Istri Dadakan

Istri Dadakan
Saling Meminta Maaf


__ADS_3

Pagi hari,


Pada akhirnya Annisa tertidur lantaran terlalu lelah untuk menangis. Dirinya benar-benar di hadang sama dirinya yang lain untuk nggak terus menyalahkan dirinya sendiri. Begitu bangun Annisa langsung merasakan cahaya matahari yang merambat di balik gorden. Matanya mengerjap, berusaha menyesuaikan indra penglihatannya itu.


"Argh ... kayaknya kemarin aku ketiduran deh. Ya ampun, sampai pusing banget kayak gini," keluh Annisa sembari memegang keningnya yang benar-benar pusing itu.


Annisa mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Baru sadar kalau nggak ada Bram yang menemani dirinya. Baru mau bertanya, perempuan itu langsung tersadar kalau mereka sedikit bertengkar kemarin.


"Memang kebiasaan Annisa tuh!" omel Annisa pada dirinya sendiri. "Kalau lagi sedih pasti bawaannya emosi ke banyak hal. Ya ampun, mas Bram marah nggak ya karena udah aku bentak kayak tadi?" gumam Annisa


Tak mau semakin berlarut. Perempuan itu langsung saja membersihkan diri sebelum keluar kamarnya.


***


"Mamah kenapa?"


Rama menatap khawatir pada mamahnya itu yang baru turun dari lantai dua. "Ayah sama mamah berantem? Ini kenapa mata mamah sama ayah pada bengkak kayak gini? Ayah jahat lagi sama mamah?" tuduh Rama sambil melirik ayahnya itu.


Si empunya yang menjadi omelan sang anak malah menatap istrinya itu dengan khawatir.


"AYAH!"


"Eh iya, kenapa?" tanya Bram memberikan seluruh atensi nya pada Rama. "Kamu ngomong apa tadi? Maaf ayah gak fokus."


"Aku nanya tau yah!" omel anak itu sambil mengerucutkan bibirnya. "Ayah jahat lagi ya sama mamah? Makanya mata mamah merah dan bengkak kayak gitu. Terus juga kemarin kan ayah lagi marah-marah. Jadi, ayah ya yang buat mamah kayak gini?"


"Bukan karena ayah kamu kok," jawab Annisa sambil menarik kursi di depan anaknya. "Ada hal lain yang buat mamah nangis dan itu bukan karena ayah kamu. Kamu gak lihat kalau mata ayah kamu juga bengkak? Jadi nggak usah nuduh ayah kamu terus. Mendingan sekarang kamu datang ke ayah kamu dan peluk," suruh Annisa sambil tersenyum tipis.


Dengan ragu Rama mendekati Bram.

__ADS_1


"Ayah maaf," ucap Rama membuat Bram terkekeh dan mengangkat anaknya itu. Tanpa pikir panjang anak itu langsung merengkuh tubuh ayahnya. "Aku nggak tau ayah kenapa. Tapi ayah harus tau, kalau ada aku. Aku bakalan terus bikin ayah seneng. Jadi, jangan sedih lagi ya."


Degh!


Rasanya hati Bram seperti dihantam sama batu besar. Bram membalas pelukan Rama dengan sangat erat. Matanya ikut terpejam. Menahan rasa sesak yang menggebu. Kini mereka berhasil ada di titik ini, walaupun setelah di tipu sama seseorang yang udah membuat mereka menjadi banyak kekurangan.


Sungguh, dalam hati Bram ingin mengutuk Sakilla. Istrinya yang udah tega meninggalkan mereka berdua, hanya demi keegoisannya pribadi. Ia nggak akan membiarkan Sakilla lepas begitu saja.


Kesedihan mereka selama ini harus di balas kesedihan juga.


Sementara itu,


Annisa yang sejak tadi melihat mereka berdua, ikut merasakan ketenangan sekaligus rasa sakit yang sangat menggebu. Ia terdiam, terhenyak, baru sadar kalau dirinya udah sangat egois.


