Istri Dadakan

Istri Dadakan
Menghadapi Bersama


__ADS_3

"Mas Bram ... aku boleh izin nggak buat nelepon ibu?"


Bram yang sedang disibukkan dengan laptopnya langsung mengalihkan pandangan, menatap istrinya yang sedang duduk di meja rias kamarnya.


Ah iya, mulai malam ini. Annisa sudah resmi akan tidur bersamanya. Ini juga karena permintaan Rama yang merasa aneh karena orang tuanya tidur berpisah. Maka dari itu, akhirnya mereka memilih untuk tidur bersama. Anggap saja mereka harus belajar, walau masih terkesan canggung.


Terutama Annisa, yang bahkan sejak tadi sudah bersi keras untuk menetralkan degup jantungnya. Perempuan itu hanya tidak ingin Bram sampai mengatahui kecemasan hanya karena hal seperti ini.


"Annisa ... menurut kamu, kalau nanti ada hal yang buat kamu sakit atau sedih. Tentang Sakilla atau kakak kamu. Kamu bakalan marah sama mereka atau diam saja? Karena jujur saja, sepertinya pegawai mas sudah mulai melihat titik keberadaan mereka dan sekarang sedang berusaha untuk cari tau. Karena pegawai mas ini nggak mau kalau sampai salah tangkap. Bikin malu saja kan?"


Annisa termenung.


Bayangan tentang kakaknya yang ada di depan dia setelah menimbulkan banyak masalah, nggak pernah ada di bayangan Annisa sama sekali. Perempuan itu hanya takut kalau nanti ke depannya dia akan mengamuk jika bertemu dengan kakaknya yang sudah sangat menyakiti hatinya.

__ADS_1


"Aku bingung, mas."


Helaan napas Bram kembali terdengar membuat Annisa ikut menunduk. "Kita sama seperti sedang di hadapi dua pilihan ya mas. Bingung juga aku, mas. Ternyata masalah ini tuh nggak sekecil yang aku kira."


Bram mengangguk.


"Kamu beneran hebat banget. Mungkin mas hanya ditipu sama istri mas, mas cuman di bohongi. Dan paling banter ya mas tuh kecewa. Tapi mas nggak di rugikan apa pun kan? Kalau kamu ... sudah di bohongi, kecewa, mendapat tuntunan dari orang tua, cemoohan dari orang tua kamu. Bahkan yang paling utama. Kamu tuh sudah ditipu habis habisan sampai posisi kakak kamu membuat kamu kesulitan. Anggap aja ... kalau kamu nggak bertemu sama mas. Mungkin sekarang kamu udah menikah sama rentenir itu."


Annisa mengangguk.


"Hahah kita sama-sama beruntung, mas."


Bram menepuk pinggiran kasur membuat Annisa mengikuti perintah suaminya itu dan duduk di samping Bram.

__ADS_1


"Kita sama-sama di khianati sama dua orang yang kita cintai. Mas sama mantan istri mas dan kamu sama keluarga kamu sendiri. Kita sama-sama sulit menerima fakta ini. Tapi karena kita bersama. Mas harap kita bisa melewati ini semua dengan baik ya ..."


Annisa tersenyum simpul dan mengangguk.


"Kamu mengajari aku banyak mas dan aku beneran beruntung banget karena hal ini. Rasanya aku selalu lega kalau udah dekat sama kamu. Padahal ... misal lagi banyak masalah yang menimpa aku. Atau aku lagi flashback yang buat aku kepikiran lagi. Tapi kamu selalu berhasil untuk nguatin aku."


Bram terkekeh dan merentangkan kedua tangan.


Tanpa pikir panjang, Annisa langsung menerima ajakan pelukan suaminya. Dua orang yang mulai tumbuh perasaan satu sama lain itu kini saling berpelukan. Dengan Annisa yang sangat terharu karena akhirnya ada di titik ini dan Bram yang bersyukur atas di kirimnya wanita sebaik ini.


"Kita harus saling menguatkan satu sama lain ya. Karena mungkin nggak akan lama lagi, mas bakalan membawa Sakilla dan kakak kamu ke sini. Dan kita harus siap sama segala hal yang akan terjadi untuk ke depannya."


"Tapi mas—

__ADS_1


Bram yang sadar akan pembicaraan Annisa langsung saja mengangguk tipis.


" Tenang aja sayang, apapun yang terjadi ke depannya. Mas akan selalu ada di sisi kamu," papar Annisa yang pada akhir nya membuat perempuan itu ikut tersenyum dengan penuh rasa tenang.


__ADS_2