Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kebahagiaan Ditengah Ketegangan


__ADS_3

"Udah siap buat ketemu sama dia?"


Bram menoleh ke belakang, menatap Annisa juga Rama yang keliatan sama-sama tegang. Tidak, sebenarnya bukan hanya mereka saja yang tegang. Tapi dirinya juga.


Bram bukan takut karena nanti bakal ketemu sama Sakilla lagi terus malah mengembalikan sisa-sisa masa lalu. Bukan! Bram hanya takut kalau dia lepas kendali dan berakhir marah sama Sakilla. Dia belum memaafkan Sakilla, di lubuk hatinya yang paling dalam masih tersimpan rasa benci akibat semua ulah Sakilla.


Ia hanya takut mengacaukan semuanya.


Meski begitu,


Ia menerima permintaan Annisa lantaran tau tepat hari ini final hukuman Sakilla akan diberi tahu. Yang artinya beberapa tahun ke depan, ia gak akan berurusan lagi sama Sakilla dan fakta itu yang membuat Bram jadi jauh lebih tenang kali ini.


"Mas?"


Lamunan Bram tersadar, ia menoleh dan suara klakson dari mobil di belakangnya membuat ia langsung menjalankan mobil. Ah, dia sampai gak sadar kalau lampu sudah berubah menjadi hijau.


"Kamu yang harusnya aku tanya gak sih mas? kamu kenapa? kok dari tadi keliatan resah banget. Ada yang buat kamu bingung?"

__ADS_1


Bram menggeleng.


"Hahaha mas cuma inget sesuatu aja. Mas baik-baik aja kok."


Annisa masih menatap memicing. Bram bisa melihat semuanya dari kaca spion depan. Wajar sih kalau Annisa gak percaya sama dirinya. Perkataan baik-baik saja nggak sebanding dengan wajahnya yang tegang. Belum bulir keringat yang membasahi seluruh wajahnya.


"Mas beneran baik-baik aja?" tanya Annisa lagi memastikan.


Membuat Rama yang sejak tadi sibuk memainkan tablet nya ikut menoleh dan menatap kedua orang tuanya dengan bingung.


"Memangnya ayah kenapa?" kepala Rama tersimbul di balik kursi dan menatap sang ayah dengan bingung. "Ayah baik baik aja kok," lanjut Rama berusaha membela Bram.


"Beneran baik-baik aja?"


"Iya sayang." Bram tersenyum lebar memastikan ke Annisa kalau dia baik-baik aja dan nggak ada yang perlu di khawatir kan sama sekali. "Memangnya kenapa deh?"


Annisa menggeleng.

__ADS_1


"Enggak ... aku takut aja kamu kepikiran kok." Annisa berusaha melupakan wajah tegang suaminya di rumahnya tadi. "Oh iya aku sama Rama udah siap kok. Kami udah siap buat menghadapi semuanya!"


Rama ikut mengangkat tangan ke atas dan menunjukkan otot nya yang tidak ada sama sekali.


"AKU JUGA UDAH SIAP!"


Gelak tawa Bram membuat Annisa sama Rama juga ikut tertawa lepas. Suasana tegang nan risau yang sempat tercipta membuat mereka semua merasa lebih baik.


"Kamu tuh ya kayak yang mau hadapin siapa aja. Padahal cuma mau ketemu sama bunda kamu," ujar Annisa dengan tawa kecil.


"Justru karena mau ketemu tante Sakilla, aku harus siap kayak gini." Rama terkekeh dan duduk menyandar sambil menyilangkan tangan di dada.


"Maksud kamu?" tanya Annisa perlahan


"Karena aku berhadapan sama tante Sakilla, makanya aku harus nyiapin diri. Kalau orang lain, mungkin aku bakalan biasa aja. Toh kan yang buat aku kayak gini dan suka benci sendiri karena ulah tante Sakilla. Aku masih inget semua perbuatannya."


Sadar akan tatapan khawatir Annisa, Rama buru-buru menggenggam lengannya.

__ADS_1


"Tapi mamah nggak usah khawatir sama sekali soalnya aku juga nggak masalah. Asal mamah seneng." Rama tersenyum tipis.


Ya ... ia sudah melakukan hal yang benar.


__ADS_2