
"Kamu beneran nggak mau mom sama dad ikut?" Mommy sedikit cemberut saat anaknya itu malah melarang dirinya untuk ikut. Padahal dirinya udah siap dengan seribu hinaan kasar yahh akan memojokkan perempuan itu.
mommy nggak akan membiarkan mantan menantunya itu lepas begitu saja. Walaupun pada akhirnya nanti anaknya nggak akan menghukum Sakilla. Tapi seenggaknya Sakilla harus merasakan karma dan terus kepikiran sama masalah yang dia buat sendiri.
"Mom ... kalau mommy ikut, terus siapa yang menunggu Rama di sini?"
"Tapi daddy harus ikut," papar daddy Bima dengan yakin.
"Tapi—
"Orang suruhan daddy juga udah ada di saja loh. Jadi, kamu nggak bisa larang daddy lagi. Ada yang mau daddy bahas sama orang daddy," alibi daddy Bima
"Ya udah daddy ikut," pilih Bram membuat Bima bertos ria tanpa merasa bersalah sama sekali. Ia malah menjulurkan lidah pada istrinya itu. "Yey ... mas bisa ketemu sama orang itu. Tapi kamu? nggak bisa ... bleee, kasihan deh kamu."
"Daddy!" Bram menarik lengan daddy nya yang masih terus aja meledak istrinya membuat mommy semakin cemberut
"Mom ... paham ya sama kondisi Rama di sini," ujar Bram dengan tertahan. "Mommy juga udah dengar kan apa yang Bram cerita kemarin."
"Memangnya kamu cerita apa?" sela Annisa yang baru datang sambil menyampirkan tas di bahh dan berdiri di antara mereka.
"Eh ... bukan apa-apa sih," balas Bram ambigu membuat Annisa mengerutkan kening. Tapi sedetik kemudian Annisa kembali masuk ke dalam untuk mengambil barang yang ketinggalan dan Bram langsung menghela napas lega lalu mengusap dadanya yang berdegup kencang.
"Memangnya istri kamu masih nggak tau?" tanya Mommy sambil melirik ke arah kamar utama itu.
Bram menggeleng.
"Biarin ini jadi rahasia antara aku sama Rama. Dia udah percaya sama ayahnya dan aku nggak mau bocorin gitu aja. Apa lagi ini libatin Annisa kan? Jadi aku nggak mau kasih tau ke Annisa."
"..."
"Bram cerita ke mom sama dad cuma pengin kalian tau kalau Rama udah dengar semuanya dan perasaan Rama selama ini. Makanya aku berharap mommy bisa mengerti, apa lagi di sini kondisinya Rama ini butuh teman untuk saling mengerti. Kalau nanti kita ikut semua, terus dia di sini yang ada Rama merasa di tinggalkan dan sedih lagi."
__ADS_1
Mommy Nadya mengangguk sedih, ada benarnya juga omongan dari anaknya ini.
"Aku yakin kalau Bram nanya Rama gimana kalau dia di tinggal sendirian. Pasti anak itu nggak masalah sama sekali. Tapi balik lagi. Kondisi Rama masih nggak stabil. Makanya Bram juga nggak mau egois. Tapi terserah mom saja, kalau mom masih maksa untuk ikut. Mom bisa ikut kami dan aku bakal suruh Annisa untuk ngalah dan nunggu di sini."
Mommy Nadya akhirnya setuju dan menepuk pipi Bram.
"Ya sudah, mom akan menunggu di sini. Kamu sama yang lain temui Sakilla. Kalau udah ada waktu biar mom yang ketemu sama dia. Karena ada banyak hal yang mau mom tanyain sama dia. Sungguh mom nggak bakal tenang kalau terus mendam ini."
Bram memegang tangan mommynya itu dengan penuh rasa terima kasih.
"Mom makasih ya karena udah berusaha ngertiin Bram. Bram janji nanti kalau ada waktunya, aku bakalan ajak mom buat ketemu sama Sakilla. Karena Bram juga nggak akan pernah biarin Sakilla pergi gitu aja, setelah semua perbuatan yang dia lakukan."
"Semangat ya nak, mom harap jangan pernah terpengaruh sama tipu daya mantan istri kamu. Kamu harus tegas sama dia. Mom nggak mau kalau selanjutnya kamu malahan balik sama dia lagi," peringat mommy Nadya yang masih ingat segimana bucin anaknya sama perempuan itu.
