan kamu pikirin lagi. Yang penting sekadang semuanya udah beres kan? lupakan semuanya dan kita masuk ke era baru di hidup kita. Kamu cukup fokus aja sama kehamilan kamu. Udah masuk ke bulan-bulan akhir kan? kota fokus ke dedek aja ya ... mas gak mau kamu mikirin hal kayak gini lagi."


Annisa mengangguk.


"Iya mas ... maaf ya kadang aku malah buat kamu kesel. Aku gak bermaksud kayak begitu."


Bram mengangguk kecil.


"Tidak apa-apa, oh iya nanti kita harus belanja keperluan dedek. Nanti mas cari waktu supaya kita bertiga bisa pergi bareng ya ..."

__ADS_1


Annisa mengangguk dengan sangat excited.


"MAU MAS!"


__ADS_2