Harusnya semalam dia nggak menyalahkan Bram, harusnya dirinya sadar kalau bukan dirinya saja yang tersakiti. Tapi ada suaminya juga yang butuh pelukan. Mereka harusnya bisa bersama melewati ini. Bukannya saling menyalahkan satu sama lain dan malah menjadi egois.


"Annisa," suara sendu Bram membuat lamunannya terhenti.


Laki-laki itu nggak menjawab apa-apa, selain merentangkan tangan di sisi lain. Membuat Annisa mendekat dan mereka bertiga saling berpelukan satu sama lain. Berusaha saling menguatkan.


***


Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul sembilan siang. Yang artinya Rama sudah berangkat ke tempat les dan hanya meninggalkan Bram sama Annisa berdua. Dua orang dewasa yang saling berpelukan tadi itu kini malah terlihat canggung.


Mereka duduk beriringan di ruang tamu. Bahkan TV di depan mereka itu mati. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Nggak tahu harus memulai dari mana. Setelah apa yang mereka perbuat sebelumnya.


"Annisa ..." / "Mas Bram," ucap mereka berbarengan.


"Eh kamu dulu aja mas," seru Annisa

__ADS_1


Bram menggeleng. "Kamu dulu aja. Kamu mau ngomong apa?"


"Nggak mas, aku nggak mau ngomong yang penting kok. Jadi, kamu aja."


"Kamu dulu saja Annisa."


Keduanya saling menoleh hingga mata mereka saling bersitatap dan keduanya mengerjap lalu tertawa kecil sambil menggeleng. Ini kenapa mereka kayak jadi anak anak gini. Perkara bicara aja nggak ada yang mau ngalah.


"Jadi gini mas," ucap Annisa mendahului. "Aku mau minta maaf karena semalam aku malah membentak kamu. Aku serasa seperti yang paling tersakiti dan mau di mengerti sama kamu. Padahal harusnya aku mengerti kalau di sini kamu juga sama sedihnya. Aku yang nggak bisa ngertiin kamu. Jadi, aku minta maaf ya mas. Maaf karena udah jadi istri yang buruk."


"Eh ... kata siapa jadi istri yang buruk?" marah Bram sambil menatap tak suka pada Annisa. "Kamu istri terbaik yang mas punya dan di sini mas mewajarkan tingka kamu. Karena mau bagaimana pun kamu pasti lagi terpukul kan karena kehilangan keluarga kamu."


"..."


"Mas juga pas dulu kayak gitu kok. Rasanya kehilangan orang yang dulu bersama kita tuh nggak enak banget. Mau di tenangkan kayak gimana pun, rasanya gumoh. Karena menurut kita, mereka nggak akan mengerti sama apa yang kita rasain kan?"


Dengan pelan Annisa mengangguk.


"Makanya mas nggak mau marah sama kamu dan milih untuk kasih waktu kamu sendiri. Alhamdulillah kamu jauh lebih tenang. Jadi, jangan sedih lagi ya. Mas beneran gak suka liat kamu sampai sesegukan kayak kemarin. Apa lagi pas kamu ketiduran di pelukan mas. Pas tidur aja kamu masih sesegukan. Kasian ke kamunya ..."


"Iya mas. Kemarin aku benar-benar kacau dan nggak nerima semua ini. Sampai aku sadar. Kalau ini semua udah takdir yang tertulis dari atas dan aku nggak berhak nyalahin satu orang pun di sini," ucapnya menyendu. "Walau ... tetap saja kehilangan orang yang kita sayang adalah part yang paling menyedihkan di hidup."


Bram mencengkram lengan Annisa, memberi kekuatan.


"Kita harus saling sama-sama menguatkan ya."


Annisa mengangguk.


"Kapan kita ke makam kak Namira, mas?" tanya Annisa dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Orang tua mas mau datang ke sini, perkiraan datang nanti malam dan mas udah menyuruh orang tua kamu buat datang dan semoga mereka memang mau datang karena mas udah mengirimkan supir. Palingan mereka datang nanti sore. Jadi bagaimana kalau kita ke makamnya besok? Mas janji nggak bakalan mundur lagi. Besok!"


Dengan lemas Annisa mengangguk.


__ADS_2