Istri Dadakan

Istri Dadakan
Rumah Baru


__ADS_3

"Aku nggak mau pergi ngikut sama mas Bram!"


Sayang, niatnya berbanding terbalik dengan apa yang Annisa pertimbangkan. Langkahnya terpaku melihat Bram yang sudah berdiri menunggunya di depan mobil.


Rencana Annisa adalah diam, tenang dan secara pelan akan meninggalkan Rama tanpa sepengetahuan Bram di sekitar laki-laki itu. Namun tatapan tajam Bram membuatnya nggak bisa berkutik selain mengeratkan pelukan pada Rama yang masih tertidur pulas.


Annisa memilih melengos, berniat melangkah sembari mengabaikan sosok Bram. Namun tarikan pada lengan kurusnya berhasil membuat Annisa berbalik dengan wajah yang langsung bertemu dengan dada bidang kokoh milik Bram. Kalau saja Annisa tidak menahan dengan lengannya, pasti ia sudah mengenai dada bidang itu.


"Masuk, Annisa ..."


Annisa masih mematung di tempatnya berdiri.


"Jangan childish, masuk dan kita akan ke rumah baru kita!"


Mau tidak mau Annisa menurut. Ia masuk me dalam mobil dan duduk di belakang. Sementara Bram masuk ke kursi belakang kemudi. Ia sempat menghela napas kasar saat melihat Annisa di sana.


"Saya sebenarnya paling nggak suka kayak gini. Sama aja kayak supir tau nggak sih," marah Bram membuat Annisa semakin mengurungkan niatnya untuk marah. "Tapi saya malas ribut, jadi sudah lah. Semau kamu aja, terserah kamu. Saya nggak ngurus!"


Annisa memilih menidurkan Rama di kursi mobil dan pahanya yang menjadi bantalan anak itu. Selebihnya dia hanya menepuk lengannya dengan pelan, tapi matanya memilih menatap ke arah lain.


"Saya minta maaf ..."


"Hah?" kaget Annisa


"Iya ... saya minta maaf karena sudah mempermalukan kamu di tempat umum kayak tadi. Saya hanya kaget dan nggak terima kalau posisinya almarhum istri saya tiba tiba jadi tergantikan kayak gini. Saya nggak bisa sama sekali."


"..."


"Jadi ... saya minta tolong banget sama kamu, untuk nggak lakuin macam-macam sama Rama. Jangan kenalkan diri kamu sebagai bundanya, saya nggak suka."


"Iya maaf Tuan."


"Tuan?"

__ADS_1


Annisa mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, lebih nyaman kalau aku panggil tuan kayak gini. Biar aku bisa sadar diri dan nggak mendapat posisi yang lain. Jadi, aku juga tau kalau ada jarak diantara kita."


"Kamu aneh .."


Perempuan itu menyandarkan tubuhnya dan mengendikan bahu. "Aku cuman takut kalau panggil kamu dengan sebutan mas. Aku bakalan berharap lebih. Dengan kata lain, aku nanti bakalan lupa sama posisi status kita. Jadi, aku gak mau kalau hal ini sampai terjadi. Aku mau selalu inget kalau kamu nggak lebih dari orang yang membantu aku."


"Ya ... saya nggak peduli. Yang penting peraturan itu tetap berjalan. Saya harap juga kita bisa menghapus peraturan paling terakhir. Karena setelah saya pikirkan, ternyata saya memang nggak bisa menduakan almarhum istri saya. Saya masih perlu dia dan saya nggak bisa menduakan janji yang saya berikan ke Sakilla."


"Iya ... aku paham."


Perempuan itu hanya bisa mengasihani dirinya sendiri. Tak perlu menunggu nanti, bahkan saat ini Annisa juga mulai merasakan kepedihan di hidupnya.


/*Andai ... kakak nggak minjem uang sama rentenir. Andai rentenir itu masih bisa nunggu, biar aku bisa nyicil. Andai rentenir itu nggak ngasih pilihan aku buat nikah sama dia dan buat ibu sama bapak jadi nyodorin aku. Andai aku gak ngomong tentang pernikahan ke sembarang orang. Pasti aku gak bakalan ngerasain sakit hatinya nggak dianggap./


/Ya ... memang, siapa aku? memangnya aku anggap pernikahan ini sebagai ajang lepasnya aku dari hidup susah? duh ... kayaknya memang aku yang udah mikir berlebihan. Karena nyatanya hidup ini pasti ada kejutannya dan ini salah satunya*./


Diam-diam Annisa melirik ke depan, melihat wajah Bram yang masih mengeras. Tanda masih emosi.


