
Matahari masih berada di ufuk timur, sinar malu-malu karena pagi ini awan gelap sedikit mendominasi langit. Tapi sayang, Annisa yang terbiasa bangun pagi mulai membuka matanya. Padahal dia baru saja tidur tiga jam yang lalu.
Annisa meremang dan sedikit meringis, merasakan tubuhnya yang begitu sakit. Mengingat kejadian semalam membuat perempuan itu mengerang malu, ia menutup wajahnya.
"Ya ampun ..."
Annisa masih ingat bagaimana Bram yang hati-hati karena tidak mau menyakiti dirinya. Tapi Annisa mengizinkannya karena tahu selama ini suaminya sudah menahan.
Dengan perlahan Annisa berbalik, menatap wajah Bram yang masih setia memeluknya itu. Betapa indahnya pagi ini melihat wajah Bram yang sedekat ini.
Lihat lah,
Mulai sekarang Annisa yakin kalau wajah suaminya akan menjadi pemandangan paling indah yang dia tatap. Dia tak akan menyangkal sama sekali, karena memang itu benar yang terjadi.
Tangannya terulur mengusap pipi Bram.
"Hmm ... kamu sudah bangun?" Annisa tersentak saat Bram mulai membuka matanya dan tersenyum tipis saat melihat dirinya itu.
"Iya ..."
Bran menarik Annisa dan mengusap punggungnya pelan.
"Maaf ya kalau semalam mas nggak hati-hati," gumamnya pelan dengan suaranya yang masih serak. "Kita juga baru tidur Annisa, kamu nggak mau tidur lagi? Kita pulang agak sorean aja."
Annisa memberontak dan melepaskan pelukan suaminya itu.
"Jangan mas, aku nggak enak sama Rama. Kita kan janjinya cuma pergi sebentar doang. Tapi malah nginep. Apa lagi kalau nanti kita pulang malem. Yang ada Rama marah loh. Aku nggak mau kalau Rama sedih karena kita yang kayak gini. Kita bersih-bersih sekarang terus pulang yuk mas," ajak Annisa
Bram merengek sambil menggeleng.
"Rama pasti ngerti kok, mas kan masih mau sama kamu. Jadi pulangnya nanti aja ya," pinta Bram dengan sangat memohon
Tapi Annisa malah bangkit dan duduk di kasur.
"Enggak mas ... Rama tetep yang utama, jangan kayak gini ya. Aku nggak enak sama Rama. Beneran deh. Kita pulang dulu."
Bram menghembuskan napas kasar dan berakhir mengangguk.
"Kayaknya nanti mas harus bawa kamu pergi menjauh dari Rama selama satu minggu. Kamu cukup fokus sama mas. Jangan sama Rama. Kamu cuma punya aku pas satu minggu itu. Bukan yang lain. Mas cemburu."
Annisa terkekeh pelan.
"Ya ampun, mas ... masa sama anak sendiri cemburu sih. Rama itu anak kamu loh," beri tahu Annisa berusaha mengingatkan suaminya itu sambil mengusap rambut Bram
"Tetep aja ... dia tuh ganggu tahu!" seru Bram yang mengeluarkan uneg-uneg dia selama ini. "Selama ini kalau mas lagi deket sama kamu. Dia selalu aja datang dan ganggu kita. Kan nggak bisa gini. Mas maunya sama kamu terus. Tapi jadi nggak bisa karena Rama terus ganggu."
"Ya ampun, mas ..."
__ADS_1
Bram tetap cemberut dan memeluk Annisa. Kepalanya ia sandarkan di paha Annisa. Dengan lembut Annisa mengusapnya.
"Iya ... nantian lagi ya. Ini kan kita janjinya pulang kemarin tapi sekarang aja udah ingkar. Yang ada nanti pas pulang anak kamu itu marah. Kita nggak mau kan kalau kalau nanti Rama marah. Kamu tau sendiri kan susah bujuk anakmu itu."
"Iyaa?"
"Makanya kita pulang dulu aja ya mas."
"Ya udah deh."
"Nah sekarang lepas aku, aku mau mandi. Gerah banget nih."
Bram tersenyum jahil dan menatap wajah Annisa dengan senyuman yang sangat mencurigakan.
"Kenapa?" ucap Annisa tertahan
"Gimana kalau kita mandi bareng?" ucapnya mesum
Tanpa pikir panjang, Annisa melempari suaminya bantal dan langsung ngibrit masuk ke dalam kamar mandi. Membuat Bram tertawa puas melihat istrinya itu.
Bram yang masih jahil mendatangi kamar mandi dan terus memanggil Annisa. Memintanya untuk buka pintu supaya dia bisa masuk.
"Katanya mah pulang cepet. Gimana kalau kita mandi bareng, kan biar kita pulang cepet. Buka dong sayang. Mas juga gerah nih, mau mandi."
Yang dipanggil sedari tadi sengaja menyalakan shower dan semua air kran di dalam. Ia menggeleng sambil memegang telinganya.
***
Setelah selesai bersiap, Annisa sama Bram menyempatkan lebih dulu makan di restoran hotel. Mereka makan dengan khidmat mengingat makanan malam mereka nggak sebanding dengan kegiatan malam mereka yang sangat menguras energi itu.
Setelah makan, mereka meninggalkan kawasan hotel dan langsung kembali ke rumah.
