
Annisa bangun dan merasa matanya sangat bengkak. Perempuan itu kembali teringat masalah yang di lakukan orang tuanya. Langsung saja dia turun dari kasur dan keluar. Tubuhnya terkesiap melihat Bram yang baru mau masuk ke dalam kamar.
"Ma— mas?" Ucapnya terbata sambil membuka pintu lebar-lebar biar suaminya masuk
"Hmm?" Bram mendatangi Annisa. "Mas boleh peluk kamu nggak?"
"Hah?"
Bram menubruk tubuh istrinya dengan erat, mencurahkan segala emosi yang ada di dirinya. Aroma tubuh Annisa kini menjadi favoritnya. Diam-diam Bram mengecup leher Annisa buat perempuan itu sedikit mengerang dan terus mendorong tubuh Bram, merasa geli.
"Mas ih ..."
"Kalau ada apa-apa itu cerita ya Annisa, jangan diam saja. Mas nggak suka sama sekali."
Tubuh perempuan itu tersentak. Ia menatap wajah Bram yang masih memeluknya dengan mata terpejam. Annisa menelan saliva, menganggap Bram mengetahui masalah ini.
"Mas ... kamu tahu?"
"Maksudnya?" jawab Bram pura-pura tidak tahu. "Ini mas ngomong gini tuh karena tiba-tiba mas sadar, kalau selama ini mas mengenal Sakilla. Mas menganggap diri mas tau semuanya, tapi ternyata masih ada yang nggak mas tau sampai ternyata Sakilla malah bisa ngelakuin hal yang gak mas bayangin sama sekali," alibi Bram
"Oh iya, tadi gimana? Kamu nggak macam-macam kan sama mbak Sakilla? Terus, kenapa kamu pulangnya agak lama??? Kamu nggak ngelakuin hal yang jahat ke mbak Sakilla kan?"
Bram mengerang dan mengendurkan pelukannya. Ditatap nya wajah Annisa yang polos.
"Dia udah jahat loh sama kita semua, masa kita nggak boleh bales ke dia?" tanya Bram kesal.
Perempuan itu terkikik.
"Bukannya begitu mas. Aku cuma mau nggak mau kita jadi orang jahat untuk ngeberantas masalah ini. Kita damai ajaa. Maksudnya tuh kayak, ya udah ... mau marah juga nggak bakal ngembaliin semuanya kan? Kalau aku ngamuk terus siksa mbak Sakilla juga nggak bakalan buat kak Namira itu balik. Jadi lebih ke ikhlas aja."
Bram membawa Annisa duduk di kursi lalu menariknya mendekat ke arah Bram yang sudah duduk di pinggiran kasur.
"Mas tau ... mau mas marah juga nggak bakal ngembaliin waktu mas pas dulu hancur karena ulahnya. Tapi ini tentang kepuasan hati. Mas nggak akan puas sebelum lihat dia ngerasain apa yang mas rasain dulu."
Annisa mengangguk. Ia hanya bisa mengatakan seperti ini, tapi Annisa jelas tau kalau suaminya yang melewati semua ini sendiri. Annisa juga nggak tahu gimana sulitnya Bram menahan semua kekesalan yang tertanam di dalam hati dan jiwanya kan?
__ADS_1
"Mas ... aku boleh nanya?" tanya Annisa setelah memiliki keberanian.
"Silahkan. Tanya apa aja, kan mas sendiri yang bilang sama kamu kalau kota harus saling terbuka satu sama lain. Jadi, jangan pernah nyimpen masalah ini sendiri."
"Aku cuma penasaran satu hal ..." ucapannya terhenti. Annisa mengulum bibir bawahnya. Butuh keberanian besar untuk bertanya hal ini. Ia tatap suaminya dengan hati-hati. "Gimana perasaan kamu setelah ketemu sama mbak Sakilla, mas? maksudnya ... yang aku dengar dari semua orang itu, kalau kamu cinta mati sama mbak Sakilla. Apa perasaan itu masih ada sekarang?"
Bram tersenyum tipis.
"Kamu cemburu?"
Annisa terbelalak dan langsung mengelak. "Bukan ih mas, aku beneran penasaran banget sama kamu. Maksudnya, kalau kamu masih punya perasaan sam mbak Sakilla juga nggak masalah kok."
