
Setelah berbagai permohonan yang Annisa lontarkan, akhirnya Bram sedikit demi sedikit mulai luluh dan memilih menurunkan egonya demi istrinya ini.
"Ya udah, nanti biar mas yang bilang sama Rama. Kamu cukup diem aja ya. Mas nggak mau kalau nanti anak itu malah marah sama kamu. Kamu tau sendiri kan betapa bencinya anak itu sama Sakilla. Jadi, ya dari pada bikin huru hara lagi. Mendingan mas, yang maju aja. Oke?"
Annisa mengangguk. Ia sudah gelendotan lagi sama Bram.
"Iya mas, makasih banyak ya. Aku harap dengan pertemuan ini. Gak ada lagi masalah ke depannya. Aku benar benar mau menyelesaikan masalah ini."
Bram berbalik sembari mengusap perut sang istri yang kian hari semakin membesar itu.
"Memangnya ... kamu gak marah sama Sakilla?" tanya Bram perlahan. "Kamu ingat kan kalau perempuan itu sama dengan perempuan yang udah rebut kakak kamu dari keluarga kamu? kamu juga nggak bakal lupa sama semua perbuatan jahat yang di lakuin sama dia ke keluarga kita kan?"
__ADS_1
Annisa mengerang dan menghembuskan napas kasar.
"Aku rasa dengan aku marah juga nggak bisa kembaliin semuanya kan? kakak nggak bakal bisa balik ke pelukan aku. Takdir hidup aku juga gak bakal berubah dan aku rasa hidup tanpa rasa dendam itu jauh lebih baik. Terus juga mbak Sakilla udah dapetin balasannya kan? Besok ... dia bakal dapat hukuman juga kan? jadi, ya dari pada nambah beban di hidup mbak Sakilla, mendingan sekalian aku ringanin aja. Toh, kalau aku maafin perbuatan mbak Sakilla juga. Hidup aku bakalan jauh lebih tenang."
Tangan Bram melingkari di pinggul Annisa. Tangan lainnya ia cengkram di telapak tangan istrinya sembari mengusap perlahan. Memberikan kenyamanan pada Annisa yang menyender di tubuhnya.
"Kenapa bisa ya?"
"Iya ... kenapa bisa mas dapet istri yang punya hati seluas Samudera? mas banyak banget belajar sama kamu. Bahkan mas sedikit malu loh ..."
Annisa kembali menyamankan di dada bidang suaminya itu. "Bingung gimana?"
__ADS_1
"Padahal Sakilla udah jahat banget sama kamu. Tapi kamu masih bisa baik sama dia. Sementara mas? sampai detik ini mas masih nggak bisa maafin perbuatan dia. Mas kalah sama kamu. Mas nggak bisa seperti yang kamu lakuin."
"Loh ... semuanya bertahap mas. Aku rasa, wajar aja kok kalau mas sama Rama bertahan sama sikap kesal kalian. Toh yang paling dirugiin di sini kan mas sama Rama. Kalian yang ngerasain sendiri gimana ditipu sama mbak Sakilla. Gak usah dipaksa buat baik mas. Aku yang harusnya gak enak sama kamu. Aku tau gimana kesalnya kamu sama mbak Sakilla. Tapi aku malah maksa buat kamu ketemu sama mbak Sakilla. Maaf ya mas."
Bram terkekeh, mengecupi pipi Annisa.
"Gak apa-apa sayang. Seperti yang kamu bilang tadi, mungkin ini pertemuan terakhir kita sama Sakilla. Karena ke depannya dia bakal lakuin hukuman final dari pihak yang berwajib. Jadi apa salahnya kan menuntaskan semuanya."
"Iya mas ..."
"Ya sudah mas mau siap-siap dulu. Nanti mas izin pergi sama Rama ya. Baru deh pas pulangnya mas omongin sama anak itu. Semoga Rama mau deh. Kamu do'ain aja dari sini, supaya semuanya lancar."
__ADS_1
"Pasti mas, pasti ... aku do'ain semoga semuanya lancar!"