Benar saja dugaan Annisa,
Begitu tiba di rumah, Annisa langsung disambut dengan tangisan Rama yang tak berhenti dari pagi. Karena laporan dari mom chika yang bilang, kalau Rama baru sadar mereka nggak pulang tuh pas bangun. Makanya dari pagi Rama terus menangis karena udah di bohongin sama mereka. Di tambah mom Chika yang nggak bisa menghubungi Bram atau Annisa. Yang memang sengaja mematikan ponselnya.
"Tuh kan mas," bisik Annisa sambil menyikut suaminya
"Ya maaf."
Annisa membawa Rama ke gendongannya. Rama masih sesegukan dan langsung memeluk erat Annisa tanpa mau melirik pada ayahnya.
"Maafin mamah ya ..."
Annisa membawanya ke taman belakang. Sambil terus berjalan, Annisa terus meminta maaf pada Rama atas perlakuan yang dia lakuin. Annisa usap punggungnya sampai tiba di tempat duduk, Annisa menurunkan Rama di sana. Lalu berlutut di depannya.
"Ya ampun ... kamu sampai merah banget mukanya kayak gini."
__ADS_1
Annisa mengusap bekas air mata di wajah Rama dengan lengannya sendiri.
"Nak ... jangan diemin mamah kayak gini. Mamah minta maaf karena udah bohongin kamu. Kemarin ada sedikit masalah di jalan, makanya mamah sama ayah kamu milih nginep di hotel. Jadi, kita nggak bisa pulang. Maaf ya nak."
Rama mulai menatap wajah mamahnya itu, mencari kebenaran walau Annisa terus mengalihkan pandangan karena sudah berbohong.
"Mamah nggak bohong?"
"Jadi kamu anggep mamah kamu ini bohong?" sambung Bram sambil merangkul istrinya itu dan ikut berlutut di samping Annisa. "Kami tahu sendiri kan kalau mamah Annisa nggak pernah bohong. Masa sekarang kamu nggak percaya sama omongan mamah kamu sendiri."
"Soalnya ada ayah," balas Rama dengan kesal
"Loh kok jadi ayah?" Bram menunjuk dirinya sendiri. Tidak Terima di tuduh sama anaknya. Baru saja ingin protes dan membalas seruan sang anak, Bram memilih diam saat Annisa diam-diam mencubitnya itu.
"Iya kan ... soalnya ayah yang bawa mamah pergi. Ayah tahu sendiri kan kalau Rama harus tidur sama mamah. Tapi kemarin aku malah ketiduran pas nunggu mamah. Tapi pas aku bangun, mamah sama ayah masih belum datang. Kan ini karena ayah ... kalau ayah nggak ajak mamah pergi, pasti aku masih ketemu sama mamah. Pokoknya nanti aku nggak bakal izinin ayah pergi berdua sama mamah! aku harus ikut."
Bram terperanjat dan langsung berseru membuat Rama kaget dan menatap bingung pada ayahnya itu.
"Lah mana bisa begitu, ayah juga mau bareng mamah kamu lah. Kamu nggak boleh ikut. Memangnya kamu doang yang bisa ikut? nggak bisa ... ayah nggak mau nurutin kemauan kamu. Ayah juga mau waktu berdua sama kamu."
Rama mengerjap dan kembali menangis sambil memeluk Annisa. Kaget karena ayahnya yang tiba-tiba berteriak sambil sedikit membentak sekaligus dilarang untuk terus deket sama mamahnya.
Annisa menggerutu pelan dan memukul suaminya itu tanpa sepengetahuan Rama.
"Anaknya lagi nangis, bukannya dibujuk malah dibikin makin nangis!" bisik Annisa sambil menatap tajam suaminya
Bram mengusap tengkuknya. Ia tahu dirinya sudah salah karena membuat anaknya nangis. Tapi dirinya juga mau egois. Dirinya nggak mau kalau anaknya terus mendominasi Annisa di saat Bram juga mau dekat sama istrinya itu.
"Ya gimana sayang, Rama juga harus tau kalau kamu ini milik bersama," jelas Bram dengan sengaja
Rama yang mendengar semakin memeluk erat tubuh Annisa. Ia menggeleng pelan.
"Mamah cuma punya aku, bukan punya ayah! ayah pergi sana. Jangan dekat-dekat sama aku. Aku nggak suka sama ayah. Ayah udah rebut mamah. Ayah juga galak! Hus. Rama benci sama ayah."
"Rama!" seru Annisa kali ini dengan sangat serius sambil melepas pelukan mereka. Annisa menatap anaknya dengan tajam. "Siapa yang ngajarin kayak gitu? Kamu harusnya tau kalau ayah kamu itu sering bercanda kayak tadi. Kenapa kamu malah anggap serius sampai ngomong benci sama ayah kamu gitu?" tanya Annisa dengan galak. "Kamu nih ya mamah lihat-lihat, kalau lagi emosi omongannya suka lantur kemana aja dan berakhir jadi jahat."
"Mamah nggak suka ah."
"Mamah," rengek Rama menarik Annisa yang mau berdiri dan memeluknya lagi "Rama minta maaf, jangan marah sama Rama. Rama janji nggak gitu lagi."
Annisa menghela napas pelan, berusaha sabar karena tahu di sini dirinya juga salah. Ia mengusap punggung Rama.
"Tapi jangan kayak tadi lagi ya. Mamah beneran nggak suka."
Rama mengangguk.
Melihat dia orang yang saling berpelukan membuat Bram ikut memeluk keluarganya. Dalam hati Bram berjanji akan menjaga mereka berdua dengan baik supaya tidak ada lagi kesedihan yang menimpa mereka.
__ADS_1
Ya ... Bram berjanji.