/Padahal ... aku kira tuan Bram itu beda. Awalnya dia baik banget sama aku. Ngomong kalau ini memang pilihan dia dan selalu muji aku yang baik-baik. Tapi akhirnya ternyata kayak gini ya./


***


"Tante! ini rumah aku!" pekik Rama yang baru bangun pas mobil memasuki pekarangan rumah yang besar. Benar benar dua kali lipat lebih besar dari rumahnya.


"Oh iya? keren dong ..."


Rama mengangguk. "Ayo tante .. tante harus liat kamar aku yang bagus banget!" serunya sambil menarik tangan Annisa, tapi Annisa menahannya membuat Rama menoleh sembari melayangkan tatapan protes. "Tante! kenapa nggak mau aku ajak ke sana?" tanyanya


Annisa menggeleng dan memilih menoleh pada Bram yang baru masuk ke dalam.


"Tuan ...," ucapnya meminta bantuan


"Sudah sana ikutin ke Rama. Dia mau ajak kamu, nanti kita omongin setelah urusan kamu selesai."

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari Bram, akhirnya Annisa pasrah tubuhnya ditarik ke lantai dua. Sampai mereka tiba di sebuah kamar. Begitu Rama membukanya hawa AC dari dalam membuat Annisa bergidik. Merasa dingin.


"Kamu kuat di kamar sedingin ini?" tanya Annisa sambil melangkah masuk.


"Suka! aku nggak suka kalau panas. Soalnya badan aku itu jadi merah-merah. Makanya aku gak bolehin bibi buat matiin AC. Tapi kalo udah kedinginan, aku bakal tidur di kamar ayah."


Annisa terkekeh. Mencubit pelan hidung Rama.


"Kamu umur masih dua tahun, tapi ucapannya udah lancar banget ya. Tante seneng dengernya."


"Hehehe ..."


Selanjutnya, Rama benar-benar menjelaskan setiap sudut kamarnya.


Kamar yang dipenuhi warna biru dongker itu sangat nyaman karena suasana yang sangat dingin. Tidak hanya itu, banyak mainan yang tersusun di pojokan dan dibuat sedikit ruang. Sepertinya khusus arena bermain Rama. Lalu ada meja kecil di sudut lainnya, tempat itu penuh sama buku.


"Kamu belajar?" tanya Annisa sambil menghampiri meja itu. "Ini banyak buku anak SD loh, nak. Kenapa kamu udah baca buku ini dari sekarang? ya ampun ..."


"Itu dikasih ayah, kata ayah aku harus pinter biar bisa nerusin jadi ayah. Padahal aku nggak mau jadi ayah!"


"Loh .. kenapa?"


"Ayah sibuk terus," ucapnya sebal. "Ayah nggak pernah punya waktu main sama aku. Ayah cuman sibuk depan laptop doang. Nggak pernah pergi keluar. Kalo hari minggu juga, ayah pasti diem di ruang kerjanya. Nggak ajak aku jalan-jalan. Sesekali ayah memang ajak aku ke kantor ayah. Tapi ayah tetep cuekin aku!" ceritanya dengan bibirnya yang mengerucut. "Makanya aku nggak mau kayak ayah. Aku gak suka sama sekali."


Annisa menatap miris.


"Bunda udah pergi dari hidup aku dari lama, aku gak pernah liat bunda aku. Makanya aku mau deket sama ayah, biar aku gak kesepian. Tapi ... ayah nggak pernah mau deket-deket sama aku."


"Ya ampun, nak ..."


"Oh iya tante mau liat foto bunda aku nggak?"


Annisa mengangguk. Ia melihat Rama melompat turun dari kasurnya dan membuka laci lalu memberi selembar foto usang kepada Annisa.

__ADS_1


Degh! Annisa memandang kaget pada foto itu.


"ASTAGHFIRULLAH!"


__ADS_2