"Sayang tenang aja ya," sela daddy Bima. "Ada mas di sana, mas akan jaga anak kota. Mas yakin kalau ada yang nggak beres dari anak kita. Mas akan langsung kasih tau."
Mommy Nadya mengangguk, sedikit lebih lega.
"Mas."
"Maaf aku lama, Rama nggak biarin aku pergi. Aku nggak enak, dikira kalian udah mau pergi. Maaf ya mas kalau aku lama banget," ucap Annisa dengan rasa bersalah yang tinggi
"Ih santai aja, orang mas juga baru selesai cerita sama mom kok." Bram berbalik dan mengusap keringat yang turun di pelipis istrinya. "Sampai keringatan gini, padahal mau sampai satu tahun ke depan kamu di sana. Mas bakalan tetap nunggu kamu. Karena hati mas cuma untuk kamu. Bukan yang lain."
Annisa mencibir sambil memukul lengan suaminya yang malah bercanda pas dirinya lagi panik kayak gini.
"Jangan dibawa serius, Annisa. Kita memang mau ketemu sama orang itu dan kamu juga pasti gugup. Tapi biasa aja, jangan malah nekanin diri kamu. Yang ada kamu stress."
Mereka terus berbincang sampai keluar hotel dan masuk ke mobil. Mereka langsung berkendara menuju tempat yang di maksud Bram.
"Tapi tetap aja stress tau."
__ADS_1
Daddy Bima menggeleng pelan. "Masalah ini jangan malah buat kamu jadi sakit," daddy Bima memperingatkan Annisa
Annisa mengangguk.
"Tapi ... aku tuh bingung dad. Memang banyak uneg-uneg yang mau aku keluarin buat mbak Sakilla. Tapi takutnya aku malah nggak sanggup pas hadap hadapan sama mbak Sakilla gitu. Takutnya malah kelepasan."
Daddy Bima mengangguk seraya menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia memijat pelan keningnya.
"Memang ya, baru aja ketemu semua orang yang kena korbannya langsung sibuk sendiri. Masalahnya Sakilla ini nggak cuma nyakitin satu sampai dua orang doang. Tapi banyak orang. Jadi pas ketahuan gini, ya dia kena balesan nya sekalian gini. Ya ampun, ada ada saja ... padahal muka Sakilla tuh polos banget. Tapi ternyata dia malah ngelakuin hal sejahat ini. Daddy sama sekali nggak menyangka sama sekali."
"Apalagi Bram."
"Tapi Annisa tenang aja, ada Bram sama daddy di sisi kamu. Kamu nggak usah khawatir. Ungkapin aja isi hati kamu dan keluarin semua kekesalan kamu sama Sakilla. Kalau udah agak berlebihan, pasti daddy sama Bram langsung ingetin kamu."
"Iya, makasih banyak ya dad. Maaf banget ngerepotin."
"Nggak ada yang ngerepotin sama sekali. Daddy malah beruntung, karena dengan hadirnya kamu. Kami semua jadi tau perbuatan buruk Sakilla. Coba aja kalau waktu itu kamu nggak ketemu sama Bram. Mungkin sampai sekarang kami sekeluarga masih ditipu sama perempuan itu."
Annisa hanya membalas dengan senyuman tipis.
***
Begitu turun dari mobil Annisa langsung melihat rumah di depannya. Hanya sebuah rumah sederhana yang kelihatan sangat nyaman. Dengan langkah kecil, Annisa menghampiri tanaman bunga yang Annisa sangat tahu itu. Tubuhnya terdiam di depan tanaman indah itu. Ia menarik napas pelan.
"Sayang? Kenapa?" tanya Bram menghampiri Annisa
"Ini ... dulu kakak pengin banget punya taman kecil di rumah dan ternyata impian kakak terwujud. Aku ikut bahagia deh ngebayangin kakak yang pagi-pagi udah sibuk di halaman rumahnya buat ngurus tanaman. Aku jadi ngebayangin kaka nih."
"Ikhlas ya sayang ..."
Annisa mengangguk sembari berbalik ke arah Bram.
__ADS_1
"Aku udah berusaha buat ikhlas kok, tapi memang nggak gampang aja."
"Iya ... mas paham kok, udah yuk. Kita ke dalam. Orang mas udah ngomong kalau Sakilla udah menunggu dari tadi." Tubuh Annisa tersentak dan Bram langsung merangkulnya. "Nggak apa-apa, ada mas. Santai saja ..."