
Wajah Bram langsung kentara berubah dan Annisa bisa merasakannya. Tapi dia memilih untuk abai dan tetap fokus sama tujuan utamanya. Dia udah janji dan dia harus menepati janjinya, jadi ia tidak boleh gentar dan harus fokus untuk membujuk suaminya dan Rama.
"Mas rasa permasalahan ini udah selesai," potong Bram lalu beranjak ke halaman belakang di ikuti oleh Annisa.
"Belum mas ... ada satu hal yang nggak kamu tau dan aku harap kamu mau membantu aku. Aku mohon, mas. Kali ini aja. Kamu bilang sendiri kan kalau aku ini nggak pernah mau ini itu selama hamil. Padahal kamu udah sigap buat beliin ini itu. Jadi boleh gak kali ini aku minta sesuatu sama kamu dan berharap kamu wujudin apa yang aku mau."
Bram masih diam.
"Mas?" panggil Annisa menggoyangkan tubuh Bram. "Ayo lah mas. Annisa minta tolong untuk sekali ini aja."
"Ya udah, mau minta tolong gimana?" tanya Bram berusaha menurunkan egonya, mengingat Annisa lagi hamil. "Apa yang mau kamu bilang?"
Mengalir lah cerita waktu itu yang mana membuat Bram hanya bisa menghela napas dalam karena ternyata sang istri sudah berjanji akan suatu hal yang sebenarnya sangat menyakitkan.
__ADS_1
Mempertemukan Sakilla dan Rama adalah hal yang paling membuat Bram benci. Karena pertemuan pertama mereka ternyata membuat banyak masalah yang bahkan nggak ingin Bram ingat sama sekali dan itu juga yang membuat Bram sedikit memiliki luka trauma.
"Aku bingung ..."
"..."
Annisa menghela napas dalam.
"Aku selalu menyukai kalimat kalau ada masalah ya di hadapi bukannya malah kabur. Itu gak gantle sama sekali dan dulu aku tipe orang yang selalu kabur dari masalah. Sampai aku sadar kalau kabur dari masalah nggak buat masalah itu hilang. Tapi suatu hari nanti malah membuat masalah baru dan itu yang buat aku mau Rama sama Sakilla menyelesaikan masalahnya sekarang. Di banding nanti kan?"
"Kenapa baru bilang sekarang?" Bram menggeleng. "Bukan, kenapa tiba-tiba berubah pikiran ... bukannya dulu kamu gak mau Sakilla ketemu sama Rama? kenapa sekarang malah mau mempertemukan mereka?"
Annisa beranjak duduk di hadapan Bram.
__ADS_1
"Aku gak pernah larang Rama buat ketemu sama mamah kandungnya kok. Aku marah karena kamu gak mau jujur, aku juga gak sejahat itu mas buat Rama gak bisa ketemu sama ibu kandungnya sendiri. Aku juga masih punya hati, mas. Di sini juga kondisinya aku ngeliat keadaan mbak Sakilla."
Perempuan itu tersenyum sedih mengingat kala itu. Saat di mana ia melihat keadaan Sakilla yang memprihatinkan.
"Aku ngeliat mbak Sakilla yang memohon. Dia bukan mau buat keluarga kita gak akur kayak dulu lagi. Tapi mau minta maaf doang, mas. Minta maaf ... dia udah menyesal mas."
Bram masih mendelik.
"Beneran menyesal atau pura-pura tuh?" Laki-laki itu tertawa remeh. "Dulu juga dia menyesal sampai mas luluh eh tapi ternyata masih ada aja tuh kelakuan yang buat keluarga kita jadi begini."
Annisa menghela napas dalam. Harus seperti apa dia membujuk suaminya itu.
"Aku mohon mas. Untuk kali ini aja. Lagi pula kan, mereka akan ketemu pas ini aja terus Rama bakal kepisah sama mbak Sakilla bertahun-tahun. Jadi sebelum mereka benar-benar kepisah, aku mau mereka ketemu dulu."
__ADS_1
"Aku mohon ...."