"Loh ... masa suaminya sendiri dibiarkan cinta sama wanita lain sih?"
Annisa menjadi kikuk sendiri. Ia mengusap tengkuknya, bingung harus menjawab seperti apa.
"Aku cuma penasaran ..."
"Oke sekarang mas jawab!" final Bram lalu membenarkan posisi duduknya. "Nggak ada perasaan berdebar sama sekali. Mas memang rindu, jujur aja ... mas penasaran sama kondisi dia selama ini. Tapi pas lihat dia ya cuma sekedar itu aja. Mas nggak yang jadi cinta lagi."
Tatapan Annisa yang meredup membuat Bram sedikit kelabakan.
Annisa tersipu tapi dia berusaha mengelak, tidak mau membuat dirinya terlalu berharap yang nantinya malahan menyakiti dirinya itu.
"Mas ..."
"Hmm?"
"Mana mungkin kamu bisa secepat itu cinta sama aku," papar Annisa lalu memainkan ujung bajunya. Berusaha menghilangkan rasa gugupnya. "Aku cuma perempuan biasa yang nggak punya apa-apa. Beda kayak kamu yang punya semuanya."
Bram mendengarkan saja, membiarkan sang istri mengeluarkan segala keluhannya.
"Kamu bisa dapet perempuan yang jauh lebih baik, cantik dan segala-galanya dari aku. Jadi, nggak usah bohong sama aku mas cuma buat nyenengin aku. Dianggap sebagai ibu sambungnya Rama aja udah bahagia kok. Kamu nggak usah bohong kayak tadi."
"..."
__ADS_1
Annisa semakin menunduk.
"Aku nggak mau buat diri aku makin berharap," ucap Annisa dengan sangat lirih, hanya seperti angin yang berhembus. Tapi kamar hotel yang sunyi membuat Bram dengan jelas mendengarnya. "Aku takut kalau jatuh cinta sendirian dan nanti kamu malah sama yang lain. Aku nggak mau."
"Hei," panggil Bram
Bram tersenyum tipis karena Annisa yang nggak mau menatap langsung ke arahnya. Dipegang dagu Annisa dan di bimbingnya untuk menatap langsung ke wajah Bram. Bram meneliti wajah istrinya yang sangat cantik itu. Ia sedikit terkekeh lantaran Annisa yang terus melirik ke sembarang arah, nggak berani membalas tatapannya.
"Mas nggak suka loh sama omongan kamu."
"Tapi ...
"Dari awal mas udah bilang sama kamu kalau mas serius sama kamu dan mau belajar mencintai kamu. Kamu masih nggak percaya sama semua omongan mas?"
Annisa menggigit bibir bawahnya dan menggeleng pelan.
"Kenapa bisa kamu nggak percaya?" tanya Bram lembut. "Hmm? apa karena wajah mas kayak seorang penipu buat kamu? apa mas kelihatan seperti pembohong ulung sampai kamu nggak mau percaya sama mas?"
Annisa buru-buru menggeleng.
"Terus kenapa? coba mas tanya. Ini sekalian kita ngomong empat mata ya. Ngomongin hal serius buat pernikahan kita, karena masih banyak yang harus di omongin berdua. Mas nggak mau kalau ada sesuatu yang nanti malah ngebuat hubungan mas sama kamu jadi buruk."
"..."
"Annisa?" panggil Bram lagi. "Cerita sama mas, kenapa kamu nggak pernah mau percaya sama semua janji yang mas buat? Kamu nggak suka sama mas? kamu terpaksa sama pernikahan ini?" ucapan Bram terhenti. "Atau ... ada laki-laki yang kamu sukai?"
Annisa buru-buru menggeleng untuk yang kesekian kalinya.
"Aku berani bersumpah kalau nggak ada laki-laki yang aku sukai selain kamu, mas."
Bram tersenyum lebar.
"Berarti kamu suka sama mas ya?"
Annisa mengerjap dan merutuki dirinya kesal, karena udah keceplosan kayak tadi.
__ADS_1
"Cie ... ketahuan nih suka sama mas."
Wajah Annisa semakin memerah. "Mas ih," rengeknyaa