
Annisa berlarian kecil memasuki kamarnya lagi dan mengunci dari dalam. Dia buru-buru menelepon Bram. Tapi sayang laki-laki itu nggak langsung mengangkatnya. Annisa menghela napas kasar dan tetap berusaha menghubungi.
/Ada apa Annisa? tumben sekali kamu menelepon. Ini pertama kalinya kamu menelepon saya setelah menikah. Ada yang kamu butuhkan?/
"Maaf mas ... tapi aku nggak lagi dalam kondisi yang mau basa basi. Aku mau kasih tau mas kalau di sini ada mertua mas. Tapi—
/Hah? mertua? ibunya Sakilla? Kamu nggak bohong sama sekali kan? Nggak Annisa ... saya selalu melarang dia untuk datang ke rumah. Karena dia akan mengambil barang—
"Nah iya!" sela Annisa dengan cepat sambil mendekati pintu kamarnya. Ia membukan
“Annisa ... kenapa diam saja? cepat! Kenapa mertua saya bisa ada di sana. Emang bener dia mertua saya? Kamu kenal sama dia? kalau dia memang datang, jangan tinggal kan dia sendiri. Saya nggak mau ada sesuatu penting yang hilang di rumah saya.”
Annisa terdiam. Ketakutan Bram sama seperti yang baru saja dia lihat. “Mas ... maaf banget, tapi tadi aku malah ninggalin ibu itu sendiri karena permintaan dia sendiri dan sekarang, aku lihat dia ada di dalam kamar tuan. Sedang mengacak sesuatu.”
“APA! CEPAT KUNCI DARI LUAR! Kunci pintu kamar ada di laci dekat pintu kamar saya. Jangan biarkan dia keluar. Cepat Annisa!” bentak Bram membuat Annisa terkesiap dan langsung aja melempar asal ponselnya.
Ia keluar kamar dan mencari kunci pintu kamar Bram dengan pelan. Setelah menemukan kunci Annisa mendekati pintu, sayang saat tangannya ada di kenop. Ibu Sakilla menoleh dan berteriak untuk menghentikannya. Tapi Annisa lebih sigap menarik kenop pintu dan menguncinya dari luar.
“CEPAT KELUARKAN SAYA DARI SINI!” seru ibu itu sambil mengetuk pintu dengan brutal dari dalam kamar. “Jangan perlakukan saya seperti ini ... kamu bakal habis sama Bram. Lihat saja! cepat buka kuncinya!”
Kenop pintu terus bergerak brutal membuat Annisa melangkah mundur. Ia menggeleng dan memeluk tubuhnya sendiri. Bertanya-tanya tentang apa yang baru dia lihat. “Sebenarnya ada apa ini? kenapa mas Bram sampai marah kayak gitu dan kalau dia memang mertuanya, kenapa mas Bram sampai ketakutan kayak gitu?” tanya Annisa dengan bingung.
Ketukan pintu yang semakin kencang membuat beberapa pelayan berdatangan.
“Ada apa mbak?” tanya salah satu orang. “Siapa yang ada di dalam?”
Annisa menelan saliva, berasa dimarahi sama mereka semua. “Itu— ada mertuanya mas Bram. Aku nggak ngerti,” ucap Annisa dengan cepat, nggak mau di salahkan sama sekali. “Tadi ... mas Bram kok yang nyuruh aku buat kunci pintunya. Bukan aku yang lakuin sendiri. Beneran kok. Bukan aku ...”
__ADS_1
“Mbak Annisa?” panggil salah satu dari mereka. “Mbak nggak perlu panik. Maaf kalau kami seperti intimidasi mbak, tapi maksudnya nggak gitu kok. Kami hanya kaget saja karena ada orang di dalam. Tapi kalau itu mertuanya tuan Bram, kita udah nggak heran lagi. Biarin aja ibu itu di dalam sampai mas Bram sendiri yang pulang. Buat laki-laki di sini. Tolong jaga bagian lantai bawah, biar ibunya nona Sakilla nggak ada yang nekat loncat dari balkon lantai dua,” perintah kepala pelayan yang memang mengatur segala urusan yang ada di rumah ini.
“Dan pastikan semua jendela menutup. Biar nggak ada celah dia untuk keluar dari sini.”
Semua orang langsung mengangguk setelah mendapat perintah dan berpencar untuk melakukan tugas yang di pinta sama kepala pelayan di sini. Annisa yang melihat itu semua langsung menatap dengan terkejut.
“Teh ... ini sebenarnya ada apa ya?” tanya Annisa yang nggak mengerti. “Kalau yang ada di dalam sana memang mertuanya mas Bram. Berarti dia masih bagian keluarga di sini kan? Jadi, kenapa kalian malah perlakukan kayak gini? Bukannya ini berlebihan?”
