Istri Dadakan

Istri Dadakan
Rencana Pertama?


__ADS_3

“Belum tidur kan, mas?” bisik Annisa sambil melirik suaminya yang mengintip Rama dari celah pintu kamar anak itu. Annisa memiringkan wajah, mendekati suaminya. Ikut penasaran karena sejak beberapa menit yang lalu. Bram hanya menatap dalam kamar anaknya dari celah yang ada.


"Belum ..."


Bram menoleh pada istrinya yang sudah memeluk guling. Karena setelah mereka pikirkan, malam ini mungkin waktu yang tepat untuk memiliki waktu bersama dengan Rama. Ini salah satu yang menjadi rencana mereka.


Mereka akan berusaha menjadi orang tua yang selalu ada dan memberi banyak waktu untuk Rama. Mereka juga gak akan terus mengungkit masalah ini, membuat Rama jadi sedih. Selain itu ... rencana pertama mereka yang akan di lakukan mereka yaitu tidur bersama anaknya.


Dan malam ini lah waktunya.


"Kamu yakin kalau dia nggak bakal marah?" bisik Bram sambil mencondongkan ke wajah Annisa.


Perempuan itu tersipu dan buru-buru menjauhkan wajah dia lantaran merasa gugup, terlalu dekat dengan Bram. Tidak hanya itu wangi Bram yang menusuk indra penciuman membuat perempuan itu mabuk kepayang. Annisa hanya nggak mau kalau degup jantung dirinya sampai terdengar laki-laki itu.


Malu tau ...

__ADS_1


"Rama memang sedikit berubah. Tapi dia nggak ada niat buat bentak kita sama sekali. Ya, kalau dia kesal karena ulah kita. Kita pura-pura aja nggak peduli dan tetap ada di sana. Gampang kan? Namanya juga usaha. Nggak ada yang mudah sama sekali. Selain itu ... butuh efforts lebih."


Bram merenung dan mengangguk.


"Ya udah, biar mas duluan yang masuk. Kamu tunggu di sini aja," pinta Bram membuat Annisa menatap bingung.


"Kenapa nggak bareng aja?"


"Ada yang mau mas omongin dulu sama Rama. Anggap aja pembicaraan empat mata. Karena selama ini mas sama Rama belum ada ngomong sama sekali. Sekalian mas juga mau minta maaf sama anak itu. Mau gimana pun, yang buat Rama kayak gini tuh karena mas kan?"


"Enggak Annisa ... mas tahu kalau menurut kamu, kita pura pura aja nggak tahu sama masalah ini. Tapi, enggak ... menurut mas. Karena mau gimana pun, masalah ini mulai timbul. Rama harus mengerti apa yang terjadi. Dan kata kamu, mom udah kasih tau yang sebenarnya sama anak itu. Tapi, tetap saja ... nggak ada yang tahu kan? Mas juga yang harus jelasin semuanya dari awal."


Annisa menarik napas dalam.


"Jangan memaksakan ya mas. Aku nggak mau Rama nangis lagi. Aku beneran khawatir karena lihat kantung mata dia yang benar-benar menghitam. Aku takut kalau Rama sampai sakit karena masalah ini ..."

__ADS_1


"Iya Annisa ... anak kita, anak kuat kok. Insya Allah Rama nggak bakalan sakit karena hal ini dan juga, kamu tenang aja karena Rama pasti bisa lewatin ini semua dan sekarang juga mas mau ajak bicara dia kan? Jadi ... mas harap Rama mulai membuka pikirannya dan nggak akan sedih lagi karena masalah ini."


Pada akhirnya Annisa hanya mengangguk. Berusaha percaya akan omongan suaminya.


"Gini aja deh ... mas minta tolong kamu untuk buatin minuman yang hangat atau apa gitu buat Rama. Jadi, setelah mas selesai bicara. Mas akan panggil kamu. Terus pas kamu masuk, kota nyemil dulu deh bentar sambil minum gitu. Baru tidur bareng ..."


/Tidur bareng/ Entah kenapa Annisa tersipu mendengar kata itu. Bukan bermaksud ke arah yang negatif. Hanya saja dirinya benar-benar sedang merasakan menjadi suami istri yang sebenarnya. Di saat selama ini mereka hanya tidur pisah dan berinteraksi layaknya teman dekat saja.


Dan, memang benar kata orang. Kalau anak akan menyatukan kedua orang tuanya. Mungkin ini yang sedang di alami sama dirinya. Ya ... Rama memang anugerah terindah dalam hidupnya. Walaupun Rama bukan anak kandung Annisa. Tapi Annisa sangat bersyukur karena sudah mengenal Rama jauh dari lama dan tidak hanya itu saja. Rama memberikan banyak lembaran kebahagiaan di hidupnya.


Lamunan perempuan itu terhenti di saat sebuah tepukan terasa di pundaknya. Annisa mendongak, menatap langsung mata suaminya itu.


"Kita harus sukses di rencana pertama kita ya Annisa ... semangat istri cantikku!"


Blush! seketika rona merah memenuhi wajah Annisa. Tanpa menjawab apa-apa, perempuan itu langsung berbalik dan berlari ke bawah membuat Bram terkekeh kecil. Merasa gemas bukan main.

__ADS_1


__ADS_2