
Annisa menyandarkan tubuhnya ke belakang setelah minuman yang dibeli Bram habis. Ia beralih menatap ke dua laki-laki yang ada di sana. Annisa tersenyum tipis. Setelah sekian ia hidup di sini, ini pertama kalinya Annisa merasa di ratukan oleh laki-laki selain keluarganya.
"Annisa?"
"Iya, kenapa mas?"
"Sebentar lagi orang suruhan mas bakal datang. Kamu pulang aja ya, nanti mas nyusul." Annisa segera mendatangi Bram yahh berdiri menyandar di pintu. Sengaja menjauh karena ingin merokok dan tak mau asapnya itu di hirup sama Annisa.
"Ah nggak mau, mas. Aku mau sama kamu aja. Kalau aku pergi, nanti mas malah ngelakuin hal lain lagi sama mbak Sakilla. Tadi aja mas udah nggak kekontrol gitu. Apa lagi kalau nggak ada aku di samping kamu."
"Ada Daddy. Daddy pasti tau apa yang baik sama enggak. Jadi, kamu nggak usah khawatir yaa ..."
Annisa menarik napas dalam hingga sebuah tepukan dari mertuanya membuat dia mendongak.
"Kamu nggak usah khawatir, di hotel ada mom sama Rama. Kamu sama mereka dulu aja. Kalau nanti mommy nya Bram nanya, bilang aja kalau semua ini baik-baik aja. Cuma ada beberapa hal yang harus di selesaikan. Kalau nanya ini itu, kamu nggak usah jawab dan suruh mommy nya Bram buat nunggu sampai kamu pulang aja. Baru nanti dapet penjelasan dari daddy."
__ADS_1
Akhirnya Annisa manut. Setelah sebuah mobil datang, Annisa masuk ke sana dan meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan Annisa hanya duduk menyandar di kursi sambil menatap jalanan yang lumayan padat.
"Sebenarnya apa yang mau di lakuin sama daddy dan mas Bram?" gumam Annisa pelan. "Kenapa aku sampai di suruh pulang kayak gini. Karena nggak mungkin mereka nyuruh aku pulang, kalau mereka nggak mau ngelakuin sesuatu tanpa sepengetahuan aku."
Annisa hanya bisa berdoa supaya suaminya itu tidak macam-macam dan mereka akan kembali dengan baik.
***
"Terima kasih pak."
Annisa membalas senyuman tipis orang yang baru saja mengantarnya itu. Annisa masuk ke dalam hotel dengan langkah pelan. Sesekali ia melihat interior yang begitu mewah. Dari kemarin ia selalu keluar masuk dengan keadaan sedikit sibuk. Jadi tidak sempat melihat ini itu.
Setelah diperhatikan Annisa sangat menyukai interior kuno yang memperlihatkan elegan yang begitu kuat. Ini seperti bangunan romawi kuno yang di desain sedikit lebih modern dan menyesuaikan keadaan saat ini.
"Aku menyukainya," ucap Annisa sebelum naik ke lantai tempat kamarnya berada.
__ADS_1
Begitu keluar Annisa langsung dihadapkan sebuah lorong. Kamar paling ujung adalah ruangannya berada. Baru mau tiba di kamarnya. Ponsel perempuan itu berdering.
Nama 'ibu' terpampang nyata di layar. Seketika Annisa langsung menepuk keningnya.
"Ya ampun ... aku lupa banget ngabarin ibu. Mana ibu lagi ada di sini lagi. Ya ampun," pekiknya.
Ia kembali melangkah ke dekat lift yang lumayan jauh dari kamar-kamar, karena takut mengganggu yang lain. Dengan cepat ia mengangkat panggilan dari ibunya sebelum telepon itu kembali terputus.
"Hallo bu ..."
/Hallo? bisa-bisanya kamu kedengaran santai pas kamu ninggalin ibu gitu aja. Di mana otak kamu. Memangnya ibu sama bapak tuh kayak yang nggak penting di hidup kamu. Cepat pulang!/
"Bu, ta— tapi
/Nggak usah tapi-tapian, cepetan pulang. Tidak usah ajak suami kamu. Kamu urus dulu gucci yang ibu jatuhin di rumah suami kamu. Baru kamu boleh balik lagi ke sana./
__ADS_1
Annisa terkesiap. "Gucci?!" histerisnya