Anisa menelan saliva, “dan kenapa mas Bram juga terdengar ketakutan pas aku bilang ada ibu nya nona Sakilla ada di sini?” tanya Annisa dengan hati-hati. Ia melirik ke arah pintu kamar Bram. Suara ketukan sudah tidak ada, hanya panggilan dan umpatan kasar yang terdengar dari luar sini.
“Jadi mbak belum tahu?” tanya kepala pelayan itu
Annisa menggeleng.
“Sebenarnya dari awal menikah, tuan Bram itu memang kurang dekat sama keluarga dari calonnya? Karena ... mereka dikenal mata duitan. Bahkan sebagian besar penghasilan Bram harus di berikan sama mereka dan nggak cuman itu aja, bisa dibilang keluarganya dari nona Sakilla itu nggak ada berhentinya. Nggak pernah puas dan terus meminta sampai tuan Bram sendiri merasa semua ini terlalu berlebihan.”
“Jadi ... memang nggak dekat ya?”
Perempuan di depan Annisa mengangguk. “Bahkan setelah nona Sakilla meninggal, keluarga nona masih aja meminta ini itu pada tuan Bram. Padahal di sini bisa dibilang mereka sudah nggak ada hubungan lagi kan? Tapi karena tuan Bram yang memang baik. Dia tetap memberi pada mereka ...”
“Tapi ... kenapa sampai dikunci kayak gitu?” tanya Annisa sambil menunjuk pintu kamar yang masih tertutup itu.
“Itu karena setiap kali datang ke sini pasti ada barang penting yang hilang,” jelas kepala pelayan itu membuat Annisa menutup mulutnya, karena terkejut bukan main. “Bahkan dulu pernah, surat penting tentang perusahaan tuan Bram bocor karena ibunya nona Sakilla menjualnya ke orang luar. Dari situ ... tuan Bram nggak pernah mengizinkan ibu nona Sakilla untuk datang ke sini. Apalagi ... ini sampai masuk ke kamar tuan Bram. Mungkin tuan Bram khawatir dan minta mbak buat kunci pintu kamarnya.”
Annisa mengangguk. Alasan yang sangat masuk akal. Dia mengucapkan terima kasih atas penjelasannya. Ia melirik pada pintu kamar Bram lagi dan menggeleng kecil. Dia memilih turun, karena takut dengan perasaan ibanya. Ia malah membuka pintu kamar Bram.
Untuk sekarang, dia hanya diizinkan untuk menunggu kedatangan Bram.
__ADS_1
***
Dua mobil memasuki pekarangan rumah Bram, membuat Annisa yang sejak tadi menunggu di luar langsung membuka berdiri. Rama dan Bram turun dari mobil yang berbeda. Keduanya dalam kondisi suasnaa hati yang berbeda. Bram yang turun dan langsung menghampiri dia dengan wajah panik. Tapi Rama langsung berlari ke arah Annisa dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Annisa ... kamu ajak jalan-jalan Rama dulu keluar ya. ada yang mau saya selesaikan di sini. Cukup satu jam, saya akan selesaikan semuanya dalam waktu satu jam. Saya nggak mau Rama mendengar pertengkaran di dalam.”
“Kenapa ayah?” tanya Rama yang mendengar semuanya dan bingung.
“Nggak apa-apa,” balas Bram sambil tersenyum dan mengusap rambut anaknya. “Sekarang kamu ikutin kata tante kamu dulu ya. Kamu jajan ke depan dulu berdua sama tante. Nanti kita omongin apa aja kegiatan kamu hari ini ya.”
Rama merengut, “ih ... tapi aku mau tidur, ngantuk.”
“Ikutin omongan ayah dulu ya, please ...”
Rama menoleh pada Annisa dan mengangguk, membuat Rama hanya bisa pasrah dan akhirnya ikut mengangguk juga.
“Biar selanjutnya aku yang urus, mas ... kamu urus aja di dalam. Dia masih ada di kamar kamu,” bisik Annisa yang diangguki Bram. Bahkan Bram mengucapkan terima kasih tanpa bersuara.
Anisa mengangguk.
Perempuan itu menggendong Rama dan membawanya keluar.
“Sekarang sama tante dulu ya. Tante bakalan beli apa pun yang kamu mau,” seru Annisa dan Rama yang ada digendongan hanya mengangguk dengan pelan. Dan matanya hanya tertuju ke arah ayahnya yang masuk ke dalam rumah dengan langkah marah.
“Ayah lagi ada masalah ya tante?” tanya Rama. “Kok ayah kelihatan marah kayak gitu?”
Annisa tertawa kecil. “Makanya kita jangan ganggu ayah kamu dulu ya. Biar kamu sama tante dulu. Biar kamu nggak kena omel sama ayah kamu. Jadi, jangan cemberut lagi. Kasih tante senyuman terbaik dong. Masa beberapa jam kita nggak ketemu, tante malah dikasih cemberutan. Kan kesel ...”
__ADS_1
Rama terkekeh dan meminta maaf. “Iya tante ... maaf ya.”