
Sungguh,
Annisa tidak akan pernah bisa marah sama Rama. Kendati anaknya itu telah berbohong di belakangnya dan saat di depan dia, Rama bakal berpura-pura polos dan tidak tahu. Annisa sama sekali tidak bisa membencinya.
Rasa sayangnya kepada Rama jauh lebih besar ketimbang amarah. Annisa hanya kecewa dan untuk meminimalisir rasa amarah itu, Annisa memilih untuk pergi sejenak. Dia ingin menenangkan diri dan pulang ke rumah adalah hal yang paling baik.
Walaupun nanti Annisa akan bertemu dengan orang tuanya, itu tidak masalah sama sekali. Yang penting Annisa memiliki waktu tenang sendiri.
Saat ini,
Annisa sedak sibuk menyiapkan baju, menumpuknya jadi satu tas besar walaupun perempuan itu sama sekali belum mendapat izin dari sang suami. Annisa merasa dirinya harus pergi mau ada izin atau tidak, karena sungguh perasaannya masih sakit kalau mengingat dirinya di bohongi sama orang yang sudah dia percaya.
Ia tertawa kecil.
“Di kota ini, aku cuman punya mas Bram sama Rama. Mereka yang udah buat aku ngerasa aman di tengah hiruk pikuk kota yang buat aku kewalahan,” papar Annisa pelan. "Tapi mereka juga yang buat aku kecewa kayak gini."
Perempuan itu mengangkat bahu pelan. Bingung harus bereaksi seperti apa sama kondisinya saat ini.
__ADS_1
Pintu diketuk dan Rama masuk dari luar.
"Mah ..."
"Iya?" jawab Annisa tanpa menoleh sama sekali. Sungguh hati Annisa masih sangat kacau. Dia nggak mau malah nangis di hadapan Rama. Makanya perempuan itu berusaha fokus sama lipatan baju yang sebenarnya sudah rapih sejak tadi.
"Mamah beneran mau pergi? tadi ayah udah bilang sama aku. Kenapa mamah pergi? mamah udah nggak sayang sama Rama lagi? Rama ada salah sama mamah?"
Annisa menarik napas pasrah dan dengan perlahan, dia memandang wajah sang anak.
Rama menatap curiga.
"Mamah nggak bohong kan?" tanya Rama. "Mamah nggak ngumpetin sesuatu sama Rama?"
Annisa tersenyum tipis. Pengin rasanya dia berteriak kencang kepada Rama dan Bram, kalau mereka yang udah menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tapi ia hanya bisa diam saja. Menunggu Bram sama Rama sendiri yang jujur. Kalau mereka memang tidak bisa jujur, ya Annisa hanya bisa memendam kekecewaan sendiri saja.
"Nggak ... mamah nggak bohong. Kamu nggak apa-apa kan mamah tinggal dulu?"
__ADS_1
"Ya udah," pasrah Rama yang sebenarnya tidak suka sama fakta ini. "Asal mamah hati-hati. Dan cuma satu minggu aja ya mah. Jangan lebih, nanti Rama kangen."
Annisa mengangguk, ia merentangkan tangan membuat Rama langsung memeluk Annisa dengan sangat erat.
Dielusnya punggung sang anak.
"Jangan pernah kecewakan mamah ya. Mamah nggak suka sama orang yang bohong. Mamah lebih suka kalau orang jujur walau menyakiti mamah. Ketimbang orang yang malah diam-diam."
Annisa merasa tubuh Rama menegang di pelukannya.
Tapi perempuan itu berpura-pura tidak peduli dan terus membisikkan kata baik untuk Rama.
"Iya mah ..."
Annisa memejamkan mata sejenak lalu melepas pelukan mereka. Ia mengangkat tas besar yang ada di atas kasur itu.
"Kita ke bawah sekarang ya. Mamah mau pamit sama ayahmu dan oma."
__ADS_1