Istri Dadakan

Istri Dadakan
Rasa Bersalah Itu


__ADS_3

Rama masih enggan menjawab.


“Mamah rasa janjinya gak seperti ini deh. Kamu mau maafin bunda kamu, terlepas rasa kesal yang kamu punya itu. Mamah juga inget kalau kamu bilang mau maafin asal bunda kamu duluan yang minta maaf. Tapi sekarang mana? kenapa kamu gak mau nepatin janji yang kamu buat sendiri? Kalau memang gak mau dari awal. Harusnya kamu di rumah aja, gak usah ke sini.”


Rama tersentak.


“Udah mbak ngomong aja. Aku nunggu di depan pintu, biar masih bisa lihatin Rama dari sana. Udah mbak ngomong aja yang mau mbak omongin.”


Sebelum pergi Annisa menyempatkan diri mengusap pipi Rama, anak itu mendongak dan ia melempar senyuman tipis.


“Mamah gak marah tapi jangan kecewakan mamah ya. Ingat, habis ini kamu boleh beli banyak ice cream karena udah hebat banget lewatin ini semua. Oke?”


***


Sakilla kembali duduk di hadapan Rama. Sebuah meja yang menjadi pembatas mereka tak menutup Sakilla tetap merasa bahagia atas kesempatan yang satu ini.


“Rama ... apa kabar anak bunda?”


“Baik ...”

__ADS_1


Suara Rama yang sangat kecil tak mampu menutupi senyuman Sakilla saat ini. Perempuan dewasa itu memaklumi semua tingkah Rama.


"Bunda boleh meluk kamu? sebentar saja ..."


Tak ada jawaban, tapi Rama turun dari kursinya dan menghampiri Sakilla. Tanpa mengatakan apa-apa, Rama memeluk erat Sakilla. Perempuan dewasa itu kaget. Sempat bingung, tapi suara tangisan Rama membuat Sakilla melepas pelukan dan menangkup wajah anaknya.


"Hey ... anak bunda kenapa nangis? jangan nangis. Ini bukan salah kamu. Ini pure salah bunda yang udah jahat sama kamu. Jangan nangis ... jangan, bunda mohon."


Rama menggeleng.


"Bunda, maafin Rama—


"Bu— bunda?" suara Sakilla bergetar mendengar panggilan itu. Ia mengguncang tubuh anaknya dan menatap langsung mata sang anak. "Kamu beneran manggil begitu? ya ampun nak."


"Bunda ... maafin Rama ya, karena udah jadi anak nakal."


Sakilla menggeleng.


"Enggak! bukan kamu yang harusnya minta maaf. Tapi bunda, bunda yang salah di sini. Jadi ... bunda minta maaf ya sama kamu. Maaf karena bunda gak pernah ada di sisi pertumbuhan kamu. Maaf karena bunda udah ngebohongin kamu. Maaf juga karena bunda udah ngomong banyak hal jahat sampai buat kamu terluka."

__ADS_1


"..."


"Jadi, bunda beneran minta maaf. Maafin bunda ya. Bunda harap begoti dewasa kamu gak akan pernah jadi kayak bunda. Kamu harus tumbuh jadi orang baik dan hebat kayak ayah dan mamah kamu. Tumbuh dengan baik ya nak ..."


Rama mengangguk.


"Juga ... kamu gak usah khawatir, bunda gak akan pernah datang lagi di hidup kamu. Kamu gak usah mikir macam macam lagi. Karena mulai hari ini kita akan kepisah lama."


"Aku boleh minta peluk?"


Sakilla tentu saja mengangguk dan langsung memeluk anaknya dengan begitu erat.


"Makasih karena udah lahirin Rama ke dunia ini," bisik Rama membuat Sakilla semakin menangis. "Makasih karena bunda udah hadirin Rama di dunia ini sampai Rama banyak ketemu sama orang baik."


Tiba-tiba saja seorang polisi datang dan mengatakan waktu pertemuan sudah berakhir. Karena Sakilla harus dibawa pergi lagi.


"Sama-sama, sayang ... bunda juga makasih karena kamu udah tumbuh dengan baik."


Tangan keduanya masih saling bertaut, tapi lama kelamaan semakin terlepas karena polisi memaksa Sakilla untuk pergi membuat Annisa sigap masuk dan memeluk anaknya erat.

__ADS_1


"Aku boleh kan jenguk bunda lagi?"


Dari jauh Sakilla mengangguk. "Boleh nak, boleh!"


__ADS_2